Duren Manis

Duren Manis
Syarat


__ADS_3

Riri masih


kebingungan harus mengatakan apa pada mama Ratna. Ia tidak tahu apa yang


terjadi semalam, tapi dari yang ia lihat pagi ini, memang sudah terjadi sesuatu


antara dirinya dan Elo. Tapi Riri tidak merasakan ada yang salah dengan tubuhnya.


Riri : “Mah, Riri


boleh tanya?”


Mama Ratna : “Tanya


apa, sayang?”


Riri : “Waktu Riri


dibawa pulang kesini, kenapa Riri gak ditaruh di kamar Riri sendiri?”


Mama Ratna : “Yah,


kau tahu Elena masih menghubungi anak buahnya untuk memastikan mereka melakukan


pekerjaan dengan baik. Jadi Pak Kim membawamu ke kamar lama Angelo dan begitu


Angelo masuk, Pak Kim menukar dekorasi di luar pintu dengan pintu kamar


sebelah. Mungkin kalian sempat dengar sesuatu tadi pagi?”


Riri : “Nggak


denger apa-apa, mah? Memangnya kenapa?”


Mama Ratna : “Jadi,


Elena sengaja menjebak Angelo agar bisa tidur dengannya. Tapi dia salah masuk


kamar dan mengira pria di kamar adalah Angelo.”


Elo : “Jadi...”


Mama Ratna : “Ya,


melihat rencana liciknya untuk menjebakmu, mama mengatur sesuatu dengan Pak


Kim. Mama menyewa seseorang yang mirip denganmu, untuk berpura-pura menjadi


dirimu dan tidur bersama Elena.”


Riri : “Oh, ya


ampun.”


Riri malu mendengar


cerita mama Ratna, ia merasa gak nyaman tapi penasaran juga mendengar


kelanjutannya.


Mama Ratna : “Jadi


orang itu namanya Heru. Mama juga sudah merekam perbuatan Elena, kita perlu itu


untuk bukti kan?


Elo : “Ada


videonya? Wah, pasti seru tuch. Kalau di-up, bisa viral.”


Wajah Riri semakin


memerah, ia bahkan mulai salah tingkah. Elo yang melihat Riri gak tenang,


menggenggam tangannya.


Elo : “Kamu kenapa


gelisah gitu?”


Riri : “Itu kasian


Elena, jadinya dia diperkosa gitu ya?”


Mama Ratna :


“Apanya yang diperkosa? Dari teriakannya semalam, dia mengira Heru itu Angelo.


Manggil nama Angelo terus sambil mendesah gak jelas. Mama geli dengernya.”


Riri : “Waduh...


Tapi kan mereka belum menikah. Kalau Elena hamil gimana?”


Mama Ratna : “Itu


bukan urusan kita, Riri sayang. Kamu jangan terlalu baik sama orang seperti


Elena atau kamu akan mudah disakiti. Polos banget sich, calon mantu mama ini.”


Mama Ratna mencubit


pipi Riri dengan gemas. Riri tersipu malu disebut calon mantu.


Elo : “Iya, Ri.


Jangan tertipu dengan Elena. Dia sudah berubah jadi orang jahat. Mama baiknya


usir dia dari sini, tante Dewi juga.”


Mama Ratna : “Mama


gak bisa melakukan itu, Angelo. Cuma kakek yang bisa. Tapi setidaknya kita


punya video bejatnya dengan Heru, kan. Elena tidak akan berani mengganggu


kalian lagi. Tapi untuk jaga-jaga, bagaimana kalau kalian menikah secepatnya?”


Riri menatap mama


Ratna dan Elo yang juga sudah menatapnya.


Riri : “Riri...


Riri mau nikah sekarang, tapi ada syaratnya.”


Elo : “Apa, Ri?


Bilang apa syaratnya?”


Riri : “Pertama,


Riri mau tetap lanjut kuliah sampai lulus. Kedua, sekarang kan Riri masih 18

__ADS_1


tahun, kak Elo harus nunggu Riri lulus kuliah dulu, baru...”


Elo : “Baru


apa...?” Elo beneran gak sabaran dengan syarat yang diajukan Riri.


Riri : “Baru Riri


mau hamil. Ketiga, kak Elo gak boleh maksa minta hak kakak sebagai suami sama


Riri.”


Elo : “Itu aja, kan?


Tapi aku boleh peluk, boleh cium kan?”


Riri menunduk menahan


malunya, Elo bahkan tidak malu berkata begitu di depan mamanya.


Mama Ratna :


“Waduh, berat amat syaratnya. Yang sabar ya kak Elo...”


Mama Ratna


tersenyum melihat wajah nelangsa Elo. Ia sangat mengerti kalau putranya itu


sangat mencintai Riri dan ingin segera menjadikan Riri miliknya seutuhnya.


Elo : “Kalau


gara-gara kejadian semalam, kamu hamil gimana?”


Riri : “Ya, aku


akan jaga bayi itu dengan baik, kak.”


Elo : “Iya, deh. Aku


janji akan penuhi semua syaratmu, tapi kita nikah secepatnya ya. Minggu depan?”


Riri : “Belum


bilang sama mama, kak. Belum tentu dikasi juga sama papa.”


