Duren Manis

Duren Manis
Aku mau


__ADS_3

Jodi menjatuhkan


tubuhnya disamping Katty, ia mengatur nafasnya yang ngos-ngosan setelah


menuntaskan hasratnya pada Katty. Kucing liarnya ini kembali menempel padanya,


tersenyum malu sambil menyembunyikan wajah cantiknya di balik lengan Jodi.


Jodi : “Selain


kemejaku, apalagi yang sempat kau hancurkan?”


Katty : “Nggak


ada.”


Jodi : “Kau yakin?


Besok kita akan pulang dan memeriksanya.”


Katty : “Rumahnya


gak hancur, cuma sedikit berantakan.”


Jodi : “Ngaku juga.


Kamu kalo lagi marah, serem ya.”


Katty : “Aku kan


cuma menuruti kata hatiku aja. Lagian kau sangat menyebalkan. Aku kan jadi


kesal.” Gumam Katty manja.


Jodi : “Oh ya?


Berapa kali kau memakiku?”


Katty : “Dari mana


kau tahu...? Aku gak memakimu.” Katty berhenti bicara saat merasa dirinya sudah


tertangkap basah memaki Jodi.


Jodi : “Ayolah,


jangan bohong. Terlihat jelas kau mengataiku pria brengsek.”


Katty : “Kau memang


brengsek.”


Jodi : “Kau mau mati


ya.”


Katty : “Mati dalam


pelukanmu, itu sepadan, tuan muda.” Katty melingkarkan tangannya ke leher Jodi,


mengecup kening pria yang dicintainya itu.


Jodi : “Berhenti


memanggilku tuan muda atau...”


Katty : “Atau apa?”


Katty menarik


selimut menutupi kepala mereka dan begitulah mereka menghabiskan malam di


penthouse yang indah itu.


*****


Keesokan harinya,


Katty terbangun lebih awal. Ia mengerjapkan matanya dan melihat sekeliling


kamar. Ia tersenyum dengan cantik, semalam apapun yang terjadi ternyata bukan


mimpi. Katty melihat ke samping dan tidak menemukan Jodi tertidur di sisinya.


Katty : “Jodi...?”


Hening, tidak ada


jawaban dari manapun.


Katty : “Kemana


dia? Apa dia mandi?”


Katty celingukan


mencari pakaiannya yang dilemparkan Jodi ke bawah ranjang semalam. Ia tidak


bisa menemukannya dan matanya tertuju pada lingerie merah yang masih tergeletak


di kaki ranjang. Katty meraih lingerie itu dan memakainya. Lingerie itu


membungkus tubuh Katty dengan sangat pas dan terasa sangat nyaman untuknya.


Katty : “Jodi...? Kamu


dimana?”


Katty membuka pintu


kamar mandi, kosong. Ia ingin keluar dari kamar, tapi langkahnya terhenti saat


mendengar suara ribut-ribut di luar kamar. Katty menempelkan telinganya ke daun


pintu, sepertinya banyak orang diluar sana sedang memindahkan sesuatu.


Katty memilih


menunggu, ia tidak mungkin keluar dari sana dengan lingerie yang mini ini.


Dengan cepat Katty meraih ponselnya diatas nakas. Tersisa 5% baterai di


ponselnya. Ia mengambil tasnya dan mengeluarkan charger. Setelah mengisi


baterai ponselnya, Katty memutuskan untuk mandi dulu.


Di dalam kamar


mandi, Katty mematutkan tubuhnya di depan cermin, ia menghitung bekas ciuman yang


dibuat Jodi semalam. Dari leher sampai punggung penuh dengan bekas ciuman.


Katty : “Kenapa


banyak sekali bekasnya? Gimana aku ke kantor pak Anton besok?”


Ia mandi dengan


cepat dan keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk dengan rambut basah.


Katty : “Dimana


sich bajuku?”


Katty melihat


sekeliling dengan teliti dan tetap tidak menemukan pakaiannya dimana pun.


Bahkan lemari juga dalam keadaan kosong. Dengan sangat terpaksa, Katty kembali


memakai lingerie merah itu.


Saat Katty ingin


mengeringkan rambutnya dengan handuk, ponselnya berdering, Jodi menelponnya.


Katty : “Halo?”

__ADS_1


Jodi : “Kamu sudah


bangun? Bisa keluar dari kamar sebentar?”


Katty : “Aku...


bajuku terlalu terbuka, Jodi. Gak ada baju lain ya?”


Jodi : “Cuma ada


aku disini. Cepat keluar.”


Katty : “Iya,


sebentar.”


Katty meletakkan


handuk kecil yang dibawanya dan membuka pintu kamar sedikit. Ia melongokkan


kepalanya melihat ke kiri dan ke kanan, tidak ada orang. Jodi tampak berdiri menatap


jendela besar di penthouse itu. Katty berjalan mendekati Jodi,


Katty : “Jodi...”


Katty menghentikan


langkahnya saat Jodi berbalik dengan membawa buket bunga mawar merah di


tangannya. Jodi memberikan bunga itu pada Katty,


Katty : “Buat aku?”


Jodi : “Iya.”


Katty tersenyum


dengan cantik, air menetes dari rambutnya yang masih basah mengenai bunga mawar


yang sedang diciumnya.


Jodi : “Aku iri


sama bunganya.”


Katty : “Kenapa?”


Jodi : “Karena


bunga itu yang mendapat ciuman pertamamu di pagi ini.”


Katty : “Apa kau


cemburu, tuan muda?”


Jodi : “Cemburu


pada bunga? Yang benar saja.”


