
Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 13
Ken juga sebenarnya bingung dengan situasi seperti
itu. Tapi untuk saat ini ia tidak ingin memikirkan apapun selain menjaga
keluarganya tetap aman, termasuk Kaori juga. Kakek Martin menepuk pundak Ken
dengan keras sambil tertawa terbahak-bahak.
Mereka sampai di meja makan dan Kaori benar-benar
ada disana. Ia tampak cantik dengan dress warna putih tulang dengan banyak
bunga yang menghiasi dress itu. Rambutnya ditata dengan cantik menyesuaikan
dengan bentuk wajahnya yang oval. Ken sempat melongo sebelum kakek Martin
menyenggolnya.
“Kaori, kamu cantik banget,” puji Ken spontan.
“Makasih, Ken. Tadi maid disini yang bantu aku
bersih-bersih. Mereka baik sekali,” kata Kaori tampak gembira.
“Well, sorry to say. Kakek tidak bisa makan malam
bersama kalian berdua. Kakek harus kembali malam ini juga. Tapi kita bisa makan
siang bersama kan. Kaori, Ken. Apa kalian mau makan malam berdua saja?” tanya
kakek Martin. “Kakek bisa mengatur tempat yang romantis untuk kalian berdua,”
kata kakek Martin menggoda Ken.
Ken sibuk menggeleng, ia mulai panik karena Kaori
bisa salah paham dengan kata-kata kakek Martin. Tapi jawaban Kaori membuatnya
melongo.
“Iya, tuan besar. Nanti Kaori makan malam sama Ken
disini saja,” kata Kaori manis.
“Bagus sekali. Pelayan! Sajikan makanannya,” kata
kakek Martin sangat gembira.
Mereka bertiga makan siang sambil sesekali
mengobrol ringan. Kakek Martin masih memancing-mancing Ken untuk mengatakan
perasaannya pada Kaori. Untung saja Kaori tidak bisa melihat ekspresi wajah
Ken. Pria itu sudah putus asa dengan tingkah kakek Martin dan memilih diam
saja.
Setelah makan siang selesai, kakek Martin harus
segera berangkat ke bandara. Ken meminta Kaori menunggunya di meja makan karena
ada sesuatu yang harus Ken tanyakan lagi pada pria tua itu.
“Kakek, setelah kakek tahu kebenaran itu, apa aku
masih cucu kakek?” tanya Ken serius.
Buk! Buk! Pukulan kembali diterima Ken kali ini di
lengan dan kakinya. “Kamu ini bicara apa? Siang-siang sudah mabuk. Kakek sibuk,
kamu malah tanya aneh-aneh. Itu Kaori, kamu tinggal gini, nggak takut hilang
lagi?” tanya kakek Martin mengalihkan perhatian Ken.
Ken hampir berbalik ke meja makan, tapi ia memeluk
kakek Martin dengan cepat lalu mencium tangan pria tua itu. Ketika Ken kembali
ke meja makan, Kaori sedang bicara dengan seorang maid yang tetap berdiri di
samping gadis itu.
“Kaori, kamu serius mau makan malam disini?” tanya
Ken setelah maid itu pergi.
“Kalau boleh aku mau pulang aja. Tapi perusahaan
opa gimana? Aku takut kalau bilang mau pulang, nanti ada masalah lagi sama perusahaan
opa,” kata Kaori sedikit berbisik.
“Iya juga ya,” kata Ken mulai modus.
Ken tersenyum lebar, ia bisa menghabiskan waktu
berdua saja dengan Kaori sampai nanti malam. Tapi kesenangan Ken sedikit
terganggu karena Alan akhirnya bisa menghubungi ponselnya. Mentornya itu
meminta Ken segera kembali malam itu juga karena Endy sudah mencurigai sesuatu.
Besok pagi, Ken harus muncul di perusahaan atau Endy akan menghukumnya.
Ken menggenggam ponselnya dengan erat, ia tidak
punya banyak waktu. Dirinya menoleh menatap Kaori yang masih duduk di tempat
semula.
“Kaori, apa kamu mau berkeliling rumah ini?” tanya
Ken.
Kaori mengangguk, ia cukup bosan hanya duduk tanpa
__ADS_1
melakukan apa-apa. Ken menuntun Kaori menjauh dari meja makan. Mereka berjalan
sekitar duapuluh langkah sebelum berhenti di pintu yang mengarah ke halaman
samping. Semilir angin menyibak rambut Kaori, harum bunga mawar tercium samar.
Di halaman samping itu banyak terdapat tanaman bunga yang memiliki wangi khas.
