
DM2 – Menenangkan diri
“Heh! Wanita MANDUL, jangan harap kau bisa
terus bersama Rioku tersayang. Aku yang akan mengandung anaknya. Tunggu saja.”
Gadis hampir menjatuhkan ponselnya setelah
membaca pesan singkat itu. Ia kebingungan siapa yang mengiriminya pesan
menyakitkan seperti itu. Lagipula dirinya tidak mandul, ia pernah hamil tapi
keguguran. Dia bukan wanita mandul seperti yang dituduhkan pelaku pengirim
pesan singkat ini.
Tring! Tring! Ada pesan lain yang masuk, Gadis
membukanya dengan cepat. Itu notif dari tagihan kartu kreditnya, ia belum
membayarnya dan sudah jatuh tempo hari ini.
Rio yang baru keluar dari kamar mandi,
melihat Gadis memegang ponselnya. “Gadis, ngapain kamu pegang HP?”
“Eh, apa? Oh, ini aku lupa bayar kartu
kredit. Aku bayar bentar ya. Gak akan lama, kok.”saut Gadis cepat.
Ia mengambil token salah satu bank dari
dalam tasnya dan duduk di pinggir tempat tidur. Untuk menyamarkan kegugupannya,
Gadis sedikit bersenandung. Ia jelas masih memikirkan isi pesan singkat itu.
Siapa orangnya yang tega melakukan hal
kejam seperti itu? Apa ada wanita yang ingin mendapatkan Rio. Tapi sampai
mengandung anak Rio, wanita ini cukup percaya diri. Gadis melirik Rio yang
sedang memesan makanan lagi, ia ingin memberitahu Rio. Tapi melihat beban yang
membuat kening Rio mengkerut terus menerus dan juga melamun, Gadis mengurungkan
niatnya.
Gadis meletakkan kembali token dan
ponselnya ke dalam tas. Ia melihat staf villa datang mengantar makanan lagi dan
membereskan bekas makan mereka tadi. Gadis ikut duduk di samping Rio, mereka
sama-sama melihat matahari terbenam dari dalam villa.
“Waow bagus sekali. Aku boleh foto ya?”
“Ayo foto pakai latar belakang sunset.
Ambil HP-ku.”
Mereka mengambil banyak foto selfie mesra
berdua. Rio memilih beberapa foto dan mengirimkannya ke ponsel Gadis. Ia
memilih satu foto yang hampir mirip dengan foto pertamanya dengan Kaori dulu.
Di foto itu Rio menempelkan bibirnya di pipi Gadis, saat Gadis ingin berfoto
sendiri ketika wajahnya terkena sinar matahari senja.
Senyuman manis Gadis, dengan wajah tertutup
sedikit oleh tangannya yang memperlihatkan cincin pernikahan mereka ditambah
Rio yang mencium pipinya dengan tangan merangkul bahu Gadis. Rio menjadikan
foto tidak sengaja itu sebagai profil sosial medianya.
Sementara itu di tempat lain, jauh dari
kemesraan mereka berdua. Kinanti menggenggam keras HP di tangannya. Ia baru
saja melihat postingan terbaru sosmed
Rio. “Bisa-bisanya dia pergi liburan tanpa ngasi tau aku. Pantas aja dia
menghilang seharian!”
Rio hanya meminta ijin pada Ilham untuk
cuti selama 3 hari dan meminta Ilham tidak memberi tahu siapapun tentang
__ADS_1
kepergiannya bersama Gadis.
“Kamu liatin apa sich?”tanya Endy. Mereka
berdua sedang ada di apartment Kinanti. Endy merebut ponsel Kinanti melihat apa
yang membuat Kinanti marah. “Kamu mau liburan juga, sayang?”
“Kamu nich kapan sich pinternya. Ngeselin
banget. Dasar anak mami!”
Endy menarik tangan Kinanti, “Yank, jangan
marah-marah terus dong. Aku kan udah bantu kamu ngjebak dia. Bukan salahku dong
kalo dia pergi liburan sana istrinya.”
Kinanti mencoba menepis tangan Endy, tapi
pria itu malah memeluknya erat. “Lepas nggak?!”bentak Kinanti kesal.
“Kamu marah gini, aku jadi pengen. Yank...
ayo.”
“Nggak! Aku masih belum tahu aku hamil atau
nggak. Gak boleh ganggu dulu!”
“Makanya aku bantu, biar cepet hamil.”
Kinanti tidak menemukan alasan untuk
menolak Endy lagi. Kekasih lamanya ini sudah mau membantunya mendapatkan Rio
dengan syarat yang tidak bisa ditolak Kinanti. Lagipula setelah Kinanti bisa
mendapatkan Rio, ia bisa punya anak sendiri dengan Rio dan meninggalkan Endy.
