Duren Manis

Duren Manis
DM2 – Kepo


__ADS_3

DM2 – Kepo


Melda diam saja, ia memikirkan sesuatu.


Alex yang barusan datang, berhenti dan


menatap Melda. “Kamu nangis? Sakit?”tanya Alex.


“Pagi, pak. Nggak, pak.”jawab Melda dengan


suara bengek.


“Tuch, bengek. Tumben hari ini kamu gak


nebeng. Berangkat sama sapa?”tanya Alex kepo.


Melda baru mau jawab tapi gak jadi. Gak


bapak gak anak sama aja. Kepo banget urusannya.


“Berangkat sendiri, pak. Lagi pengen


berangkat sendiri aja.”


“Boong, pah. Palingan dianter kak X,


semalem kamu nginep sama kak X kan?”tanya Rio dengan jitu.


Melda melotot kaget mendengar kata-kata


Rio. Darimana bocah asem ini tau dirinya tidur di apartment X semalam.


“Darimana kamu tahu?”tanya Melda


keceplosan.


“Nah, loh ketauan kan. Lagian kalo mau


nyupang tuch ditempat yang gak keliatan gitu. Kasi tau kak X.”saut Rio sambil


cengengesan.


Alex langsung auto fokus ngliatin leher


Melda yang tampak tanda merah disana. Alex geleng-geleng kepala sambil ikutan


cengengesan. Melda jadi malu sendiri melihat kedua bos-nya itu memergokinya.


Romi yang baru datang, menatap ketiganya


bergantian. “Ada apaan?”tanyanya.


“Kepo!”mereka bertiga kompak menjawab Romi.


Seharian itu Melda gak mood kerja. Rio


terpaksa melakukan semua pekerjaan yang biasanya dilakukan Melda.


“Aku harus apa, Rio.”keluh Melda. Mereka


berdua sedang makan siang di kantin kantor.


“Kamu maunya gimana?”tanya Rio balik. Melda


manyun karena Rio tidak memberinya solusi. “Emang kenapa dulu kalian pisah?”


Melda menceritakan alasan ia meninggalkan X


tapi tetap merahasiakan dimana mereka bertemu untuk pertama kalinya. Rio


manggut-manggut mendengar cerita Melda. Ia sudah menyelesaikan makan siangnya,


tapi tidak dengan Melda. Makan siangnya baru habis separuhnya.


“Kamu nikah aja dech sama kak X. Lagian


kalian kan sama-sama single. Sendirian juga gak punya saudara. Yah, seenggaknya


kamu pernah cinta sama dia. Daripada kamu nyesel.”


Kata-kata Rio tidak membuat Melda merasa


lebih baik. Ia melirik ponselnya, Melda ingin mengirimkan chat pada X.


Sepertinya mereka harus ketemu lagi sebelum X benar-benar pergi.


“X, bisa kita ketemu? Aku mau bicara


penting. Ini yang terakhir.”

__ADS_1


Melda membaca lagi chat yang ia ketik dan


menghapus kata-kata yang terakhir.


“X, bisa kita ketemu? Aku mau bicara


penting.”


Chat terkirim tapi tidak kunjung di read


oleh penerimanya. Rio mengintip layar ponsel Melda yang terus ditatap Melda


dengan tampang cemberut. “Telpon aja, apa susahnya.”kata Rio merebut ponsel


Melda dan menekan sambungan telpon ke X.


“Rio, kamu ngapain? Aku gak mau ngomong


langsung.”Terlambat bagi Melda untuk panik karena X sudah mengangkat telponnya.


“Halo.”sapa X.


“Ha... halo, X. Maaf ganggu. Bisa kita


ketemu nanti?” X terdiam tidak mengatakan apa-apa. “Kalau kamu sibuk, gak usah.


Bye.”kata Melda cepat sambil mematikan ponselnya.


Melda meletakkan ponselnya di atas meja


kantin, ia menundukkan kepalanya yang tiba-tiba pusing. Tring! Bunyi chat masuk


terdengar dari ponsel Melda. Rio menekan icon chat dan membaca isinya.


“Bisa. Kita bicara di apartmentku kalau


mau. Aku pulang jam 7.”balas X.


“Wah, dikirimin password masuk tuch. Kamu


bisa siapin sesuatu untuk menggodanya.”bacot Rio jadi setan.


Melda menatap sengit pada Rio. Ia beranjak


dari meja kantin kembali ke ruangannya. Dirinya sudah tidak sabar menunggu jam


pulang kerja nanti.


