Duren Manis

Duren Manis
Kepergian orang terkasih


__ADS_3

Kepergian orang terkasih


Rio : “Kamu mau pulang?”


Gadis : “Iya. Jemputanku di depan.” Jawab Gadis


dengan cepat gak pake mikir.


Rio : “Kalau yang kau maksud ojol, hari ini ada


demo pengendara ojol dan angkutan umum. Cepat naik sebelum aku berubah


pikiran.”


Sungguh Gadis berharap dirinya menghilang saja saat


itu. Dia hampir melupakan Rio, tapi kalau begini caranya, hatinya akan goyah


lagi. Gadis terpaksa naik ke mobil Rio. Ia menunjuk jalan menuju rumahnya.


Suasana di dalam mobil sangat sepi, sesekali hanya terdengar suara Gadis yang


menunjuk arah berikutnya.


Saat mereka sampai di depan rumah Gadis, Gadis sudah hampir turun dari mobil Rio, saat ia mendengar kata-kata Rio.


Rio : “Buat apa kamu ke kuburan Kaori?”


Gadis : “Apa?”


Rio : “Kamu dengar apa yang kukatakan. Buat apa?!”


Gadis : “Hanya melayat.”


Rio : “Kalian tidak seakrab itu. Apa yang kau


rencanakan?!”


Gadis memilih tidak menjawab pertanyaan Rio dan keluar dari dalam mobil. Jantungnya sudah tidak bisa dikondisikan, berdebar dengan kencang. Ia merutuki dirinya yang tidak bisa menahan perasaannya saat bersama Rio.


Mobil Rio melaju kencang, bahkan Rio tidak menunggu dirinya berbalik dan mengucapkan terima kasih. Gadis menatap langit kekuningan diatasnya, ia tersenyum dengan air mata yang sudah mengalir deras.


Rio memukul kemudi mobilnya dengan keras. Ia tidak pernah semarah ini tapi segala sesuatu tentang Kaori membuatnya hampir gila. Rio tidak setegar kelihatannya, ia masih sangat rapuh di dalam sana. Dan semua yang


ia lakukan hanyalah kepalsuan.


Rio menarik nafasnya dan menghembuskannya dengan


kasar. Ia tersenyum sinis, untuk apa juga ia bertanya seperti itu pada Gadis.


Mereka teman sekampus, wajar saja Gadis datang melayat. Lagipula kuburan Kaori


tampak baik-baik saja, Rio merasa dirinya berpikir berlebihan.


Rio tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan.


Ia hanya berusaha menjalani kehidupannya tanpa Kaori. Meskipun hampa, ia


menguatkan dirinya demi keluarganya dan orang tua Kaori yang masih sangat


membutuhkannya. Rio seperti jadi anak untuk dua keluarga sekarang.


Ia menginap di rumah orang tua Kaori sehari setelah


pemakaman. Rio menghibur mama Kaori dan menyuapinya makan. Ketulusan Rio yang


membuat Katty menganggapnya sebagai pengganti Kaori, adiknya yang telah pergi.


Rio akhirnya sampai di rumah Alex. Ia melihat mobil


lengkap terparkir di garasi. Berarti semua orang sedang ada di rumah. Rio masuk


ke dalam rumah membawa tas ranselnya. Ia melihat keluarganya sedang duduk di


ruang keluarga, bercanda dengan baby twin dan baby Reynold.


Mia : “Hai, Rio. Duduk sini.”

__ADS_1


Rio meletakkan tas ranselnya dan duduk di samping


Mia. Alex melihat Rio tidak bersandar seperti biasanya pada Mia. Ia hanya


memperhatikan baby twin yang sedang belajar merangkak. Rio tersenyum melihat


kedua adiknya sibuk sendiri sampai marah-marah.


Saat ia ingin menggendong salah satu dari mereka,


ia ingat dengan pesan Kaori untuk mencuci tangannya sebelum memegang bayi. Rio


bangkit dari duduknya, masuk ke kamar mandi. Ia mencuci tangannya dengan sabun


sampai bersih.


Ketika ia kembali, baby twin sedang tertawa karena


candaan Mia. Rio mengangkat baby Rava tinggi di depannya. Bayi itu berteriak


girang sebentar dan asyik sendiri dengan jempol tangannya.


Rara : “Gimana kuliahmu, Rio?”


Rio : “Baik, kak. Bentar lagi magang.”


Rara : “Sudah dapet tempat magangnya?”


Rio : “Sudah di kantor papa.”


Alex : “Rio masuk lewat depan loh, gak minta


bantuan papa.”


Rara : “Wah, hebat dong.”


