
DM2 – Berlibur
Gadis menoleh ketika mendengar suara ponsel
yang sedang mengambil foto. Beberapa pelayan wanita tampak berdiri di dekat
mereka, ditangan mereka ada piring berisi daging. Lantas dari mana suara ponsel
itu?
“Wow! Ada ABS.”itu suara Katty. “Punya Jodi
uda lembek. Hmm....”
Entah mendengar atau tidak kata-kata Katty,
Jodi melakukan hal yang sama dengan Rio. Bahkan lebih ekstrem, ia membuka
kemejanya, memperlihatkan ABS-nya pada semua kaum hawa yang berada di
sekitarnya.
“Iih, kenapa malah buka baju? Pasti sengaja
nich.”kata Katty gemas. Ia hampir berdiri saat melihat Arnold, Elo, Rio, dan
Dion juga melakukan hal yang sama. Para pria itu tidak peduli lagi dengan
suara-suara di belakang mereka.
Byur! Satu persatu mereka menceburkan diri
ke kolam renang. Mereka berenang saling mengejar, menenggelamkan satu sama
lain. Tawa puas terdengar dari mulut mereka. “Waduh, kenapa gak ganti celana
renang dulu!”teriak Riri mendekati kolam.
Para pelayan wanita mengambil alih
panggangan, membolak-balik daging sambil mencuri pandang menikmati ABS para
pria di kolam renang.
“Nanggung, Ri. Pelayan, ambilkan
bathrobe!”pinta Elo.
Pelayan yang ditunjuk Elo, mengangguk dan
berjalan ke tempat penyimpanan bathrobe dan handuk. Setumpuk bathrobe dan
handuk sudah berada di kursi samping kolam renang.
Gadis melihat Rio keluar duluan, ia
mengambil handuk menyampirkan ke bahunya. Dikibaskannya rambutnya yang basah. Kesan
seksi langsung membuat para pelayan disana terpana melihat ketampanan Rio.
Alih-alih duduk di kursi, Rio berjalan menyusuri kolam renang, duduk di pinggir
yang lebih dangkal.
Semilir angin menemani kesendirian Rio di
sudut kolam itu. Kakinya ia biarkan terendam di dalam air, Rio tampak sedang
memikirkan sesuatu. “Sayang, kamu ngapain disini?”
Rio tersenyum pada Gadis, mengulurkan
tangannya agar Gadis mendekat. Ditangan Gadis membawa piring berisi daging yang
baru selesai di bakar dan kentang goreng. “Anginnya enak disini. Seger. Suapin,
yank.”
Gadis tersenyum, ia menusuk potongan
daging, membalurinya dengan saus, lalu memasukkan potongan itu ke mulut Rio.
“Enak gak?”
“Lumayan. Sepertinya aku panas dalam,
gusiku agak sakit. Kamu makan dagingnya.”
__ADS_1
“Mau aku potong lebih kecil lagi?”
Rio menggeleng, ia mengambil sepotong
daging, menyuapkannya ke mulut Gadis. “Makan lebih banyak, kamu kurusan ya.”
Rio mengambil kentang goreng, memakannya tanpa selera.
“Rio, kamu kenapa? Mikirin apa?”tanya Gadis
sambil mengusap pipi Rio. Rio menggenggam tangan Gadis, mencium telapak tangan
istrinya sangat dalam. Ia mengambil piring dari tangan Gadis, tanpa aba-aba mendekap
tubuh Gadis dan menjatuhkan dirinya ke dalam kolam dangkal.
Byur! Keduanya basah kuyub. “Rio! Kamu
ngapain sich?! Aku basah semua nich.”protes Gadis. Rio tertawa keras, ia
terlihat sangat bahagia bisa menjahili Gadis seperti itu. Gadis menyiramkan air
ke wajah Rio, mereka saling siram di kolam itu membuat iri para pria lainnya.
Arnold dan Elo sudah menoleh menatap Riri
dan Rara. Rara masih nggak ngeh apa yang diinginkan suaminya. Sementara Riri
tidak bisa menghindari jarak tangkap Elo. Byur! Riri tercebur ke dalam kolam.
Elo langsung memeluknya meskipun Riri memukul lengannya karena kesal.
“Masss!!!”lengking Rara yang sudah ditarik
Arnold masuk ke kolam juga. Byur!
Dion menoleh pada Jodi,”Kenapa gak narik
Katty?”
“Dia lagi datang bulan, bisa kacau kalau
basah. Tuch, Lili ajak berendem.”
