Duren Manis

Duren Manis
DM2 – Berlibur


__ADS_3

DM2 – Berlibur


Gadis menoleh ketika mendengar suara ponsel


yang sedang mengambil foto. Beberapa pelayan wanita tampak berdiri di dekat


mereka, ditangan mereka ada piring berisi daging. Lantas dari mana suara ponsel


itu?


“Wow! Ada ABS.”itu suara Katty. “Punya Jodi


uda lembek. Hmm....”


Entah mendengar atau tidak kata-kata Katty,


Jodi melakukan hal yang sama dengan Rio. Bahkan lebih ekstrem, ia membuka


kemejanya, memperlihatkan ABS-nya pada semua kaum hawa yang berada di


sekitarnya.


“Iih, kenapa malah buka baju? Pasti sengaja


nich.”kata Katty gemas. Ia hampir berdiri saat melihat Arnold, Elo, Rio, dan


Dion juga melakukan hal yang sama. Para pria itu tidak peduli lagi dengan


suara-suara di belakang mereka.


Byur! Satu persatu mereka menceburkan diri


ke kolam renang. Mereka berenang saling mengejar, menenggelamkan satu sama


lain. Tawa puas terdengar dari mulut mereka. “Waduh, kenapa gak ganti celana


renang dulu!”teriak Riri mendekati kolam.


Para pelayan wanita mengambil alih


panggangan, membolak-balik daging sambil mencuri pandang menikmati ABS para


pria di kolam renang.


“Nanggung, Ri. Pelayan, ambilkan


bathrobe!”pinta Elo.


Pelayan yang ditunjuk Elo, mengangguk dan


berjalan ke tempat penyimpanan bathrobe dan handuk. Setumpuk bathrobe dan


handuk sudah berada di kursi samping kolam renang.


Gadis melihat Rio keluar duluan, ia


mengambil handuk menyampirkan ke bahunya. Dikibaskannya rambutnya yang basah. Kesan


seksi langsung membuat para pelayan disana terpana melihat ketampanan Rio.


Alih-alih duduk di kursi, Rio berjalan menyusuri kolam renang, duduk di pinggir


yang lebih dangkal.


Semilir angin menemani kesendirian Rio di


sudut kolam itu. Kakinya ia biarkan terendam di dalam air, Rio tampak sedang


memikirkan sesuatu. “Sayang, kamu ngapain disini?”


Rio tersenyum pada Gadis, mengulurkan


tangannya agar Gadis mendekat. Ditangan Gadis membawa piring berisi daging yang


baru selesai di bakar dan kentang goreng. “Anginnya enak disini. Seger. Suapin,


yank.”


Gadis tersenyum, ia menusuk potongan


daging, membalurinya dengan saus, lalu memasukkan potongan itu ke mulut Rio.


“Enak gak?”


“Lumayan. Sepertinya aku panas dalam,


gusiku agak sakit. Kamu makan dagingnya.”

__ADS_1


“Mau aku potong lebih kecil lagi?”


Rio menggeleng, ia mengambil sepotong


daging, menyuapkannya ke mulut Gadis. “Makan lebih banyak, kamu kurusan ya.”


Rio mengambil kentang goreng, memakannya tanpa selera.


“Rio, kamu kenapa? Mikirin apa?”tanya Gadis


sambil mengusap pipi Rio. Rio menggenggam tangan Gadis, mencium telapak tangan


istrinya sangat dalam. Ia mengambil piring dari tangan Gadis, tanpa aba-aba mendekap


tubuh Gadis dan menjatuhkan dirinya ke dalam kolam dangkal.


Byur! Keduanya basah kuyub. “Rio! Kamu


ngapain sich?! Aku basah semua nich.”protes Gadis. Rio tertawa keras, ia


terlihat sangat bahagia bisa menjahili Gadis seperti itu. Gadis menyiramkan air


ke wajah Rio, mereka saling siram di kolam itu membuat iri para pria lainnya.


Arnold dan Elo sudah menoleh menatap Riri


dan Rara. Rara masih nggak ngeh apa yang diinginkan suaminya. Sementara Riri


tidak bisa menghindari jarak tangkap Elo. Byur! Riri tercebur ke dalam kolam.


Elo langsung memeluknya meskipun Riri memukul lengannya karena kesal.


“Masss!!!”lengking Rara yang sudah ditarik


Arnold masuk ke kolam juga. Byur!


Dion menoleh pada Jodi,”Kenapa gak narik


Katty?”


“Dia lagi datang bulan, bisa kacau kalau


basah. Tuch, Lili ajak berendem.”