Rio hanya tersenyum sekilas. Rara melihat adiknya


itu tidak sama seperti Rio yang dulu. Rio yang dulu akan banyak sekali bicara


sampai Rara harus menyuruhnya diam dulu agar bisa balas bicara. Tapi Rio yang


Alex : “Rio, nanti di kantor kamu jadi junior


asistennya Romi ya.”


Rio : “Ya, pah.”


Alex : “Trus temanmu itu, aduh siapa namanya ya?


Gendis... Gadis... ya Gadis, dia akan jadi sekretaris papa untuk sementara.”


Rio : “Gadis?”


Rio mengepalkan tangannya, ternyata perubahan sikap


Gadis padanya cuma kamuflase. Rio tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia sudah


cukup tahu bagaimana harus bersikap pada Gadis.


Alex yang melihat Rio tidak mengatakan apa-apa,


mengajak putranya itu ke ruang kerjanya. Rio duduk di tempat tidur Alex sementara


Alex mengeluarkan sesuatu dari dalam lemarinya.


Rio : “Pah, ini...”


Alex : “Itu foto mama Selvi waktu nikah sama papa.”


Rio : “Rio baru lihat.”


Alex : “Cuma itu satu-satunya foto cantik mama


Selvi. Papa gak mau sampai rusak, makanya papa simpan baik-baik. Papa tahu kamu


sangat kehilangan Kaori. Papa sangat mengerti gimana rasanya saat orang yang

__ADS_1


paling kita cintai di dunia ini pergi begitu saja.”


Rio : “...”


Alex : “Mama Selvi juga sama seperti Kaori.


Memendam kesakitannya sendiri dan pergi saat tertidur. Papa masih ingat saat


papa mengguncang tubuh mama Selvi waktu itu. Papa bilang mama Selvi harus


bangun, dia belum lihat kalian waktu itu. Belum gendong, belum nyusui kalian.”


Alex mengusap air matanya yang sudah jatuh. Ia


sangat terluka mengingat peristiwa pahit dalam hidupnya. Rio juga mulai


menangis lagi. Keduanya menenangkan diri masing-masing sebelum Alex kembali


bercerita.


Alex : “Waktu lihat kamu hancur karena kepergian


Kaori, papa seperti melihat diri papa waktu mama Selvi pergi. Sama persis


seperti itu. Seolah peristiwa menyakitkan itu terjadi lagi di depan mata papa.”


Rio : “Gimana papa bisa lewatin itu semua? Rasa


sakit kehilangan. Kalian terbiasa bersama, tau-tau terpisah begitu aja. Bahkan tanpa


pesan dan kata terakhir.”


Alex : “Karena ada nenek, Rara, Riri, dan kamu.


Papa masih punya keluarga yang menopang papa hingga papa gak jatuh dalam


kesedihan terus-menerus. Papa bangkit lagi, tapi papa tidak pernah bisa


melupakan mama Selvi sampai saat ini. Papa masih ingat, mama Selvi bilang gini ‘Aku


mencintaimu, Alex. Sangat mencintaimu’ trus mama Selvi mulai tertidur.”


Rio : “Aneh, itu juga yang dikatakan Kaori sebelum


pergi. Malam itu, dia mengatakan hal yang sama ‘Aku mencintaimu, Mario. Sangat


mencintaimu.’ sebelum tidur. Apa mama Mia tahu, papa masih nyimpen foto mama


Selvi kayak gini?”


Alex : “Mungkin. Papa merasa mama Mia tahu semuanya.


Tapi mama Mia gak pernah masalahkan itu. Mama Mia menghormati mama Selvi


sebagai ibu kandung kalian. Dan kamu bisa rasakan sendiri bagaimana mama Mia


selalu berkata yang baik tentang mama Selvi, padahal mereka tidak saling kenal.”


Rio : “Kenapa papa bisa putuskan menikah lagi


setelah sekian lama?”


Alex : “Karena papa merasakan getaran yang sama


saat melihat mama Mia. Di jantung dan hati papa masih ada mama Selvi, papa


menolak semua wanita cantik yang datang mengejar papa. Menarik perhatian papa,


bahkan memaksa ingin papa nikahi. Tapi jantung papa hanya berdebar kencang pada


mama Mia saja.”


*****


Maaf edisi masih sedih terus nich.


Kalau ada yang penasaran kenapa saya bisa nulis cerita sampai seperti itu karena ini pengalaman pribadi yang saya rasakan waktu kehilangan bapak mertua. Saya curahkan kesedihan saya waktu itu di episode kali ini.

__ADS_1


#Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).


__ADS_2