Duren Manis

Duren Manis
Ngidam bata...


__ADS_3

Ngidam bata...


Mia : “Waduh, jangan dipukulin Rio-nya. Rara, Arnold, stop!”


Sampai akhirnya keributan itu selesai dengan Alex yang jadi penengahnya, Rio duduk di samping Gadis lagi. Gadis melirik penampilan Rio yang kacau, ada bekas tangan akibat tamparan Rara di pipi Rio.


Gadis : “Sukurin.”desis Gadis pada Rio.


Rio hanya melotot galak pada Gadis tanpa bicara apa-apa. Kakaknya sudah datang lagi membawa obat dan kapas.


Rio : “Aduch! Sakit, kak! Pelan-pelan!”


Rara : “Harusnya kamu inget sakit ini sebelum berbuat gitu sama anak gadis orang.”


Rara yang masih marah, mengobati Rio dengan sadis.


Menekan luka-luka Rio akibat ulahnya dan Arnold tadi dengan kapas berisi obat.


Mia tidak bisa berbuat apa-apa melihat Rara sangat marah. Ia tahu Rara sangat


sayang pada Rio, dan itu salah satu bentuk rasa sayangnya pada adiknya itu.


Melihat Rio kesakitan terus-terusan, Gadis tidak


tega juga. Ia meminta kapas yang dipegang Rara dan ikut mengobati luka Rio


dengan lebih lembut. Rara berhenti mengobati Rio, ia mendengar putranya


menangis dan segera mencuci tangannya.


Mia senyum-senyum sendiri melihat Gadis mengobati Rio dengan teliti. Sesekali ia meniup luka cakaran di lengan Rio. Pantas saja orang tua Rio gak marah-marah. Sudah ada kakaknya yang lebih sadis dan galak.        Saat Gadis mengobati luka di sudut bibir Rio, Rio menatap wajah Gadis.


Rio mengingat saat Kaori masih hidup dan Gadis


selalu tampak ceria di depannya. Ia cukup cerewet dengan banyak bertanya pada


Rio. Bahkan saat Rio tidak menghiraukannya, Gadis selalu tersenyum untuknya. Tapi


semua berubah saat negara api menyerang... eh, kayaknya salah kamar. Ehem,


ulang lagi ya. #efekauthorgaktidursibukbertapa.


Tapi semua berubah saat Kaori meninggal. Gadis


mulai menghindarinya, mengacuhkannya dan sebisa mungkin tidak berinteraksi


dengan Rio. Meskipun mereka berada di kelas yang sama, Gadis sama sekali tidak


menatapnya lagi.


Wajah Gadis yang selalu ceria, sekarang tampak


lelah dengan sedikit kantung mata di bawah matanya. Pipinya juga lebih tirus


dari sebelumnya. Tanpa lipstik yang biasanya menghiasi bibirnya, wajah Gadis


terlihat pucat.


Gadis : “Bukankah gak sopan menatap wajah seseorang seperti itu?”


Gadis mengumpulkan kapas bekas mengobati Rio dan


ingin membuangnya. Rio mengambil kapas itu duluan dan membuangnya ke tong


sampah.


Rio : “Kamu mau makan apa?”


Gadis : “Bata... gak jadi.”


Rio : “Bata? Batu bata? Kamu ngidam batu bata?”


Gadis tidak mau menjawab pertanyaan Rio yang gak

__ADS_1


masuk akal. Ngidamnya belum separah itu sampai harus makan batu bata.


Rio : “Apa dong?”


Gadis : “Diem. Berisik!”


Alex : “Pesanan datang.”


Alex datang dari pintu depan dan meletakkan


sebungkus batagor hangat di depan Gadis. Gadis menelan liurnya mencium aroma batagor


yang baru digoreng. Ia menatap Alex yang mengangguk dan segera membuka bungkus


batagor itu. Gadis menikmati memakan batagor tanpa menawari siapapun.


Rio : “Oh, batagor.”


Mencium bau batagor membuat Rio mulai lapar. Ia


mengeluh pada papanya kenapa beli cuma satu bungkus. Alex membela diri kalau


Romi hanya mengirim satu bungkus saja biar cepet. Rio cemberut, ia beranjak ke


dapur dan membuat telur orak-arik untuknya sendiri.


