
Keadaan genting
Gadis mencoba mengenali suara Manta, ia belum bisa
melihat dengan jelas siapa pria itu. Terus terang ia sangat terkejut memergoki
kelakuan calon mertuanya itu.
Tapi mendengar Mia memanggil-manggil nama Alex
padahal jelas pria itu bukan Alex, membuat Gadis curiga.
Gadis ingin mengambil ponselnya untuk menelpon Rio,
tapi ia tidak sengaja menjatuhkan pajangan di samping pintu masuk. Manta menyadari
ada seseorang di depan pintu. Ia membuka pintu dengan cepat dan menarik Gadis
masuk. Plak! Tamparan keras mengenai wajah Gadis. Manta mendorong Gadis hingga
jatuh tersungkur di lantai. Pria ******** itu hanya menatap Gadis yang tampak
merintih kesakitan.
“Aduch!”rintih Gadis sambil memegangi perutnya.
“Rio... Sakit...!”jerit Gadis lagi.
Manta hanya melirik Gadis yang masih terduduk di
lantai. Untung saja Manta tidak melihat tas yang dibawa Gadis. Ia berusaha
menekan ponselnya agar terhubung dengan siapa saja.
”Wah, ini hari keberuntunganku. Dua wanita cantik
sekaligus. Aku akan sangat lelah hari ini.”
Seringai licik Manta beralih menatap Mia yang
menggeliat diatas bed untuk massage. Handuk yang menutupi tubuhnya hampir
terbuka semua. Manta mendekati Mia, hampir mencium Mia yang sudah tidak
berdaya.
Obat yang diberikan Manta membuat tubuh Mia
bergairah sekaligus lemas. Meskipun ia ingin melawan, tapi tidak bisa.
“Jangan sentuh Mia!”teriak Gadis saat mendengar ada
yang menjawab panggilannya.
Gadis gemetar merasakan sakit di perutnya tapi ia
harus mencegah sesuatu yang buruk terjadi pada calon mertuanya. Manta menoleh
pada Gadis, ia mengacuhkan teriakan wanita itu.
“Jangan sentuh Mia! Kumohon!”teriak Gadis lagi.
Manta mendekati Gadis dan menampar pipinya sekali
lagi. Ia juga menjambak Gadis dan mengancam akan memberinya obat kalau tidak
bisa diam.
“Siapa kamu? Kenapa kau sangat kejam? Apa salah Mia?”tanya
Gadis dengan berani.
“Kau akan rasakan juga sebentar lagi, teman.”
“Kamu...”
Plak! Tamparan keras kembali dirasakan Gadis.
”Kumohon siapapun datanglah. Perutku sakit sekali.
Siapapun. Tolong.”
Gadis menangis sedih melihat perlakuan Manta pada
Mia. Ia merintih kesakitan dan terkejut melihat darah mengalir di kakinya.
Brak! Pintu ruangan itu terbuka lebar. Rio masuk bersama
petugas keamanan salon.
"Kurang ajar kau!!"teriak Rio emosi ketika melihat keadaan Mia.
Ia menendang tubuh Manta yang hampir berhasil menodai
Mia. Dengan cepat Rio menutup tubuh Mia dengan selimut dan mendekati Manta yang
__ADS_1
masih tersungkur.
Buk! Bak! Buk! Pukulan bertubi-tubi mendarat di
tubuh Manta. Terakhir Rio menendang bagian sensitif Manta hingga ia
mengeluarkan suara seperti lolongan. Petugas keamanan salon ganti menahan
Manta, sementara Rio mendekati Mia.
“Mah! Bangun, mah.”panggil Rio sambil menepuk pipi
Mia.
Tapi percuma, Mia tidak merespon. Saat Rio
mengalihkan pandangannya ke lantai, ia lebih terkejut lagi melihat keadaan
Gadis yang sudah berdarah-darah.
“Gadis! Apa yang terjadi? Tolong panggil ambulance!”jerit
Rio.
Ambulance segera membawa Gadis ke rumah sakit. Rio
menyusulnya dengan mobil sambil membawa Mia di jok belakang.
“Kumohon bertahanlah. Anakku. Gadis, jangan
tinggalkan aku.”mohon Rio sambil menahan air matanya.
Gadis dibawa masuk ke UGD bersama Mia juga. Dokter
memeriksa mereka berdua dan berteriak tentang mencari donor darah untuk Gadis.
“Tolong, pasien perlu donor darah golongan darahnya
AB Positif.”seru suster pada Rio.
“Mama saya golongan darahnya AB Positif, suster.
Itu yang masuk juga.”
“Ibu itu belum boleh donor darah, yang lain, pak.
