Duren Manis

Duren Manis
Milik Riri


__ADS_3

Riri mengambil isi


map itu dan membaca nomor yang tertera di depannya. Ia menatap suaminya yang


sama terkejutnya dengan dirinya.


Elo : “Kakek...?


Ini?”


Riri : “Ini apa,


kek?”


Kakek : “Seperti


yang kalian tahu, ini hari pernikahan Angelo dan aku bermaksud memberi cucu


menantuku sebuah hadiah yang cukup besar. Rumah ini sudah menjadi milik cucu


menantuku Riri.”


Gumaman mirip


dengungan lebah mulai terdengar dari wartawan yang hadir disana. Riri hanya


bengong saat melihat Elo membuka lembar demi lembar dokumen kepemilikan rumah


yang sudah berganti dari atas nama kakek menjadi atas nama Riri.


Elo : “Wow...


kadonya besar banget. Beneran loh, ada namamu disini.”


Riri memegangi


dadanya yang berdetak kencang, sungguh ia sangat terkejut dengan pemberian


kakek. Apalagi saat kakek menambahkan kejutan lainnya.


Kakek : “Nanti


setelah cicitku lahir dari cucu menantuku, aku akan menyerahkan mansion di


negara S pada Riri juga.”


Riri mendadak


memegangi lengan Elo,


Riri : “Tolong


hentikan kakek. Rasanya dadaku mau meledak, mas.”


Elo : “Kek,


sepertinya Riri kecapean. Boleh kami ke kamar dulu sebentar?”


Kakek : “Oho,


pergilah. Semakin cepat semakin baik. Kakek masih mau bicara disini.”


Riri : “Permisi,


kek, mama.”


Elo menuntun Riri


masuk kembali ke dalam rumah, Riri masih memegangi dadanya yang bergemuruh.


Lili mengikuti mereka, tapi Elo meminta Lili memberi tahu pak Kim untuk


menyiapkan makanan.


Elo : “Tolong minta


Pak Kim membawakan makanan ke kamar pengantin kami.”


Lili : “Baik, tuan


muda.”


Elo merasakan nafas


Riri semakin cepat, ia juga masih memegangi dadanya. Dengan cepat Elo


menggendong Riri dan membawanya masuk ke kamar pengantin mereka. Elo


mendudukkan Riri di atas sofa, keringat tampak mengalir dari keningnya.


Elo : “Kamu gak


pa-pa, sayang?”


Riri : “Nafasku


agak sesak, kak. Kenapa kakek ngasi kado kayak gitu?”


Elo : “Aku juga gak


tau, Ri. Lepas aja bajumu ya, kalo sesak.”


Riri mengangguk, ia

__ADS_1


mencoba mengatur nafasnya sambil Elo membantu melepas kancing kebayanya. Pundak


dan punggung mulus Riri langsung terlihat di hadapan Elo yang menelan salivanya


dengan susah payah.


Riri : “Hiii...


mass...” Riri merinding ketika bibir Elo menempel di punggungnya. Tangan Elo


mulai nakal memegang bagian tubuh Riri yang sebelumnya belum pernah ia sentuh


dengan intens. Elo belum puas mencium punggung Riri saat ketukan halus


terdengar di pintu.


Elo : “Sebentar!


Siapa sich, ganggu aja.”


Riri : “Cepat buka,


mas.”


Elo : “Tunggu dulu.


Aku ambil bathrobe dulu.”


Elo mengambil


bathrobe dari dalam lemari dan memakaikannya pada Riri, sebelum membuka pintu.


Pak Kim berdiri di depan pintu dengan nampan berisi makanan.


Pak Kim : “Maaf


mengganggu, tuan muda.”


Elo : “Bawa masuk


aja, Pak Kim.”


Riri menunduk malu


saat Pak Kim masuk dan meletakkan makanan diatas meja. Pak Kim kembali ke depan


Elo,


Pak Kim : “Tuan


muda, resepsi akan segera dimulai. Nona muda sudah ditunggu MUA untuk ganti


baju dan riasan.”


nunggu, Riri belum makan. Nanti aku yang bantu dia ganti baju.”


