Duren Manis

Duren Manis
DM2 – SMS Teror


__ADS_3

DM2 – SMS Teror


Gadis menatap punggung Rio yang sudah


tertidur di sebelahnya setelah Gadis mengibarkan bendera putih minta rehat. Ia


masih merasa ada yang tidak beres dengan Rio. Gadis melirik tas-nya. Didalam


sana ada ponselnya dan ponsel Rio. Rio tidak mengijinkan mereka memegang ponsel


selama liburan ini, tapi Gadis ingin menghubungi Riri untuk bertanya padanya.


Diam-diam Gadis mendekati tas-nya.


Setidaknya ia mengirimkan chat mencoba bertanya pada Riri. Melihat mereka


berdua bisik-bisik kemarin di rumah Riri, Gadis yakin kalau Rio sudah


memberitahu sesuatu pada Riri.


Tapi ketika Gadis hampir meraih ponselnya,


suara Rio menghentikannya. “Gadis, kamu mau ngapain?”


“Aku... eh, kamu udah bangun ya.” Gadis


jadi salah tingkah kepergok memegang tasnya. “Aku mau nyari permen. Mulutku


asem.”


“Sini.”panggil Rio menepuk tempat kosong di


sampingnya. Gadis menurut duduk di samping Rio. “Kamu suka disini?” tanya Rio.


“Hmm. Iya. Suasananya tenang tapi aku gak


bisa rileks.”


“Kenapa?”


Gadis balik menatap Rio, sambil sesekali


melirik tubuh bagian bawah Rio. Melihat arah pandangan mata Gadis, Rio langsung


nyengir lebar mirip iklan odol. Rio meraih tubuh Gadis dalam pelukannya. “Berenang,


yuk.”ajak Rio.


“Kamu gak laper?”


Rio meraih telpon disebelah ranjang, ia


memesan makanan dan minuman kesukaan Gadis dan kopi untuknya. “Kamu gak makan?”bisik


Gadis. Rio meletakkan gagang telpon. “Aku belum laper.”


Gadis ingat kalau Rio juga gak sarapan


dengan baik.


“Kamu ada masalah ya?”tanya Gadis. Rio


hanya diam menatapnya, Gadis tersenyum manis. Ia mencium Rio, memulai permainan


mereka lagi sampai Gadis melenguh keenakan.


Tok, tok, tok... ketukan halus di pintu


kamar, membuat mereka menoleh. Rio mengambil bathrobe, memakainya, dan beranjak


ke pintu kamar. Gadis menutup rapat tubuhnya dengan selimut, ketika staf villa


masuk membawa pesanan mereka.


“Ayo makan, sayang.”panggil Rio.


Gadis memakai bathrobe juga, mereka duduk


berdampingan. Sesekali Gadis menyuapi Rio makanannya, “Aku akan tunggu sampai


kamu siap cerita. Maaf ya kalau aku terlalu kepo. Yang penting kamu baik-baik


aja.”ucap Gadis sambil tetap tersenyum manis.


“Aku... Gadis, janji ya. Kalau aku siap

__ADS_1


cerita nanti, kamu mau dengar sampai akhir.”


“Ya, aku janji. Memangnya apa yang terjadi?


Kamu selingkuh?”canda Gadis.


Diluar dugaan reaksi Rio langsung terdiam.


Gadis meletakkan sendoknya, ia mengatur nafasnya yang mulai tak beraturan. 7


tahun pernikahan, apa akan seperti ini akhirnya. Gadis menggeleng, ia meminum


jus jeruk di depannya dan menoleh menatap Rio yang juga menatapnya.


Gadis menatap dalam mata Rio, ia tidak bisa


menahan gejolak di hatinya lagi. Gadis menerjang Rio, ia menciumi wajah Rio,


menyesap, mengulum bibir pria itu sampai Rio megap-megap kehabisan nafas. Rio


melihat hasrat membara pada diri Gadis, besarnya cinta wanita itu untuk


dirinya. Keduanya saling menyentuh tubuh satu sama lain, memberi kenikmatan,


kelembutan, Gadis tidak sedetik pun melepaskan tatapan matanya dari mata Rio.


Meskipun pria itu terpejam meresapi


kenikmatan sentuhan Gadis, ketika mata Rio terbuka, Gadis kembali menatap


matanya. “Rio, kau mencintaiku?”


“Aku mencintaimu selamanya.”


Gadis masih menatap Rio dalam. Ia mencari


cinta untuknya saat pria itu mengatakan cintanya dan tatapan yang sama sejak 7


tahun lalu masih bisa ia lihat sekarang. “Gadis...”bisik Rio. “Aku mencintaimu.


