Duren Manis

Duren Manis
DM2 – Menenangkan diri


__ADS_3

DM2 – Menenangkan diri


“Heh! Wanita MANDUL, jangan harap kau bisa


terus bersama Rioku tersayang. Aku yang akan mengandung anaknya. Tunggu saja.”


Gadis hampir menjatuhkan ponselnya setelah


membaca pesan singkat itu. Ia kebingungan siapa yang mengiriminya pesan


menyakitkan seperti itu. Lagipula dirinya tidak mandul, ia pernah hamil tapi


keguguran. Dia bukan wanita mandul seperti yang dituduhkan pelaku pengirim


pesan singkat ini.


Tring! Tring! Ada pesan lain yang masuk, Gadis


membukanya dengan cepat. Itu notif dari tagihan kartu kreditnya, ia belum


membayarnya dan sudah jatuh tempo hari ini.


Rio yang baru keluar dari kamar mandi,


melihat Gadis memegang ponselnya. “Gadis, ngapain kamu pegang HP?”


“Eh, apa? Oh, ini aku lupa bayar kartu


kredit. Aku bayar bentar ya. Gak akan lama, kok.”saut Gadis cepat.


Ia mengambil token salah satu bank dari


dalam tasnya dan duduk di pinggir tempat tidur. Untuk menyamarkan kegugupannya,


Gadis sedikit bersenandung. Ia jelas masih memikirkan isi pesan singkat itu.


Siapa orangnya yang tega melakukan hal


kejam seperti itu? Apa ada wanita yang ingin mendapatkan Rio. Tapi sampai


mengandung anak Rio, wanita ini cukup percaya diri. Gadis melirik Rio yang


sedang memesan makanan lagi, ia ingin memberitahu Rio. Tapi melihat beban yang


membuat kening Rio mengkerut terus menerus dan juga melamun, Gadis mengurungkan


niatnya.


Gadis meletakkan kembali token dan


ponselnya ke dalam tas. Ia melihat staf villa datang mengantar makanan lagi dan


membereskan bekas makan mereka tadi. Gadis ikut duduk di samping Rio, mereka


sama-sama melihat matahari terbenam dari dalam villa.


“Waow bagus sekali. Aku boleh foto ya?”


“Ayo foto pakai latar belakang sunset.


Ambil HP-ku.”


Mereka mengambil banyak foto selfie mesra


berdua. Rio memilih beberapa foto dan mengirimkannya ke ponsel Gadis. Ia


memilih satu foto yang hampir mirip dengan foto pertamanya dengan Kaori dulu.


Di foto itu Rio menempelkan bibirnya di pipi Gadis, saat Gadis ingin berfoto


sendiri ketika wajahnya terkena sinar matahari senja.


Senyuman manis Gadis, dengan wajah tertutup


sedikit oleh tangannya yang memperlihatkan cincin pernikahan mereka ditambah


Rio yang mencium pipinya dengan tangan merangkul bahu Gadis. Rio menjadikan


foto tidak sengaja itu sebagai profil sosial medianya.


Sementara itu di tempat lain, jauh dari


kemesraan mereka berdua. Kinanti menggenggam keras HP di tangannya. Ia baru


saja melihat postingan terbaru  sosmed


Rio. “Bisa-bisanya dia pergi liburan tanpa ngasi tau aku. Pantas aja dia


menghilang seharian!”


Rio hanya meminta ijin pada Ilham untuk


cuti selama 3 hari dan meminta Ilham tidak memberi tahu siapapun tentang

__ADS_1


kepergiannya bersama Gadis.


“Kamu liatin apa sich?”tanya Endy. Mereka


berdua sedang ada di apartment Kinanti. Endy merebut ponsel Kinanti melihat apa


yang membuat Kinanti marah. “Kamu mau liburan juga, sayang?”


“Kamu nich kapan sich pinternya. Ngeselin


banget. Dasar anak mami!”


Endy menarik tangan Kinanti, “Yank, jangan


marah-marah terus dong. Aku kan udah bantu kamu ngjebak dia. Bukan salahku dong


kalo dia pergi liburan sana istrinya.”


Kinanti mencoba menepis tangan Endy, tapi


pria itu malah memeluknya erat. “Lepas nggak?!”bentak Kinanti kesal.


“Kamu marah gini, aku jadi pengen. Yank...


ayo.”


“Nggak! Aku masih belum tahu aku hamil atau


nggak. Gak boleh ganggu dulu!”


“Makanya aku bantu, biar cepet hamil.”


Kinanti tidak menemukan alasan untuk


menolak Endy lagi. Kekasih lamanya ini sudah mau membantunya mendapatkan Rio


dengan syarat yang tidak bisa ditolak Kinanti. Lagipula setelah Kinanti bisa


mendapatkan Rio, ia bisa punya anak sendiri dengan Rio dan meninggalkan Endy.