Katty tertawa


melihat wajah Jodi yang cemberut. Ia ingin memeluk pria yang sangat dicintainya


itu tapi Jodi melangkah mundur. Katty menatap bingung melihat Jodi mengeluarkan


sesuatu dari sakunya. Lebih kaget lagi saat melihat Jodi berlutut dengan satu


kakinya di hadapan Katty.


Jodi : “Sayang,


seharusnya ini kulakukan tadi malam setelah kita dinner, tapi melihat


situasinya tidak memungkinkan dengan kemarahanmu...”


Katty : “Aku gak


marah... sedikit marah...”


Jodi : “Diem dulu


Katty : “Iya,


maaf...”


Jodi : “Katty,


maukah kau menikah denganku?”


Mata Katty berbinar


melihat sebuah cincin emas polos di dalam kotak beludru hitam di hadapannya.


Katty : “Aku mau!”


seru Katty sambil mengambil kotak itu.


Jodi tersenyum,


seperti dugaannya, sama sekali tidak tampak wajah kecewa dari wajah Katty


melihat cincin emas polos yang sangat sederhana yang menjadi cincin lamaran


Jodi.


Jodi berdiri lagi,


ia mengambil cincin dalam kotak itu dan menyematkannya ke tangan Katty yang


masih tersenyum manis. Jodi mencium tangan, pipi, dan bibir Katty dengan


lembut.


Jodi : “Akhirnya kamu


mau nikah sama aku. Aku bahagia sekali.”


Katty : “Aku


juga,... sayang...”


Jodi : “Gitu dong


manggilnya yang mesra. Hari ini kita tetap disini ya.”


Katty : “Ngapain?”


Jodi : “Bikin anak.”


Katty : “Apa?!


Seharian? Gak mau! Badanku bisa rontok... sakit!”


Jodi : “Hahahaha!


Aku cuma bercanda, kita bisa membahas konsep pernikahan yang kamu mau.”


Katty : “Fiuh...


Kalau itu aku setuju. Jodi... bisa gak minta Guntur kesini?”


Jodi : “Ngapain? Aku


gak mau dia liat kamu gini.”


Katty : “Mulai dech


posesifnya. Suruh Guntur bawain baju buat kita. Disini sama sekali gak ada yang


bisa kupakai. Bajuku juga kemana?”


Jodi : “Bajumu...


gak tau! Nanti aja dech. Kita makan dulu sekarang.”


Jodi melirik tong

__ADS_1


sampah di dekat meja bar, ia memasukkan pakaian Katty kesana dan berharap Katty


akan memakai lingerie seharian atau bahkan tidak memakai apapun selama mereka


di penthouse itu. Seringai licik muncul di wajah Jodi saat membayangkan hal itu


terjadi.


*****


Usai sarapan pagi,


Jodi mengajak Katty duduk diatas ranjang penthouse. Jodi mulai membuka-buka


konsep pernikahan yang sudah dikirimkan WO ke e-mailnya.


Jodi : “Kamu mau


pernikahan yang seperti apa?”


Katty : “Mungkin


yang simple, gak banyak dekorasi dan gaun pengantin berwarna putih.”


Jodi : “Coba kita


lihat ada gak yang seperti itu.”


Jodi terus


meng-scroll gambar-gambar dekorasi pesta pernikahan dan Katty menghentikannya


saat melihat dekorasi yang sangat simple tapi terlihat glamor.


Katty : “Aku suka


yang ini. Pelaminannya juga dihias dengan warna yang sama. Orang tuamu duduk


disebelah kanan dan orang tuaku...”


Katty menghentikan kata-katanya,


ia teringat bahkan orang tuanya belum tahu tentang hubungannya dengan Jodi.


Jodi : “Kenapa


diam? Orang tuamu duduk... Ach, aku tahu. Kamu belum memberitahu orang tuamu


tentang kita kan?”


Katty : “Aku baru


ingat kalau sudah lama sekali aku tidak mendengar kabar mereka.”


Jodi : “Kamu gak


coba pulang?”


Katty : “Aku gak


tahu. Aku gak berani pulang.”


Jodi : “Coba kamu


tanya dimana mereka. Kita harus ketemu orang tuamu secepatnya.”


Katty mengambil


ponselnya yang sudah penuh baterainya. Ia mencari kontak mamanya dan menekan


tombol hijau. Saat mendengar suara mamanya, Katty tiba-tiba menggenggam tangan


Jodi.


Mama Katty : “Katty?


Halo?”


Katty : “Mama...”


Mama Katty : “Katty,


gimana kabarmu, nak? Kamu dimana sekarang?”


Katty : “Mah, Katty


baik. Papa mana, mah?”


Mama Katty : “Papa


baik, nak. Kamu kapan pulang, nak?”


Katty : “Dalam


waktu dekat, mah. Katty mau bicara sama mama sama papa juga.”


Mama Katty : “Ada


apa, nak? Kamu ada masalah?”


Katty : “Katty... Katty


mau nikah, mah.”


Mama Katty : “Apa?!!”


Hening. Katty tidak


mendengar suara apapun dari seberang sana. Ia menatap layar ponselnya dan melihat


panggilannya sudah terputus.


Katty : “Dimatiin.


Gimana dong?!”


Katty panik


sendiri, ia bangkit dari atas ranjang. Mondar-mandir gak jelas sambil ngedumel.


Jodi ingin menenangkannya tapi ponsel Katty kembali berdering.


Jodi : “Papamu


nelpon nich. Cepat diangkat.”


Katty : “Gak mau!


Kamu aja.”


Jodi : “Kamu


serius?”


Katty mengangguk,


ia menatap layar ponselnya dengan tubuh gemetar ketakutan saat Jodi menekan


tombol hijau.


🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca


novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk


Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya


para reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak


ya..


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.

__ADS_1


🌲🌲🌲🌲🌲


__ADS_2