
Riri mengambil isi
map itu dan membaca nomor yang tertera di depannya. Ia menatap suaminya yang
sama terkejutnya dengan dirinya.
Elo : “Kakek...?
Ini?”
Riri : “Ini apa,
kek?”
Kakek : “Seperti
yang kalian tahu, ini hari pernikahan Angelo dan aku bermaksud memberi cucu
menantuku sebuah hadiah yang cukup besar. Rumah ini sudah menjadi milik cucu
menantuku Riri.”
Gumaman mirip
dengungan lebah mulai terdengar dari wartawan yang hadir disana. Riri hanya
bengong saat melihat Elo membuka lembar demi lembar dokumen kepemilikan rumah
yang sudah berganti dari atas nama kakek menjadi atas nama Riri.
Elo : “Wow...
kadonya besar banget. Beneran loh, ada namamu disini.”
Riri memegangi
dadanya yang berdetak kencang, sungguh ia sangat terkejut dengan pemberian
kakek. Apalagi saat kakek menambahkan kejutan lainnya.
Kakek : “Nanti
setelah cicitku lahir dari cucu menantuku, aku akan menyerahkan mansion di
negara S pada Riri juga.”
Riri mendadak
memegangi lengan Elo,
Riri : “Tolong
hentikan kakek. Rasanya dadaku mau meledak, mas.”
Elo : “Kek,
sepertinya Riri kecapean. Boleh kami ke kamar dulu sebentar?”
Kakek : “Oho,
pergilah. Semakin cepat semakin baik. Kakek masih mau bicara disini.”
Riri : “Permisi,
kek, mama.”
Elo menuntun Riri
masuk kembali ke dalam rumah, Riri masih memegangi dadanya yang bergemuruh.
Lili mengikuti mereka, tapi Elo meminta Lili memberi tahu pak Kim untuk
menyiapkan makanan.
Elo : “Tolong minta
Pak Kim membawakan makanan ke kamar pengantin kami.”
Lili : “Baik, tuan
muda.”
Elo merasakan nafas
Riri semakin cepat, ia juga masih memegangi dadanya. Dengan cepat Elo
menggendong Riri dan membawanya masuk ke kamar pengantin mereka. Elo
mendudukkan Riri di atas sofa, keringat tampak mengalir dari keningnya.
Elo : “Kamu gak
pa-pa, sayang?”
Riri : “Nafasku
agak sesak, kak. Kenapa kakek ngasi kado kayak gitu?”
Elo : “Aku juga gak
tau, Ri. Lepas aja bajumu ya, kalo sesak.”
Riri mengangguk, ia
__ADS_1
mencoba mengatur nafasnya sambil Elo membantu melepas kancing kebayanya. Pundak
dan punggung mulus Riri langsung terlihat di hadapan Elo yang menelan salivanya
dengan susah payah.
Riri : “Hiii...
mass...” Riri merinding ketika bibir Elo menempel di punggungnya. Tangan Elo
mulai nakal memegang bagian tubuh Riri yang sebelumnya belum pernah ia sentuh
dengan intens. Elo belum puas mencium punggung Riri saat ketukan halus
terdengar di pintu.
Elo : “Sebentar!
Siapa sich, ganggu aja.”
Riri : “Cepat buka,
mas.”
Elo : “Tunggu dulu.
Aku ambil bathrobe dulu.”
Elo mengambil
bathrobe dari dalam lemari dan memakaikannya pada Riri, sebelum membuka pintu.
Pak Kim berdiri di depan pintu dengan nampan berisi makanan.
Pak Kim : “Maaf
mengganggu, tuan muda.”
Elo : “Bawa masuk
aja, Pak Kim.”
Riri menunduk malu
saat Pak Kim masuk dan meletakkan makanan diatas meja. Pak Kim kembali ke depan
Elo,
Pak Kim : “Tuan
muda, resepsi akan segera dimulai. Nona muda sudah ditunggu MUA untuk ganti
baju dan riasan.”
nunggu, Riri belum makan. Nanti aku yang bantu dia ganti baju.”
