
Alex menunggu kedatangan Rara dan Arnold di rumahnya. Sesekali ia mengirim text pada Ronald yang penasaran apakah mereka sudah sampai atau belum.
Mobil Ronald berhenti di depan rumah Alex. Rara menatap rumah yang sudah didekorasi untuk acara siraman Alex tapi belum dibongkar.
Rara : "Kak, aku takut."
Ronald : "Ayo, turun dulu. Kita bicara sama papamu."
Tadi Arnold sudah mengirim chat pada Alex tapi hanya di read. Ia juga deg-degan menunggu reaksi Alex. Kalau sampai pernikahan harus ditunda, ia harus mengemasi barang-barangnya dari kamar Rara.
Arnold menggenggam tangan Rara ketika mereka berjalan memasuki rumah Alex. Sesekali Arnold mengeratkan tangannya untuk memberi semangat pada Rara.
Ia juga membutuhkannya mengingat ini saat penentuan masa depan mereka akan dimulai lusa atau entah berapa tahun lagi.
Mereka melihat Alex duduk di ruang keluarga, sedang menonton TV. Beberapa saudara mereka juga ada dan menyapa Rara sekilas.
Rara : "Papa, acaranya gimana?"
Alex : "Lancar, sayang. Terapimu juga kan? Sudah baikan?"
Rara : "Uda sich pah..."
Rara tidak meneruskan ucapannya, ia melirik Arnold bergantian dengan Alex.
Alex : "Sepertinya kita perlu bicara di tempat yang lebih nyaman ya. Ayo."
Alex berjalan duluan masuk ke rumah keluarga di rumah baru mereka. Ia berjalan terus ke halaman samping yang cukup sepi.
Mereka duduk bertiga dalam diam yang cukup menegangkan. Rara menyikut Arnold yang masih terpaku.
Saat Arnold ingin bicara, Alex memintanya agar diam. Ia fokus menatap Rara yang langsung menunduk.
Alex membelai kepala putri sulungnya, meskipun sudah hampir menikah, ia merasa putrinya ini masi seperti putri kecilnya yang berumur 7 tahun.
Saat itu Rara selalu berdandan cantik dan memakai gaun seperti seorang pengantin. Ia akan berjalan perlahan di depan cermin sambil sesekali tertawa ceria.
Alex : "Ra, papa tahu apa alasan kalian menikah. Tapi sekarang alasan itu sudah tidak ada. Kalian sudah sembuh. Jadi apa kalian masih mau menikah sekarang?"
Rara menatap Arnold, ia ingin Arnold membantunya menjawab papanya.
Alex : "Rara, papa sedang bicara sama kamu. Tolong lihat papa."
Rara menatap papanya dan mengangguk takut-takut.
__ADS_1
Rara : "Rara sayang sama kak Arnold, pah. Rara mau hidup sama dia. Rara memang masih kuliah, tapi Rara janji tetap menyelesaikan kuliah sampai lulus."
Alex : "Ini masa depanmu, Ra. Sekali lagi pikirkan dengan baik. Bagaimana dengan pekerjaan? Kamu mau kerja dulu habis lulus kuliah?"
Rara : "Untuk saat ini Rara cuma mau hidup sama Arnold, pah. Kami sudah banyak melalui kejadian yang sangat berat. Kami saling membutuhkan, pah. Seperti papa ingin hidup bersama mama Mia, Rara juga ingin hidup bersama Arnold."
Alex : "Apa sudah kau pikirkan baik-baik? Karena kalau kalian sudah menikah, segalanya sudah sah. Meskipun kau berjanji untuk tidak meminta hak mu sebagai suami, kalian tidak akan bisa menahannya kalau sudah berdua saja di dalam kamar."
Arnold mengangguk membenarkan apa yang dikatakan Alex dan memang benar kenyataannya sudah mereka lewati.
Alex : "Tuch lihat, Arnold juga setuju sama papa."
Arnold yang terkejut spontan menggeleng, ia bukan setuju tentang menunda pernikahan, tapi hal barusan.
Alex hampir keceplosan ketawa melihat reaksi Arnold. Ia gemas melihat keduanya juga ngebet kawin seperti dirinya. Yah, setidaknya Rara akan menjadi tanggung jawab Arnold.
