Duren Manis

Duren Manis
Keadaan genting


__ADS_3

Keadaan genting


Gadis mencoba mengenali suara Manta, ia belum bisa


melihat dengan jelas siapa pria itu. Terus terang ia sangat terkejut memergoki


kelakuan calon mertuanya itu.


Tapi mendengar Mia memanggil-manggil nama Alex


padahal jelas pria itu bukan Alex, membuat Gadis curiga.


Gadis ingin mengambil ponselnya untuk menelpon Rio,


tapi ia tidak sengaja menjatuhkan pajangan di samping pintu masuk. Manta menyadari


ada seseorang di depan pintu. Ia membuka pintu dengan cepat dan menarik Gadis


masuk. Plak! Tamparan keras mengenai wajah Gadis. Manta mendorong Gadis hingga


jatuh tersungkur di lantai. Pria ******** itu hanya menatap Gadis yang tampak


merintih kesakitan.


“Aduch!”rintih Gadis sambil memegangi perutnya.


“Rio... Sakit...!”jerit Gadis lagi.


Manta hanya melirik Gadis yang masih terduduk di


lantai. Untung saja Manta tidak melihat tas yang dibawa Gadis. Ia berusaha


menekan ponselnya agar terhubung dengan siapa saja.


”Wah, ini hari keberuntunganku. Dua wanita cantik


sekaligus. Aku akan sangat lelah hari ini.”


Seringai licik Manta beralih menatap Mia yang


menggeliat diatas bed untuk massage. Handuk yang menutupi tubuhnya hampir


terbuka semua. Manta mendekati Mia, hampir mencium Mia yang sudah tidak


berdaya.


Obat yang diberikan Manta membuat tubuh Mia


bergairah sekaligus lemas. Meskipun ia ingin melawan, tapi tidak bisa.


“Jangan sentuh Mia!”teriak Gadis saat mendengar ada


yang menjawab panggilannya.


Gadis gemetar merasakan sakit di perutnya tapi ia


harus mencegah sesuatu yang buruk terjadi pada calon mertuanya. Manta menoleh


pada Gadis, ia mengacuhkan teriakan wanita itu.


“Jangan sentuh Mia! Kumohon!”teriak Gadis lagi.


Manta mendekati Gadis dan menampar pipinya sekali


lagi. Ia juga menjambak Gadis dan mengancam akan memberinya obat kalau tidak


bisa diam.


“Siapa kamu? Kenapa kau sangat kejam? Apa salah Mia?”tanya


Gadis dengan berani.


“Kau akan rasakan juga sebentar lagi, teman.”


“Kamu...”


Plak! Tamparan keras kembali dirasakan Gadis.


”Kumohon siapapun datanglah. Perutku sakit sekali.


Siapapun. Tolong.”


Gadis menangis sedih melihat perlakuan Manta pada


Mia. Ia merintih kesakitan dan terkejut melihat darah mengalir di kakinya.


Brak! Pintu ruangan itu terbuka lebar. Rio masuk bersama


petugas keamanan salon.


"Kurang ajar kau!!"teriak Rio emosi ketika melihat keadaan Mia.


Ia menendang tubuh Manta yang hampir berhasil menodai


Mia. Dengan cepat Rio menutup tubuh Mia dengan selimut dan mendekati Manta yang

__ADS_1


masih tersungkur.


Buk! Bak! Buk! Pukulan bertubi-tubi mendarat di


tubuh Manta. Terakhir Rio menendang bagian sensitif Manta hingga ia


mengeluarkan suara seperti lolongan. Petugas keamanan salon ganti menahan


Manta, sementara Rio mendekati Mia.


“Mah! Bangun, mah.”panggil Rio sambil menepuk pipi


Mia.


Tapi percuma, Mia tidak merespon. Saat Rio


mengalihkan pandangannya ke lantai, ia lebih terkejut lagi melihat keadaan


Gadis yang sudah berdarah-darah.


“Gadis! Apa yang terjadi? Tolong panggil ambulance!”jerit


Rio.


Ambulance segera membawa Gadis ke rumah sakit. Rio


menyusulnya dengan mobil sambil membawa Mia di jok belakang.


“Kumohon bertahanlah. Anakku. Gadis, jangan


tinggalkan aku.”mohon Rio sambil menahan air matanya.


Gadis dibawa masuk ke UGD bersama Mia juga. Dokter


memeriksa mereka berdua dan berteriak tentang mencari donor darah untuk Gadis.


“Tolong, pasien perlu donor darah golongan darahnya


AB Positif.”seru suster pada Rio.


“Mama saya golongan darahnya AB Positif, suster.


Itu yang masuk juga.”


“Ibu itu belum boleh donor darah, yang lain, pak.