Pak Kim : “Baik,
tuan muda. Tolong jangan lama-lama.”
Elo memasang wajah
cemberut karena gak boleh lama-lama. Pak Kim berjalan ke samping Elo dan
tersenyum tipis melihat reaksi Elo tadi.
Riri : “Mas kenapa
cemberut?”
Elo : “Resepsinya
udah mau mulai. Kita disuruh ganti baju. Aku bilang aja kamu mau makan dulu.”
Riri : “Kalo gitu
cepat-cepat kita makan, mas. Gak enak ditungguin.”
Elo : “Yah, baru
mau macem-macem.”
Wajah Riri merona
mendengar kata-kata Elo. Ia terkejut saat Elo berjalan menghampirinya dan duduk
di samping Riri. Rasa gugup menjalar ke seluruh tubuh Riri,
Elo : “Sayang, aku
bantu ganti baju ya.”
Riri : “Nggak, mas.”
Elo : “Kenapa, Ri?
Aku kan sudah boleh lihat.”
Riri : “Tapi Riri
malu, mas.”
Elo : “Jangan
__ADS_1
malu-malu, sayang. Aku akan selalu membantumu.”
Elo mencolek dagu
Riri, ia mengambil piring berisi makanan dan menyodorkan sesendok penuh nasi
dengan lauknya. Riri membuka mulutnya saat menyadari kalau Elo ingin
menyuapinya. Bergantian mereka makan dalam satu piring sampai makanan di kedua
piring itu habis.
Riri menyedot jus
dalam gelasnya, saat ia menoleh menatap Elo, suaminya itu sedang menyadarkan
tubuhnya di sofa sambil menepuk perutnya yang kekenyangan.
Elo : “Aku kenyang
sekali dan sekarang mau tidur.”
Riri : “Mas ngaco
dech. Kita masih harus ke resepsi nich.”
Elo : “Makanya sini
aku bantu ganti baju.”
Riri : “Cuma ganti
baju ya...”
Elo mengangguk
dengan senyuman manisnya. Riri menarik nafas panjang dan mulai membiarkan
suaminya membantu melepas baju pengantin yang masih melekat di tubuhnya. Tapi
sepertinya Elo tidak mengingat kesepakatan mereka barusan.
Setelah baju
pengantin Riri teronggok di lantai, tangan Elo mulai menyusuri tubuh ramping
Riri. Sensasi geli membuat tubuh Riri menegang menahan geli.
Riri : “Jangan
pegang disana. Oohh...”
Suasana kamar yang
tadinya dingin dengan AC maksimal, mulai menghangat. Riri memejamkan matanya
merasakan setiap sentuhan Elo. Hanya sentuhan dan kecupan, tanpa nafsu yang
meliputi keduanya.
Sesekali mata Riri
mengintip apa yang sedang dilakukan Elo, tapi ia menutup matanya lagi. Ia
sangat malu dengan apa yang dilihatnya barusan saat Elo sedang menciumi bagian
dadanya. Tiba-tiba sentuhan Elo menghilang, Riri membuka matanya dan melihat
suaminya itu sedang membuka baju pengantinnya.
Riri menarik
bathrobe menutupi tubuhnya yang hanya memakai pakaian dalam. Tubuh Riri kembali
menegang, saat Elo menggendongnya dan membaringkan tubuh Riri diatas tempat
tidur yang dipenuhi kelopak bunga mawar.
Kedua saling
menatap tubuh masing-masing. Elo diam saja saat tangan Riri mulai menyentuh
dadanya, menusuk-nusuk dada Elo dengan jemari tangannya. Saat Elo akan
melakukan hal yang sama pada Riri, gadis itu refleks menutupi dadanya dengan
menyilangkan tangan di dadanya.
Elo tertawa melihat
reaksi Riri. Keduanya kembali saling menatap tubuh masing-masing sebelum
akhirnya.
Tok, tok, tok...
🌻🌻🌻🌻🌻
Tok, tok, tok...
buka pintu dong author dah up nich, votenya mana? Minta vote ya kk.
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
__ADS_1
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).