Rara : "Pa, papa setuju kan? Rara sama Arnold bisa nikah lusa kan?"
Rara memandang papanya memohon diijinkan menikah dengan pria yang ia cintai dan juga mencintainya.
Alex : "Iya... Papa gak ada alasan menunda lagi. Tapi kalian harus ingat janji yang sudah kalian buat sendiri."
Rara : "Yeeii... papa baik banget dech."
Alex : "Masi gak mau peluk? Uda mau jadi istri orang sekarang gak mau peluk papa nich."
Alex : "Gak jadi dech."
Rara memeluk papanya dari samping, ia tersenyum sangat bahagia karena harapannya terkabul.
------
Acara siraman Rara berjalan lancar, semua keluarga bergembira bersama di rumah Alex. Rara terlihat cantik dengan dandanan sederhana dan balutan kain batik.
Alex juga terlihat gagah dengan seragam warna coklat, serasi dengan si kembar dan nenek. Mereka berfoto bersama sebelum dan sesudah siraman Rara.
Rara : "Papa, makasih uda ijinin Rara nikah."
Alex : "Iya, sayang. Tapi kalian tinggal dulu di sini ya. Mama Mia kan bisa bantu kamu sama tugas kuliah juga."
Rara : "Iya, pah. Arnold juga bakalan sibuk sama kantor barunya. Papa tahu Arnold mau buka kantor cabang?"
Alex : "Ya, joint sama papa. Papa yang minta biar Arnold gak terus-terusan gangguin kamu."
__ADS_1
Rara : "Kok gitu, pah? Ntar Arnold kecapean, pah. Kan baru sembuh."
Alex : "Gak akan, tenang aja. Segitunya khawatir, papa kayaknya gak pernah digituin dech."
Rara : "Papa kan punya mama Mia."
Alex mati kutu mendengar kata-kata Rara. Putrinya ini semakin pintar menjawab.
Perhatiannya teralihkan pada si kembar yang asyik ngobrol, meskipun sudah besar, mereka berdua sangat suka mengobrol daripada bermain ponsel.
Rio sebagai anak laki-laki tidak pernah mengganggu Riri ataupun Rara. Mereka bersaudara dengan sangat rukun dan baik.
Bahkan sangat kompak kalau urusan mengerjai orang jahat seperti tante Santi dulu.
Alex teringat setelah mengusir Santi dari kantornya, Santi mencoba datang ke rumah Alex. Tapi si kembar yang sudah tahu tentang kejahatan Santi, mencoba mengorek keterangan tentang kelemahannya.
Setelah tahu kalau Santi alergi gula merah, Riri membuatkan minuman yang ia campurkan sedikit gula merah. Akibatnya seluruh tubuh Santi yang terlihat mengalami bercak merah dan gatal.
Santi langsung kabur dari rumah Alex dan masih tetap datang sampai tiga kali karena penasaran. Saat ketiga kalinya itukah ia sadar kalau dikerjain si kembar.
Alex mengelus kepala Rio, dan merangkul Riri dalam pelukannya. Kedua anaknya ini terlalu mandiri dan seolah tidak membutuhkan dirinya.
Tidak heran karena kesibukan Alex bekerja untuk memenuhi kebutuhan mereka, Alex jarang memberi perhatian pada si kembar. Untung saja mereka tumbuh dengan baik dan jadi anak berbakti.
-------
Arnold yang sudah kembali ke apartmentnya sejak semalam, memandangi beberapa foto dan video siraman yang dikirim Alex. Ia tersenyum melihat beberapa kekonyolan si kembar yang sudah semakin dewasa.
Dialihkannya perhatiannya pada setelan jas yang besok akan ia kenakan pada acara ijab pernikahannya dengan Rara.
Jas itu berwarna putih lengkap dengan beberapa ornamen yang menghiasinya. Arnold melihat sekeliling kamar apartmentnya.
Ia berpikir ingin menghias kamar itu dengan beberapa bunga. Setidaknya mirip lah dengan kamar pengantin pada umumnya.
Tapi ia teringat janjinya pada Alex untuk tidak meminta hak sebagai suami pada Rara.
Setelah mempertimbangkan cukup lama karena gak ada kerjaan juga, Arnold memutuskan memesan dekorasi untuk kamar apartmentnya.
-------
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan sarannya ya para reader.
__ADS_1
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
--------