Duren Manis

Duren Manis
Extra part 32


__ADS_3

Extra part 32


Keira mengeluh lapar dan ingin makan mie. Persediaan mie ada di lemari bagian atas pantry. Keira berjalan perlahan mendekati lemari itu, Bilar hanya memperhatikan apa yang dilakukan Keira. Ada beberapa jenis mie di lemari itu, makanan instant untuk keadaan darurat lapar.


Sebuah panci kecil berisi air panas dari dispenser sudah siap sedia diatas kompor. Keira mengambil piring dan juga gunting untuk membuka bungkusan mie instant rasa soto itu. Ia menoleh pada Bilar sebelum memasukkan mie instant ke dalam panci.


“Kamu mau juga?” tanya Keira. Bilar mengangguk. Pria itu mengambil mie instant yang sama, lalu memasukkan mienya ke dalam panci yang sama dengan Keira.


“Harusnya kamu tambahin dulu air panasnya. Nanti kurang kuahnya.” Keira meracik bumbu mie di dalam satu piring, ia menunggu mie melunak sebelum mematikan kompor dan mencampur bumbu setelah mengurangi kuahnya sedikit.


Sepanci mie rebus rasa soto ayam sudah siap diatas  meja pantry. Keira membawa dua piring, dua sendok, dan dua garpu ke atas meja pantry. Keduanya duduk berhadapan diantara panci berisi mie yang mengepul.


“Wah, aku lapar sekali. Ayo, makan.” Keira mengambil mie lebih dulu, meniupnya sebentar, lalu  memindahkannya ke piringnya sendiri.


Bilar juga melakukan hal yang sama, mereka berdua makan dalam diam sambil sesekali saling melirik satu sama lain. Setelah mie habis, Bilar mengambil piring kotor keduanya, lalu mencuci piring itu di wastafel. Keira tidak mengatakan apa-apa, karena sudah cukup adil baginya ketika ia sudah memasak, maka Bilar yang mencuci piring dan panci kotor.


Keira mengambil minuman dingin di dalam kulkas, ia menanyakan apa Bilar juga mau minum. Bilar meminta minuman yang dipegang Keira, padahal Keira sudah sempat meminumnya.


“Kamu nakal juga ya. Itu kan bekas aku. Sama aja kita ciuman nggak langsung,” kata Keira membuat Bilar tersenyum tipis.


“Kita belum kenalan secara resmi. Namaku Bilar. Kamu?” tanya Bilar sambil mengulurkan tangannya.


“Aku Keira. Kamu, kenapa bisa kerja disini?” tanya Keira sambil menjabat tangan Bilar sekilas.


Bilar menceritakan tentang mamanya, Bianca, yang dulu sempat jadi asisten Mia dan papanya, Ilham yang bekerja jadi asisten pribadi Arnold. Bilar juga mengatakan kalau menurut mamanya, ia kurang sosialisasi. Setelah lulus kuliah, harusnya mulai bekerja, Bilar malah mengurung diri di kamarnya seharian.


“Kamu ngapain di kamar seharian? Nonton film gituan?” tanya Keira tanpa filter.


Bilar menggaruk kepalanya, ia melakukan banyak hal di dalam kamarnya. Tentu saja ia tidak akan mempublikasikannya pada Keira.


“Apa? Kamu ngapain?” tanya Keira mulai kepo. Kakinya refleks menendang kaki Bilar, tapi Keira meringis kesakitan. Ia lupa kalau kakinya masih sakit.


Bilar meletakkan telunjuknya di depan bibirnya, meminta Keira tidak kepo. Keira lalu berdiri dari duduknya menuju mesin fotocopy.  Kakinya sudah lebih baik setelah diobati Bilar tadi. Ia harus menyelesaikan pekerjaannya mem-fotocopy agar Reva bisa membagikan dokumen itu ke beberapa department di perusahaan.


“Kamu masih banyak fotocopy-nya?” tanya Bilar.


“Udah hampir selesai. Tinggal dokumen ini. Yang itu, bisa kamu bawa ke ruangan om Rio, tumpuk dulu di mejaku ya. Habis fotocopy ini, baru bisa kita kasih ke Reva,” jelas Keira.

__ADS_1


Bilar melirik kaki Keira yang terlihat lebih baik. Tapi bisa-bisanya gadis itu tetap santai meskipun bekerja tanpa alas kaki. Bilar membawa dokumen yang sudah selesai di fotocopy ke ruang kerja Rio. Ia menanyakan sandal jepit pada pria itu dan meminta Bilar mengambilnya di laci dibelakang mejanya.


Keira yang berjalan tertatih-tatih keluar dari pantry, berpapasan dengan Bilar yang kembali membawa sandal jepit. Pria itu meletakkan sandal di depan kaki Keira lalu mengambil dokumen di tangannya.


“Sweet banget, sich. Kamu bisa perhatian juga ya,” kata Keira sambil memakai sandal itu.


Keduanya sibuk menumpuk dokumen di meja Keira lalu membawanya ke meja Reva. Bahkan sudah tidak ada tempat lagi di meja Reva yang masih penuh dokumen. Pria itu masih meeting bersama Alex dan Romi.


Bilar yang risih melihat tumpukan dokumen itu, meminta Keira mengantarnya ke department yang harus menerima dokumen itu. Keira sempat mengomel dulu, cukup panjang sampai Bilar selesai meletakkan dokumen di atas tray yang biasa dipakai Reva untuk membawa dokumen.


