
DM2 – Kepo
Melda diam saja, ia memikirkan sesuatu.
Alex yang barusan datang, berhenti dan
menatap Melda. “Kamu nangis? Sakit?”tanya Alex.
“Pagi, pak. Nggak, pak.”jawab Melda dengan
suara bengek.
“Tuch, bengek. Tumben hari ini kamu gak
nebeng. Berangkat sama sapa?”tanya Alex kepo.
Melda baru mau jawab tapi gak jadi. Gak
bapak gak anak sama aja. Kepo banget urusannya.
“Berangkat sendiri, pak. Lagi pengen
berangkat sendiri aja.”
“Boong, pah. Palingan dianter kak X,
semalem kamu nginep sama kak X kan?”tanya Rio dengan jitu.
Melda melotot kaget mendengar kata-kata
Rio. Darimana bocah asem ini tau dirinya tidur di apartment X semalam.
“Darimana kamu tahu?”tanya Melda
keceplosan.
“Nah, loh ketauan kan. Lagian kalo mau
nyupang tuch ditempat yang gak keliatan gitu. Kasi tau kak X.”saut Rio sambil
cengengesan.
Alex langsung auto fokus ngliatin leher
Melda yang tampak tanda merah disana. Alex geleng-geleng kepala sambil ikutan
cengengesan. Melda jadi malu sendiri melihat kedua bos-nya itu memergokinya.
Romi yang baru datang, menatap ketiganya
bergantian. “Ada apaan?”tanyanya.
“Kepo!”mereka bertiga kompak menjawab Romi.
Seharian itu Melda gak mood kerja. Rio
terpaksa melakukan semua pekerjaan yang biasanya dilakukan Melda.
“Aku harus apa, Rio.”keluh Melda. Mereka
berdua sedang makan siang di kantin kantor.
“Kamu maunya gimana?”tanya Rio balik. Melda
manyun karena Rio tidak memberinya solusi. “Emang kenapa dulu kalian pisah?”
Melda menceritakan alasan ia meninggalkan X
tapi tetap merahasiakan dimana mereka bertemu untuk pertama kalinya. Rio
manggut-manggut mendengar cerita Melda. Ia sudah menyelesaikan makan siangnya,
tapi tidak dengan Melda. Makan siangnya baru habis separuhnya.
“Kamu nikah aja dech sama kak X. Lagian
kalian kan sama-sama single. Sendirian juga gak punya saudara. Yah, seenggaknya
kamu pernah cinta sama dia. Daripada kamu nyesel.”
Kata-kata Rio tidak membuat Melda merasa
lebih baik. Ia melirik ponselnya, Melda ingin mengirimkan chat pada X.
Sepertinya mereka harus ketemu lagi sebelum X benar-benar pergi.
“X, bisa kita ketemu? Aku mau bicara
penting. Ini yang terakhir.”
__ADS_1
Melda membaca lagi chat yang ia ketik dan
menghapus kata-kata yang terakhir.
“X, bisa kita ketemu? Aku mau bicara
penting.”
Chat terkirim tapi tidak kunjung di read
oleh penerimanya. Rio mengintip layar ponsel Melda yang terus ditatap Melda
dengan tampang cemberut. “Telpon aja, apa susahnya.”kata Rio merebut ponsel
Melda dan menekan sambungan telpon ke X.
“Rio, kamu ngapain? Aku gak mau ngomong
langsung.”Terlambat bagi Melda untuk panik karena X sudah mengangkat telponnya.
“Halo.”sapa X.
“Ha... halo, X. Maaf ganggu. Bisa kita
ketemu nanti?” X terdiam tidak mengatakan apa-apa. “Kalau kamu sibuk, gak usah.
Bye.”kata Melda cepat sambil mematikan ponselnya.
Melda meletakkan ponselnya di atas meja
kantin, ia menundukkan kepalanya yang tiba-tiba pusing. Tring! Bunyi chat masuk
terdengar dari ponsel Melda. Rio menekan icon chat dan membaca isinya.
“Bisa. Kita bicara di apartmentku kalau
mau. Aku pulang jam 7.”balas X.
“Wah, dikirimin password masuk tuch. Kamu
bisa siapin sesuatu untuk menggodanya.”bacot Rio jadi setan.
Melda menatap sengit pada Rio. Ia beranjak
dari meja kantin kembali ke ruangannya. Dirinya sudah tidak sabar menunggu jam
pulang kerja nanti.
