Duren Manis

Duren Manis
Chapter four - Kebetulan yang tak terduga


__ADS_3

" Papa..."


Anakku. Rafie. telah menyambutku didepan rumah. Rafie berteriak kencang ketika melihatku. Berlari riang ke arahku. Membentangkan tangannya ingin di gendong. Dengan senang hati aku menggendongnya. Rafie terus tersenyum kearahku. Membuat rasa penat dan letih ku seketika menghilang ketika bersama dengan nya. Putra kesayangangku, yang amat aku cintai.


" Yey...papa udah ulang " ( yey... papa sudah pulang )rafie terus bergerak dalam gendonganku. Memeluk erat leherku. Menghujami kedua pipiku dengan kecupannya. Kami masuk kedalam rumah. Disambut oleh beberapa pelayan.


" Selamat datang taun Yu " mereka menunduk saat melihatku.


" Terima kasih "


Aku membawa rafie menuju kamarnya. Menurunkan nya dia atas ranjang. Dia terlalu gembira


" papa, ayok ain ama apie. Ati apie eli ainan alu i cekolah " ( papa, ayok main sama rafie. Tadi rafie beli mainan baru di sekolah ). Aku hanya tersenyum menanggapi yang berceloteh sedari tadi. Dia benar benar anak yang aktif. Hanya jika dirumah.


" ayo, sekarang kita mau main apa " aku membantu mengeluarkan box mainannya. Dia hanya menggeleng.


" Utan ain itu, ain ini pa " ( bukan main itu pa, main ini pa ) rafie membuka tasnya. Mengeluarkan sebuah kotak. Seperti kotak makan. Tapi aku tidak tau isinya apa.


" cini pa. Ayok ain ini " ( sini pa. ayok main ini )


Rafie membuka kotak itu. Isinya seperti sebuah jelly. Lembek. Berwarna bening dan ada glitternya. Seperti plastisin. Tapi bukan.


" itu apa ?"


" ini clim pa "


" clim? " aku berkerut heran. Clim?. Memang ada mainan seperti itu. Aku belum pernah melihatnya. Mungkin nanti akan aku tanyakan pada babby sitternya rafie. bi saras.


" iya, clim. Yang tayak di tipi tipi itu pa " ( iya, clim. Yang kayak di tv tv itu pa ). Ah sudahlah, yang penting sekarang membuat rafie gembira terlebih dahulu. Soal nama mainan itu. Aku bisa mencari tau nya nanti.


" Baik-baik ayo kita bermain. Sekarang papa harus bagaimana? "


Entahlah. Aku tidak tau apa yang akan kami berdua lakukan. Sedari tadi rafie hanya menoel noel benda lembek itu.


" tini pa ain nya " ( gini pa mainnya ) rafie menunjukkan kepadaku bagaimana cara memainkannya. Dia sibuk menarik- narik benda itu hingga melar.


" Gitu. Terus diapain? "


" Ya tini pa " (ya gini pa )


Allahu akbar. Cuma gitu main nya. Lalu untuk apa dibeli. Aku benar-benar tak habis pikir dengan anakku satu-satunya ini. Ah, sudahlah yang penting rafie senang


" Bagaimana sekolah rafie hari ini "


Aku mencoba mencari topik pembicaan kami. Rafie, dia menatapku sedih. Ada guratan kesedihan di wajahnya. Aku tak tau pasti. Mungkin Karena aku terlalu sibuk bekerja hingga sulit meluangkan waktu untuk anakku.


"Uruk pa, apie idak au cekolah lagi" (buruk pa, rafie tidak mau sekolah lagi )


Benar dugaan ku. Di sekolah pasti rafie mengalami sesuatu. Ini yang paling aku takutkan. Aku takut rafie dibully lagi. Rafie memang anak yang pendiam. Jarang sekali. Atau bisa dibilang tidak pernah sama sekali bersosialisasi dengan dunia luar. Teman pun rafie tidak punya. 'Takut' itu yang rafie katakan kepadaku. Kejadian waktu kami masih tinggal di hongkong, sangat membekas di benak rafie. Kejadian yang membuat rafie jadi anak yang pendiam.


