
Riri masih
kebingungan harus mengatakan apa pada mama Ratna. Ia tidak tahu apa yang
terjadi semalam, tapi dari yang ia lihat pagi ini, memang sudah terjadi sesuatu
antara dirinya dan Elo. Tapi Riri tidak merasakan ada yang salah dengan tubuhnya.
Riri : “Mah, Riri
boleh tanya?”
Mama Ratna : “Tanya
apa, sayang?”
Riri : “Waktu Riri
dibawa pulang kesini, kenapa Riri gak ditaruh di kamar Riri sendiri?”
Mama Ratna : “Yah,
kau tahu Elena masih menghubungi anak buahnya untuk memastikan mereka melakukan
pekerjaan dengan baik. Jadi Pak Kim membawamu ke kamar lama Angelo dan begitu
Angelo masuk, Pak Kim menukar dekorasi di luar pintu dengan pintu kamar
sebelah. Mungkin kalian sempat dengar sesuatu tadi pagi?”
Riri : “Nggak
denger apa-apa, mah? Memangnya kenapa?”
Mama Ratna : “Jadi,
Elena sengaja menjebak Angelo agar bisa tidur dengannya. Tapi dia salah masuk
kamar dan mengira pria di kamar adalah Angelo.”
Elo : “Jadi...”
Mama Ratna : “Ya,
melihat rencana liciknya untuk menjebakmu, mama mengatur sesuatu dengan Pak
Kim. Mama menyewa seseorang yang mirip denganmu, untuk berpura-pura menjadi
dirimu dan tidur bersama Elena.”
Riri : “Oh, ya
ampun.”
Riri malu mendengar
cerita mama Ratna, ia merasa gak nyaman tapi penasaran juga mendengar
kelanjutannya.
Mama Ratna : “Jadi
orang itu namanya Heru. Mama juga sudah merekam perbuatan Elena, kita perlu itu
untuk bukti kan?
Elo : “Ada
videonya? Wah, pasti seru tuch. Kalau di-up, bisa viral.”
Wajah Riri semakin
memerah, ia bahkan mulai salah tingkah. Elo yang melihat Riri gak tenang,
menggenggam tangannya.
Elo : “Kamu kenapa
gelisah gitu?”
Riri : “Itu kasian
Elena, jadinya dia diperkosa gitu ya?”
Mama Ratna :
“Apanya yang diperkosa? Dari teriakannya semalam, dia mengira Heru itu Angelo.
Manggil nama Angelo terus sambil mendesah gak jelas. Mama geli dengernya.”
Riri : “Waduh...
Tapi kan mereka belum menikah. Kalau Elena hamil gimana?”
Mama Ratna : “Itu
bukan urusan kita, Riri sayang. Kamu jangan terlalu baik sama orang seperti
Elena atau kamu akan mudah disakiti. Polos banget sich, calon mantu mama ini.”
Mama Ratna mencubit
pipi Riri dengan gemas. Riri tersipu malu disebut calon mantu.
Elo : “Iya, Ri.
Jangan tertipu dengan Elena. Dia sudah berubah jadi orang jahat. Mama baiknya
usir dia dari sini, tante Dewi juga.”
Mama Ratna : “Mama
gak bisa melakukan itu, Angelo. Cuma kakek yang bisa. Tapi setidaknya kita
punya video bejatnya dengan Heru, kan. Elena tidak akan berani mengganggu
kalian lagi. Tapi untuk jaga-jaga, bagaimana kalau kalian menikah secepatnya?”
Riri menatap mama
Ratna dan Elo yang juga sudah menatapnya.
Riri : “Riri...
Riri mau nikah sekarang, tapi ada syaratnya.”
Elo : “Apa, Ri?
Bilang apa syaratnya?”
Riri : “Pertama,
Riri mau tetap lanjut kuliah sampai lulus. Kedua, sekarang kan Riri masih 18
__ADS_1
tahun, kak Elo harus nunggu Riri lulus kuliah dulu, baru...”
Elo : “Baru
apa...?” Elo beneran gak sabaran dengan syarat yang diajukan Riri.
Riri : “Baru Riri
mau hamil. Ketiga, kak Elo gak boleh maksa minta hak kakak sebagai suami sama
Riri.”
Elo : “Itu aja, kan?
Tapi aku boleh peluk, boleh cium kan?”
Riri menunduk menahan
malunya, Elo bahkan tidak malu berkata begitu di depan mamanya.
Mama Ratna :
“Waduh, berat amat syaratnya. Yang sabar ya kak Elo...”
Mama Ratna
tersenyum melihat wajah nelangsa Elo. Ia sangat mengerti kalau putranya itu
sangat mencintai Riri dan ingin segera menjadikan Riri miliknya seutuhnya.
Elo : “Kalau
gara-gara kejadian semalam, kamu hamil gimana?”
Riri : “Ya, aku
akan jaga bayi itu dengan baik, kak.”
Elo : “Iya, deh. Aku
janji akan penuhi semua syaratmu, tapi kita nikah secepatnya ya. Minggu depan?”
Riri : “Belum
bilang sama mama, kak. Belum tentu dikasi juga sama papa.”