*****
ingin cepat-cepat pergi ke apartment X. Rio yang tahu rencana Melda,
senyum-senyum gak jelas ke arah wanita itu.
“Apa?!”ketus Melda galak.
“Baru mau kuanter kesana. Gak jadi
dech.”cibir Rio.
“Kamu pulang aja dech, bocah. Jangan ganggu
aku.”balas Melda.
“Cih, pelit banget. Awas ntar mewek lagi,
aku gak ikutan.”
Melda mencibir pada Rio, ia beranjak dari
mejanya dan berjalan ke lift. Sebuah taksi online sudah menunggunya dibawah.
Melda segera masuk ke mobil itu dan meluncur ke apartment X.
Sampai disana, Melda menekan password untuk
membuka apartment X. Ia masuk kesana langsung duduk di sofa. Beberapa kali ia
mengganti posisi duduknya sampai dirasakan cukup. Melda melihat jam di
tangannya, masih ada waktu satu jam lebih sampai X pulang. Melda mulai
berkeliling apartment itu. Ia membuka kulkas yang hampir kosong. Menoel-noel
galon air yang hampir kosong. Jongkok sambil menopang dagunya menatap tanaman
kecil di sudut apartment X.
Ketika akhirnya pintu apartment X terbuka,
__ADS_1
Melda berdiri dari duduknya, ia tersenyum ke arah pintu dan terkejut melihat X
masuk bersama seorang wanita cantik. Senyuman Melda menghilang dari wajahnya.
Ia mengepalkan tangannya, menunduk sebentar dan kembali tersenyum.
“Bisa kita bicara? Ini gak akan lama.
Berdua saja.”pinta Melda.
Wanita itu beranjak ke kamar X, ia melewati
Melda begitu saja. Seolah wanita itu sudah terbiasa berada di apartment X.
Melda meremas-remas tangannya sebelum bicara, “Aku cuma mau minta maaf secara
langsung. Mungkin kamu marah sama aku. Aku bisa ngerti. Dulu aku pergi tanpa
bilang apa-apa. Itu aja yang mau kubilang. Terima kasih atas waktumu.”
Melda mengambil tasnya, ia berhenti di
samping X. “Selamat tinggal, X.”ucap Melda sebelum keluar dari apartment itu. Melda
berjalan menyusuri lorong apartment X sampai ke depan lift. Ia menunggu lift
terbuka sebelum masuk ke dalamnya. Di dalam lift itu Melda merasa sedikit
pusing, ia hampir jatuh kalau tidak berpegangan pada dinding lift. Melda
mengatur nafasnya yang mulai sesak. Ia tidak sanggup menangis lagi.
*****
Keesokan harinya, Melda sudah sampai di
rumah Rio.
“Hai mbak Minah,”sapa Melda ketika pintu
rumah Alex terbuka.
Melda masuk ke rumah itu, ia duduk di ruang
tamu. Menunggu Rio dan Gadis yang masih bersiap-siap. Saat Rio keluar membawa
keranjang piknik, dan Gadis menggendong Kaori, Melda mengulurkan tangannya
meminta Kaori. Ia tahu Gadis sedang hamil dan menggendong bayi sepertinya agak
berat bagi Gadis.
“Mel, gimana kak X? Dia bisa dateng?”tanya
Rio ketika mereka siap berangkat.
Melda menggendong Kaori di kursi belakang,
“Dia sudah berangkat. Sepertinya dia sangat bahagia bisa pergi. Kemarin dia
bawa cewek ke apartment-nya. Ach, sudahlah. Kita mau piknik kan? Ayo cepat
berangkat!”kata Melda bersemangat.
Rio dan Gadis saling pandang mendengar
penuturan Melda. Akhirnya Rio menjalankan mobilnya menuju taman yang ingin
dikunjungi Gadis. Sepanjang jalan Melda terus bercanda dengan Kaori, ia
menyembunyikan kekecewaannya dengan baik.
Saat mereka sampai di tempat piknik, Rio
membawa turun keranjang piknik dan juga tikar lipat. Mereka berjalan menyusuri
jalan yang cukup rindang dengan banyaknya pohon besar.
“Wah, udaranya segar sekali ya.”kata Melda
yang masih menggendong Kaori.
Rio dan Melda mengangguk. Mereka sampai di
taman yang cukup luas dengan pemandangan danau dan juga pohon besar. Ketika Rio
sedang mencari tempat rindang yang nyaman, seseorang memanggilnya.
*****
__ADS_1
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.