Ken membawa Kaori menuju gazebo di ujung taman bunga.
“Ken, apa disini ada bunga mawar? Harum sekali,”
kata Kaori sambil menghirup udara dalam-dalam.
“Ya. Ini taman kesukaan nenek Martha. Disampingmu
ada bunga mawar, di sebelah kiri. Pegang aja,” kata Ken.
“Ada durinya nggak? Aku pernah kena duri bunga
mawar soalnya dan perih banget rasanya.” Kaori ingin menyentuh bunga itu tapi
takut kena durinya.
Ken memberitahu Kaori kalau nenek Martha itu sama
seperti Kaori. Makanya nenek Martha punya buku braille dan sangat suka
mengunjungi taman ini. Semua tanaman yang tumbuh di taman itu tidak memiliki
duri sama sekali. Kaori jadi bingung dengan kata-kata Ken. Bagaimana bisa ada
tumbuhan mawar yang tidak memiliki duri.
Pelan-pelan Kaori meraba-raba ke sampingnya, ia
menemukan pot bunga mawar sepertinya menempel di dinding. Kaori menyusuri tanaman
mawar yang polos tanpa duri. Gadis itu terkagum-kagum dengan bunga mawar itu.
Selain wanginya sangat harum, batangnya tidak berisi duri yang bisa menyakitkan
Kaori.
“Kaori,” panggil Ken.
“Iya, Ken? Kenapa?” tanya Kaori.
“Mmm, aku mau nanya sesuatu, tapi kamu jangan marah
ya,” kata Ken. Kaori mengangguk, ia menunggu pertanyaan yang akan ditanyakan
Ken sambil menyentuh permukaan bunga mawar. “Aku boleh cium kamu nggak?”
Ken memejamkan matanya, tidak berani melihat reaksi
Kaori. Tapi karena Ken tidak mendengar suara Kaori, ia jadi penasaran lalu
membuka matanya.
“Kaori, kamu marah ya?” tanya Ken melihat Kaori
hanya mematung tanpa reaksi.
mau cium aku, harus ijin sama opa dulu,” sahut Kaori polos.
“Cium pipi juga harus ijin dulu? Cium tangan?”
tanya Ken masih ngarep.
“Cium tangan kan udah pernah. Kan aku udah bilang
nggak usah begitu meskipun aku duluan lahir dari kamu, Ken. Ya, kayak cium pipi
gitu. Harus ijin,” kata Kaori sambil memainkan kakinya yang sedikit menggantung.
Ken garuk-garuk kepala, maksudnya mencium punggung
tangan Kaori waktu itu kan untuk menunjukkan perasaannya, tapi sepertinya Kaori
masih belum mengerti kalau Ken tidak to the point.
“Kenapa ijin sama opa? Papamu gimana? Mereka kan
nggak ada disini, nggak tahu juga, kan kalau aku cium kamu sekarang,” kata Ken
memancing Kaori.
“Aku kan nggak bisa bohong, Ken. Nanti kalau opa nanya
ngapain aja disini, trus aku jawab, ciuman sama Ken, kan malu,” sahut Kaori.
“Iya juga ya,” sahut Ken geregetan sendiri. “Kamu
ngegemesin ya. Beneran pengen aku cium,” kata Ken mulai berani.
“Jangan dong. Kamu kan temen aku, nggak boleh cium-cium.
Kata opa harus sah dulu, baru boleh,” kata Kaori lagi.
“Kalau aku bisa sah-in kamu, boleh ya,” kata Ken
lagi.
“Iya. Udah, ach. Ngomongin yang lain gitu. Bahas
cium-cium, gini dah kalau berduaan. Berbahaya,” sahut Kaori.
Ken cengengesan mendengar nada bicara Kaori yang
malu-malu. Pria itu merona juga dengan permintaannya pada Kaori. Untung saja
Kaori tidak marah, Ken jadi semakin ingin bersama Kaori. Ken menggenggam tangan
Kaori, ia menatap wajah cantik yang menghadap kepadanya.
“Kaori, setelah hari ini, aku harus kembali ke
negara A. Kalau aku minta kamu nunggu aku, mau nggak?” tanya Ken.
__ADS_1
“Nunggu kamu ngapain?” tanya Kaori.
“Nunggu aku datang nglamar kamu. Mau nggak nunggu
aku?” tanya Ken.