Kinanti menatap Endy yang sibuk sendiri, ia
membayangkan sedang bercinta dengan Rio yang perkasa. Kinanti tersenyum
sumringah, Endy semakin bersemangat melihat senyum Kinanti. Tak lama Endy
mengerang keras, ia menembakkan benihnya ke rahim Kinanti. Keduanya terkulai
Kinanti mengambil satu ponsel lagi diatas
nakas. Ia mengirimkan pesan singkat lagi untuk mengganggu Gadis.
“Heh, wanita MANDUL, tinggalkan Rio. Dia
akan jadi milikku.”
Gadis mengangkat kepalanya mendengar suara
ponsel, diliriknya Rio yang sudah tertidur pulas. Pelan-pelan, Gadis bangun
dari tidurannya. Ia mengambil ponselnya, lalu kembali ke tempat tidur sambil menenteng
tas-nya. Ia membaca pesan singkat yang masuk.
“Yang benar saja, siapa sich yang berani
banget ngirim pesan kayak gini.”
Gadis memikirkan jawaban yang akan membuat
pengirim pesan itu marah-marah.
“Baru akan jadi milik, kan. Jangan halu dech.”balas
Gadis.
Ia memasangkan charger ke ponselnya dan
memasang mode silent agar tidurnya tidak terganggu.
Keesokan hatinya, Rio dan Gadis sudah berjalan-jalan
di pinggir pantai setelah sarapan. Mereka menikmati sarapan di kolam renang
sambil berenang.
Gadis sudah melupakan pesan singkat yang
mengerikan itu, ia fokus membuat Rio senang. Menuruti semua permintaan pria
itu. Mereka menyusuri bibir pantai sambil bergandengan tangan. Sesekali Gadis
melompati air laut yang mampir membasahi pasir di kaki mereka.
__ADS_1
Keduanya benar-benar sangat senang bisa
menghabiskan waktu berduaan, melupakan sejenak masalah yang mereka hadapi.
Balasan dari Gadis membuat Kinanti berang. Ia
mengirimkan pesan singkat yang lebih jahat lagi. Gadis tidak bisa menahan
dirinya untuk tidak membuka pesan-pesan itu. Ia hampir gila mendengar suara getar
notif yang terus menerus, meskipun ponselnya dalam mode silent.
Gadis mencoba menelpon nomor yang
mengirimkan pesan singkat itu, tapi tidak diangkat. Ia mengirimkan pesan yang
membuat Kinanti melempar ponsel di tangannya.
“Hei, angkat telponku kalau kau berani menunjukkan dirimu. Pengecut!”
“Sialan!! Awas kamu, Gadis!”
Jelas Kinanti belum bisa menunjukkan siapa
dirinya sekarang. Ia perlu waktu sampai dirinya dinyatakan hamil nanti. Kinanti hanya perlu menunggu
beberapa minggu lagi, dan Gadis harus menyerahkan Rio padanya. Senyuman licik
muncul di bibir Kinanti.
Beberapa minggu kemudian, serangan teror
SMS mulai mempengaruhi Gadis. Kata-kata yang dikirimkan Kinanti semakin pedas
dan menyakitkan. Mau seperti apapun Gadis membela dirinya, hasilnya tetap saja
Gadis belum bisa memberikan Rio keturunan. Ia juga merasa tertekan dengan sikap
Rio yang masih saja sering melamun.
Meskipun sejak pulang dari liburan, Rio
sudah kembali menjadi wakil Alex di perusahaan dan mereka kembali bersama-sama
bekerja dalam satu kantor. Gadis tidak juga merasa tenang karena gangguan pesan
singkat dari Kinanti.
Seperti bom waktu yang akhirnya meledak,
Gadis memilih pergi dari rumah Alex. Ia kembali ke rumah mamanya untuk
menenangkan diri sejenak. Anehnya, teror pesan singkat itu berakhir ketika
Gadis menginjakkan kakinya di rumah Aira.
Alex dan Mia yang tidak mengetahui
permasalahan yang dialami Gadis, mencoba membujuk Gadis untuk kembali. Mereka
mengijinkan Gadis pergi karena menantunya itu berkata ingin menenangkan diri di
rumah mamanya seharian saja.
Mia yang melihat Gadis terlihat sedih dan
sepertinya tertekan hanya berpesan agar ia kembali secepatnya. Tapi setelah
satu hari berlalu, Gadis belum juga mau kembali. Ia merasa tenang di rumah
mamanya tanpa harus mendengar suara notif pesan singkat.
Rio yang tidak sabaran, akhirnya mendatangi
rumah Aira sepulang bekerja. Ia meminta ijin pada mertuanya untuk menemui Gadis
di kamarnya.
“Rio, tolong sabar sedikit ya. Mama sudah
tau masalahnya tapi sepertinya kamu belum tau ya.”
“Masalah apa, mah? Kami gak bertengkar,
tiba-tiba Gadis bilang mau tinggal disini sehari. Ini sudah dua hari, mah. Rio
mau Gadis pulang.”
*****
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.
__ADS_1