Aku sangat mencintaimu, Gadis!!”Rio berteriak sangat keras seiring puncak


kenikmatan yang mereka raih bersama.


Gadis. Gadis melihat bekas ciumannya mulai memerah di beberapa bagian tubuh


Rio. Wajahnya merona malu sendiri, “Apa aku seganas itu?”


“Sayang, lagi dong yang kayak tadi. Tapi


kasi aku nafas dulu ya. Sejak kapan kamu agresif gini. Tapi aku suka banget.”kata


Rio menggigit daun telinga Gadis.


“Diem dech. Aku malu tau.”saut Gadis


menutup mulut Rio dengan tangannya. “Rio, apapun yang terjadi, aku akan tetap


disisimu. Bersamamu selamanya.”


“Ya, sayang. Kalau kamu pergi, saat itu aku


akan mati.” Gadis langsung menutup mulut Rio dengan tangannya.


“Jangan bicara sembarangan. Aku gak akan


pergi. Tapi boleh kan kalo ngambek dikit?”goda Gadis mencubit dada Rio.


“Boleh ngambek, tapi cuma 5 menit.”


Gadis memonyongkan bibirnya, protes. “Mana


ada ngambek 5 menit.”


Rio mengeratkan pelukannya, mereka


mengobrol tentang masa lalu saat Rio masih bersama Kaori.


“Rio, aku mau tanya yang dulu-dulu. Sampai


sekarang masih penasaran.” Rio menatapnya menunggu pertanyaan Gadis. “Aku mau


tanya waktu kamu masih sama Kaori, aku kan ngdeketin kamu tuch. Kenapa kamu gak


respon sama aku?”

__ADS_1


“Hmm... Kenapa ya? Mungkin karena aku


anggap kamu cuma teman.”


“Tapi kamu cuma gitu sama aku. Kamu sadar


gak?”


“Hah? Masa?”


Gadis bercerita kalau bukan hanya dia yang


suka sama Rio waktu kuliah dulu. Masih ada beberapa teman kuliah mereka yang


juga suka sama Rio. Tapi gak nunjukin perasaan secara terang-terangan seperti


Gadis. Nah, Rio itu bersikap akrab sama seperti teman laki-laki mereka, cuma


sama Gadis dia sedikit cuek.


Rio tersenyum menatap Gadis yang mulai


bawel, ia sangat suka cara Gadis bicara kalau sudah begitu. Gadis menuntut


jawaban Rio, “Mungkin karena aku hanya memikirkan Kaori saat itu. Tanpa sadar


aku mengabaikan perasaan lain.”


“Sama aku juga gitu? Sekarang?”tanya Gadis


senang. Rio mengangguk.


“Aku tidak bisa mengalihkan pandanganku ke


wanita lain karena kamu, Gadis. Kamu tahu sendiri aku sulit berpaling dari Kaori


dulu. Aku bahkan memaksamu sambil menyebut namanya. Meskipun ada wanita yang


mirip dengannya sekarang, aku sudah terlanjur mencintaimu. Apa kau mengerti


maksudku?”tanya Rio menempelkan keningnya ke kening Gadis.


Kata-kata Rio barusan menegaskan pada Gadis


kalau kehadiran Kinanti tidak berpengaruh apa-apa pada hubungan mereka. “Aku


hanya ingin menghabiskan hidupku sama kamu. Kita masih punya si kembar kalau


kamu masih khawatir dengan penerus papa atau siapa yang akan mengurus kita saat


tua nanti. Suruh mereka buat anak yang banyak, kita ambil 2.”


“Kamu kira mereka pabrik anak. Ntar


istrinya ngamuk gimana?”


Rio ketawa ngakak dengan kata-katanya


sendiri. Ia lupa kalau mau buat anak harus ada pihak wanita juga. Gadis


melepaskan pelukannya dari Rio, ia ingin menghabiskan makanan yang belum


selesai ia makan tadi. Rio beranjak ke kamar mandi.


Tring! Tring! Suara notif SMS masuk ke


ponsel Gadis. Ia mendengarnya, “Tanggal berapa sekarang? Apa aku lupa bayar


tagihan?”


Diam-diam Gadis mengambil ponselnya dengan


cepat. Ia langsung membuka notif pesan masuk tanpa nama itu, tangannya gemetar


membaca isi pesan singkat itu.


“Heh! Wanita MANDUL, jangan harap kau bisa


terus bersama Rioku tersayang. Aku yang akan mengandung anaknya. Tunggu saja.”


*****


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.

__ADS_1


__ADS_2