
Kepergian orang terkasih
Rio : “Kamu mau pulang?”
Gadis : “Iya. Jemputanku di depan.” Jawab Gadis
dengan cepat gak pake mikir.
Rio : “Kalau yang kau maksud ojol, hari ini ada
demo pengendara ojol dan angkutan umum. Cepat naik sebelum aku berubah
pikiran.”
Sungguh Gadis berharap dirinya menghilang saja saat
itu. Dia hampir melupakan Rio, tapi kalau begini caranya, hatinya akan goyah
lagi. Gadis terpaksa naik ke mobil Rio. Ia menunjuk jalan menuju rumahnya.
Suasana di dalam mobil sangat sepi, sesekali hanya terdengar suara Gadis yang
menunjuk arah berikutnya.
Saat mereka sampai di depan rumah Gadis, Gadis sudah hampir turun dari mobil Rio, saat ia mendengar kata-kata Rio.
Rio : “Buat apa kamu ke kuburan Kaori?”
Gadis : “Apa?”
Rio : “Kamu dengar apa yang kukatakan. Buat apa?!”
Gadis : “Hanya melayat.”
Rio : “Kalian tidak seakrab itu. Apa yang kau
rencanakan?!”
Gadis memilih tidak menjawab pertanyaan Rio dan keluar dari dalam mobil. Jantungnya sudah tidak bisa dikondisikan, berdebar dengan kencang. Ia merutuki dirinya yang tidak bisa menahan perasaannya saat bersama Rio.
Mobil Rio melaju kencang, bahkan Rio tidak menunggu dirinya berbalik dan mengucapkan terima kasih. Gadis menatap langit kekuningan diatasnya, ia tersenyum dengan air mata yang sudah mengalir deras.
Rio memukul kemudi mobilnya dengan keras. Ia tidak pernah semarah ini tapi segala sesuatu tentang Kaori membuatnya hampir gila. Rio tidak setegar kelihatannya, ia masih sangat rapuh di dalam sana. Dan semua yang
ia lakukan hanyalah kepalsuan.
Rio menarik nafasnya dan menghembuskannya dengan
kasar. Ia tersenyum sinis, untuk apa juga ia bertanya seperti itu pada Gadis.
Mereka teman sekampus, wajar saja Gadis datang melayat. Lagipula kuburan Kaori
tampak baik-baik saja, Rio merasa dirinya berpikir berlebihan.
Rio tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan.
Ia hanya berusaha menjalani kehidupannya tanpa Kaori. Meskipun hampa, ia
menguatkan dirinya demi keluarganya dan orang tua Kaori yang masih sangat
membutuhkannya. Rio seperti jadi anak untuk dua keluarga sekarang.
Ia menginap di rumah orang tua Kaori sehari setelah
pemakaman. Rio menghibur mama Kaori dan menyuapinya makan. Ketulusan Rio yang
membuat Katty menganggapnya sebagai pengganti Kaori, adiknya yang telah pergi.
Rio akhirnya sampai di rumah Alex. Ia melihat mobil
lengkap terparkir di garasi. Berarti semua orang sedang ada di rumah. Rio masuk
ke dalam rumah membawa tas ranselnya. Ia melihat keluarganya sedang duduk di
ruang keluarga, bercanda dengan baby twin dan baby Reynold.
Mia : “Hai, Rio. Duduk sini.”
__ADS_1
Rio meletakkan tas ranselnya dan duduk di samping
Mia. Alex melihat Rio tidak bersandar seperti biasanya pada Mia. Ia hanya
memperhatikan baby twin yang sedang belajar merangkak. Rio tersenyum melihat
kedua adiknya sibuk sendiri sampai marah-marah.
Saat ia ingin menggendong salah satu dari mereka,
ia ingat dengan pesan Kaori untuk mencuci tangannya sebelum memegang bayi. Rio
bangkit dari duduknya, masuk ke kamar mandi. Ia mencuci tangannya dengan sabun
sampai bersih.
Ketika ia kembali, baby twin sedang tertawa karena
candaan Mia. Rio mengangkat baby Rava tinggi di depannya. Bayi itu berteriak
girang sebentar dan asyik sendiri dengan jempol tangannya.
Rara : “Gimana kuliahmu, Rio?”
Rio : “Baik, kak. Bentar lagi magang.”
Rara : “Sudah dapet tempat magangnya?”
Rio : “Sudah di kantor papa.”
Alex : “Rio masuk lewat depan loh, gak minta
bantuan papa.”
Rara : “Wah, hebat dong.”
