
DM2 – Keinginan X
Deg! Melda dan X menoleh menatap Rio yang
sudah berdiri di depan mereka lagi. Padahal jelas-jelas Rio sudah masuk ke
dalam lift tadi. Wajah Melda memucat, alasan apa yang harus ia katakan
sekarang.
“Ada rahasia apa, kak X?”kejar Rio.
“Nggak ada apa-apa, Rio. Cuma asal ngomong
aja dia. Kenapa kamu balik lagi?”tanya Melda cepat mengalihkan perhatian Rio.
“Aku lupa ngambil chargerku, Mel. Tapi
beneran nich. Rahasia apa?”
“Oh, itu...”X tidak bisa melanjutkan
kata-katanya karena Melda sudah menangkup pipinya dan ganti mencium bibirnya.
“Hais, kalian sama aja. Aku jadi pengen
cepet pulang.”kata Rio sambil mengambil chargernya.
“Awas kamu berani ngomong.”bisik Melda
mengancam X.
“Lagi dong, yank. Aku suka kalo kamu inisiatif
gini.”bisik X juga.
Melda tersenyum manis pada Rio sambil
dadah-dadah. Membuat Rio jadi makin curiga padanya, tapi percuma juga Rio
mencari tahu sekarang. Ia ingin pulang saja dulu karena Gadis menitip membeli
rujak padanya.
Sepeninggal Rio, Melda mencebik pada X dan kembali
mengerjakan pekerjaannya. X menarik kursi ke depan meja Melda dan duduk disana.
Ia terus menatap Melda dengan intens sampai Melda kepanasan sendiri.
“Kamu gak ada kerjaan ya?!”ketus Melda.
“Ada. Aku kan lagi kerja.”
“Bosmu di dalem sana. Ngapain kamu
disini?”tanya Melda menunjuk ruang meeting.
“Ntar juga keluar. Aku masih sibuk ngliatin
penjaga pintunya.”saut X.
Melda menoleh ke pintu ruang meeting tapi
sadar sendiri kalau dia yang diomongin X. Kesal melihat X terus menatapnya, Melda
beranjak ke meja Rio. X juga ikut pindah ke samping Melda. Posisi mereka cukup
tertutup dari sana. X jadi punya kesempatan meraba-raba Melda.
“Hentikan itu. Jangan meraba
punggungku!”bentak Melda. “X, berhenti.”
“Melda, kencan kita batal hari ini. Sebagai
gantinya, aku boleh nginep di kost-mu ya?”
“Nggak! Kamu gila. Ibu kost-ku bisa
marah.”tolak Melda.
“Kalau gitu kamu nginep di
apartmentku.”paksa X. “Gak boleh nolak.”
“Kamu mau ngapain? Kita belum nikah, gak
boleh tidur di satu kamar.”kata Melda mencoba menolak.
“Apa kau masih terjebak pikiran konservatif
seperti itu? Jaman sekarang sudah lazim dua orang yang berpacaran untuk tidur
bersama.”kata X.
“Tapi aku bukan termasuk dalam kategori
__ADS_1
yang barusan kau bilang. Aku hanya ingin melakukannya dengan suamiku saja.”
“Kalau gitu kita nikah.”sambar X cepat.
Melda melotot mendengar lamaran X. Tanpa
bunga, tanpa musik yang indah, tanpa tempat yang romantis, bahkan gak ada
cincin. Melda langsung bad mood gara-gara itu. Wanita itu kembali fokus pada
laptopnya. Ia mengetik semua surat balasan dengan cepat. Sampai membuat X
terkagum-kagum.
“Kenapa kamu gak jawab lamaranku?”
“Aku gak mau.”jawab Melda tegas.
“Kenapa? Aku mapan, pekerjaan bagus, memang
sedikit berbahaya. Tapi asuransi jiwaku tinggi.”
“Kalau gitu kita nikah, dan aku akan
membunuhmu untuk asuransi itu. Bagaimana?”tanya Melda sinis.
“Sebenarnya bagian mana yang buat kamu gak
puas? Lamaranku yang mendadak atau... ah, aku tau.”kata X sambil melihat
sekeliling.
Melda tidak mengubris X lagi. Ia membawa
laptopnya kembali ke mejanya dan sibuk mencari dokumen yang tadi diminta Alex.
Setengah delapan malam, Alex, Romi, Arnold,
dan Ilham keluar dari ruang meeting. X langsung berdiri ketika melihat Ilham
keluar.
“X? Ngapain kamu disini?”tanya Ilham.
“Menjemput tuan muda.”saut X.
Ilham langsung mengambil ponselnya menelpon
Bianca. Ia bertanya apa Bianca baik-baik saja karena X menjemputnya dan Bianca
menjawab baik. Ia sedang makan malam dengan putri mereka. Bianca mengatakan
mengatakan kalau dia akan segera pulang setelah mengantar Arnold.
