
Rara sedang deg-degan, pasalnya ia sedang proses pengajuan judul skripsi di depan dosen pembimbingnya. Semalam Mia sudah memberikan kisi-kisi pertanyaan yang kira-kira akan ditanyakan dosen pembimbingnya.
Kebetulan dosen pembimbing Rara juga jadi dosen pembimbing Mia dulu. Mia mengenal sifat dan kebiasaan dosen itu dengan baik. Kalau judul Rara bisa langsung di ACC, dia harus segera menyiapkan bab satu dan dua.
Dosen : "Ok, Ra. Judul ini bagus. Tapi datanya gimana? Sudah mulai dikumpulkan?"
Rara : "Sudah, pak. Kebetulan datanya ada semua di tempat saya praktek kerja."
Dosen : "Besok sampai dua minggu lagi, saya ada kerjaan di luar kota. Kalau bisa kamu selesaikan sampai bab 4 dalam dua minggu. Tapi kalau gak bisa, sampai bab 3 juga gak pa-pa."
Rara : "Baik, pak. Kalau begitu saya permisi dulu. Terima kasih, pak."
Dosen : "Eh, tunggu. Kamu anak tirinya Mia kan?"
Rara : "Iya, pak."
Dosen : "Saya yakin kamu pasti bisa sampai bab 4 dalam dua minggu. Sampaikan salam sama Mia. Dia gak pernah main kesini lagi setelah lulus "
Rara : "Baik, pak. Saya permisi pamit."
Rara berjalan cepat keluar dari ruang dosen dan melompat kegirangan. Sesuai kata-kata Mia, judulnya sudah di ACC dan dia harus mengejar bab selanjutnya.
Rara menelpon Mia untuk mengabarkan berita baik ini tapi telponnya tidak diangkat. Mia masih sibuk bekerja di kantor Alex, ponselnya masih ada didalam tasnya.
Arnold menelpon Rara menanyakan perkembangan judul skripsinya.
Arnold : "Ra, gimana? Uda ketemu dosen?"
Rara : "Uda, mas. Judulku uda di ACC."
Arnold : "Mau dijemput sekarang?"
Rara : "Emang mas gak kerja?"
Arnold : "Uda ada Ilham."
Arnold nyengir lebar menatap Ilham yang berdiri di depannya membawa setumpuk berkas yang harus di tanda tangani Arnold. Selama ia bekerja menggantikan Romi jadi asisten Alex, Rara membantu pekerjaannya disini.
Tapi bukannya selesai, sepertinya mereka lebih sering melakukan pekerjaan intim mereka berdua. Ilham sampai harus lembur setelah kembali.
Ilham meringis tidak bisa berbuat apa-apa mendengar kemauan bosnya. Lagi, dia harus lembur hari ini.
Arnold : "Aku jemput sekarang ya. Tunggu di ruang dosen, jangan kemana-mana."
Rara : "Iya, mas."
Rara menutup telponnya dan kembali duduk di ruang dosen. Ia mengirim chat pada Mia dan mulai membuka laptopnya.
Bab 1 dan bab 2 sudah ia selesaikan, untuk mengisi waktu Rara membaca kembali bab 1 dan bab 2 itu. Ia juga membuka note dari Mia mengenai cara menyusun bab 3 dan bab 4.
Seseorang memperhatikan Rara sejak ia mulai membuka laptopnya. Orang itu Angelo, atau biasa dipanggil kak Elo. Dia setingkat diatas Rara dan sepertinya sedang menyusun skripsi juga.
Elo : "Hai, Rara."
Rara : "Oh, hai senior."
__ADS_1
Elo : "Kamu lagi ngapain?"
Rara : "Aku habis ngajukan judul, kak."
Elo : "Uda di ACC? Boleh tahu apa judulmu?"
Rara : "Uda sich, kak. Ini kak."
Elo duduk di samping Rara dan membaca judulnya. Ia juga membaca bab 1 skripsi Rara.
Elo : "Wah, skripsimu bagus. Kamu dapet referensi darimana?"
Rara : "Dari mamaku, kak."
Elo : "Mamamu pinter ya. Aku juga mau dong dibantu. Kebetulan judul skripsi kita hampir sama cuma subjek penelitiannya yang beda. Kamu uda nyari data?"
Rara : "Uda sich ngumpulin dikit-dikit, kak. Kakak nyari data dimana?"
Elo : "Aku uda ngumpulin dari tempat praktek kerja dulu tapi datanya gak lengkap. Aku masih nyari data di tempat lain. Kalau aku juga nyari data di tempatmu, boleh gak?"
Rara : "Coba aku tanya suamiku dulu ya, kak."
