Duren Manis

Duren Manis
Menikahi Aunty Renata – Reynold & Renata 15


__ADS_3

Menikahi Aunty Renata – Reynold & Renata 15


Merry bernafas lega ketika Abdi tidak punya alasan lagi untuk mengancamnya. Ia mulai memikirkan


Alfian, tentang perlakuan pria itu padanya. Selama lima tahun mereka berteman baik, Merry tidak menyangka kalau Alfian memendam perasaan padanya. Merry memikirkan sesuatu, ia melirik dapur dan berpikir untuk membuatkan Alfian makan siang yang lezat. Secara kebetulan, perusahaan diliburkan hari ini dan Alfian


tidak mungkin tidak bekerja.


Untuk memastikan keberadaan pria itu, Merry mengirimkan chat pada Alfian.


[]”Al, kamu kerja hari ini?” tanya Merry sambil membuka kulkasnya.


[]”Tidak. Aku ada kencan,” sahut Alfian cepat. []”Ada apa?” sambungnya.


Deg. Jantung Merry berdetak kencang, nafasnya memburu dengan keringat dingin mulai membasahi


telapak tangannya. *”Kencan dengan siapa? Alfian punya pacar? Oh\, kenapa aku bodoh sekali\,”* batin Merry mulai kesal.


Merry tidak menjawab chat dari Alfian, ia berbaring lagi di kasurnya sambil menatap layar ponselnya


dengan perasaan kacau. “Tega banget kamu, Al. Katamu mau nunggu jawabanku. Dasar pria brengsek!! Sama aja dengan yang lain. Pembohong!” maki Merry kesal.


Merry memejamkan matanya, ia hanya ingin tidur di hari liburnya yang sangat langka. Sama seperti Alfian, Merry jarang bisa libur karena pekerjaannya mengharuskan Merry memberikan perhatian ekstra. Apalagi dirinya single dan belum berkeluarga. FoRena Group memang memberikan kesempatan pada karyawan yang masih single untuk memaksimalkan potensinya bagi perusahaan. Tentu saja dengan diimbangi dengan


peningkatan penghasilan yang cukup membuat mereka puas.


Hampir saja terlelap, Merry mendengar pintu apartmentnya diketuk seseorang. Dirinya merasa


bermimpi, mungkin saja itu tetangga sebelahnya. Ketukan itu semakin tegas, menunjukkan kalau memang itu tamu untuknya. Merry menyingkap selimutnya dengan malas. Cuaca cukup dingin pagi itu dengan hembusan angin kencang dan sepertinya akan turun hujan.  Sambil merapatkan jubah tidurnya, Merry berjalan keluar dari kamar.


“Siapa yang datang pagi-pagi begini? Aku tidak menunggu siapapun,” gumamnya heran.


Merry memang jarang sekali menerima tamu di apartmentnya. Ia menganggap apartment adalah tempat


pribadinya untuk bersantai setelah pulang kerja yang melelahkan. Kalaupun ia ingin bertemu dengan teman-temannya, Merry akan mengajak mereka bertemu di restauran atau cafe.


‘Siapa?” tanya Merry ketika dirinya sudah sampai di depan pintu.


“Mer, ini aku. Alfian,” ucap Alfian di depan sana.


Entah apa yang Merry pikirkan saat itu, ia segera membuka pintu tanpa melihat penampilannya lagi.


Wajah tampan Alfian muncul di balik pintu. Di tangannya ada buket bunga mawar merah kesukaan Merry dan sebuah paper bag yang cukup besar.


“Hai. Boleh aku masuk?” tanya Alfian manis.


Merry tidak punya alasan melarang pria itu masuk. Ia menggeser tubuh tambunnya memberi jalan pada Alfian untuk masuk. Merry menatap langkah Alfian yang masuk ke dalam apartmentnya tanpa canggung. Seolah pria itu sudah terbiasa datang ke kediaman pribadi Merry. Sepertinya benar kalau Alfian mau kencan. Penampilannya sangat keren dengan kemeja kasual dan celana jins serta sepatu boots warna hitam.


Tidak sengaja mata Merry tertuju pada cermin di samping pintu masuk. Penampilannya berbanding seratus delapan puluh derajat dari Alfian. Rambut acak-acakan, tubuh terbalut jubah tidur dan sandal rumahan. Wajahnya pun masih menunjukkan muka bantal karena belum cuci muka. Seharusnya Merry panik, karena Alfian melihatnya dengan kondisi seperti itu. Tapi ia memilih tetap menatap pantulan dirinya di depan cermin.

__ADS_1


*”Wanita seperti apa yang kau pilih\, Alfian? Aku ingin tahu siapa yang ingin kau ajak kencan hari ini\,”* batin Merry bergejolak.