“Udah selesai, kan? Ayo, kita jalan,” ajak Bilar.


Rio ketawa ngakak di dalam ruang kerjanya, ia bisa melihat wajah cemberut Keira yang mau tak mau harus mengantar Bilar turun. Melda juga menahan tawanya melihat ada seseorang yang bisa membuat Keira kesal dengan mudahnya.


Reva yang baru kembali dari meeting, kebingungan melihat mejanya bersih. Ia sampai melihat ke bawah meja dan ke ruang kerja Rio.


“Kak, ini dokumennya kemana? Belum selesai?” tanya Rio bingung.


“Udah dibawa sama Keira. Tunggu aja. Gimana tadi meetingnya?” tanya Rio.


sudah kembali.


“Lagi sibuk gini, malah nggosip. Dih, nggak profesional,” sindir Keira yang cuma mendengar seperempat dari cerita Reva. Reva melihat kaki Keira yang lebam.


“Kaki lo kenapa?” tanya Reva kuatir.


Keira menunjuk Bilar dan menuduh pria itu yang membuatnya jadi begitu. Bilar hanya memasang wajah dingin menanggapi tuduhan Keira. Rio menengahi mereka, lalu memperkenalkan Bilar pada Reva.


“Bilar akan jadi asistenku, menggantikan Keira,” kata Rio sambil menatap Bilar dan Keira.


Raut kecewa sempat menghiasi wajah Keira, ia belum mau pergi dari perusahaan Alex. Tapi raut wajahnya langsung kembali normal, sedikit songong dan ucapan yang menyebalkan.


“Yah, aku tahu pelayananku kurang memuaskan kan, om. Siapa tahu, Bilar bisa memuaskan om RIo.” Keira bicara tanpa menatap Rio. Ia mengusir Reva dari kursinya, lalu melanjutkan pekerjaannya sebelum jam


pulang selesai.


Tidak ada sepatah katapun yang diucapkan Keira setelah mendengar keputusan Rio tadi. Ia mendapat notifikasi chat dari dosen pembimbingnya yang meminta Keira datang ke kampus. Skripsinya sudah selesai dan Keira bisa segera daftar untuk ujian. Gadis itu tidak menunjukkan reaksi apa-apa melihat ia sudah bisa ujian. Hatinya sepertinya sudah terkait dengan perusahaan Alex.

__ADS_1


Sedikit melamun, Keira tidak sadar kalau kakinya masih sakit. Saat ia bangkit dari duduknya untuk membawa dokumen ke meja Reva, kakinya tidak seimbang hingga ia terjatuh lagi. Bruk!


“Shit!” maki Keira. Dokumen yang sudah rapi, kembali berantakan dilantai. Keira menahan tangisannya, ia tidak ingin menunjukkan kelemahannya saat ini.


Dengan cepat, Keira merapikan dokumen-dokumen itu. Seseorang berjongkok di sampingnya, ikut membantu Keira.


“Kamu kenapa nangis?” tanya Rio ketika melihat air mata Keira meluncur turun di pipinya.


Gadis itu tidak mengatakan apa-apa. Keira bangkit berdiri, berpegangan pada pinggiran lemari, ia berusaha keluar dari sana menuju pantry. Rio hampir mengejar Keira, tapi Bilar sudah lebih dulu mengejarnya.


“Lo ngapain dia? Kok sampe nangis gitu?” tanya Melda.


“Nggak tau. Barusan dia jatuh di dalem. Kalau sakit, harusnya kan pulang aja.” Rio menggelengkan kepalanya.


“Lo kelewat galak, Rio. Keira kan udah bantuin lo. Semua kerjaan dia selalu beres. Capek loh ngurus dokumen segitu banyak,” nasihat Melda mencoba menyalahkan Rio tapi dengan cara halus.


Rio melirik sebal pada sekretaris papanya itu. Sejak punya Alan, Melda jadi lebih tenang dan bijak. Tapi tetep aja sindiran halusnya tidak pernah hilang dari mulut Melda.


Keira memijat kepalanya yang sakit. Kaki sakit, sekarang kepala juga sakit. “Aku benar-benar perlu clubbing,” keluh Keira sambil bersandar di kursi pantry.


“Kamu kenapa?” tanya Bilar mengagetkan Keira.


“Bilar, buka dong kacamatamu. Sini duduk deket aku,” kata Keira tiba-tiba ketika melihat Bilar di dekatnya.


Bilar mengkerutkan keningnya mendengar permintaan Keira. Tapi ia tidak bisa menolak Keira, perlahan Bilar melepas kacamatanya lalu menatap Keira.


Senyum manis Keira langsung berganti jadi wajah bodoh melongo melihat wajah Bilar tanpa kacamata. *”Kenapa jadi ganteng gini ya. Beneran Superman. Pake kacamata jadi culun\, kalo dilepas jadi mau.”* batin


Keira rebutan berkomentar menilai penampilan Bilar.


Keira menarik tangan Bilar hingga terduduk di sampingnya, dengan cepat Keira berpindah duduk di pangkuan Bilar.


“Tuan Superman, apa kamu cukup kuat?” tanya Keira di depan wajah Bilar.


“Kei, turun. Kamu mau ngapain?” tanya Bilar merasa tidak nyaman.


“Aku rasa, aku sudah jatuh cinta sama kamu, tuan Superman,” kata Keira sambil menatap mata Bilar.

__ADS_1


__ADS_2