Duren Manis

Duren Manis
Extra part 9


__ADS_3

Extra part 9


“Itu Reynold. Udah selesai, Ken?” tanya Renata.


Ken mengangguk, ia juga ingin punya foto mesra dengan Renata. Ken memberanikan dirinya untuk mengajak Renata selfie. Renata tidak keberatan sama sekali dan keduanya duduk berdampingan. Wajah tegang Ken,


membuat Renata terkikik geli.


“Santai aja, Ken. Jangan tegang gitu dong. Senyum,” pinta Renata.


Renata memegang ponsel Ken lalu mulai berpose. Ken hanya mengikuti Renata karena ia tidak terlalu suka di foto. Renata juga mengambil foto selfie mereka dengan kameranya.


Setelah puas dengan hasil foto-foto mereka, Ken menyerahkan paper bag yang dibawanya pada Renata.


“Ini apa, Ken?” tanya Renata.


“Itu buat main game, aku juga punya yang sama. Kita bisa main game sama-sama,” kata Ken sambil membantu Renata mengeluarkan sebuah kotak dari dalam paper bag itu.


Ken mengajari Renata cara memakai mainan buatan Saga itu. Ken mengatur alamat e-mail Renata masuk kesana untuk login dan menghubungkan dengan mainannya juga.


“Makasih ya, Ken. Kamu pake repot segala nyiapin hadiah gini,” ucap Renata tulus.


Ken memberitahu juga kalau misalnya alat itu rusak, Renata hanya perlu memberitahunya dan kurir akan mengambil yang rusak dan memberikan yang baru pada Renata.


Keduanya mencoba bermain sebentar sambil Renata sesekali curi-curi pandang ke arah Ken. Pria kecil itu sedikit gugup merasakan pandangan Renata padanya.


“K—kenapa, Re? Kenapa ngliatin aku gitu?” tanya Renata.


“Mmm, aku mau minta sesuatu dari kamu, boleh nggak? Tapi kamu nggak boleh nanya alasannya, trus nggak boleh bilang siapa-siapa juga,” kata Renata hati-hati.


Deg! Jantung Ken berdetak lebih cepat. Apa mungkin Renata ingin menciumnya? Wajah Ken merona membayangkan Renata minta cium padanya.


“Minta apa?” tanya Ken nyaris tidak terdengar.


Renata mendekatkan wajahnya pada Ken yang refleks memejamkan matanya. Dag, dig, dug. Jantung Ken semakin cepat berdetak, sampai nafasnya mulai ngos-ngosan.


“Udah. Makasih ya,” kata Renata.


Ken membuka matanya, ia tidak merasakan apa-apa. Pikirannya melayang kemana-mana, apa memang ciuman pertama itu tidak terasa apa-apa? Apa dirinya yang terlalu senang sampai melewatkan momen manis itu? Ach, sial! Ken sibuk dengan pikirannya sendiri.

__ADS_1


“K—kamu minta apa sich, tadi?” tanya Ken akhirnya untuk menjawab rasa penasarannya.


“Kan aku dah bilang nggak boleh nanya alasannya. Eh, udah magrib nich. Aku mau mandi, kamu mau nunggu atau...” kata Renata tidak bermaksud mengusir Ken, tapi ia juga harus menjalankan kewajibannya.


Ken memilih pulang saja. Dia sudah terlalu lama berada di rumah Alex dan pastinya Endy akan marah lagi padanya. Tapi semua pengorbanannya sepadan karena Ken bisa dekat dengan Renata.


Setelah berpamitan dengan sepantasnya pada yang punya rumah, Ken berjalan keluar dari rumah Alex. Sopirnya sudah menunggu dirinya sejak ia dan Rio sampai di rumah Alex. Sebelum masuk ke dalam mobil,


Ken menoleh sekali lagi menatap rumah itu dan bertekad akan kembali lagi setelah dirinya cukup mapan dan pantas untuk melamar Renata.


**


Rio mendekati Renata yang tampak menggenggam sesuatu di tangannya.


“Udah, Re? Dapat?” tanya Rio.


Renata mengangguk, ia menyerahkan tisu berisi potongan rambut Ken pada Rio.


“Kak, buat apa sich? Aku kok jadi nggak enak gini sama Ken ya?” tanya Renata.


Tadi ketika Renata pergi ke kamarnya sebentar, Rio mengikutinya dan meminta tolong pada Renata untuk mengambil sedikit rambut Ken. Kalau bisa tanpa Ken sadari sedikit pun. Renata yang penasaran tentu saja ingin tahu alasannya dan Rio mengatakan kalau ini mereka lakukan untuk ketenangan rumah itu.


