Duren Manis

Duren Manis
Ngambek


__ADS_3

Mia langsung keluar dari mobil setelah Alex memarkir mobil di garasi. Ia masuk ke dalam rumah dan langsung menuju kamar untuk mandi.


Nenek dan mb Minah sudah mulai memasak makan malam. Alex yang menyusul Mia ke dalam kamar, diacuhkan oleh istrinya itu.


Alex : "Kamu marah, yang?"


Mia : "Gak."


Jawaban singkat Mia membuat Alex garuk-garuk kepala. Ia bingung kenapa Mia marah? Dirinya sudah berjanji akan cerita kalau wanita-wanita yang dulu mengejarnya kembali lagi.


Apa dia harus cerita sekarang? Astaga, kadang-kadang wanita tidak bisa dimengerti. Sekarang bilang gak pa-pa, sebentar kemudian mereka ngambek.


Alex memikirkan sesuatu yang bisa membuat Mia berhenti ngambek padanya. Setidaknya mau bicara normal lagi. Dan jangan sampai dirinya gak dapat jatah, bisa mampus main solo lagi.


Alex mengambil ponselnya, ia memesan sesuatu untuk di kirim ke apartmentnya besok. Asistennya akan mengurus semuanya, jadi besok malam mereka akan menginap disana.


Alex mandi dan ganti pakaian, ia akan menunggu makan malam sambil duduk di meja makan.


Saat itu Rara dan Arnold pulang ke rumah. Mereka menyapa semua orang yang ada di dapur, sebelum Arnold masuk ke kamar Rara untuk mandi.


Rara : "Mah, mama kenapa? Kok kelihatan sedih?"


Mia : "Gak pa-pa, mama cuma lagi capek."


Nenek : "Istirahat aja sana kalau capek. Kalian kan baru nikah kemarin."


Nenek dan mb Minah senyum-senyum menatap kedua pengantin wanita itu. Belum lagi waktu mendengar keributan dari dalam kamar pengantin Mia tadi pagi.


Nenek sampai cepat-cepat menyuruh si kembar berangkat sekolah agar tidak mendengar suara-suara itu.


Rara tidak yakin kalau alasan Mia cuma capek. Ia cukup mengenal mama tirinya itu dan tebakan Rara mungkin ada hubungannya dengan papanya.


Alex mendekati meja makan, ia duduk diujung meja agar bisa memperhatikan apa yang dilakukan Mia. Ia menatap intens pada Mia yang terlihat cekatan memainkan peralatan masak.


Rara yang melihat kelakuan papanya, menahan dirinya untuk tidak bertanya lebih lanjut pada Mia. Masih ada waktu nanti malam untuk mereka ngobrol antara wanita dewasa.


Mia meminta mb Minah menghidangkan makanan diatas meja makan. Ia melanjutkan mencuci peralatan masak yang ia gunakan tadi.


Rara membantu Mia mencuci peralatan masak itu. Ia mencoba menghibur Mia dengan beberapa lelucon yang bisa membuat Mia tertawa.


Arnold keluar dari kamar Rara, ia menyapa Alex dan duduk di sampingnya,


Alex : "Gimana semalam?" Alex berbisik pada Arnold yang sudah duduk.


Arnold : "Berhasil, pah..." Arnold mengacungkan jempolnya pada Alex.


Alex : "Berapa ronde?"


Arnold : "Cuma sekali, pah. Gak berani banyak-banyak. Nanti Rara gak bisa jalan..."


Alex : "Kalo cuma sekali, kapan Rara bisa hamil?"


Arnold : "Kami nunda punya anak, pah. Tunggu Rara lulus kuliah. Papa tenang aja."

__ADS_1


Kedua pria dewasa itu berbisik-bisik seperti sedang membicarakan rencana-rencana mesum yang hanya mereka berdua yang tahu.


Sama halnya dengan kedua wanita dewasa di depan tempat cuci piring yang juga sedang berbisik-bisik.


Sementara nenek cuma geleng-geleng kepala melihat mereka berempat.


Makan malam sudah terhidang di meja makan, si kembar turun dari kamar mereka. Lagi-lagi mendominasi Mia agar duduk di samping kiri dan kanan mereka.


Alex manyun melihat Mia acuh padanya. Rara juga sibuk melayani Arnold. Alex harus melayani dirinya sendiri mengambil makanan.


Setelah acara makan malam, mereka duduk bersama di ruang keluarga. Kali ini menonton drama komedi romantis yang diputar dari DVD player.


Rara duduk bersama Arnold, si kembar duduk mengapit Mia, dan Alex duduk sendiri di pojokan. Sesekali mereka tertawa bersama saat adegan lucu.


Mia yang sudah lelah, perlahan mulai tertidur. Tubuhnya menyandar pada bantal besar dan kepalanya terkulai sembarangan. Alex melihat itu, ia bergeser duduk di samping Mia dan membetulkan posisi tidurnya.