*****


ingin cepat-cepat pergi ke apartment X. Rio yang tahu rencana Melda,


senyum-senyum gak jelas ke arah wanita itu.


“Apa?!”ketus Melda galak.


“Baru mau kuanter kesana. Gak jadi


dech.”cibir Rio.


“Kamu pulang aja dech, bocah. Jangan ganggu


aku.”balas Melda.


“Cih, pelit banget. Awas ntar mewek lagi,


aku gak ikutan.”


Melda mencibir pada Rio, ia beranjak dari


mejanya dan berjalan ke lift. Sebuah taksi online sudah menunggunya dibawah.


Melda segera masuk ke mobil itu dan meluncur ke apartment X.


Sampai disana, Melda menekan password untuk


membuka apartment X. Ia masuk kesana langsung duduk di sofa. Beberapa kali ia


mengganti posisi duduknya sampai dirasakan cukup. Melda melihat jam di


tangannya, masih ada waktu satu jam lebih sampai X pulang. Melda mulai


berkeliling apartment itu. Ia membuka kulkas yang hampir kosong. Menoel-noel


galon air yang hampir kosong. Jongkok sambil menopang dagunya menatap tanaman


kecil di sudut apartment X.


Ketika akhirnya pintu apartment X terbuka,

__ADS_1


Melda berdiri dari duduknya, ia tersenyum ke arah pintu dan terkejut melihat X


masuk bersama seorang wanita cantik. Senyuman Melda menghilang dari wajahnya.


Ia mengepalkan tangannya, menunduk sebentar dan kembali tersenyum.


“Bisa kita bicara? Ini gak akan lama.


Berdua saja.”pinta Melda.


Wanita itu beranjak ke kamar X, ia melewati


Melda begitu saja. Seolah wanita itu sudah terbiasa berada di apartment X.


Melda meremas-remas tangannya sebelum bicara, “Aku cuma mau minta maaf secara


langsung. Mungkin kamu marah sama aku. Aku bisa ngerti. Dulu aku pergi tanpa


bilang apa-apa. Itu aja yang mau kubilang. Terima kasih atas waktumu.”


Melda mengambil tasnya, ia berhenti di


samping X. “Selamat tinggal, X.”ucap Melda sebelum keluar dari apartment itu. Melda


berjalan menyusuri lorong apartment X sampai ke depan lift. Ia menunggu lift


terbuka sebelum masuk ke dalamnya. Di dalam lift itu Melda merasa sedikit


pusing, ia hampir jatuh kalau tidak berpegangan pada dinding lift. Melda


mengatur nafasnya yang mulai sesak. Ia tidak sanggup menangis lagi.


*****


Keesokan harinya, Melda sudah sampai di


rumah Rio.


“Hai mbak Minah,”sapa Melda ketika pintu


rumah Alex terbuka.


Melda masuk ke rumah itu, ia duduk di ruang


tamu. Menunggu Rio dan Gadis yang masih bersiap-siap. Saat Rio keluar membawa


keranjang piknik, dan Gadis menggendong Kaori, Melda mengulurkan tangannya


meminta Kaori. Ia tahu Gadis sedang hamil dan menggendong bayi sepertinya agak


berat bagi Gadis.


“Mel, gimana kak X? Dia bisa dateng?”tanya


Rio ketika mereka siap berangkat.


Melda menggendong Kaori di kursi belakang,


“Dia sudah berangkat. Sepertinya dia sangat bahagia bisa pergi. Kemarin dia


bawa cewek ke apartment-nya. Ach, sudahlah. Kita mau piknik kan? Ayo cepat


berangkat!”kata Melda bersemangat.


Rio dan Gadis saling pandang mendengar


penuturan Melda. Akhirnya Rio menjalankan mobilnya menuju taman yang ingin


dikunjungi Gadis. Sepanjang jalan Melda terus bercanda dengan Kaori, ia


menyembunyikan kekecewaannya dengan baik.


Saat mereka sampai di tempat piknik, Rio


membawa turun keranjang piknik dan juga tikar lipat. Mereka berjalan menyusuri


jalan yang cukup rindang dengan banyaknya pohon besar.


“Wah, udaranya segar sekali ya.”kata Melda


yang masih menggendong Kaori.


Rio dan Melda mengangguk. Mereka sampai di


taman yang cukup luas dengan pemandangan danau dan juga pohon besar. Ketika Rio


sedang mencari tempat rindang yang nyaman, seseorang memanggilnya.


*****

__ADS_1


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.


__ADS_2