Pak Kim : “Baik,


tuan muda. Tolong jangan lama-lama.”


Elo memasang wajah


cemberut karena gak boleh lama-lama. Pak Kim berjalan ke samping Elo dan


tersenyum tipis melihat reaksi Elo tadi.


Riri : “Mas kenapa


cemberut?”


Elo : “Resepsinya


udah mau mulai. Kita disuruh ganti baju. Aku bilang aja kamu mau makan dulu.”


Riri : “Kalo gitu


cepat-cepat kita makan, mas. Gak enak ditungguin.”


Elo : “Yah, baru


mau macem-macem.”


Wajah Riri merona


mendengar kata-kata Elo. Ia terkejut saat Elo berjalan menghampirinya dan duduk


di samping Riri. Rasa gugup menjalar ke seluruh tubuh Riri,


Elo : “Sayang, aku


bantu ganti baju ya.”


Riri : “Nggak, mas.”


Elo : “Kenapa, Ri?


Aku kan sudah boleh lihat.”


Riri : “Tapi Riri


malu, mas.”


Elo : “Jangan

__ADS_1


malu-malu, sayang. Aku akan selalu membantumu.”


Elo mencolek dagu


Riri, ia mengambil piring berisi makanan dan menyodorkan sesendok penuh nasi


dengan lauknya. Riri membuka mulutnya saat menyadari kalau Elo ingin


menyuapinya. Bergantian mereka makan dalam satu piring sampai makanan di kedua


piring itu habis.


Riri menyedot jus


dalam gelasnya, saat ia menoleh menatap Elo, suaminya itu sedang menyadarkan


tubuhnya di sofa sambil menepuk perutnya yang kekenyangan.


Elo : “Aku kenyang


sekali dan sekarang mau tidur.”


Riri : “Mas ngaco


dech. Kita masih harus ke resepsi nich.”


Elo : “Makanya sini


aku bantu ganti baju.”


Riri : “Cuma ganti


baju ya...”


Elo mengangguk


dengan senyuman manisnya. Riri menarik nafas panjang dan mulai membiarkan


suaminya membantu melepas baju pengantin yang masih melekat di tubuhnya. Tapi


sepertinya Elo tidak mengingat kesepakatan mereka barusan.


Setelah baju


pengantin Riri teronggok di lantai, tangan Elo mulai menyusuri tubuh ramping


Riri. Sensasi geli membuat tubuh Riri menegang menahan geli.


Riri : “Jangan


pegang disana. Oohh...”


Suasana kamar yang


tadinya dingin dengan AC maksimal, mulai menghangat. Riri memejamkan matanya


merasakan setiap sentuhan Elo. Hanya sentuhan dan kecupan, tanpa nafsu yang


meliputi keduanya.


Sesekali mata Riri


mengintip apa yang sedang dilakukan Elo, tapi ia menutup matanya lagi. Ia


sangat malu dengan apa yang dilihatnya barusan saat Elo sedang menciumi bagian


dadanya. Tiba-tiba sentuhan Elo menghilang, Riri membuka matanya dan melihat


suaminya itu sedang membuka baju pengantinnya.


Riri menarik


bathrobe menutupi tubuhnya yang hanya memakai pakaian dalam. Tubuh Riri kembali


menegang, saat Elo menggendongnya dan membaringkan tubuh Riri diatas tempat


tidur yang dipenuhi kelopak bunga mawar.


Kedua saling


menatap tubuh masing-masing. Elo diam saja saat tangan Riri mulai menyentuh


dadanya, menusuk-nusuk dada Elo dengan jemari tangannya. Saat Elo akan


melakukan hal yang sama pada Riri, gadis itu refleks menutupi dadanya dengan


menyilangkan tangan di dadanya.


Elo tertawa melihat


reaksi Riri. Keduanya kembali saling menatap tubuh masing-masing sebelum


akhirnya.


Tok, tok, tok...


🌻🌻🌻🌻🌻


Tok, tok, tok...


buka pintu dong author dah up nich, votenya mana? Minta vote ya kk.


Klik profil author ya, ada novel karya author yang

__ADS_1


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).


__ADS_2