“Lili lagi tidur tuch. Eh, kayaknya hampir
Dion keluar dari kolam, bekas luka bakarnya
masih samar terlihat di punggung dan sebagian wajahnya. Tapi ketampanannya
sudah mulai jelas terlihat. Dion menggendong Lili yang tertidur lelap masuk ke kamar
mereka. Ia sekalian mengganti bajunya sebelum kembali ke dekat kolam. Melewati
ruang keluarga, Dion melirik anak-anak yang sedang bermain. Melihat gelagat
Rava dan Devina akan bertengkar lagi, Dion memilih menemani mereka bermain.
Kembali lagi ke kolam renang, pelayan
membawakan piring-piring berisi daging dan kentang untuk semua orang disana.
Masing-masing juga mendapat sebotol minuman dingin. Katty tampak menikmati
massage pada punggungnya. Jodi menemani di sampingnya, sudah mengganti pakaian
basahnya dengan bathrobe.
“Kalo mau ganti baju, udah disiapin ya.
Tinggal bilang aja.”ujar Elo pada semua orang. Ia masih asyik bermain air
dengan Riri.
Rio melihat kedua saudaranya asyik bercanda
dengan suami masing-masing. Sendu tatapan mata Rio melihat bekas luka operasi
di tubuh Arnold. Rio juga punya luka seperti itu, tapi di dalam hatinya setelah
kepergian Kaori. Cinta pertamanya pergi meninggalkan luka menganga di hatinya.
Kehadiran Gadis hampir menyembuhkan luka itu.
Rio menatap mata Gadis dalam pelukannya, “Gimana
kalau kita pergi liburan?”tanya Rio pada Gadis.
__ADS_1
“Liburan? Kemana?”
“Kemana saja. Aku tau, kita sewa private
villa dekat pantai. Kau bisa pakai bikini seharian. Kita bisa bla, bla, bla...”
Rio menjabarkan apa yang ingin ia lakukan pada Gadis dengan bahasa vulgar yang
tidak disensor. Wajah Gadis merona mendengarnya.
”Kalau novel ini ada audionya, yang
dikatakan Rio kebanyakan disensor hingga cuma kedengaran suara bip terus
menerus.”
“Bisa-bisanya kamu bilang gitu tanpa malu.”saut
Gadis, ia mulai merasa kedinginan dan ingin mengganti bajunya. “Ganti baju yuk,
dingin nich.” Gadis menanti rayuan Rio berikutnya, tapi suaminya itu langsung
menurut ikut mengganti bajunya.
Rio dan Gadis berjalan masuk ke kamar yang
sudah disiapkan pelayan. Gadis melepas pakaian basahnya, memasukkannya ke
plastik yang ia minta pada pelayan. Rio masih menatap Gadis selesai melepas
semua pakaiannya. Ia berjalan mendekat, langsung menciumi leher Gadis.
“Rio... Kamu ngapain?”tanya Gadis kaget.
“Kemarin gak dapet. Sekarang double ya.”
“Iya, tapi gak disini juga.”Gadis khawatir
kalau ada yang mengetuk pintu nanti.
“Aku sudah gak tahan nunggu pulang masih
lama. Sini, sayang.”
Gadis menutup mulutnya agar suara
desahannya tidak terdengar keluar kamar. Tapi permainan Rio kali ini terasa
sangat berbeda. Gadis tidak bisa menahan suaranya menerima hentakan Rio.
Selang 1 jam kemudian, Gadis terkapar
dengan nafas tak beraturan. Rio melepaskan penyatuan mereka, dan kembali
mencium bibir Gadis.
“Rio, udah. Kamu kenapa sich?” Gadis
memegang kedua pipi Rio, menatap matanya dalam. “Kamu kenapa nangis?”
Rio meneteskan air matanya setelah
percintaan panas mereka, direngkuhnya tubuh Gadis, ia mengeluh capek dengan
pekerjaannya. Rio ingin sekali liburan bersama Gadis, “Iya, kita pergi liburan.
Jangan ada pekerjaan. Jangan nangis dong, sayang.”
Gadis menuntun Rio masuk ke kamar mandi, ia
memandikan suaminya itu. Gadis tidak habis pikir bagaimana bisa pekerjaan
membebani Rio sampai seperti itu. Ia merasa Rio menyembunyikan sesuatu darinya.
“Rio, kamu yakin gak ada hal lain?”tanya
Gadis masih mengejar Rio.
“Sebenarnya...”
*****
"Sebenarnya kakak authornya lagi sedih votenya kurang nich."
Gadis auto ambil HP trus vote yang banyak buat novel ini.
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
__ADS_1
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.