Tak lama, film itu berakhir. Si kembar menguap, mereka berjalan kembali ke kamar mereka di lantai 2. Rara dan Arnold masih ingin nonton film berikutnya. Dan Alex membopong Mia ke kamar mereka.


Mia : "Mas... Alex..."


Sepertinya Mia sedang bermimpi, ia terus menggumamkan memanggil nama Alex. Tiba-tiba Mia menangis sedih, Alex langsung mengguncang tubuh Mia, membangunkannya.


Alex : "Sayang? Mia? Bangun...!!"


Mia membuka matanya, keringat dan air mata membasahi wajah dan tubuhnya. Ia langsung memeluk Alex dengan nafas ngos-ngosan.


Alex : "Kamu mimpi apa, sayang?"


Alex : "Astaga, sayang. Aku gak akan ninggalin kamu. Tidak untuk apapun. Percaya sama aku, Mia. Aku mencintaimu sampai kapan pun."


Mia : "Mas bilang gitu, tapi mas gak mau cerita siapa aja wanita yang pernah bilang suka sama mas. Aku khawatir, mas. Untuk sekarang mas masih percaya sama aku, tapi kalau ada lagi yang lebih jahat dari Stella, apa mas masih percaya aku?"


Alex : "Kamu bisa cerita apa saja kegiatanmu kalau tidak bersamaku. Dan cepatlah hamil, seorang anak akan semakin menguatkan pernikahan kita. Aku bisa membantu untuk itu."


Mia : "Apa...??" Mia bahkan tidak menyadari sejak kapan kaos yang dipakainya sudah terlepas.


Alex tidak membiarkan Mia menghindar lagi, Mia hanya bisa pasrah saat Alex mulai mencium bibirnya, melumatnya lembut.


Tangan Alex sangat aktif menelusuri tubuh Mia, membuat Mia mengerang perlahan. Alex semakin menekan Mia hingga keduanya terkulai lemas diatas ranjang.


Mia : "Mas, kamu sengaja ya. Aku masih kesal sama kamu."


Alex : "Jangan ngambek lagi dong atau..."


Mia : "Atau apa?"


Alex : "Kita lakukan sampai pagi..."


Mia : "Mas, kamu gila."


Alex : "Aku tergila-gila sama kamu. Semua yang ada di kamu membuatku gila, sayang."


Alex memeluk Mia, mencium pundaknya yang terlihat dari balik selimut. Mereka hanya diam untuk beberapa saat, mengumpulkan tenaga yang sama-sama terkuras setelah pergumulan mereka tadi.

__ADS_1


Alex : "Ini pertama kalinya..."


Mia : "Apa mas?"


Alex : "Kita bertengkar."


Mia : "Mas yang mulai..."


Alex : "Iya, maaf. Kamu mau dengar ceritanya sekarang?"


Mia : "Besok aja, aku lagi gak mood."


Alex : "Kamu capek? Tidur aja."


Mia : "Mas capek?"


Alex : "Gak kok."


Mia : "Ya udah, ayo..."


Alex menatap Mia bingung apa mau istrinya itu. Mia membalik tubuhnya menghadap Alex dan mulai menggodanya.


Alex tersenyum senang dan langsung mengikuti keinginan Mia. Mereka memanaskan kamar mereka sampai larut malam, sebelum terkapar saling berpelukan.


------


Stella meremas-remas foto pernikahan Alex dan Mia. Ia masih saja kesal dengan kenyataan kalau Alex sudah jadi milik orang lain.


Ia ingat pertama kalinya mereka bertemu dua tahun lalu. Sebuah pertemuan bisnis dan perkenalan dari seorang teman, membuat Stella jatuh cinta pada pandangan pertama.


Alex tidak menanggapi saat Stella mengungkapkan perasaannya. Ia tidak merasakan apa-apa saat bersama Stella. Meskipun mereka sempat jalan beberapa kali. Alex hanya menganggap Stella teman biasa.


Stella menyesal sempat ke luar negeri selama setahun untuk mengurus bisnisnya tanpa mengawasi Alex. Ia sangat terkejut mendapat undangan pernikahan yang terlambat dibukanya.


Saat ia kembali, ia langsung menemui Alex sambil merencanakan untuk menghancurkan pernikahan mereka. Tapi nyatanya, pernikahan mereka cukup kuat dan tidak terpengaruh trik murahan yang disiapkan Stella.


Stella menggigit kukunya dengan gusar, Alex sudah sangat jelas memperingatkannya agar tidak mengganggu pernikahannya dengan Mia. Tapi Stella belum mau menyerah.


Ia akan mundur sekarang sampai Alex bisa memaafkannya. Dan saat itu terjadi, Stella akan merebut Alex dari Mia.


Stella tersenyum puas dengan rencana barunya, ia menyingkir dari kota itu untuk sementara waktu.


------


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan sarannya ya para reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya...


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.


--------

__ADS_1


__ADS_2