Mb Minah yang sedang memasak sup kepala ikan, ingin


membantu Rio tapi ditolak. Sepiring nasi putih hangat di tutupi orak-orik telur


siap sudah. Rio membawanya ke meja makan. Ia mengingat sesuatu yang kurang dan


mengambil saus sambal dari meja dapur.


Saat ia kembali, makanannya sudah pindah ke depan


Gadis. Wanita itu sudah menghabiskan separuh makanannya. Rio hanya bisa bengong


kehadiran Rio, spontan mendorong piring makan itu kembali ke tempat semula dan


bersikap cuek lagi.


Rio : “Habisin aja. Aku bisa bikin lagi.”


Gadis : “Udah gak selera.”


Rio : “Gak selera tapi hampir habis ya.”


Gadis melirik sebal pada Rio yang duduk lagi di


sampingnya. Rio menuangkan beberapa tetes saos sambal diatas telur orak-arik


itu. Ketika ia baru makan sesuap, Rio merasa Gadis sedang menatapnya. Rio


mendorong piring itu ke depan Gadis.


Rio : “Nich, aku udah gak laper.”


Rio melakukan itu sambil mengambil air minum. Gadis


melirik Rio yang sengaja memutar tubuhnya membelakangi Gadis. Gadis mengambil


sendok dan mulai memakan makanan itu sampai habis. Rio tersenyum tipis


mendengar dentingan sendok beradu dengan piring.


*****


Beberapa kilometer jauhnya,


Riri tersentak bangun dari tidurnya, ia meringis


memegangi pipinya yang tiba-tiba sakit. Ia berpikir apa giginya sakit sampai

__ADS_1


pipinya juga ikutan sakit. Tapi tidak ada masalah dengan giginya. Dengan malas,


Riri mengambil ponselnya. Agak susah karena ia harus menyingkirkan tangan Elo


dulu dari tubuh polosnya.


Sejak menikah, Elo tidak pernah membiarkannya


memakai pakaian saat tidur. Kecuali dirinya sedang datang bulan. Elo yang


merasa Riri bergerak, tidak mau melepaskan pelukannya.


Riri : “Sayang, minggir dulu. Aku mau ambil HP.”


Elo : “Mau nelpon sapa?”


Riri : “Pipiku sakit nich. Perasaanku gak enak sama Rio.”


Elo bangkit mengambil ponsel Riri di atas nakas dan


memberikannya pada Riri. Riri mengetik chat dengan cepat untuk Rio. Menanyakan kabar


dirinya dan apa yang terjadi padanya hingga pipinya merasa sakit. Rio menjawab


kalau dirinya baru habis ditampar Rara.


Riri : “Ditampar mb Rara. Pantesan sakit banget.”


Elo : “Kenapa Rio ditampar sama Rara?”


Riri : “Apa kita bisa v-call kesana? Coba aku tanya dulu Rio ada dimana ya.”


Elo : “Iya. Coba aja.”


Riri menanyakan dimana Rio sekarang sambil menyuruh


Elo mengambilkan bathrobe untuk mereka. Rio menjawab mereka semua sedang ada di


rumah sekarang dan Riri menelpon ke ponsel Alex. Riri tahu kalau ponsel papanya


lebih banyak pulsa dan kuotanya daripada yang lain.


Riri : “Hai, pah, mah.”


Riri dadah-dadah pada semua orang yang ada di belakang Alex.


Elo : “Halo semuanya.”


Alex : “Riri, disana masih malam kan, kenapa telpon jam segini?”


Riri : “Pipi Riri tiba-tiba sakit, taunya mb Rara nampar Rio ya. Kenapa emangnya?”


Alex mendekatkan ponselnya pada Mia agar Mia yang


memberi tahu tentang kelakuan Rio. Mia bicara dengan sangat hati-hati agar


tidak menyinggung Gadis yang masih makan.


Riri : “Maksa? Maksud mama, Rio memperkosa gadis itu?”


Mia : “Iya, Ri. Rio mabuk dan ngira Gadis itu Kaori.”


Riri : “Oh, kasian banget ya. Namanya Gadis? Apa dia ada dirumah?”


*****


Mia : "Iya. Lagi sibuk vote dan like novel ini."


Riri : "Sama dong. Riri juga uda vote dan like juga."


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).

__ADS_1


__ADS_2