Duren Manis

Duren Manis
Persetujuan kakek


__ADS_3

Setelah menyelesaikan makan malam mereka, kakek mengajak Elo dan Riri duduk diruang tengah.


Disana banyak sekali rak berisi buku-buku langka. Mata Riri menjelajahi deretan buku yang menarik perhatiannya.


Elo : "Apa aku kurang tampan?"


Riri : "Apa, kak?" Riri menoleh menatap Elo.


Elo : "Apa aku kurang wangi?"


Riri menatap bingung pada Elo yang bicara gak jelas.


Elo : "Kenapa kau menatap rak buku terus? Aku ada disini, Ri."


Riri tersenyum geli, ia memang duduk agak jauh dari Elo karena tidak enak dengan kakek Elo.


Kakek : "Kakek suka berries sekarang. Thanks to you, Riri."


Riri : "Sama-sama, kek."


Kakek melihat interaksi antara Elo dan Riri membuat kakek tersenyum.


Kakek : "Kakek sudah melihat kejadian tadi siang. So sorry, Riri. Tante Dewi memang sudah keterlaluan."


Riri : "Nggak, kakek. Jangan bilang sorry. Riri gak pa-pa."


Kakek : "Kakek salut dengan kedewasaanmu. Disaat anak seusiamu memilih melawan dengan tindakan bahkan kata-kata yang lebih pedas, kamu memilih mundur dan mengalah. Kenapa?"


Riri : "Riri dididik untuk menghormati orang yang lebih tua, kek. Walaupun Riri tidak bersalah, Riri harus menahan diri untuk tidak berkonfrontasi dengan orang yang lebih tua."


Kakek : "Kakek suka itu. Bahkan Elo harus belajar darimu, Ri."


Elo : "Karena itu juga Elo jatuh cinta pada Riri, kek."


Elo bahkan gak malu mengatakan itu pada Riri di depan kakeknya.


Kakek : "Jadi, apa hubungan kalian sekarang?"


Elo : "Kami pacaran, kek. Apa kakek keberatan?"


Kakek : "Menurutmu? Anak muda, kakek tidak keberatan kalian bersama. Tapi kalian serius?"


Elo : "Maksud kakek? Pernikahan?"


Kakek : "Ya. Serius?"


Elo : "Elo serius, kek. Rencana Elo habis Riri lulus kuliah, kami akan menikah dan pergi keluar beberapa tahun untuk kuliah lagi."


Riri : "Kakek... Kami belum membicarakan hal ini dengan jelas. Belum deal. Kak, aku belum bilang sama mama, papa. Kakak jangan ngomong gitu dong."


Elo : "Kita sudah sepakat kan? Di apartment?"


Riri mencubit pinggang Elo, ia malu sekali karena kakek jadi tahu kalau Riri pernah ke apartment Elo.


Kakek : "Ok, kakek tidak keberatan. Perlu bantuan kakek untuk bicara dengan orang tua Riri?"


Elo : "Perlu, kek. Kan Elo serius, jadi harus mengajak orang tua."


Riri cuma bisa bengong mendengar rencana yang dijabarkan Elo pada kakeknya.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Saat makan malam di rumah Alex, Kaori ikut bergabung dengan mereka. Rio meminta Kaori mengambilkan nasi dan lauk.


Kaori melakukannya sambil sesekali menanyakan seberapa banyak yang diinginkan Rio. Mia menatap kedua abg itu dengan senyum malu.


Mia : "Mas, mereka manis banget ya."


Alex : "Iya, sampai aku hampir kena diabetes."


Kaori menatap Mia dan Alex, ia tersenyum malu. Rio cuek saja menanggapi kata-kata kedua orang tuanya.


Rio : "Kaori, minta sayur lagi."

__ADS_1


Nenek : "Sejak kapan Rio suka makan banyak sayur?"


Rio : "Rio lagi diet, nek. Kata Kaori otot perut Rio mulai lembek."


Kaori mencubit paha Rio dibawah meja.


Kaori : "Gak bisa diem ya." Kaori berbisik sambil terus mencubit Rio.


Rio : "Sakit...! Berhenti mencubitku. Ambilkan minum. Cepat."


Mia : "Rio, jangan galak-galak sama Kaori."


Kaori memeletkan lidahnya, ia tersenyum puas melihat Rio yang cuma bisa menatapnya tanpa membalas.


Mia mengalihkan pandangannya ke Rara yang hanya diam saja sejak pulang dari kantor.


Mia : "Kamu kenapa, sayang?"


Mia mengelus tangan Rara,


Mia : "Masih sakit pinggang? Habiskan makananmu, nanti mama pijat kakimu ya."


Rara : "Iya, mah."


Alex menatap putri sulungnya yang sedikit lebih bundar sekarang. Seharusnya disaat sedang hamil seperti ini, Rara lebih banyak bersama Arnold.


Alex : "Arnold gimana?"


Rara : "Masih begitu aja, pah. Paling gak bulan depan baru bisa pulang kesini kalau gak ada perkembangan."


