
Ngidam bata...
Mia : “Waduh, jangan dipukulin Rio-nya. Rara, Arnold, stop!”
Sampai akhirnya keributan itu selesai dengan Alex yang jadi penengahnya, Rio duduk di samping Gadis lagi. Gadis melirik penampilan Rio yang kacau, ada bekas tangan akibat tamparan Rara di pipi Rio.
Gadis : “Sukurin.”desis Gadis pada Rio.
Rio hanya melotot galak pada Gadis tanpa bicara apa-apa. Kakaknya sudah datang lagi membawa obat dan kapas.
Rio : “Aduch! Sakit, kak! Pelan-pelan!”
Rara : “Harusnya kamu inget sakit ini sebelum berbuat gitu sama anak gadis orang.”
Rara yang masih marah, mengobati Rio dengan sadis.
Menekan luka-luka Rio akibat ulahnya dan Arnold tadi dengan kapas berisi obat.
Mia tidak bisa berbuat apa-apa melihat Rara sangat marah. Ia tahu Rara sangat
sayang pada Rio, dan itu salah satu bentuk rasa sayangnya pada adiknya itu.
Melihat Rio kesakitan terus-terusan, Gadis tidak
tega juga. Ia meminta kapas yang dipegang Rara dan ikut mengobati luka Rio
dengan lebih lembut. Rara berhenti mengobati Rio, ia mendengar putranya
menangis dan segera mencuci tangannya.
Mia senyum-senyum sendiri melihat Gadis mengobati Rio dengan teliti. Sesekali ia meniup luka cakaran di lengan Rio. Pantas saja orang tua Rio gak marah-marah. Sudah ada kakaknya yang lebih sadis dan galak. Saat Gadis mengobati luka di sudut bibir Rio, Rio menatap wajah Gadis.
Rio mengingat saat Kaori masih hidup dan Gadis
selalu tampak ceria di depannya. Ia cukup cerewet dengan banyak bertanya pada
Rio. Bahkan saat Rio tidak menghiraukannya, Gadis selalu tersenyum untuknya. Tapi
semua berubah saat negara api menyerang... eh, kayaknya salah kamar. Ehem,
ulang lagi ya. #efekauthorgaktidursibukbertapa.
Tapi semua berubah saat Kaori meninggal. Gadis
mulai menghindarinya, mengacuhkannya dan sebisa mungkin tidak berinteraksi
dengan Rio. Meskipun mereka berada di kelas yang sama, Gadis sama sekali tidak
menatapnya lagi.
Wajah Gadis yang selalu ceria, sekarang tampak
lelah dengan sedikit kantung mata di bawah matanya. Pipinya juga lebih tirus
dari sebelumnya. Tanpa lipstik yang biasanya menghiasi bibirnya, wajah Gadis
terlihat pucat.
Gadis : “Bukankah gak sopan menatap wajah seseorang seperti itu?”
Gadis mengumpulkan kapas bekas mengobati Rio dan
ingin membuangnya. Rio mengambil kapas itu duluan dan membuangnya ke tong
sampah.
Rio : “Kamu mau makan apa?”
Gadis : “Bata... gak jadi.”
Rio : “Bata? Batu bata? Kamu ngidam batu bata?”
Gadis tidak mau menjawab pertanyaan Rio yang gak
__ADS_1
masuk akal. Ngidamnya belum separah itu sampai harus makan batu bata.
Rio : “Apa dong?”
Gadis : “Diem. Berisik!”
Alex : “Pesanan datang.”
Alex datang dari pintu depan dan meletakkan
sebungkus batagor hangat di depan Gadis. Gadis menelan liurnya mencium aroma batagor
yang baru digoreng. Ia menatap Alex yang mengangguk dan segera membuka bungkus
batagor itu. Gadis menikmati memakan batagor tanpa menawari siapapun.
Rio : “Oh, batagor.”
Mencium bau batagor membuat Rio mulai lapar. Ia
mengeluh pada papanya kenapa beli cuma satu bungkus. Alex membela diri kalau
Romi hanya mengirim satu bungkus saja biar cepet. Rio cemberut, ia beranjak ke
dapur dan membuat telur orak-arik untuknya sendiri.