Elo : "Suami?"
Rara : "Iya, kak. Aku praktek kerja di perusahaan suamiku. Harusnya kakak bisa nyari data disana juga."
Elo : "Tolong ya, Ra. Kalau bisa, aku juga bisa cepat lulus."
Rara : "Ok, kak. Tapi kakak kok baru nyusun skripsi?"
Rara : "Oh, bisa gitu ya."
Elo : "Kamu sendiri uda nikah, kok masih kuliah?"
Rara : "Aku kan nikah belum lulus kuliah, kak. Jadinya harus ngebut kuliahnya biar cepet lulus."
Elo : "Oh, uda ada anak ya? Kau tahu kan jaman sekarang... Maaf aku lancang."
Rara : "Aku nikah karena alasan lain sich, kak. Belum ada anak, tapi soon."
Elo : "Amiinn..."
Rara tidak menyadari kalau Arnold sudah berdiri di belakang mereka sekitar 5 menit. Wajahnya ditekuk sedemikian rupa, tapi bukannya jadi jelek, visual bad boy nya malah tambah bersinar.
Kehadiran Arnold disana sudah membuat beberapa mahasiswi jadi salfok dan berkumpul di depan ruang dosen. Rara yang menyadari kalau ruang dosen jadi tambah ramai, spontan mengedarkan pandangannya.
Rara : "Ada apa ya, kak? Kayaknya tambah rame."
Elo : "Eh, iya ya. Aku gak perhatian."
Keduanya sibuk melihat ke sekeliling, mencari pusat perhatian di ruang dosen itu. Saat Rara menengok ke belakang, senyumnya mengembang.
Rara : "Aku tahu kenapa jadi rame, kak. Suamiku uda dateng. Sayang! Uda lama?!"
Elo menoleh ke belakang juga, ia mengakui juga kalau suami Rara itu memang sangat tampan dan gagah. Rara mendekati Arnold, meninggalkan laptop dan tasnya masih diatas meja.
__ADS_1
Rara : "Sayang, kamu kok baru dateng sich."
Rara menggelayut manja di lengan Arnold, menempelkan tubuhnya pada tubuh Arnold. Rara harus bersikap begitu untuk menunjukkan hubungannya dengan Arnold. Kalau tidak, kumpulan mahasiswi itu tidak akan pergi dari sana.
Arnold : "Yang, kamu ngobrol sama siapa?"
Rara : "Itu seniorku, mas. Kenapa? Gak boleh ya."
Arnold : "Boleh, tapi gak boleh deket-deket. Akrab banget sich."
Arnold mengecup kening Rara, membuat Elo berhenti menatap mereka berdua. Nasib jomblo, liat yang mesra-mesra jadi baper kan.
Rara menarik tangan Arnold agar mendekat pada Elo.
Rara : "Kak Elo, ini mas Arnold, suamiku. Mas, ini kak Elo, seniorku."
Elo menjabat tangan Arnold sambil memperkenalkan dirinya,
Elo : "Maaf, aku gak maksud ganggu Rara. Tapi bisa minta tolong sedikit?"
Arnold mengkerutkan keningnya, mereka baru saja kenalan dan Elo sudah minta bantuannya.
Rara : "Mas, kak Elo mau nyari data buat skripsi di kantor mas. Kebetulan judul skripsi kami hampir sama, cuma beda subjek aja. Boleh ya?"
Arnold : "Boleh saja. Kamu sudah tahu aturannya kan?"
Rara : "Iya, sayang. Makasih, mas."
Elo : " Boleh? Makasih banyak, mas... Eh, Arnold. Aku panggil Arnold aja ya, kayaknya umur kita gak jauh beda."
Rara : "Kak, besok aku mau ke kantor mas Arnold. Kita bisa ketemu disana."
Elo : "Ok, ok. Bisa minta alamat kantornya?"
Arnold mengeluarkan kartu namanya dari dalam dompet. Ia masih saja cemberut, gak suka Rara tampak akrab dengan laki-laki lain.
Elo harus maklum dengan sikap Arnold. Salahnya sendiri mencoba akrab dengan istri orang. Salah-salah dikira nggebet lagi.
Rara : "Ok, kak. Aku duluan ya."
Elo : "Iya, Ra. Sekali lagi makasi banyak ya. Arnold sampai jumpa besok."
Arnold hanya mengangguk, tangan kirinya sudah menenteng tas laptop dan tangan kanannya menggenggam tangan kiri Rara erat.
Mereka berjalan bersama menuju parkiran diiringi tatapan iri kaum hawa yang sejak kedatangan Arnold sudah mengikutinya.
-----
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya para reader.
Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya...
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
__ADS_1
--------