Gyut! Mata Merry terbelalak saat Alfian memeluknya dari belakang. Pria itu mengecup rambut Merry yang berantakan, menguwel-uwel wajahnya ke kepala Merry. Wanita itu tidak tahu harus bereaksi bagaimana, ia bingung, kesal, sedih, menyesal. Perasaannya campur aduk saat mengetahui Alfian akan berkencan.


“Kamu belum mandi? Dingin ya?” tanya Alfian tidak bermaksud mengejek Merry.


Meskipun belum mandi, Merry memang tidak pernah membiarkan bau badan mengganggunya. Ia selalu memakai parfum sebelum tidur dan rajin mengganti sarung bantalnya. Merry tidak menyadari air mata mengalir membasahi kedua pipinya. Alfian yang melihat Merry menangis, membalik tubuh wanita itu lalu menangkup kedua pipinya.


“Kamu kenapa, sayang? Kenapa nangis?” tanya Alfian dengan senyum manis merekah di bibirnya.


“Ka... hiks... kamu jahat! Hiks....” Merry menyedot ingusnya membuat Alfian tertawa. “Nggak lucu... hiks... jahat!” sambungnya sambil mengusap hidungnya yang berair.


Alfian bahkan tidak merasa jijik dengan apa yang dilihatnya. Ia menuntun wanita tambun itu duduk di sofa besar lalu membuka paper bag yang sudah Alfian letakkan di meja. Satu persatu kotak plastik keluar dari dalam paper bag itu. Merry membersihkan hidungnya dengan tisu, ia hanya menatap deretan kotak di depannya. Ketika Alfian membuka salah satu kotak itu, aroma mie goreng langsung menguar menggoda


indra penciuman Merry.


“Kamu bawa makanan? Buat siapa?” tanya Merry heran. “Bukannya kamu mau kencan? Kenapa makanannya di buka disini?” tanyanya lagi.


“Aku memang mau kencan. Tapi wanita yang mau kuajak, belum siap. Belum mandi,” ucap Alfian sambil mencubit hidung Merry.


“Aku?” Merry menunjuk dirinya sendiri. “Jangan bercanda, Al. Siapa dia? Kalian kenal dimana? Apa dia


cantik?” tanyanya bertubi-tubi.


“Apa kau cemburu?” tanya Alfian balik.


Merry menunjuk dirinya lagi dengan wajah bodoh yang menggemaskan di mata Alfian. Pria itu hampir tidak bisa mengendalikan dirinya ingin mencium Merry lagi. Matanya fokus menatap bibir Merry yang sudah mengerucut ke depan mirip paruh bebek.


ujar Merry ngambek.


Alfian semakin ingin menggoda Merry, ia menatap sekeliling apartment Merry yang nyaman dan wangi.


Dirinya baru pertama kali berkunjung ke apartment itu. Merasa nyaman di apartment itu, Alfian ingin secepatnya tinggal bersama Merry.


“Jadi apa jawabanmu? Jangan lama-lama, aku tidak bisa menunggu lagi, Mer,” pinta Alfian sambil merapatkan duduknya ke arah Merry.


Merry berpaling, menyembunyikan wajahnya yang merona merah. Dirinya seketika merasa canggung


berduaan dengan Alfian. “Aku mau mandi dulu. Kamu kalau mau minum, ambil sendiri ya. Dapurnya disana,” tunjuk Merry yang tidak sabar ingin melarikan diri dari sana.


“Tunggu. Aku belum minta cium. Sini,” kata Alfian hampir menangkap tangan Merry. Wanita itu berbalik


lalu menggeleng, langkah kakinya melangkah mundur hampir masuk ke dalam kamarnya. Saat Merry hampir menutup pintu, Alfian menahannya. “Al, jangan bercanda lagi. Aku mau mandi dulu,” Merry masih menahan pintu kamarnya.


Dering ponselnya membuat Merry menoleh ke atas nakas. Ia memilih mengambil ponselnya itu, keningnya


mengerut melihat nama Abdi tertera di layar. “Mau apalagi dia,” gumamnya lalu menjawab panggilan itu.


[]”Halo, Abdi. Ada apa?” tanya Merry to the point.

__ADS_1


[]”Halo, bu Merry yang terhormat. Bagaimana dengan perjanjian kita?” tanya Abdi dengan tidak tahu malu.


[]”Aku belum ketemu Pak direktur. Besok ya,” sahut Merry mulai cemas lagi.


[]”Malam ini harus sudah diputuskan, bu Merry. Atau video dan foto-foto mesra ibu akan tersebar di kantor,” ancam Abdi seenaknya.


[]”Sebarkan saja. Aku kira kamu bisa berubah, taunya semakin keterlaluan! Jangan coba-coba mengancamku ya,” ucap Merry tegas.


Alfian yang mendengar kata-kata Merry, merebut ponsel wanita itu. Raut wajahnya menggelap ketika


mendengar ancaman Abdi pada Merry. Sebelum Alfian mulai bicara, Merry segera merebut balik ponsel itu dan mematikan sambungan telponnya.