" buruk kenapa hemm?, coba cerita ke papa"


Rafie meletakkan mainan itu. Beranjak duduk di pangkuanku. Dia memeluk leherku erat. Menangis. Rafie menangis segukan. Khawatir itulah aku sekarang. Mencoba menenangkannya. Mengelus punggungnya. Dia berhenti menangis. Melepaskan pelukannya. Menatap mataku dalam.


" apie adi diecek pa" (rafie tadi di diejek pa )


" diejek kenapa hemm? "


" adi bu uru culuh ami cemua elita entang mama cama papa i epan. Apie elita alau cuma papa aja yang cayang cama apie, mama apie idak au temana, telus teman teman apie teltawa, atanya apie idak unya mama. Telus apie cedih" (tadi bu guru suruh kami semua cerita tentang mama sama papa di depan. Rafie cerita kalau cuma papa aja yang sayang sama rafie, mama rafie tidak tau kemana, terus teman teman rafie tertawa. Rafie tidak punya mama. Terus rafie sedih )


" sudah rafie jangan sedih lagi ya. Masih ada papa yang sayang sama rafie. Papa akan selalu jagain rafie "


Rafie memelukku lagi.


" papa apie ingin unya mama" ( papa rafie ingin punya mama )


Kalimat yang sukses membuat ku terkejut. Rafie ingin punya mama. Bukan aku tak ingin menikah lagi. tapi aku cukup trauma dengan pernikahan pertamaku yang tak berjalan dengan baik. Sehingga rafie menjadi korbannya.


Menikah?. Tentu aku juga menginginkannya. Yang jadi masalahnya. Aku masih menunggu waktu yang tepat untuk melamar dia. Hanya saja aku takut dia tidak bisa menerima rafie. Aku tau dia gadis yang baik. Menyukai anak kecil. Tapi apakah rafie akan menyukainya juga. Itulah yang masih menjadi pertanyaan ku. Aku butuh waktu untuk mendekatkan mereka berdua. Mengenalkan rafie padanya saja belum pernah.


Mungkin aku bisa menghubunginya. Tapi tunggu, aku belum meminta nomor telponnya. Ya Allah betapa teledornya aku. Seharusnya aku memintanya dari kemarin-kemarin. Sekarang apa yang harus aku lakukan. Menemuinya dirumahnya?. Ah tidak, itu bukan hal baik. Aku takut jika akan menimbulkan fitnah. Seorang pria dewasa datang malam-malam ke rumah seorang gadis, meskipun tidak sendiri. Tentu saja warga sekitar akan berpikiran buruk tentang dia. Dan aku tidak mau sampai hal itu terjadi. Mungkin besok aku akan kerumahnya.


" papaa apie ingin unya mama " (papaa rafie ingin punya mama) pekikan rafie membuat ku tersadar dari lamunanku.


" ah, i-iya nanti rafie akan punya mama "


" janji uluh pa " rafie terlihat cemberut. Lucu. Dia menunjukan jari kelingking nya kepadaku.


Kami saling mengaitkan jari kelingking, " papa janji "


"Holeee, apie atan unya mama" ( horeee, rafie akan punya mama )


Aku sangat bahagia melihat rafie terlihat gembira. Dia turun dari pangkuanku. Menuju ke tempat tidur. Meloncat-loncat disana. Berteriak senang.


" sudah yuk, ayo kita makan" aku mengajaknya makan. Rafie menghentikan kegiatannya. Merentangkan tangannya ingin digendong. Aku meraihnya dan menggendongnya. Membawanya turun ke bawah. Menuju ruang makan. Kami berpapasan dengan han, kepala pelayan dirumahku.


" tuan, makan malamnya sudah siap "


" papa, apie idak mau akan dilumah" ( papa, rafie tidak mau makan dirumah )


Aku mengeryit heran. Tidak biasanya rafie ingin makan diluar. Dia paling tidak suka jika di ajak makan di luar. Dan rafie sekarang memintanya?. Hal paling luar biasa menurutku. Ah, aku akan menututi nya.