Elo : “Kalau aku


berhasil meyakinkan mama, papamu, kamu gak akan mengelak lagi, kan?”


Riri menatap Elo


yang tampak sangat percaya diri bakalan disetujui menikahi dirinya minggu


depan.


Mama Ratna : “Kita


perlu persiapan yang lebih matang, Angelo. Kamu tahu kakek, kan. Paling tidak


perlu waktu sebulan untuk mempersiapkan semua sesuai standar kakek.”


Riri : “Bisakan


sederhana saja? Hanya keluarga besar dan beberapa relasi mungkin?”


Mama Ratna : “Nanti


mama bicara dengan kakek ya. Ini pernikahan calon pewaris tunggal kakek, pasti


Riri : “Apa boleh


kalau Riri yang bicara langsung sama kakek?”


Mama Ratna : “Tentu


boleh, sayang. Tapi tidak sekarang ya. Kalian harus siap-siap kembali kan?”


Elo : “Oh, iya mah.


Nanti Elo usahakan ketemu om Alex dulu. Kita harus ceritakan apa yang terjadi


disini, Ri.”


Riri : “Tapi...


Riri malu, kak.”


Elo : “Trus apa


alasan kita menikah secepat ini? Memangnya papamu akan ijinkan?”


Riri : “Biar aku


yang ngomong sama papa, kak.”


Elo : “Kalau gak


hari ini, aku yang akan ngomong, Ri.”


Riri : “Iya, kak.”


Mereka berdua akhirnya


keluar dari ruang baca setelah Elo membujuk akan mengajak Riri kesini lagi


untuk membaca bersama, dan bertemu Rio dan Kaori yang masuk bersama Rebecca dan


deretan pelayan yang membawa banyak sekali paper bag.


Riri : “Kalian


darimana? Kenapa banyak sekali belanjaannya?”


Katty : “Ini semua


titipan kak Katty, Ri. Pak Elo, tadi saya mau belanja karena dititipin sama kak


Katty, tapi kartu saya limitnya kurang. Bisa saya minta nomor rekening bapak? Nanti


saya transfer uangnya.”


Elo : “Trus kamu


belanja pake apa?”


Katty : “Rebecca


meminjamkan kartu hitam tadi.”


Elo : “Rebecca,


siapa yang ngasi kartu itu?”

__ADS_1


Rebecca : “Tuan


Besar, tuan muda. Beliau berpesan kalau tuan muda dan tamunya ingin berbelanja,


bisa memakai kartu itu.”


Elo : “Berarti


kakek yang bayar. Gak usah diganti, Kaori.”


Kaori : “Tapi


jumlahnya banyak sekali, pak. Nanti saya dimarahi kakak saya karena merepotkan.”


Elo : “Bilang saja


kakek yang traktir. Ayo cepat kita siap-siap, sebentar lagi kita harus ke


bandara. Rebecca, apa kita sempat makan siang?”


Rebecca : “Pak Kim


sudah menyiapkan semuanya, tuan muda.”


Elo : “Kita makan


dulu ya.”


Kaori : “Tapi,


pak...”


Elo : “Gak usah


dipikirkan ya. Jarang loh kakek mau traktir begitu. Mungkin karena ada Riri.”


Riri : “Aku,


kak...?”


Elo : “Kakek sangat


royal kalau menyangkut orang yang sangat spesial untuknya. Aku aja jarang banget


dibelikan sesuatu. Kalo gak ultah, ya gak dapet.”


Kaori : “Wah, cucu


mantu kesayangan soalnya.”


Riri : “Kaori! Apa


sich?!”


Kaori : “Bener kan?”


Rio : “Beruntung


banget kamu, Ri.”


Wajah Riri merona


mendengar godaan semua orang. Ia masih merasakan ketidaknyamanan menjadi calon


menantu orang kaya. Dia gak sabar ketemu Mia untuk mencurahkan isi hatinya.


*****


Setelah selesai


makan siang, mereka mengemasi barang-barang mereka dan berpamitan dengan mama


Ratna.


Riri : “Mah, kakek


kemana?”


Mama Ratna : “Kakek?


Kemana ya? Tadi pagi kayaknya keluar gak tau kemana.”


Riri : “Yah, gak


bisa pamitan langsung dong.”


Mama Ratna : “Nanti


mama sampaikan ya, sayang. Peluk mama dong.”


Mama Ratna memeluk


Riri dengan erat seperti tidak mau melepaskannya lagi.


Elo : “Mah, Ririnya


jangan dibekap gitu dong. Gak bisa nafas dia tuch.”


Mama Ratna : “Habisnya


mama gemes. Jangan pulang ya, disini aja sama mama. Kamu bisa kuliah di sini.


Kakek juga punya kampus disini.”


Elo : “Gak boleh!


Riri harus ikut kemana Elo pergi. Riri, istri Elo, mah.”


Riri : “Kak, baru


calon. Nyebut, kak.”


Semua orang tertawa


melihat wajah Elo yang merona karena menyebut Riri sebagai istrinya padahal


mereka belum menikah.


🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca


novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk


Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya


para reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak


ya..

__ADS_1


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.


🌲🌲🌲🌲🌲


__ADS_2