Kaori terdiam sejenak, ia lalu meminta Ken untuk
bicara dengan Alex saja. Gadis itu sangat sadar dengan kekurangannya dan hal
penting seperti ini sebaiknya dibicarakan dengan orang tua Kaori. Ken
mengatakan kalau ia akan melakukan itu, tapi Ken ingin tahu apa jawaban Kaori.
“Ken, kamu serius? Tapi aku buta. Aku rasa masih
banyak gadis lain yang lebih baik untuk kamu. Lagian bukannya kamu sukanya sama
aunty Renata, ya,” sahut Kaori.
Ken mengatakan kalau ia juga suka dengan Renata,
tapi hanya sebatas teman yang baik. Tapi untuk Kaori, Ken ingin lebih dari
sekedar teman. Kaori tertawa mendengar kata-kata Ken yang terdengar seperti
gombalan untuknya. Ia mengusap-usap punggung tangan Ken dengan lembut dan
meminta Ken untuk memikirkannya dengan baik.
Sejujurnya Kaori juga menginginkan hidup seperti
cerita dongeng dimana seorang putri akan bertemu dengan pangerannya. Tapi kan
tidak ada putri yang buta, ia belum pernah mendengar cerita putri buta bertemu
pangeran tampan. Kaori mencoba untuk membatasi dirinya tidak memikirkan debaran
apa yang mulai ia rasakan saat Ken berada di dekatnya.
Kaori belum pernah merasakan jatuh cinta, tapi ia
mengenali satu persatu ciri-ciri orang yang sedang jatuh cinta. Ingin selalu
dekat dengannya, sangat senang saat bertemu, ketika jauh sibuk mikirin dia,
jantung berdebar parah. Semua ciri-ciri itu ia rasakan saat bersama Ken.
Cup! Kaori merasakan kecupan di punggung tangannya,
ia tersentak sebentar tapi segera menyadari kalau Kaori sedang duduk bersama
Ken. Pria itu mencium punggung tangan Kaori lagi tanpa ijin.
“Ken!!” jerit Kaori sambil mencubit lengan Ken.
“Apa sich?! Aku kan nggak cium sembarangan. Cuma
cium tangan. Kalau gini baru cium sembarangan,” kata Ken sambil mengecup pipi
Kaori.
“Hhh... Ken!! Iih, kamu..!!” Kaori merajuk sambil
memukul-mukul lengan Ken.
Ken tertawa gemas melihat Kaori merajuk padanya.
Gadis itu hampir jatuh dari duduknya karena terlalu kesal pada Ken. Untung saja
Ken sigap menahan tubuh Kaori, pria itu langsung memeluk Kaori agar aman dalam
pelukannya. Nafas berat Kaori berhembus mengenai leher Ken. Keduanya tetap
berpelukan sampai nafas mereka kembali normal. Saat Kaori mencoba melepaskan
pelukannya, Ken tetap memeluk gadis itu.
“Ken, kamu mau sampai kapan peluk aku?” tanya
Kaori.
“Mungkin aku nggak bisa peluk kamu lagi dalam waktu
dekat. Entah aku bisa balik kesini lagi atau tidak. Nanti malam aku harus balik
ke negara A lagi. Kaori, kalau aku bisa, aku mau bawa kamu kesana. Tapi aku
belum bisa sekarang,” lirih Ken mulai sedih.
“Kita kan masih bisa c-call, tapi kamu sibuk ya.
Nanti aku minta tolong aunty Renata kalau kamu kirim chat. Lagian aku nggak
kemana-mana, kok. Di rumah opa Alex aja. Ken, kamu wangi ya,” kata Kaori
mencium wangi parfum Ken.
“Nanti aku kasi baju aku ya. Kalau kamu kangen,
bisa peluk bajuku,” kata Ken jahil.
“Idih, nanti dipikirnya aku ada apa-apa sama kamu. Kalau
opa sampai lihat, gimana? Aku kan biasa tidur sama boneka Teddy bear. Trus baju
kamu, aku pakein ke bonekaku, gitu?” kata Kaori gemes.
Ken tertawa dan mengatakan kalau itu ide yang
bagus. Mereka mulai nyaman dalam pelukan satu sama lain dan sepertinya tidak
jadi saling melepaskan sampai ponsel Ken berdering nyaring. Om Alex calling.
“Duh, gawat! Kaori, ini opamu telpon. Tolong jangan
bilang aku cium pipimu tadi ya. Haduh, bisa nggak dikasi ketemu kamu lagi nich,”
pinta Ken.
__ADS_1
Kaori tersenyum polos, ia tidak mungkin berbohong pada
Alex. Ken merasa dirinya akan mati hari ini.