Duren Manis

Duren Manis
DM2 – Keinginan X


__ADS_3

DM2 – Keinginan X


Deg! Melda dan X menoleh menatap Rio yang


sudah berdiri di depan mereka lagi. Padahal jelas-jelas Rio sudah masuk ke


dalam lift tadi. Wajah Melda memucat, alasan apa yang harus ia katakan


sekarang.


“Ada rahasia apa, kak X?”kejar Rio.


“Nggak ada apa-apa, Rio. Cuma asal ngomong


aja dia. Kenapa kamu balik lagi?”tanya Melda cepat mengalihkan perhatian Rio.


“Aku lupa ngambil chargerku, Mel. Tapi


beneran nich. Rahasia apa?”


“Oh, itu...”X tidak bisa melanjutkan


kata-katanya karena Melda sudah menangkup pipinya dan ganti mencium bibirnya.


“Hais, kalian sama aja. Aku jadi pengen


cepet pulang.”kata Rio sambil mengambil chargernya.


“Awas kamu berani ngomong.”bisik Melda


mengancam X.


“Lagi dong, yank. Aku suka kalo kamu inisiatif


gini.”bisik X juga.


Melda tersenyum manis pada Rio sambil


dadah-dadah. Membuat Rio jadi makin curiga padanya, tapi percuma juga Rio


mencari tahu sekarang. Ia ingin pulang saja dulu karena Gadis menitip membeli


rujak padanya.


Sepeninggal Rio, Melda mencebik pada X dan kembali


mengerjakan pekerjaannya. X menarik kursi ke depan meja Melda dan duduk disana.


Ia terus menatap Melda dengan intens sampai Melda kepanasan sendiri.


“Kamu gak ada kerjaan ya?!”ketus Melda.


“Ada. Aku kan lagi kerja.”


“Bosmu di dalem sana. Ngapain kamu


disini?”tanya Melda menunjuk ruang meeting.


“Ntar juga keluar. Aku masih sibuk ngliatin


penjaga pintunya.”saut X.


Melda menoleh ke pintu ruang meeting tapi


sadar sendiri kalau dia yang diomongin X. Kesal melihat X terus menatapnya, Melda


beranjak ke meja Rio. X juga ikut pindah ke samping Melda. Posisi mereka cukup


tertutup dari sana. X jadi punya kesempatan meraba-raba Melda.


“Hentikan itu. Jangan meraba


punggungku!”bentak Melda. “X, berhenti.”


“Melda, kencan kita batal hari ini. Sebagai


gantinya, aku boleh nginep di kost-mu ya?”


“Nggak! Kamu gila. Ibu kost-ku bisa


marah.”tolak Melda.


“Kalau gitu kamu nginep di


apartmentku.”paksa X. “Gak boleh nolak.”


“Kamu mau ngapain? Kita belum nikah, gak


boleh tidur di satu kamar.”kata Melda mencoba menolak.


“Apa kau masih terjebak pikiran konservatif


seperti itu? Jaman sekarang sudah lazim dua orang yang berpacaran untuk tidur


bersama.”kata X.


“Tapi aku bukan termasuk dalam kategori

__ADS_1


yang barusan kau bilang. Aku hanya ingin melakukannya dengan suamiku saja.”


“Kalau gitu kita nikah.”sambar X cepat.


Melda melotot mendengar lamaran X. Tanpa


bunga, tanpa musik yang indah, tanpa tempat yang romantis, bahkan gak ada


cincin. Melda langsung bad mood gara-gara itu. Wanita itu kembali fokus pada


laptopnya. Ia mengetik semua surat balasan dengan cepat. Sampai membuat X


terkagum-kagum.


“Kenapa kamu gak jawab lamaranku?”


“Aku gak mau.”jawab Melda tegas.


“Kenapa? Aku mapan, pekerjaan bagus, memang


sedikit berbahaya. Tapi asuransi jiwaku tinggi.”


“Kalau gitu kita nikah, dan aku akan


membunuhmu untuk asuransi itu. Bagaimana?”tanya Melda sinis.


“Sebenarnya bagian mana yang buat kamu gak


puas? Lamaranku yang mendadak atau... ah, aku tau.”kata X sambil melihat


sekeliling.


Melda tidak mengubris X lagi. Ia membawa


laptopnya kembali ke mejanya dan sibuk mencari dokumen yang tadi diminta Alex.


Setengah delapan malam, Alex, Romi, Arnold,


dan Ilham keluar dari ruang meeting. X langsung berdiri ketika melihat Ilham


keluar.


“X? Ngapain kamu disini?”tanya Ilham.


“Menjemput tuan muda.”saut X.