Cepat ya.”


Rio memutar otaknya mengingat siapa lagi yang punya


kembali ke kantor,


“Rio! Kamu dimana? Meetingnya hampir dimulai.”


“Pah, siapa yang punya golongan darah AB Positif?”


“Kamu ngomong apa? AB Positif? Mamamu...”


“Mama gak bisa donor, pah. Gadis di UGD sama mama


juga!”kata Rio mulai panik.


“Apa?!!”


Alex langsung meninggalkan ruang kerjanya dan


memberitahu Romi untuk menghandle pekerjaan di kantor. Ia harus ke rumah sakit


sekarang juga.


Rio teringat pada Jodi, ia pernah membantu Mia yang


saat itu kehilangan darah.


“Halo, kak. Kak, tolong kasi Rio darah AB Positif. Gadis masuk rumah sakit,


kak.”


“Rio, tenang dulu. Shareloc rumah sakitnya. Kakak


kesana sekarang!”


Jodi ikutan panik mendengar Rio menelponnya dengan


nada panik. Ia segera meninggalkan pekerjaannya menuju rumah sakit yang


lokasinya dikirimkan Rio.


Rio menunggu dengan cemas di depan ruang UGD. Ia sudah


selesai mengurus administrasi untuk Gadis dan Mia. Saat suster kembali


memanggil Rio, Alex langsung mengejarnya masuk ke ruang UGD.


“Pah! Mama disana.”kata Rio sambil menunjuk bed

__ADS_1


tempat Mia terbaring.


“Apa yang terjadi?! Kenapa mamamu sampe gitu?!”teriak


Alex panik.


“Mama hampir diperkosa orang tadi, pah. Rio gak


tahu siapa dia. Gadis juga berdarah.”


Dokter dan suster mengusir kedua ayah dan anak itu


karena terlalu berisik di UGD. Jodi yang juga sudah datang membawa kantong


darah untuk Gadis. Suster mengambil kantong darah itu dan memberikannya pada


dokter.


Alex, Rio, dan Jodi berdiri di depan ruang UGD.


Alex kembali meminta penjelasan pada Rio yang belum bisa menguasai dirinya.


“Rio, cepat cerita apa yang terjadi?”tanya Alex


sambil mengguncang tubuh Rio.


Rio menarik nafasnya mencoba untuk tenang, ia


mengingat kejadian sebelumnya.


...Flash back...


Rio yang sudah berada di mobil, mendapat telpon


dari salah satu client mereka. Ia bicara sekitar 10 menit sebelum melihat Gadis


menelponnya juga. Saat ia menjawab telpn itu, ia mendengar suara Gadis yang


merintih kesakitan dan juga suaranya yang mengatakan ‘jangan sentuh Mia’.


Rio segera keluar dari mobilnya, masuk kembali ke


dalam salon. Petugas keamanan yang melihat ia masuk dengan terburu-buru,


mengikutinya ke meja resepsionis. Rio memaksa menanyakan ruangan tempat Mia


melakukan perawatan.


Awalnya resepsionis tidak mau memberitahukan, tapi


ketika mendengar rintihan kesakitan Gadis dan suara tamparan berikutnya,


resepsionis mengatakan dimana ruangan itu.


Rio berlari cepat kesana dan mendobrak pintu hingga


terbuka. Apa yang ia lihat berikutnya, seorang pria hampir telanjang sedang


menciumi tubuh Mia dan hampir memperkosanya. Pria itu masih memakai maskernya


hingga wajahnya tidak terlihat jelas.


...Flash back end...


Alex mengepalkan tangannya mendengar cerita Rio. Ia


segera menghubungi pemilik salon yang juga salah satu client mereka dan


mengatakan apa yang terjadi di salon itu.


Pemilik salon yang sudah mengetahui adanya kejadian


itu dan sedang berada di salon meminta maaf pada Alex. Ia mengatakan kalau pria


itu melumpuhkan petugas keamanan mereka dan sudah melarikan diri dari salon


sebelum polisi datang.


Suster keluar dari ruang UGD, ia memanggil mereka


dan menanyakan siapa yang bernama Manta diantara mereka.


“Tidak ada, suster. Kenapa?”tanya Rio.


“Pasien didalam terus memanggil nama Manta.”


“Pasien yang mana?”tanya Rio mulai gusar.


*****


Mohon maaf kk reader sekalian, kalau saya up nya di jam-jam gak tentu. Harap maklum karena saya juga sibuk dengan kehidupan pribadi apalagi masih ada bayi yang membutuhkan perhatian lebih.


Saya usahakan selalu up setiap hari untuk kk reader.


Klik profil author ya, ada novel karya author yang

__ADS_1


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.


__ADS_2