Duren Manis

Duren Manis
Baby Reynold


__ADS_3

Katty masih setia


menunggu Jodi di kamar rawat inap yang dibooking Jodi untuk Rara dan


keluarganya. Ia mengelus perutnya yang mulai lapar, Katty celingukan mencari


sesuatu untuk dimakan. Ia melihat mini bar dan membukanya, diambilnya sebatang


coklat disana.


Ketika Katty asyik


menikmati coklat di tangannya, Jodi masuk ke kamar itu.


Jodi : “Kamu lagi


makan apa?”


Katty : “Coklat. Enak


dech. Mau?”


Jodi : “Coklat...


Hmmp...hmmp...”


Katty melongo


melihat Jodi berlari ke kamar mandi dan muntah-muntah disana.


Katty : “Sayang,


kamu gak pa-pa?”


Jodi : “Nggak...”


Jodi keluar dari


kamar mandi dengan wajah pucat dan nafas ngos-ngosan.


Katty : “Kamu mual


karena bau coklat.”


Jodi : “Bukan,


hmmpp... kamu jangan bilang coklat lagi...”


Katty : “Bayimu


aneh dech. Coklat.”


Jodi : “Hmmppp...


jangan bilang gitu!”


Jodi berlari masuk


lagi ke kamar mandi, kembali muntah.


Katty : “Aku cuma


bilang coklat dan papamu langsung muntah-muntah.”


Katty menoel-noel


perutnya yang masih rata. Jodi keluar lagi dari kamar mandi,


Jodi : “Ayo kita


pulang.”


Katty : “Kamu yakin


bisa nyetir kondisi kayak gini?”


Jodi : “Aku panggil


sopir, dech.”


Jodi menjatuhkan


tubuhnya di atas sofa disamping Katty. Katty masih asyik menghabiskan


coklatnya.


Jodi : “Sampai


kapan aku harus mual-mual gini?”


Katty : “3 bulan? Dokternya


bilang gitu kan.”


Jodi : “Aku akan

__ADS_1


kurus sebelum 3 bulan. Sayang, masakin aku semur daging.”


Katty : “Katamu aku


gak boleh masak.”


Jodi : “Masak buat


aku aja. Jangan masak buat semua orang. Kamu lapar?”


Katty : “Iya.”


Jodi : “Kamu mau


makan apa?” Jodi menegakkan tubuhnya menunggu Katty menyebutkan satu saja makanan


yang ingin dimakannya. Tapi Katty hanya geleng-geleng kepala.


Ini yang disebut


berbagi. Bikin anaknya sama-sama, menderita juga sama-sama. Bapaknya menderita


karena ngidam, ibunya nunggu dech 8 bulan lagi waktu lahiran. Jadi ingat waktu


saya melahirkan 4 bulan lalu.


*****


Arnold masih tetap


duduk di kursi rodanya, ia menatap lurus ke pintu ruang ICU. Setiap ada orang


yang masuk atau keluar, ia akan menatap orang itu. Tapi tidak ada satu pun yang


menyebut nama Rara.


Arnold : “Tuhan,


kalau ini hukuman untukku karena pernah berbohong pada Rara, tolong hukum saja


aku.” Batin Arnold sambil memejamkan matanya yang terasa perih.


Lain halnya perawat


yang ada di ruang ICU, mereka merasa terhibur karena ada Arnold yang tampan.


Jadinya bolak-balik keluar ruang ICU hanya untuk ditatap Arnold. Baper kan


jadinya.


dan menunggu, bahkan Ronald sampai kembali dari toilet, belum ada kabar dari


dalam ruang ICU.


Ronald : “Nak, kau


harus makan dan minum dulu.”


Ronald menyodorkan


botol air minum pada Arnold yang diabaikan putra bungsunya itu. Ronald mengusap


kepala Arnold, ia mendekatkan botol minum yang sudah dibuka ke mulut Arnold.


Arnold menoleh pada papanya,


Ronald : “Minum,


nak. Kau harus kuat. Rara akan marah kalau dia bangun nanti dan melihatmu lebih


kurus. Dia akan mengomel, nak.”


Arnold : “Biar saja


dia ngomel. Biar dia lihat aku kurus. Rara harus menyuapi aku makan, pah.”


