
Katty masih setia
menunggu Jodi di kamar rawat inap yang dibooking Jodi untuk Rara dan
keluarganya. Ia mengelus perutnya yang mulai lapar, Katty celingukan mencari
sesuatu untuk dimakan. Ia melihat mini bar dan membukanya, diambilnya sebatang
coklat disana.
Ketika Katty asyik
menikmati coklat di tangannya, Jodi masuk ke kamar itu.
Jodi : “Kamu lagi
makan apa?”
Katty : “Coklat. Enak
dech. Mau?”
Jodi : “Coklat...
Hmmp...hmmp...”
Katty melongo
melihat Jodi berlari ke kamar mandi dan muntah-muntah disana.
Katty : “Sayang,
kamu gak pa-pa?”
Jodi : “Nggak...”
Jodi keluar dari
kamar mandi dengan wajah pucat dan nafas ngos-ngosan.
Katty : “Kamu mual
karena bau coklat.”
Jodi : “Bukan,
hmmpp... kamu jangan bilang coklat lagi...”
Katty : “Bayimu
aneh dech. Coklat.”
Jodi : “Hmmppp...
jangan bilang gitu!”
Jodi berlari masuk
lagi ke kamar mandi, kembali muntah.
Katty : “Aku cuma
bilang coklat dan papamu langsung muntah-muntah.”
Katty menoel-noel
perutnya yang masih rata. Jodi keluar lagi dari kamar mandi,
Jodi : “Ayo kita
pulang.”
Katty : “Kamu yakin
bisa nyetir kondisi kayak gini?”
Jodi : “Aku panggil
sopir, dech.”
Jodi menjatuhkan
tubuhnya di atas sofa disamping Katty. Katty masih asyik menghabiskan
coklatnya.
Jodi : “Sampai
kapan aku harus mual-mual gini?”
Katty : “3 bulan? Dokternya
bilang gitu kan.”
Jodi : “Aku akan
__ADS_1
kurus sebelum 3 bulan. Sayang, masakin aku semur daging.”
Katty : “Katamu aku
gak boleh masak.”
Jodi : “Masak buat
aku aja. Jangan masak buat semua orang. Kamu lapar?”
Katty : “Iya.”
Jodi : “Kamu mau
makan apa?” Jodi menegakkan tubuhnya menunggu Katty menyebutkan satu saja makanan
yang ingin dimakannya. Tapi Katty hanya geleng-geleng kepala.
Ini yang disebut
berbagi. Bikin anaknya sama-sama, menderita juga sama-sama. Bapaknya menderita
karena ngidam, ibunya nunggu dech 8 bulan lagi waktu lahiran. Jadi ingat waktu
saya melahirkan 4 bulan lalu.
*****
Arnold masih tetap
duduk di kursi rodanya, ia menatap lurus ke pintu ruang ICU. Setiap ada orang
yang masuk atau keluar, ia akan menatap orang itu. Tapi tidak ada satu pun yang
menyebut nama Rara.
Arnold : “Tuhan,
kalau ini hukuman untukku karena pernah berbohong pada Rara, tolong hukum saja
aku.” Batin Arnold sambil memejamkan matanya yang terasa perih.
Lain halnya perawat
yang ada di ruang ICU, mereka merasa terhibur karena ada Arnold yang tampan.
Jadinya bolak-balik keluar ruang ICU hanya untuk ditatap Arnold. Baper kan
jadinya.
dan menunggu, bahkan Ronald sampai kembali dari toilet, belum ada kabar dari
dalam ruang ICU.
Ronald : “Nak, kau
harus makan dan minum dulu.”
Ronald menyodorkan
botol air minum pada Arnold yang diabaikan putra bungsunya itu. Ronald mengusap
kepala Arnold, ia mendekatkan botol minum yang sudah dibuka ke mulut Arnold.
Arnold menoleh pada papanya,
Ronald : “Minum,
nak. Kau harus kuat. Rara akan marah kalau dia bangun nanti dan melihatmu lebih
kurus. Dia akan mengomel, nak.”
Arnold : “Biar saja
dia ngomel. Biar dia lihat aku kurus. Rara harus menyuapi aku makan, pah.”
