
Yeeiii...!!!
Episode 100 juga. Author juga gak nyangka bisa sampai sini.
Maunya author kasi bonus visual apa daya review jadi lama banget. Sampe bosen nunggunya.
Jadi batal dech.
Happy reading
-----
Rara berjalan menyusuri koridor di kantor Arnold. Ia membawa beberapa berkas di tangannya. Thanks to Mia, dirinya juga mempercepat kuliahnya dan kini sedang magang di kantor suaminya.
Rara sama sekali tidak mengatakan apa-apa pada Arnold ketika dirinya melamar magang di kantor itu. Ia masuk lewat test wawancara dan sukses lolos tes.
Saat perkenalan mahasiswa magang dengan direksi dan staf, barulah Arnold tahu dimana tempat magang Rara. Pantas saja ia tidak mau diantar di hari pertamanya magang dulu.
Rara mengetuk pintu ruang kerja Arnold, semua orang yang melihatnya selama dalam perjalanan tadi hanya menegur tanpa menghalangi jalannya.
Pasalnya, Arnold secara terang-terangan memperkenalkannya sebagai Nyonya Arnold saat perkenalan mahasiswa magang dulu.
Meski Rara sudah wanti-wanti dengan kode tangan dan gelengan kepala, tapi Arnold tidak peduli. Arnold ingin semua orang di kantornya, mengetahui dengan jelas bagaimana harus memperlakukan Rara.
Rara mendorong pintu ruang kerja dan melihat kursi kerja Arnold yang kosong. Ia mendekati meja kerja itu dan meletakkan kertas-kertas yang ia bawa tadi.
Grep! Seseorang memeluk Rara dari belakang. Rara refleks menyikut pinggang orang itu dan memelintir tangannya.
Arnold : "Adduuduuh...! Sayang, ini suamimu."
Rara : "Mas, jangan ngagetin gitu kenapa sich? Uda tau aku ikutan bela diri sekarang. Dimana yang sakit?"
Arnold : "Sakit...! Mimik cucu..."
Eh, itu kenapa Arnold jadi bertingkah seperti anak kecil? Image bad boy-nya hancur berantakan karena sikap sok imutnya pada Rara.
Rara : "Hahahahaha... Mas kenapa sich? Aneh dech."
Arnold : "Buka gak?"
Sikap imutnya langsung berubah jadi singa kelaparan yang sedang menatap mangsanya. Rara melangkah mundur, ia tidak bisa cepat bergerak dengan leluasa karena sepatu hak yang dipakainya.
Rara : "Mas, ini dikantor. Nanti aja di rumah."
Arnold bergerak menutup pintu ruang kerjanya dan menguncinya. Rara melepas sepatu hak-nya, ia melangkah menghindari Arnold yang gesit menangkapnya.
Rara : "Maass...!!! Ntar ada yang masuk. Lepasin!"
Arnold : "Kalo teriak lagi, beneran ada yang masuk loh."
Rara menutup mulutnya, Arnold segera mencium bibir Rara, menarik istrinya ke atas sofa. Rara duduk dipangkuan Arnold yang masih menciumnya.
Rara : "Hummpp... Hummpp... Hoeekkk..."
__ADS_1
Rara memegangi perutnya, ia meringis kesakitan. Wajah Rara pucat menahan rasa mual yang tiba-tiba melanda perutnya.
Rara : "Hooeekkk..."
Rara ingin muntah tapi tidak ada yang keluar dari mulutnya.
Arnold : "Kamu kenapa, Ra?"
Rara tidak menjawab pertanyaan Arnold, ia berjalan masuk ke kamar mandi dan muntah di wastafel. Arnold mengikuti Rara, berdiri di sebelahnya dan memijat tengkuknya dengan lembut.
Arnold : "Kamu gak pa-pa?"
Rara : "Perutku sakit. Mual. Hoeekkk..."
Arnold : "Kita ke rumah sakit ya."
Rara hanya bisa mengikuti keinginan Arnold. Perutnya terasa melilit sekarang dan sangat tidak nyaman. Rara mengingat-ingat apa yang ia makan sebelum ini.
Tapi pagi ia sarapan dengan roti bakar dan secangkir teh. Sebelum itu di malam hari, ia tidak makan sesuatu yang aneh. Hanya terlalu pedas mungkin.
Arnold mengendarai mobilnya dengan cepat sampai di rumah sakit terdekat. Rara dibawa masuk ke UGD dan langsung ditangani dokter jaga.
Dokter jaga : "Sejak kapan mualnya?"
Rara : "Barusan, dok. Perut saya sakit sekali."
Dokter jaga : "Sudah menikah? Berapa lama?"
Rara : "Sudah, dok sekitar 3 bulan."