Mb Minah yang sedang memasak sup kepala ikan, ingin
membantu Rio tapi ditolak. Sepiring nasi putih hangat di tutupi orak-orik telur
siap sudah. Rio membawanya ke meja makan. Ia mengingat sesuatu yang kurang dan
mengambil saus sambal dari meja dapur.
Saat ia kembali, makanannya sudah pindah ke depan
Gadis. Wanita itu sudah menghabiskan separuh makanannya. Rio hanya bisa bengong
kehadiran Rio, spontan mendorong piring makan itu kembali ke tempat semula dan
bersikap cuek lagi.
Rio : “Habisin aja. Aku bisa bikin lagi.”
Gadis : “Udah gak selera.”
Rio : “Gak selera tapi hampir habis ya.”
Gadis melirik sebal pada Rio yang duduk lagi di
sampingnya. Rio menuangkan beberapa tetes saos sambal diatas telur orak-arik
itu. Ketika ia baru makan sesuap, Rio merasa Gadis sedang menatapnya. Rio
mendorong piring itu ke depan Gadis.
Rio : “Nich, aku udah gak laper.”
Rio melakukan itu sambil mengambil air minum. Gadis
melirik Rio yang sengaja memutar tubuhnya membelakangi Gadis. Gadis mengambil
sendok dan mulai memakan makanan itu sampai habis. Rio tersenyum tipis
mendengar dentingan sendok beradu dengan piring.
*****
Beberapa kilometer jauhnya,
Riri tersentak bangun dari tidurnya, ia meringis
memegangi pipinya yang tiba-tiba sakit. Ia berpikir apa giginya sakit sampai
__ADS_1
pipinya juga ikutan sakit. Tapi tidak ada masalah dengan giginya. Dengan malas,
Riri mengambil ponselnya. Agak susah karena ia harus menyingkirkan tangan Elo
dulu dari tubuh polosnya.
Sejak menikah, Elo tidak pernah membiarkannya
memakai pakaian saat tidur. Kecuali dirinya sedang datang bulan. Elo yang
merasa Riri bergerak, tidak mau melepaskan pelukannya.
Riri : “Sayang, minggir dulu. Aku mau ambil HP.”
Elo : “Mau nelpon sapa?”
Riri : “Pipiku sakit nich. Perasaanku gak enak sama Rio.”
Elo bangkit mengambil ponsel Riri di atas nakas dan
memberikannya pada Riri. Riri mengetik chat dengan cepat untuk Rio. Menanyakan kabar
dirinya dan apa yang terjadi padanya hingga pipinya merasa sakit. Rio menjawab
kalau dirinya baru habis ditampar Rara.
Riri : “Ditampar mb Rara. Pantesan sakit banget.”
Elo : “Kenapa Rio ditampar sama Rara?”
Riri : “Apa kita bisa v-call kesana? Coba aku tanya dulu Rio ada dimana ya.”
Elo : “Iya. Coba aja.”
Riri menanyakan dimana Rio sekarang sambil menyuruh
Elo mengambilkan bathrobe untuk mereka. Rio menjawab mereka semua sedang ada di
rumah sekarang dan Riri menelpon ke ponsel Alex. Riri tahu kalau ponsel papanya
lebih banyak pulsa dan kuotanya daripada yang lain.
Riri : “Hai, pah, mah.”
Riri dadah-dadah pada semua orang yang ada di belakang Alex.
Elo : “Halo semuanya.”
Alex : “Riri, disana masih malam kan, kenapa telpon jam segini?”
Riri : “Pipi Riri tiba-tiba sakit, taunya mb Rara nampar Rio ya. Kenapa emangnya?”
Alex mendekatkan ponselnya pada Mia agar Mia yang
memberi tahu tentang kelakuan Rio. Mia bicara dengan sangat hati-hati agar
tidak menyinggung Gadis yang masih makan.
Riri : “Maksa? Maksud mama, Rio memperkosa gadis itu?”
Mia : “Iya, Ri. Rio mabuk dan ngira Gadis itu Kaori.”
Riri : “Oh, kasian banget ya. Namanya Gadis? Apa dia ada dirumah?”
*****
Mia : "Iya. Lagi sibuk vote dan like novel ini."
Riri : "Sama dong. Riri juga uda vote dan like juga."
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).
__ADS_1