" kenapa hemm?"


"Bocan" ( bosan )


" ah, baiklah sekarang kita makan diluar. Han tolong antarkan rafie bersiap-siap. Aku ingin menemui bibi saras dulu "


" Baik tuan "


Setalah han dan rafie pergi. Aku segera menemui bi saras, ART sekaligus baby sitter rafie dirumah ini. aku tidak bisa menyebutnya sebagai pambantu. Dia juga termasuk bagian dari keluarga ku. Sudah lama bi saras mengabdi pada keluargaku. Bahkan sejak aku masih kecil. Rafie juga begitu dekat dengannya. Maka dari itu aku memintanya menjaga rafie jika sedang sibuk. Ah, aku lupa menanyakan pada han dimana bi saras sekarang.


Aku bertanya kepada beberapa pelayan yang berlalu lalang. Mereka bilang jika bi saras berada di ruang makan. Aku segera meluncur ke sana. Aku melihat nya. Menata makanan dengan tangan-tangannya. Meskipun sudah terlihat guratan-guratan usia. Tangan nya masih terlihat kuat dan telaten.

__ADS_1



" Bi saras "


Dia melihat ke arahku. Tersenyum. Menghentikan kegiatannya.


" ah, tuan sudah pulang. Mari duduk, bibi sudah menyiapkan makan malam "


"bibi jangan panggil aku tuan. Bibi ini kan seperti ibu ku sendiri. Jadi panggil saja aku el"


" sudah terbiasa panggil seperti itu. Jadi tidak enak kalau di ganti - ganti "


" baiklah. Terserah bibi saja. Yang penting bibi senang " dia hanya tersenyum


" bibi apa rafie di sekolah di bully lagi " mendengar ucapanku bi saras terlihat murung.


" Iya. tuan rafie, dia di ejek teman-temanya di sekolah "


Aku menghela napas berat. Sudah ku duga ini semua akan terjadi. Apa yang harus aku lakukan. Pasti akan sulit menyakinkan rafie lagi. Tidak mungkin aku harus menghome schooling kan rafie. Aku melakukan hal ini agar rafie bisa beradaptasi. Bukan tersiksa seperti ini.


" apa yang harus aku lakukan bi, pasti akan sulit jika meyakinkan rafie "


" Mungkin sebaiknya tuan mencari ibu baru untuk tuan rafie "


Dari dulu memang aku ingin seperti itu. Hanya saja menunggu waktu yang tepat. aku tidak mau terburu-buru.


" Aku masih memikirkan itu bi. Hanya saja aku takut rafie dia ti- "


" Papa "


Ucapanku terpotong oleh teriakan rafie. Dia datang bersama han. Tampak dia sudah berganti pakaian. Well, saatnya kita keluar. Jalan-jalan. Menikmati indahnya malam. Hanya berdua.


" Sudah selesai? "


" udah, tadi apie cali papa ke ana-ana " ( udah, tadi rafie cari papa ke mana mana )


" bibi aku dan rafie tidak makan dirumah. Kami akan makan diluar "


" lalu makanan ini bagaimana, mubazir kalau di buang "


" aku tidak menyuruh bibi membuangnya. Bibi dan han bisa memakannya. Han bisakah kau panggilan pelayan yang lain untuk makan di sini juga. Biar tidak mubazir "


" Baik tuan " setalah han beranjak pergi. aku pamit kepada bi saras


" Bi kami pergi "


" Hati-Hati dijalan tuan "


" Iya "


" bye - bye bibi " rafie melambaikan tangan nya


" Bye -bye tuan rafie. selamat jalan. semoga menyenangkan "


" Baiklah, ayo kita berangkat "


" Ets go " ( lets go )


Aku beranjak dari ruang makan. Membawa rafie keluar. Masuk kedalam mobil. Di sana sudah ada sopir yang sudah menunggu. Membukakan pintu untuk kami. Aku menyuruhnya untuk tidak menyetir malam ini. Aku yang akan mengendarai mobil sendiri. aku menyuruhnya untuk bergabung dengan yang lain. Makan malam di rumah.