Ronald : “Arnold!


Tegarlah sedikit, kamu itu laki-laki. Kamu harus kuat untuk anak dan istrimu.


Kamu mau Rara berjuang sendiri?!”


Arnold terdiam


mendengar bentakan papanya. Ia memejamkan mata lagi, tapi saat Ronald menarik


botol air minum dari hadapan Arnold, Arnold mengambilnya dan menghabiskan


sebotol penuh air minum itu.


Arnold : “Arnold mau


lihat Rara dulu, pah.”


Ronald mengangguk

__ADS_1


sambil tersenyum lega. Ia menuntun Arnold bangun dan berjalan masuk ke ruang


ICU tempat Rara masih tidur.


Arnold duduk di


samping Rara, ia menatap intens wajah Rara yang tampak tenang tertidur. Selang


oksigen masih menempel di hidungnya. Sesekali tensimeter mengembang mengukur


tekanan darah Rara yang tampak normal.


Arnold : “Sayang...,


Rara... Ini aku Arnold.”


Arnold mencium


tangan Rara yang dingin. Ia menggosoknya perlahan-lahan. Ditatapnya lagi wajah


Rara, bibirnya sedikit pucat. Arnold berdiri dari duduknya dan pelan-pelan


mencium bibir Rara. Sebuah kecupan, Arnold menjauh lagi. Bibir Rara masih saja


pucat.


Kali ini Arnold


mencium lebih lama, menyesap bibir istrinya itu. Perlahan Rara mulai merespon


ciuman Arnold. Arnold tersentak, ia menjauh dan menatap wajah Rara. Tidak ada


gerakan apa-apa, kali ini Arnold mencium Rara dengan sungguh-sungguh sampai


nafasnya terasa sesak.


Arnold : “Ouch...!”


Arnold memekik saat dirasakannya bibirnya digigit Rara.


Rara : “Maas...”


Arnold tersenyum


bahagia, Raranya mulai membuka matanya. Tangan Rara spontan bergerak memegang


perutnya yang rata.


Rara : "Anak kita, mas..."


Arnold : "Ada sayang, dia di ruang bayi. Namanya Reynold."


Rara : 'Reynold..."


Arnold : "Ya, kau suka?"


Rara mengangguk sambil tersenyum lemah. Suara peringatan di monitor menunjukkan kenaikan tekanan darah Rara. Suster segera datang dan meminta Arnold untuk keluar.


Suster : "Bapak tolong keluar dulu. Ibunya perlu istirahat."


Arnold tidak mau keluar dari sana. Ia tetap memegang tangan Rara dan menundukkan kepalanya menyentuhkan pipinya ke tangan Rara. Suster hampir kesal kalau tidak melihat pria tampan di depannya ini terlihat sangat lengket dengan istrinya.


Rara : "Mas udah makan?"


Arnold : "Udah."


Rara : "Bohong. Kalo udah, kok kurus gini?"


Arnold : "Ntar mas makan. Pengen disuapin sama kamu. Cepet sembuh ya."


Rara : "Iya. Manja dech. Uda jadi papa juga, papa."


Arnold : "Iya, mama cantik. Makasih, sayang."


Rara : "Buat apa?"


Arnold : "Udah mau jadi teman hidupku dan ibu untuk anakku."


Rara : "Anak-anak kita, mas. Mas gak mau punya anak lagi?"


Arnold : "Aku takut melihatmu begini lagi. Satu saja."


Rara : "Tapi aku juga mau anak perempuan."


Arnold : "Jangan terlalu banyak berpikir. I love you, mama."


Rara : "I love you, papa."


Arnold mencium tangan Rara lagi, menempelkan tangan Rara ke pipi Arnold. Rara kembali memejamkan matanya dan tertidur lagi. Arnold tetap setia menemaninya.


Diluar ruang ICU, Ronald memperhatikan keduanya dengan senyum bahagia. Ronald segera menelpon Alex dan mengabarkan tentang Rara yang sudah sadar. Alex berteriak gembira membuat keluarganya juga bersorak lega.


🌻🌻🌻🌻🌻


Klik profil author ya, ada novel karya author yang

__ADS_1


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).


__ADS_2