“Aku pulang sendiri aja. Kamu bisa pulang
sama X.”saut Arnold.
“Dokter melarangmu mengemudi sendiri, bos.
Aku bisa mengantarmu dulu, baru pulang. X, kamu bisa pulang sekarang.”kata
Ilham.
X tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia
langsung berjalan ke lift disusul Arnold dan Ilham. Alex berpaling pada Melda,
“Mel, ayo pulang. Kamu mau nebeng aku?”tanya Alex yang mengetahui tempat kost
Melda dekat dengan rumahnya. Terkadang Alex meminta Melda ke rumahnya di pagi
hari untuk berangkat bersama ke kantor. Mia juga sudah menerima kalau Melda
memang hanya ingin bekerja sebagai sekretaris Alex dan bukan pelakor.
Melda menimbang sesuatu, urusannya dengan X
belum selesai tadi. Siapa yang tau kalau X masih ada dibawah sedang
menunggunya. Akhirnya Melda beralasan dia akan pergi belanja dulu sebelum
pulang dan memilih menumpang taksi saja.
Mereka turun bersama sampai di lobby. Alex
langsung masuk ke mobilnya begitu juga Romi. Sedangkan Melda berjalan ke luar
halaman kantor Alex. Benar saja, baru sampai di pinggir trotoar, mobil X sudah
mendekati Melda.
“Masuk.”pinta X sambil membuka pintu
mobilnya dari kursi sopir.
Melda masuk ke mobil X dan mobil itu segera
__ADS_1
meluncur menuju apartment X.
“Kamu seriusan mau aku nginep di
apartment-mu? Aku gak bawa baju ganti.”
“Jadi kamu setuju untuk nginep? Kamu gak
akan perlu baju juga nanti.”kata X sambil tersenyum mesum.
“Maksudku buat ganti besok. Awas kamu
macem-macem ya. Aku tendang burungmu.”ancam Melda.
X tidak mengatakan apa-apa lagi. Mereka
akhirnya sampai di apartment X. Melda ragu-ragu untuk masuk ketika X sudah
membuka pintu apartment-nya. X sampai harus menarik tangannya untuk masuk.
“Duduk dulu. Aku pesankan makanan.”ujar X.
“X, dimana kamar mandinya?”tanya Melda.
“Ada dikamar itu. Mandilah sekalian. Di
lemari ada bajuku, bisa kamu pakai.”
Melda masuk ke kamar X, ia melihat
sekeliling kamar itu yang khas dengan kamar pria pada umumnya. Melda membuka
lemari pakaian dulu. Ia memilih kaos longgar yang cukup panjang menutupi
sebagian pahanya. Melda juga mengambil hanger untuk menggantung blus dan
roknya.
Melda masuk ke kamar mandi, ia mandi dengan
cepat lalu keluar dari kamar itu setelah berganti pakaian dengan kaos milik X.
“X?”panggil Melda.
Suasana apartment itu sepi, tidak ada
siapapun selain dirinya disana. Melda mendekati meja sofa, ia melihat mug
berisi minuman coklat yang masih mengepul. Melda mengambil mug itu, ia meniup
sedikit permukaan minuman itu sebelum menyesapnya.
“Hmm...Kamu masih ingat minuman kesukaanku.”gumam
Melda.
Di sofa sudah tersedia selimut tebal.
Remote TV juga ada disana. Melda beranjak duduk di sofa, ia menyalakan TV di
depannya. Sebuah film komedi romatis langsung diputar dilayar. Sesekali Melda
tertawa melihat tingkah lucu pemain film itu.
Film itu hampir habis ketika pintu
apartment X terbuka. X masuk ke apartmentnya. “Kamu darimana?”tanya Melda.
“Aku beli ini buat kamu.”saut X sambil
merebahkan tubuhnya di sofa. Melda mengambil paper bag yang disodorkan X.
Matanya melotot melihat lingerie merah yang
ada ditumpukan paling atas. “Ich, cabul! Kamu ngapain beli kayak ginian?!”kata
Melda mulai kesal.
“Sapa tau kamu mau pake malam ini kan. Kalo
gak, nanti aja pake kalau kita dah nikah. Pake malam pertama.”saut X menggoda
Melda.
Wajah Melda merona mendengar kata malam
pertama. Ia mengeluarkan pakaian kerja dan pakaian dalam juga. Melda beranjak
dari duduknya, X melirik apa yang dipakai Melda untuk menutupi tubuhnya.
“Kamu mau kemana?”tanya X.
“Ganti baju.”saut Melda.
*****
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
__ADS_1
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.