Dokter jaga : "Terakhir mens kapan?"
Dokter jaga menekan perut Rara yang merintih kesakitan. Ia membiarkan Rara berbaring di bed sementara Arnold menunggu di meja dokter.
Dokter jaga : "Apa ibunya sempat makan makanan pedas?"
Arnold : "Kemarin malam, dok. Memangnya istri saya kenapa?"
Dokter jaga : "Asam lambungnya naik. Ini saya kasi resep bisa ditebus di apotik. Untuk sementara jangan makan pedas dan berminyak ya."
Arnold : "Makasi dok."
Dokter jaga : "Tapi tidak menutup kemungkinan istri anda sedang hamil ya. Resep yang saya buat ini aman untuk ibu hamil."
Arnold : "Hamil, dok?"
------
Arnold menuntun Rara turun dari bed dan membawanya ke kursi tunggu. Arnold menyelesaikan urusan administrasi dan juga menebus obat saat menyadari Rara sudah tidak ada di tempatnya.
Pandangannya beredar sekeliling loby rumah sakit. Ia bertanya pada seseorang disana,
Arnold : "Permisi mb, apa mb lihat wanita berbaju biru yang tadi duduk disini?"
Ibu hamil itu terpana melihat visual Arnold yang ganteng maksimal. Arnold bertanya sekali lagi dan ibu hamil itu menunjuk ke arah toilet.
__ADS_1
Arnold berlari kesana, ia mendengar suara orang muntah-muntah dari dalam toilet wanita. Ia berdiri dengan gelisah, menunggu Rara keluar dari sana.
Seorang ibu-ibu ingin masuk ke dalam toilet dan Arnold meminta tolong untuk mengecek keadaan Rara. Tapi Rara sudah keluar dari sana.
Arnold : "Kamu gak pa-pa? Mau minum?"
Rara : "Aku laper, mas. Mau makan soto."
Arnold : "Tapi itukan berminyak, kata dokter tadi belum boleh."
Rara cemberut, bibirnya manyun membuat Arnold geli melihatnya. Ia berjalan keluar dari loby rumah sakit, ngambek. Arnold yang mulai mengerti sifat Rara, jadi bingung karena tumben Rara ngambek.
Arnold : "Ayo kita makan soto. Jangan ngambek dong."
Rara tersenyum senang, ia sudah mengeluarkan semua cairan dalam perutnya dan sekarang ia kelaparan.
Arnold membuka kunci pintu mobilnya dan mereka masuk ke dalamnya. Ia mengarahkan mobil ke salah satu warung pinggir jalan yang cukup ramai.
Mereka parkir di pinggir jalan dan Arnold memesan makanan untuk mereka. Rara terlihat berbinar melihat ayam kampung yang berwarna keemasan.
Liurnya hampir menetes keluar ketika pesanan mereka datang. Arnold melongo melihat Rara makan dengan cepat. Masi saja dirinya terpukau melihat sifat cuek Rara. Sifat yang membuat dirinya jatuh cinta pada Rara.
Selesai makan, Arnold bingung mau balik ke kantor atau pulang ke rumah. Disatu sisi dia masih ada meeting siang ini dan disisi lain, Rara perlu istirahat.
Ia melihat ke samping dan Rara tersenyum manis padanya terlihat lebih sehat. Akhirnya Arnold memutuskan kembali ke kantornya bersama Rara. Tapi Rara tidak boleh bekerja dulu untuk hari itu dan harus istirahat di kantor Arnold.
-----
Sampai di kantor Arnold, Rara kembali muntah-muntah. Arnold ingin melarikannya lagi ke rumah sakit tapi Rara tidak mau. Ia hanya ingin tidur sebentar untuk menghilang rasa mual yang ia rasakan.
Arnold memesan susu hangat dan cemilan untuk Rara sebelum ia pergi meeting. Saat Rara hampir tertidur seseorang masuk ke ruang kerja Arnold.
Ronald : "Loh, Rara. Kamu disini?"
Rara : "Eh, papa. Baru dateng, pah."
Ronald : "Arnold mana?"
Rara : "Mas Arnold lagi meeting, pah."
Ronald menatap cemilan, susu, dan juga obat diatas meja. Baru aja dia mau bertanya pada Rara, tiba-tiba...
Rara : "Hummpp... Hoeekk... Hoeekk...!"
Rara berlari ke kamar mandi dan muntah-muntah disana. Ronald malah nyengir girang, ia mengira Rara sedang ngidam karena hamil muda.
Ronald mengirimkan pesan pada Alex mengenai kabar yang belum tentu benar itu.
------
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan sarannya ya para reader.
Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya...
__ADS_1
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
--------