Kinanti menatap Endy yang sibuk sendiri, ia


membayangkan sedang bercinta dengan Rio yang perkasa. Kinanti tersenyum


sumringah, Endy semakin bersemangat melihat senyum Kinanti. Tak lama Endy


mengerang keras, ia menembakkan benihnya ke rahim Kinanti. Keduanya terkulai


Kinanti mengambil satu ponsel lagi diatas


nakas. Ia mengirimkan pesan singkat lagi untuk mengganggu Gadis.


“Heh, wanita MANDUL, tinggalkan Rio. Dia


akan jadi milikku.”


Gadis mengangkat kepalanya mendengar suara


ponsel, diliriknya Rio yang sudah tertidur pulas. Pelan-pelan, Gadis bangun


dari tidurannya. Ia mengambil ponselnya, lalu kembali ke tempat tidur sambil menenteng


tas-nya. Ia membaca pesan singkat yang masuk.


“Yang benar saja, siapa sich yang berani


banget ngirim pesan kayak gini.”


Gadis memikirkan jawaban yang akan membuat


pengirim pesan itu marah-marah.


“Baru akan jadi milik, kan. Jangan halu dech.”balas


Gadis.


Ia memasangkan charger ke ponselnya dan


memasang mode silent agar tidurnya tidak terganggu.


Keesokan hatinya, Rio dan Gadis sudah berjalan-jalan


di pinggir pantai setelah sarapan. Mereka menikmati sarapan di kolam renang


sambil berenang.


Gadis sudah melupakan pesan singkat yang


mengerikan itu, ia fokus membuat Rio senang. Menuruti semua permintaan pria


itu. Mereka menyusuri bibir pantai sambil bergandengan tangan. Sesekali Gadis


melompati air laut yang mampir membasahi pasir di kaki mereka.

__ADS_1


Keduanya benar-benar sangat senang bisa


menghabiskan waktu berduaan, melupakan sejenak masalah yang mereka hadapi.


Balasan dari Gadis membuat Kinanti berang. Ia


mengirimkan pesan singkat yang lebih jahat lagi. Gadis tidak bisa menahan


dirinya untuk tidak membuka pesan-pesan itu. Ia hampir gila mendengar suara getar


notif yang terus menerus, meskipun ponselnya dalam mode silent.


Gadis mencoba menelpon nomor yang


mengirimkan pesan singkat itu, tapi tidak diangkat. Ia mengirimkan pesan yang


membuat Kinanti melempar ponsel di tangannya.


“Hei, angkat telponku kalau kau  berani menunjukkan dirimu. Pengecut!”


“Sialan!! Awas kamu, Gadis!”


Jelas Kinanti belum bisa menunjukkan siapa


dirinya sekarang. Ia perlu waktu sampai dirinya dinyatakan  hamil nanti. Kinanti hanya perlu menunggu


beberapa minggu lagi, dan Gadis harus menyerahkan Rio padanya. Senyuman licik


muncul di bibir Kinanti.


Beberapa minggu kemudian, serangan teror


SMS mulai mempengaruhi Gadis. Kata-kata yang dikirimkan Kinanti semakin pedas


dan menyakitkan. Mau seperti apapun Gadis membela dirinya, hasilnya tetap saja


Gadis belum bisa memberikan Rio keturunan. Ia juga merasa tertekan dengan sikap


Rio yang masih saja sering melamun.


Meskipun sejak pulang dari liburan, Rio


sudah kembali menjadi wakil Alex di perusahaan dan mereka kembali bersama-sama


bekerja dalam satu kantor. Gadis tidak juga merasa tenang karena gangguan pesan


singkat dari Kinanti.


Seperti bom waktu yang akhirnya meledak,


Gadis memilih pergi dari rumah Alex. Ia kembali ke rumah mamanya untuk


menenangkan diri sejenak. Anehnya, teror pesan singkat itu berakhir ketika


Gadis menginjakkan kakinya di rumah Aira.


Alex dan Mia yang tidak mengetahui


permasalahan yang dialami Gadis, mencoba membujuk Gadis untuk kembali. Mereka


mengijinkan Gadis pergi karena menantunya itu berkata ingin menenangkan diri di


rumah mamanya seharian saja.


Mia yang melihat Gadis terlihat sedih dan


sepertinya tertekan hanya berpesan agar ia kembali secepatnya. Tapi setelah


satu hari berlalu, Gadis belum juga mau kembali. Ia merasa tenang di rumah


mamanya tanpa harus mendengar suara notif pesan singkat.


Rio yang tidak sabaran, akhirnya mendatangi


rumah Aira sepulang bekerja. Ia meminta ijin pada mertuanya untuk menemui Gadis


di kamarnya.


“Rio, tolong sabar sedikit ya. Mama sudah


tau masalahnya tapi sepertinya kamu belum tau ya.”


“Masalah apa, mah? Kami gak bertengkar,


tiba-tiba Gadis bilang mau tinggal disini sehari. Ini sudah dua hari, mah. Rio


mau Gadis pulang.”


*****


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.

__ADS_1


__ADS_2