Ilham langsung mengambil ponselnya menelpon


Bianca. Ia bertanya apa Bianca baik-baik saja karena X menjemputnya dan Bianca


menjawab baik. Ia sedang makan malam dengan putri mereka. Bianca mengatakan


mengatakan kalau dia akan segera pulang setelah mengantar Arnold.


“Aku pulang sendiri aja. Kamu bisa pulang


sama X.”saut Arnold.


“Dokter melarangmu mengemudi sendiri, bos.


Aku bisa mengantarmu dulu, baru pulang. X, kamu bisa pulang sekarang.”kata


Ilham.


X tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia


langsung berjalan ke lift disusul Arnold dan Ilham. Alex berpaling pada Melda,


“Mel, ayo pulang. Kamu mau nebeng aku?”tanya Alex yang mengetahui tempat kost


Melda dekat dengan rumahnya. Terkadang Alex meminta Melda ke rumahnya di pagi


hari untuk berangkat bersama ke kantor. Mia juga sudah menerima kalau Melda


memang hanya ingin bekerja sebagai sekretaris Alex dan bukan pelakor.


Melda menimbang sesuatu, urusannya dengan X


belum selesai tadi. Siapa yang tau kalau X masih ada dibawah sedang


menunggunya. Akhirnya Melda beralasan dia akan pergi belanja dulu sebelum


pulang dan memilih menumpang taksi saja.


Mereka turun bersama sampai di lobby. Alex


langsung masuk ke mobilnya begitu juga Romi. Sedangkan Melda berjalan ke luar


halaman kantor Alex. Benar saja, baru sampai di pinggir trotoar, mobil X sudah


mendekati Melda.


“Masuk.”pinta X sambil membuka pintu


mobilnya dari kursi sopir.


Melda masuk ke mobil X dan mobil itu segera

__ADS_1


meluncur menuju apartment X.


“Kamu seriusan mau aku nginep di


apartment-mu? Aku gak bawa baju ganti.”


“Jadi kamu setuju untuk nginep? Kamu gak


akan perlu baju juga nanti.”kata X sambil tersenyum mesum.


“Maksudku buat ganti besok. Awas kamu


macem-macem ya. Aku tendang burungmu.”ancam Melda.


X tidak mengatakan apa-apa lagi. Mereka


akhirnya sampai di apartment X. Melda ragu-ragu untuk masuk ketika X sudah


membuka pintu apartment-nya. X sampai harus menarik tangannya untuk masuk.


“Duduk dulu. Aku pesankan makanan.”ujar X.


“X, dimana kamar mandinya?”tanya Melda.


“Ada dikamar itu. Mandilah sekalian. Di


lemari ada bajuku, bisa kamu pakai.”


Melda masuk ke kamar X, ia melihat


sekeliling kamar itu yang khas dengan kamar pria pada umumnya. Melda membuka


lemari pakaian dulu. Ia memilih kaos longgar yang cukup panjang menutupi


sebagian pahanya. Melda juga mengambil hanger untuk menggantung blus dan


roknya.


Melda masuk ke kamar mandi, ia mandi dengan


cepat lalu keluar dari kamar itu setelah berganti pakaian dengan kaos milik X.


“X?”panggil Melda.


Suasana apartment itu sepi, tidak ada


siapapun selain dirinya disana. Melda mendekati meja sofa, ia melihat mug


berisi minuman coklat yang masih mengepul. Melda mengambil mug itu, ia meniup


sedikit permukaan minuman itu sebelum menyesapnya.


“Hmm...Kamu masih ingat minuman kesukaanku.”gumam


Melda.


Di sofa sudah tersedia selimut tebal.


Remote TV juga ada disana. Melda beranjak duduk di sofa, ia menyalakan TV di


depannya. Sebuah film komedi romatis langsung diputar dilayar. Sesekali Melda


tertawa melihat tingkah lucu pemain film itu.


Film itu hampir habis ketika pintu


apartment X terbuka. X masuk ke apartmentnya. “Kamu darimana?”tanya Melda.


“Aku beli ini buat kamu.”saut X sambil


merebahkan tubuhnya di sofa. Melda mengambil paper bag yang disodorkan X.


Matanya melotot melihat lingerie merah yang


ada ditumpukan paling atas. “Ich, cabul! Kamu ngapain beli kayak ginian?!”kata


Melda mulai kesal.


“Sapa tau kamu mau pake malam ini kan. Kalo


gak, nanti aja pake kalau kita dah nikah. Pake malam pertama.”saut X menggoda


Melda.


Wajah Melda merona mendengar kata malam


pertama. Ia mengeluarkan pakaian kerja dan pakaian dalam juga. Melda beranjak


dari duduknya, X melirik apa yang dipakai Melda untuk menutupi tubuhnya.


“Kamu mau kemana?”tanya X.


“Ganti baju.”saut Melda.


*****


Klik profil author ya, ada novel karya author yang

__ADS_1


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.


__ADS_2