“Ini cuma untuk tes saja, Re. Nggak akan menyakiti Ken, kok. Makasih ya. Kalian jadian?” tanya Rio menggoda Renata.


Rio menghindari pukulan Renata sambil tertawa menggodanya. Mereka hampir menabrak Alex yang baru keluar dari kamarnya.


“Maaf, pah.” Renata memilih kembali ke ruang keluarga dan bermain bersama Kaori.


Alex ganti menatap Rio yang menyembunyikan sesuatu di tangannya.


“Rio, itu apa di tanganmu?” tanya Alex curiga.


“Nggak ada apa-apa, pah. Ini cuma tissu bekas mau aku buang,” kata Rio.


Alex melirik keranjang sampah di samping Rio. Dan Rio juga melakukan hal yang sama. Alex menyuruh Rio membuang tissu itu disana dan Rio langsung melambaikan tangannya kearah kamarnya.


“Iya, sayang? Aku datang!” kata Rio tiba-tiba seolah Gadis memanggilnya.


Alex semakin curiga melihat gerak-gerik Rio yang tidak seperti biasanya.

__ADS_1


**


Rio memberikan sampel DNA milik Ken dan Alex ke rumah sakit. Tidak sulit mengambil rambut Alex karena Mia bisa mendapatkannya di bantal pria itu. Perlu waktu sekitar seminggu untuk mencari tahu kecocokan


diantara kedua sampel itu.


Tepat sehari sebelum kepergian Ken keluar negeri, hasil tes DNA itu keluar. Rio mengambil hasil tes itu dan melotot kaget melihat hasilnya.


“Waduh, alamat rusuh nich. Kasi nggak ya?” tanya Rio pada dirinya sendiri.


Rio menimbang untuk tidak mengatakan apa-apa pada Mia dan beralasan kalau hasil tes DNA-nya di gondol kucing. Tapi memang Mia sudah menunggu-nunggu hasil tes itu. Rio gelagapan ketika mendengar suara ponselnya berdering nyaring. Ia hampir melempar kertas hasil tes itu ketika melihat mama calling.


“Mampus!! Jawab nggak ya? Pura-pura nggak denger aja dech,” gumam Rio.


Tapi Mia mulai meneror Rio karena tidak mengangkat telponnya, Rio sampai malu sendiri diliatin pengunjung rumah sakit karena cuma menatap ponselnya saja.


“Diangkat, pak. Sapa tau penting. Istrinya ya?” tanya salah satu pengunjung kepo yang merasa terganggu dengan suara telpon Rio.


“I—iya, bu. Maaf,” kata Rio gugup dan tidak sengaja menekan tombol hijau.


“Rio!!” jerit Mia di telpon. Rio sampai menjauhkan ponsel dari telinganya.


“Yes, mam!” jawab Rio tegas ala tentara dimarahi atasannya.


Mia mengomel panjang di telpon dan intinya Rio harus cepat pulang. Sekarang juga. Mia tidak mau mendengar hasil tesnya lewat telpon, ia ingin melihat langsung hasilnya.


“Dad, you will die today,” lirih Rio setelah Mia menutup telponnya.


Rio melangkah lesu menuju parkiran mobilnya, ia sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi pada rumah tangga orang tuanya nanti.


**


Sampai di rumah Alex, Mia menyeret Rio masuk ke kamarnya dan meminta hasil tes DNA itu. Rio menatap ngeri melihat Mia meremas hasil tes DNA ditangannya. Rio juga tidak menyangka kalau Ken beneran anak


Alex. Ia tidak mau memberitahu hasil itu pada Mia sebenarnya, tapi apa daya, mamanya itu punya insting yang sangat tajam terutama tentang Alex.


“Mah, tolong dengerin aku dulu. Mama jangan marah sama papa, mungkin... papa nggak sengaja,” kata Rio mencoba menenangkan Mia yang terlihat amat sangat marah.


“Kalau papamu nggak sengaja, kenapa nggak jujur dari awal! Anak itu seumuran Renata! Mama lagi hamil Renata waktu papamu selingkuh, Rio!” lengking Mia penuh kemarahan.

__ADS_1


**


Waduh, mama Mia ngamuk-ngamuk. Kira-kira papa Alex bisa selamat nggak ya hari ini?


__ADS_2