Alex : "Ya, nanti papa siapkan kamar yang lebih besar untuk kalian."


Rara : "Makasih ya, pah."


Rara menghabiskan makan malamnya, ia sudah sangat lelah. Pekerjaan di kantor, menjenguk Arnold, sambil membawa bayi di perutnya. Rara hanya ingin tidur setelah ini.


Mia membantu Rara berjalan ke kamarnya. Di dalam kamar, masih ada tumpukan berkas yang harus ia periksa juga.


Mia : "Ra, istirahat dulu. Besok kerjakan lagi."


Mia mengusap perut Rara dengan minyak kayu putih. Sesekali ia tersenyum merasakan gerakan bayi di tangannya.


Mia : "Babynya aktif sekali ya. Seperti si kembar dulu."


Rara : "Iya, mah. Kadang sakit sekali ditendang gitu."


Mia : "Baby boy memang begitu."


Mia berpindah memijat kaki Rara yang mulai membengkak.


Mia : "Nanti mau tidur naikkanΒ  kakinya diatas bantal ini ya. Biar gak tambah bengkak."


Mia mengatur bantal untuk kaki Rara. Ia juga memakai bantal itu ketika hamil besar.


Rara : "Makasih ya, mah."


Rara memeluk Mia yang membuatnya merasa sangat nyaman.


Ceklek! Pintu kamar Rara terbuka. Kaori dan Riri masuk ke dalam kamar Rara. Riri yang masih memakai gaun malam setelah makan malam dengan kakek Elo, langsung ikutan memeluk Mia.


Riri : "Mama..."


Mia : "Loh, Riri kenapa? Coba lihat dulu. Wow, cantik banget. Ini kan baju mahal."


Kaori : "Iya, kak. Aksesorisnya juga kristal asli."


Rara : "Dapet dimana, Ri?"


Riri : "Kakek mas Elo yang ngasi."


Mia : "Mas??!!"


Riri : "Eh, maksudnya kak Elo."

__ADS_1


Riri menutup mulutnya yang keceplosan.


Mia : "Ada apa, Ri?"


Riri memperlihatkan tangan kanannya yang berhiaskan cincin berlian.


Mia : "Wow! Berliannya gede banget. Papamu bisa beliin mama yang segede ini gak ya?"


Mata Mia, Rara dan Kaori terbelalak melihat cincin berlian itu.


Mia : "Siapa yang ngasi? Elo? Dalam rangka apa?"


Riri : "Riri baru dilamar kak Elo, mah."


Mia : "Apa??!!"


Rara : "Kamu terima? Riri?"


Kaori : "Pasti diterima kan? Buktinya cincinnya dipake."


Mia : "Mana Elo? Mama harus ngomong sama dia."


Riri : "Lagi ngobrol sama papa di ruang tamu."


Tok, tok... Pintu kamar Rara terbuka, Rio melongok dan memanggil Mia,


Rio : "Mah, dipanggil papa tuch diruang tamu."


Mia : " Masih ada Elo?"


Rio : "Masih, mah. Kaori, ikut yuk. Disuruh jagain si kembar."


Mia dan Kaori meninggalkan kamar Rara. Riri tampak gelisah dan salah tingkah.


Rara : "Kenapa? Grogi ya?"


Riri : "Kakak waktu dilamar gini gak rasanya?"


Rara : "Ya iyalah. Mana nglamarnya di bandara lagi. Diliatin banyak orang. Emang tadi gimana kak Elo nglamarnya?"


Riri : "Mas Elo cuma bilang mau nikahin Riri habis lulus kuliah. Ngomong ke kakeknya langsung. Riri gak dikasi kesempatan ngomong."


Rara : "Trus kamu mau akhirnya?"


Riri : "Iya, kak. Riri kan cinta sama mas Elo."


Rara : "Cieee... Cinta nie ye..."


Riri : "Apaan sich, kak?"


Rara : "Tapi kamu baru kuliah, mau cepet-cepet?"


Riri : "Disuruh tunangan aja dulu. Libur semester depan rencananya. Haduh, Riri bingung nich, kak."


Rara : "Kenapa bingung? "


Riri : "Mereka terlalu kaya, kak. Ini aja cincin turun temurun dari neneknya mas Elo. Diturunkan untuk menantu perempuan."


Rara : "Kenapa kalau mereka kaya? Memangnya mereka sombong?"


Riri : "Riri takut gak bisa menuhin standar menantu mereka."


Rara : "Ya, ampun Riri. Kalau kalian uda saling cinta, kenapa juga hal kayak gitu dimasalahin?"


Rara gak habis pikir dengan adiknya ini. Dikasi calon suami tampan, mapan, tajir melintir, malah bingung.


🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain β€˜Menantu untuk Ibu’, β€˜Perempuan IDOL’, β€˜Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya para reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya..

__ADS_1


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.


🌲🌲🌲🌲🌲


__ADS_2