Aku Mulai menyalakan mesin. Dan mengendarainya. Aku membawa mobil dengan kecepatan sedang. Menyalakan musik. Bernyanyi bersama rafie. Xiao xing xing ( twinkle-twinkle little star ). Adalah lagu kesukaan rafie.


Yi shan yi shan liang jing jing ( satu kelap satu kelip bersinar terang )


Man tian dou shi xiao xing xing ( semua langit adalah bintang-bintang kecil )


Gua zai tian shang fang guang ming ( tergantung dilangit untuk menerangi )


Hao xiang xuduo xiao yanjing ( bagaikan begitu banyak mata kecil )


Yi shan yi shan liang jing jing ( satu kelap satu kelip bersinar terang )


Man tian dou shi xiao xing xing ( semua langit adalah bintang-bintang kecil )


Gua zai tian shang fang guang ming ( tergantung dilangit untuk menerangi )


Hao xiang xuduo xiao yanjing ( bagaikan begitu banyak mata kecil )


Rafie bernyanyi dengan begitu gembira. Aku sangat bersyukur bisa melihat senyumannya. Rafie memang menyukai lagu anak-anak ( mandarin ). Sebenarnya rafie tidak terlalu bisa berbahasa indonesia. Itu sebabnya gaya bicaranya terkesan kurang jelas. Sejak kecil rafie terbiasa menggunakan bahasa mandarin. Aku baru mengajarinya ketika usianya masih 3 tahun. Dan sekarang dia berusia 5 tahun. Tapi tidak apa-apa. Rafie akan terbiasanya menggunakan bahasa indonesia.


" Papa, kàn nàgè. Yǒu hěnduō xīngxīng... " ( papa, lihat itu. Ada banyak bintang )


Aku hanya melihat sekilas apa yang ditunjuk rafie. Bintang. Sangat banyak. Bagaikan kunang-kunang yang bertaburan dilangit malam. Sangat indah.


" papa, tiānshàng yǒu jǐ kē xīngxīng? " ( papa, ada berapa bintang dilangit? )


Ah, pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Hanya tuhan yang tau.


" Banyak sekali. Tak terhingga. Tidak bisa dihitung "


" Enarkah? " ( benarkah? )


" Iya, hanya Allah yang tau "


" papa, Allah itu seperti apa? "


Aku cukup terkejut mendengar pertanyaan rafie.


" Allah itu tidak bisa di lihat. Tapi bisa dirasakan kuasanya. sekarang rafie pegang dada rafie sebelah kanan "


Dia menurut, " telus? "


" Apa yang rafie rasakan? "

__ADS_1


" deg deg? Etak antung " ( deg-deg? Detak jantung )


" itu artinya rafie masih? "


" Shēnghuó " ( hidup )


" anak pintar. Allah itu hidup dalam diri kita. Seperti jantung. Jika jantung kita berhenti, itu artinya kita tiada. Allah itu seperti kehidupan dalam diri kita. Jika kita menjauh dari Allah, maka Allah akan menjauh dari kita. Setelah nya hidup kita tenggelam dalam kegelapan ( Dosa ). Maka dari itu kita harus taat kepada perintah-Nya. Rafie paham "


Dengan polosnya rafie menggeleng tidak tau. Membuat aku gemas sekali. Namanya juga masih kecil.


" Nanti kalau rafie sudah besar pasti akan mengerti "


Lagi-lagi rafie mengangguk. Aku hanya bisa senyum simpul.


" Kita mau makan dimana? "


" idak au? " ( tidak tau )


" Bagaimana kalau di cafenya paman Daniel? " Rafie hanya mengangguk setuju.


Aku segera tancap gas kesana( cafe cai hong ). Salah satu junior ku waktu kuliah jurusan bisnis membuka cafe didaerah sini. Daniel Zhang. Junior yang sangat dekat dengan ku. Seperti adik ku sendiri. Perjalanan kami hanya membutuhkan waktu 20 menit.


Cafe nya ramai sekali. Aku segera mencari tempat parkir. Agak jauh dari cafe. Tak apa.