“Kenapa dia mengancammu?” tanya Alfian dingin sedingin es batu di kulkas.


Alfian mendesak Merry untuk menceritakan yang sebenarnya. Termasuk bantuan yang diberikan Renata semalam. Alfian menggebrak meja dengan penuh kemarahan. Ia hampir pergi dari sana karena ingin mencari dan menghajar Abdi. Tapi Merry menghentikannya, ia tidak mau Alfian bertengkar hanya gara-gara masalah video dan foto-foto mesra mereka. Tiba-tiba Alfian berbalik, memegang kedua lengan Merry lalu menatap


dalam kedua matanya.


“Kita menikah ya. Semua video, rumor, apapun akan hilang kalau kita menikah,” ajak Alfian.


“Kamu yakin? Aku mau,” sahut Merry cepat.


“Apa kau mencintaiku?” tanya Alfian.


“Boleh aku mandi dulu?” Merry dengan senyum manis malu-malu.


Alfian mengangguk, ia tidak ingin mengganggu Merry mandi dan memilih keluar dari kamar wanita itu. Setelah mendengar suara kucuran air di kamar mandi, Alfian menelpon seseorang yang biasa membantunya melakukan tugas bersih-bersih. Ia tidak ingin terjadi sesuatu pada Merry maupun Renata. Orang suruhannya mengiyakan dengan cepat lalu Alfian kembali duduk di sofa.


Merry yang sudah selesai mandi dan berpakaian, membuka pinta kamarnya. Ia terkejut melihat Alfian


berdiri di depannya dengan buket bunga mawar di tangan. Ragu-ragu Merry mengulurkan tangannya menyambut tangan Alfian. Keduanya duduk di depan meja yang sudah tertata rapi dengan dua piring dan gelas serta sebotol wine. Merry melirik Alfian yang sudah membuka botol wine dan menuangkan isinya ke dalam gelas.


“Al, boleh aku tanya sesuatu?” tanya Merry. “Kenapa kamu mencintaiku? Kau tahu, fisikku tidak sesempurna wanita cantik di luar sana,” sambungnya kepo.


Alfian mengeluarkan ponselnya, ia membuka galeri foto lama lalu memperlihatkannya pada Merry. Tampak seorang anak laki-laki yang luar biasa gemuk ada di foto itu. Merry membaca nama yang tertera di seragam SMA anak itu, Alfian. Dirinya ternganga tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


“Ini kamu? Dia gemuk sekali, Al. Tidak mungkin ini kamu,” ucap Merry tidak percaya.


“Well, itu memang aku. Dulu aku lebih gemuk dari kamu, teman-temanku menatapku seperti sedang menonton beruang di kebun binatang. Setiap hari aku menerima hinaan dan makian  dari mereka. Aku masih bisa terima dengan hal itu, tapi bercandaan mereka semakin berani dengan mempermainkan perasaanku. Ada seorang gadis yang sangat populer di sekolah. Aku suka melihatnya karena dia cantik, semua orang senang melihatnya. Suatu hari dia datang menemuiku dan bilang kalau ia menyukaiku.” Alfian men-scroll beberapa foto lagi. Yang terakhir tampak wajahnya babak belur dan berdarah.


“Bodoh sekali aku waktu itu, dia mempermainkan perasaanku dan menghinaku bersama teman-teman satu


geng-nya. Sejak itu aku berusaha agar bisa jadi seperti sekarang ini. Diet mati-matian, terus berolahraga sampai rasanya nafas mau putus. Setelah berat badanku turun, hatiku rasanya kosong. Gadis-gadis cantik itu jadi terlihat biasa saja di mataku. Yang lucunya, gadis yang pernah mempermainkanku di sekolah berbalik mengejarku.” Alfian menggenggam tangan Merry. “Semua itu palsu, bukan cinta sejati, Mer.”


“Lalu kenapa aku? Masih banyak wanita lain yang lebih cantik dan baik, kan,” ucap Merry sambil


menepuk-nepuk tangan Alfian.


“Ya, banyak. Tapi yang tulus mencintaiku, hanya kamu,” sahut Alfian dengan tingkat kepercayaan diri melebihi tingginya langit.

__ADS_1


Merry tertawa dengan kekonyolan Alfian. Satu kesempatan lagi, dirinya berhak memberikannya. Keduanya saling menatap dalam sebelum akhirnya mendekat dan hampir berciuman. Suara ponsel Alfian mengganggu suasana mesra yang sudah terjalin. Dengan kesal, Alfian meraih ponselnya, orang suruhannya menelpon disaat yang tidak tepat. Sebelum menjawab, Alfian menjauh sedikit dari Merry tapi tidak meninggalkan sofa. Ia bicara dengan singkat dan tampak terkejut dengan apa yang didengarnya. Merry yang melihat perubahan mimik wajah Alfian, seketika menjadi cemas.


__ADS_2