Cepat ya.”
Rio memutar otaknya mengingat siapa lagi yang punya
kembali ke kantor,
“Rio! Kamu dimana? Meetingnya hampir dimulai.”
“Pah, siapa yang punya golongan darah AB Positif?”
“Kamu ngomong apa? AB Positif? Mamamu...”
“Mama gak bisa donor, pah. Gadis di UGD sama mama
juga!”kata Rio mulai panik.
“Apa?!!”
Alex langsung meninggalkan ruang kerjanya dan
memberitahu Romi untuk menghandle pekerjaan di kantor. Ia harus ke rumah sakit
sekarang juga.
Rio teringat pada Jodi, ia pernah membantu Mia yang
saat itu kehilangan darah.
“Halo, kak. Kak, tolong kasi Rio darah AB Positif. Gadis masuk rumah sakit,
kak.”
“Rio, tenang dulu. Shareloc rumah sakitnya. Kakak
kesana sekarang!”
Jodi ikutan panik mendengar Rio menelponnya dengan
nada panik. Ia segera meninggalkan pekerjaannya menuju rumah sakit yang
lokasinya dikirimkan Rio.
Rio menunggu dengan cemas di depan ruang UGD. Ia sudah
selesai mengurus administrasi untuk Gadis dan Mia. Saat suster kembali
memanggil Rio, Alex langsung mengejarnya masuk ke ruang UGD.
“Pah! Mama disana.”kata Rio sambil menunjuk bed
__ADS_1
tempat Mia terbaring.
“Apa yang terjadi?! Kenapa mamamu sampe gitu?!”teriak
Alex panik.
“Mama hampir diperkosa orang tadi, pah. Rio gak
tahu siapa dia. Gadis juga berdarah.”
Dokter dan suster mengusir kedua ayah dan anak itu
karena terlalu berisik di UGD. Jodi yang juga sudah datang membawa kantong
darah untuk Gadis. Suster mengambil kantong darah itu dan memberikannya pada
dokter.
Alex, Rio, dan Jodi berdiri di depan ruang UGD.
Alex kembali meminta penjelasan pada Rio yang belum bisa menguasai dirinya.
“Rio, cepat cerita apa yang terjadi?”tanya Alex
sambil mengguncang tubuh Rio.
Rio menarik nafasnya mencoba untuk tenang, ia
mengingat kejadian sebelumnya.
...Flash back...
Rio yang sudah berada di mobil, mendapat telpon
dari salah satu client mereka. Ia bicara sekitar 10 menit sebelum melihat Gadis
menelponnya juga. Saat ia menjawab telpn itu, ia mendengar suara Gadis yang
merintih kesakitan dan juga suaranya yang mengatakan ‘jangan sentuh Mia’.
Rio segera keluar dari mobilnya, masuk kembali ke
dalam salon. Petugas keamanan yang melihat ia masuk dengan terburu-buru,
mengikutinya ke meja resepsionis. Rio memaksa menanyakan ruangan tempat Mia
melakukan perawatan.
Awalnya resepsionis tidak mau memberitahukan, tapi
ketika mendengar rintihan kesakitan Gadis dan suara tamparan berikutnya,
resepsionis mengatakan dimana ruangan itu.
Rio berlari cepat kesana dan mendobrak pintu hingga
terbuka. Apa yang ia lihat berikutnya, seorang pria hampir telanjang sedang
menciumi tubuh Mia dan hampir memperkosanya. Pria itu masih memakai maskernya
hingga wajahnya tidak terlihat jelas.
...Flash back end...
Alex mengepalkan tangannya mendengar cerita Rio. Ia
segera menghubungi pemilik salon yang juga salah satu client mereka dan
mengatakan apa yang terjadi di salon itu.
Pemilik salon yang sudah mengetahui adanya kejadian
itu dan sedang berada di salon meminta maaf pada Alex. Ia mengatakan kalau pria
itu melumpuhkan petugas keamanan mereka dan sudah melarikan diri dari salon
sebelum polisi datang.
Suster keluar dari ruang UGD, ia memanggil mereka
dan menanyakan siapa yang bernama Manta diantara mereka.
“Tidak ada, suster. Kenapa?”tanya Rio.
“Pasien didalam terus memanggil nama Manta.”
“Pasien yang mana?”tanya Rio mulai gusar.
*****
Mohon maaf kk reader sekalian, kalau saya up nya di jam-jam gak tentu. Harap maklum karena saya juga sibuk dengan kehidupan pribadi apalagi masih ada bayi yang membutuhkan perhatian lebih.
Saya usahakan selalu up setiap hari untuk kk reader.
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
__ADS_1
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.