" Ayo rafie kita turun "


Menggandeng tangan rafie. Membawanya masuk. Dugaanku benar. Semua meja sudah penuh. Mungkin di lantai 2 masih ada meja yang kosong. Aku melihat meja no 4 kosong. Dekat dengan jendela. Aku mengajak rafie duduk disana. Dari sini pemandangan malan hari benar-benar indah. Lampu-lampu kendaraan seperti cahaya yang bergerak.


" Papa, dicini inda " ( papa disini indah )


" Benar "


Seorang pelayan wanita mengahampiri kami. Aku tak bisa melihat jelas wajahnya.


" permisi, anda ingin pesan apa ya?, disini kami memiliki beberapa menu baru ". Dia memberikan ku buku menu. Suara seperti tidak asing ditelinga ku. Seperti suara seseorang. Yang ku kenal.


Aku menerimanya, " terima kasih "


Aku masih memilih menu yang ingin aku pesan. Semua tampak enak. Tapi pilihan ku jatuh pada capcay. Makanan kesukaan ku.


" saya pesan 1 capcay, sama kopi saja mbak. Anak papa mau makan apa hemm?" aku bertanya kepada rafi. Sedari tadi dia sibuk melihat kendaraan yang berlalu lalang.


" apie mau atan ini pa "(rafie mau makan ini pa)


Rafie menunjukkan sebuah gambar. Itu makanan pedas. Aku yakin rafie tak akan kuat. Dia masih terlalu kecil untuk makan itu.


" tidak boleh sayang. Ini pedas, yang lain saja ya." Rafie cemberut. Aku harus bisa membujuknya


" ihh, potoknya apie ingin atan ini " . (Ihh, pokok rafie ingin makan ini)


" dengerin papa, nanti kalau rafie udah besar. Rafie boleh makan ini. Sekarang rafie masih kecil. Nanti sakit perut kalau makan ini "


" umhh. Yautah deh, apie tayak papa aja " (umhh. Yaudah deh rafie kayak papa aja) akhirnya rafie menurut. Alhamdulillah.


" yaudah mbak, capcay 2 ya. Minumnya kopi sama susu "


Aku mengembalikan buku menu padanya. Tak sengaja aku menatap wajahnya. Dan itu membuat ku terkejut. Pantas suaranya seperti tidak asing bagiku. Dia sama terkejut nya denganku.


" pak rendy! "


" siti! "


" Kamu kerja disini? "


"I-iya pak " Dia gugup


Ah, sial. Kenapa aku menjadi deg-degan seperti ini. Istighfar rendy, istighfar. Tarik napas dalam. Hembuskan. Untuk kali ini berkompromilah dengan ku wahai jantung.


" permisi pak saya akan mengantar pesanan bapak "


" Ah, I-iya "


Siti pergi. Tapi kenapa jantungku tidak bisa dikontrol. Perasaan gugup tiba-tiba hinggap pada diriku. Aku tak menyangka akan bertemu dengannya disini. Benar-benar pucuk dicinta ulam pun tiba.


" Papa "


" Ah iya ?"


" kakak itu adi ciapa? " ( kakak itu tadi siapa )


" ee, itu tadi teman papa "


" oh, antik pa " ( oh, cantik pa )


Anak kecil saja bisa menilai kalau dia cantik. Bagaimana denganku. Jangan tanya. Aku sudah jatuh dalam pesonanya.


" Rafie mau tidak punya mama seperti kakak itu tadi "


" Mau pa "


Lampu hijau. Aku tak menyangka rafie akan langsung setuju. Dengan begini hanya tinggal meyakinkan siti dan keluarganya. Aku hanya perlu memikirkan waktu yang tepat untuk melamar siti. Hatiku benar-benar sedikit lega. Tinggal selangkah lagi. Semangat.





TBC....


Terima kasih banyak semua. yang sudah membaca cerita ini. jangan lupa like dan coment agar author lebih semangat lagi menulis cerita ini. like dari kalian benar-benar sangat mendukung author.


Terima kasih banyak❤❤❤.

__ADS_1


__ADS_2