Rio hanya tersenyum sekilas. Rara melihat adiknya
itu tidak sama seperti Rio yang dulu. Rio yang dulu akan banyak sekali bicara
sampai Rara harus menyuruhnya diam dulu agar bisa balas bicara. Tapi Rio yang
Alex : “Rio, nanti di kantor kamu jadi junior
asistennya Romi ya.”
Rio : “Ya, pah.”
Alex : “Trus temanmu itu, aduh siapa namanya ya?
Gendis... Gadis... ya Gadis, dia akan jadi sekretaris papa untuk sementara.”
Rio : “Gadis?”
Rio mengepalkan tangannya, ternyata perubahan sikap
Gadis padanya cuma kamuflase. Rio tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia sudah
cukup tahu bagaimana harus bersikap pada Gadis.
Alex yang melihat Rio tidak mengatakan apa-apa,
mengajak putranya itu ke ruang kerjanya. Rio duduk di tempat tidur Alex sementara
Alex mengeluarkan sesuatu dari dalam lemarinya.
Rio : “Pah, ini...”
Alex : “Itu foto mama Selvi waktu nikah sama papa.”
Rio : “Rio baru lihat.”
Alex : “Cuma itu satu-satunya foto cantik mama
Selvi. Papa gak mau sampai rusak, makanya papa simpan baik-baik. Papa tahu kamu
sangat kehilangan Kaori. Papa sangat mengerti gimana rasanya saat orang yang
__ADS_1
paling kita cintai di dunia ini pergi begitu saja.”
Rio : “...”
Alex : “Mama Selvi juga sama seperti Kaori.
Memendam kesakitannya sendiri dan pergi saat tertidur. Papa masih ingat saat
papa mengguncang tubuh mama Selvi waktu itu. Papa bilang mama Selvi harus
bangun, dia belum lihat kalian waktu itu. Belum gendong, belum nyusui kalian.”
Alex mengusap air matanya yang sudah jatuh. Ia
sangat terluka mengingat peristiwa pahit dalam hidupnya. Rio juga mulai
menangis lagi. Keduanya menenangkan diri masing-masing sebelum Alex kembali
bercerita.
Alex : “Waktu lihat kamu hancur karena kepergian
Kaori, papa seperti melihat diri papa waktu mama Selvi pergi. Sama persis
seperti itu. Seolah peristiwa menyakitkan itu terjadi lagi di depan mata papa.”
Rio : “Gimana papa bisa lewatin itu semua? Rasa
sakit kehilangan. Kalian terbiasa bersama, tau-tau terpisah begitu aja. Bahkan tanpa
pesan dan kata terakhir.”
Alex : “Karena ada nenek, Rara, Riri, dan kamu.
Papa masih punya keluarga yang menopang papa hingga papa gak jatuh dalam
kesedihan terus-menerus. Papa bangkit lagi, tapi papa tidak pernah bisa
melupakan mama Selvi sampai saat ini. Papa masih ingat, mama Selvi bilang gini ‘Aku
mencintaimu, Alex. Sangat mencintaimu’ trus mama Selvi mulai tertidur.”
Rio : “Aneh, itu juga yang dikatakan Kaori sebelum
pergi. Malam itu, dia mengatakan hal yang sama ‘Aku mencintaimu, Mario. Sangat
mencintaimu.’ sebelum tidur. Apa mama Mia tahu, papa masih nyimpen foto mama
Selvi kayak gini?”
Alex : “Mungkin. Papa merasa mama Mia tahu semuanya.
Tapi mama Mia gak pernah masalahkan itu. Mama Mia menghormati mama Selvi
sebagai ibu kandung kalian. Dan kamu bisa rasakan sendiri bagaimana mama Mia
selalu berkata yang baik tentang mama Selvi, padahal mereka tidak saling kenal.”
Rio : “Kenapa papa bisa putuskan menikah lagi
setelah sekian lama?”
Alex : “Karena papa merasakan getaran yang sama
saat melihat mama Mia. Di jantung dan hati papa masih ada mama Selvi, papa
menolak semua wanita cantik yang datang mengejar papa. Menarik perhatian papa,
bahkan memaksa ingin papa nikahi. Tapi jantung papa hanya berdebar kencang pada
mama Mia saja.”
*****
Maaf edisi masih sedih terus nich.
Kalau ada yang penasaran kenapa saya bisa nulis cerita sampai seperti itu karena ini pengalaman pribadi yang saya rasakan waktu kehilangan bapak mertua. Saya curahkan kesedihan saya waktu itu di episode kali ini.
__ADS_1
#Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).