Ronald : “Arnold!
Tegarlah sedikit, kamu itu laki-laki. Kamu harus kuat untuk anak dan istrimu.
Kamu mau Rara berjuang sendiri?!”
Arnold terdiam
mendengar bentakan papanya. Ia memejamkan mata lagi, tapi saat Ronald menarik
botol air minum dari hadapan Arnold, Arnold mengambilnya dan menghabiskan
sebotol penuh air minum itu.
Arnold : “Arnold mau
lihat Rara dulu, pah.”
Ronald mengangguk
__ADS_1
sambil tersenyum lega. Ia menuntun Arnold bangun dan berjalan masuk ke ruang
ICU tempat Rara masih tidur.
Arnold duduk di
samping Rara, ia menatap intens wajah Rara yang tampak tenang tertidur. Selang
oksigen masih menempel di hidungnya. Sesekali tensimeter mengembang mengukur
tekanan darah Rara yang tampak normal.
Arnold : “Sayang...,
Rara... Ini aku Arnold.”
Arnold mencium
tangan Rara yang dingin. Ia menggosoknya perlahan-lahan. Ditatapnya lagi wajah
Rara, bibirnya sedikit pucat. Arnold berdiri dari duduknya dan pelan-pelan
mencium bibir Rara. Sebuah kecupan, Arnold menjauh lagi. Bibir Rara masih saja
pucat.
Kali ini Arnold
mencium lebih lama, menyesap bibir istrinya itu. Perlahan Rara mulai merespon
ciuman Arnold. Arnold tersentak, ia menjauh dan menatap wajah Rara. Tidak ada
gerakan apa-apa, kali ini Arnold mencium Rara dengan sungguh-sungguh sampai
nafasnya terasa sesak.
Arnold : “Ouch...!”
Arnold memekik saat dirasakannya bibirnya digigit Rara.
Rara : “Maas...”
Arnold tersenyum
bahagia, Raranya mulai membuka matanya. Tangan Rara spontan bergerak memegang
perutnya yang rata.
Rara : "Anak kita, mas..."
Arnold : "Ada sayang, dia di ruang bayi. Namanya Reynold."
Rara : 'Reynold..."
Arnold : "Ya, kau suka?"
Rara mengangguk sambil tersenyum lemah. Suara peringatan di monitor menunjukkan kenaikan tekanan darah Rara. Suster segera datang dan meminta Arnold untuk keluar.
Suster : "Bapak tolong keluar dulu. Ibunya perlu istirahat."
Arnold tidak mau keluar dari sana. Ia tetap memegang tangan Rara dan menundukkan kepalanya menyentuhkan pipinya ke tangan Rara. Suster hampir kesal kalau tidak melihat pria tampan di depannya ini terlihat sangat lengket dengan istrinya.
Rara : "Mas udah makan?"
Arnold : "Udah."
Rara : "Bohong. Kalo udah, kok kurus gini?"
Arnold : "Ntar mas makan. Pengen disuapin sama kamu. Cepet sembuh ya."
Rara : "Iya. Manja dech. Uda jadi papa juga, papa."
Arnold : "Iya, mama cantik. Makasih, sayang."
Rara : "Buat apa?"
Arnold : "Udah mau jadi teman hidupku dan ibu untuk anakku."
Rara : "Anak-anak kita, mas. Mas gak mau punya anak lagi?"
Arnold : "Aku takut melihatmu begini lagi. Satu saja."
Rara : "Tapi aku juga mau anak perempuan."
Arnold : "Jangan terlalu banyak berpikir. I love you, mama."
Rara : "I love you, papa."
Arnold mencium tangan Rara lagi, menempelkan tangan Rara ke pipi Arnold. Rara kembali memejamkan matanya dan tertidur lagi. Arnold tetap setia menemaninya.
Diluar ruang ICU, Ronald memperhatikan keduanya dengan senyum bahagia. Ronald segera menelpon Alex dan mengabarkan tentang Rara yang sudah sadar. Alex berteriak gembira membuat keluarganya juga bersorak lega.
🌻🌻🌻🌻🌻
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
__ADS_1
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).