Elo : “Kalau aku
berhasil meyakinkan mama, papamu, kamu gak akan mengelak lagi, kan?”
Riri menatap Elo
yang tampak sangat percaya diri bakalan disetujui menikahi dirinya minggu
depan.
Mama Ratna : “Kita
perlu persiapan yang lebih matang, Angelo. Kamu tahu kakek, kan. Paling tidak
perlu waktu sebulan untuk mempersiapkan semua sesuai standar kakek.”
Riri : “Bisakan
sederhana saja? Hanya keluarga besar dan beberapa relasi mungkin?”
Mama Ratna : “Nanti
mama bicara dengan kakek ya. Ini pernikahan calon pewaris tunggal kakek, pasti
Riri : “Apa boleh
kalau Riri yang bicara langsung sama kakek?”
Mama Ratna : “Tentu
boleh, sayang. Tapi tidak sekarang ya. Kalian harus siap-siap kembali kan?”
Elo : “Oh, iya mah.
Nanti Elo usahakan ketemu om Alex dulu. Kita harus ceritakan apa yang terjadi
disini, Ri.”
Riri : “Tapi...
Riri malu, kak.”
Elo : “Trus apa
alasan kita menikah secepat ini? Memangnya papamu akan ijinkan?”
Riri : “Biar aku
yang ngomong sama papa, kak.”
Elo : “Kalau gak
hari ini, aku yang akan ngomong, Ri.”
Riri : “Iya, kak.”
Mereka berdua akhirnya
keluar dari ruang baca setelah Elo membujuk akan mengajak Riri kesini lagi
untuk membaca bersama, dan bertemu Rio dan Kaori yang masuk bersama Rebecca dan
deretan pelayan yang membawa banyak sekali paper bag.
Riri : “Kalian
darimana? Kenapa banyak sekali belanjaannya?”
Katty : “Ini semua
titipan kak Katty, Ri. Pak Elo, tadi saya mau belanja karena dititipin sama kak
Katty, tapi kartu saya limitnya kurang. Bisa saya minta nomor rekening bapak? Nanti
saya transfer uangnya.”
Elo : “Trus kamu
belanja pake apa?”
Katty : “Rebecca
meminjamkan kartu hitam tadi.”
Elo : “Rebecca,
siapa yang ngasi kartu itu?”
__ADS_1
Rebecca : “Tuan
Besar, tuan muda. Beliau berpesan kalau tuan muda dan tamunya ingin berbelanja,
bisa memakai kartu itu.”
Elo : “Berarti
kakek yang bayar. Gak usah diganti, Kaori.”
Kaori : “Tapi
jumlahnya banyak sekali, pak. Nanti saya dimarahi kakak saya karena merepotkan.”
Elo : “Bilang saja
kakek yang traktir. Ayo cepat kita siap-siap, sebentar lagi kita harus ke
bandara. Rebecca, apa kita sempat makan siang?”
Rebecca : “Pak Kim
sudah menyiapkan semuanya, tuan muda.”
Elo : “Kita makan
dulu ya.”
Kaori : “Tapi,
pak...”
Elo : “Gak usah
dipikirkan ya. Jarang loh kakek mau traktir begitu. Mungkin karena ada Riri.”
Riri : “Aku,
kak...?”
Elo : “Kakek sangat
royal kalau menyangkut orang yang sangat spesial untuknya. Aku aja jarang banget
dibelikan sesuatu. Kalo gak ultah, ya gak dapet.”
Kaori : “Wah, cucu
mantu kesayangan soalnya.”
Riri : “Kaori! Apa
sich?!”
Kaori : “Bener kan?”
Rio : “Beruntung
banget kamu, Ri.”
Wajah Riri merona
mendengar godaan semua orang. Ia masih merasakan ketidaknyamanan menjadi calon
menantu orang kaya. Dia gak sabar ketemu Mia untuk mencurahkan isi hatinya.
*****
Setelah selesai
makan siang, mereka mengemasi barang-barang mereka dan berpamitan dengan mama
Ratna.
Riri : “Mah, kakek
kemana?”
Mama Ratna : “Kakek?
Kemana ya? Tadi pagi kayaknya keluar gak tau kemana.”
Riri : “Yah, gak
bisa pamitan langsung dong.”
Mama Ratna : “Nanti
mama sampaikan ya, sayang. Peluk mama dong.”
Mama Ratna memeluk
Riri dengan erat seperti tidak mau melepaskannya lagi.
Elo : “Mah, Ririnya
jangan dibekap gitu dong. Gak bisa nafas dia tuch.”
Mama Ratna : “Habisnya
mama gemes. Jangan pulang ya, disini aja sama mama. Kamu bisa kuliah di sini.
Kakek juga punya kampus disini.”
Elo : “Gak boleh!
Riri harus ikut kemana Elo pergi. Riri, istri Elo, mah.”
Riri : “Kak, baru
calon. Nyebut, kak.”
Semua orang tertawa
melihat wajah Elo yang merona karena menyebut Riri sebagai istrinya padahal
mereka belum menikah.
🌻🌻🌻🌻🌻
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca
novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk
Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya
para reader.
Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak
ya..
__ADS_1
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
🌲🌲🌲🌲🌲