“Lili lagi tidur tuch. Eh, kayaknya hampir


Dion keluar dari kolam, bekas luka bakarnya


masih samar terlihat di punggung dan sebagian wajahnya. Tapi ketampanannya


sudah mulai jelas terlihat. Dion menggendong Lili yang tertidur lelap masuk ke kamar


mereka. Ia sekalian mengganti bajunya sebelum kembali ke dekat kolam. Melewati


ruang keluarga, Dion melirik anak-anak yang sedang bermain. Melihat gelagat


Rava dan Devina akan bertengkar lagi, Dion memilih menemani mereka bermain.


Kembali lagi ke kolam renang, pelayan


membawakan piring-piring berisi daging dan kentang untuk semua orang disana.


Masing-masing juga mendapat sebotol minuman dingin. Katty tampak menikmati


massage pada punggungnya. Jodi menemani di sampingnya, sudah mengganti pakaian


basahnya dengan bathrobe.


“Kalo mau ganti baju, udah disiapin ya.


Tinggal bilang aja.”ujar Elo pada semua orang. Ia masih asyik bermain air


dengan Riri.


Rio melihat kedua saudaranya asyik bercanda


dengan suami masing-masing. Sendu tatapan mata Rio melihat bekas luka operasi


di tubuh Arnold. Rio juga punya luka seperti itu, tapi di dalam hatinya setelah


kepergian Kaori. Cinta pertamanya pergi meninggalkan luka menganga di hatinya.


Kehadiran Gadis hampir menyembuhkan luka itu.


Rio menatap mata Gadis dalam pelukannya, “Gimana


kalau kita pergi liburan?”tanya Rio pada Gadis.

__ADS_1


“Liburan? Kemana?”


“Kemana saja. Aku tau, kita sewa private


villa dekat pantai. Kau bisa pakai bikini seharian. Kita bisa bla, bla, bla...”


Rio menjabarkan apa yang ingin ia lakukan pada Gadis dengan bahasa vulgar yang


tidak disensor. Wajah Gadis merona mendengarnya.


”Kalau novel ini ada audionya, yang


dikatakan Rio kebanyakan disensor hingga cuma kedengaran suara bip terus


menerus.”


“Bisa-bisanya kamu bilang gitu tanpa malu.”saut


Gadis, ia mulai merasa kedinginan dan ingin mengganti bajunya. “Ganti baju yuk,


dingin nich.” Gadis menanti rayuan Rio berikutnya, tapi suaminya itu langsung


menurut ikut mengganti bajunya.


Rio dan Gadis berjalan masuk ke kamar yang


sudah disiapkan pelayan. Gadis melepas pakaian basahnya, memasukkannya ke


plastik yang ia minta pada pelayan. Rio masih menatap Gadis selesai melepas


semua pakaiannya. Ia berjalan mendekat, langsung menciumi leher Gadis.


“Rio... Kamu ngapain?”tanya Gadis kaget.


“Kemarin gak dapet. Sekarang double ya.”


“Iya, tapi gak disini juga.”Gadis khawatir


kalau ada yang mengetuk pintu nanti.


“Aku sudah gak tahan nunggu pulang masih


lama. Sini, sayang.”


Gadis menutup mulutnya agar suara


desahannya tidak terdengar keluar kamar. Tapi permainan Rio kali ini terasa


sangat berbeda. Gadis tidak bisa menahan suaranya menerima hentakan Rio.


Selang 1 jam kemudian, Gadis terkapar


dengan nafas tak beraturan. Rio melepaskan penyatuan mereka, dan kembali


mencium bibir Gadis.


“Rio, udah. Kamu kenapa sich?” Gadis


memegang kedua pipi Rio, menatap matanya dalam. “Kamu kenapa nangis?”


Rio meneteskan air matanya setelah


percintaan panas mereka, direngkuhnya tubuh Gadis, ia mengeluh capek dengan


pekerjaannya. Rio ingin sekali liburan bersama Gadis, “Iya, kita pergi liburan.


Jangan ada pekerjaan. Jangan nangis dong, sayang.”


Gadis menuntun Rio masuk ke kamar mandi, ia


memandikan suaminya itu. Gadis tidak habis pikir bagaimana bisa pekerjaan


membebani Rio sampai seperti itu. Ia merasa Rio menyembunyikan sesuatu darinya.


“Rio, kamu yakin gak ada hal lain?”tanya


Gadis masih mengejar Rio.


“Sebenarnya...”


*****


"Sebenarnya kakak authornya lagi sedih votenya kurang nich."


Gadis auto ambil HP trus vote yang banyak buat novel ini.


Klik profil author ya, ada novel karya author yang

__ADS_1


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.


__ADS_2