
Jodi menjatuhkan
tubuhnya disamping Katty, ia mengatur nafasnya yang ngos-ngosan setelah
menuntaskan hasratnya pada Katty. Kucing liarnya ini kembali menempel padanya,
tersenyum malu sambil menyembunyikan wajah cantiknya di balik lengan Jodi.
Jodi : “Selain
kemejaku, apalagi yang sempat kau hancurkan?”
Katty : “Nggak
ada.”
Jodi : “Kau yakin?
Besok kita akan pulang dan memeriksanya.”
Katty : “Rumahnya
gak hancur, cuma sedikit berantakan.”
Jodi : “Ngaku juga.
Kamu kalo lagi marah, serem ya.”
Katty : “Aku kan
cuma menuruti kata hatiku aja. Lagian kau sangat menyebalkan. Aku kan jadi
kesal.” Gumam Katty manja.
Jodi : “Oh ya?
Berapa kali kau memakiku?”
Katty : “Dari mana
kau tahu...? Aku gak memakimu.” Katty berhenti bicara saat merasa dirinya sudah
tertangkap basah memaki Jodi.
Jodi : “Ayolah,
jangan bohong. Terlihat jelas kau mengataiku pria brengsek.”
Katty : “Kau memang
brengsek.”
Jodi : “Kau mau mati
ya.”
Katty : “Mati dalam
pelukanmu, itu sepadan, tuan muda.” Katty melingkarkan tangannya ke leher Jodi,
mengecup kening pria yang dicintainya itu.
Jodi : “Berhenti
memanggilku tuan muda atau...”
Katty : “Atau apa?”
Katty menarik
selimut menutupi kepala mereka dan begitulah mereka menghabiskan malam di
penthouse yang indah itu.
*****
Keesokan harinya,
Katty terbangun lebih awal. Ia mengerjapkan matanya dan melihat sekeliling
kamar. Ia tersenyum dengan cantik, semalam apapun yang terjadi ternyata bukan
mimpi. Katty melihat ke samping dan tidak menemukan Jodi tertidur di sisinya.
Katty : “Jodi...?”
Hening, tidak ada
jawaban dari manapun.
Katty : “Kemana
dia? Apa dia mandi?”
Katty celingukan
mencari pakaiannya yang dilemparkan Jodi ke bawah ranjang semalam. Ia tidak
bisa menemukannya dan matanya tertuju pada lingerie merah yang masih tergeletak
di kaki ranjang. Katty meraih lingerie itu dan memakainya. Lingerie itu
membungkus tubuh Katty dengan sangat pas dan terasa sangat nyaman untuknya.
Katty : “Jodi...? Kamu
dimana?”
Katty membuka pintu
kamar mandi, kosong. Ia ingin keluar dari kamar, tapi langkahnya terhenti saat
mendengar suara ribut-ribut di luar kamar. Katty menempelkan telinganya ke daun
pintu, sepertinya banyak orang diluar sana sedang memindahkan sesuatu.
Katty memilih
menunggu, ia tidak mungkin keluar dari sana dengan lingerie yang mini ini.
Dengan cepat Katty meraih ponselnya diatas nakas. Tersisa 5% baterai di
ponselnya. Ia mengambil tasnya dan mengeluarkan charger. Setelah mengisi
baterai ponselnya, Katty memutuskan untuk mandi dulu.
Di dalam kamar
mandi, Katty mematutkan tubuhnya di depan cermin, ia menghitung bekas ciuman yang
dibuat Jodi semalam. Dari leher sampai punggung penuh dengan bekas ciuman.
Katty : “Kenapa
banyak sekali bekasnya? Gimana aku ke kantor pak Anton besok?”
Ia mandi dengan
cepat dan keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk dengan rambut basah.
Katty : “Dimana
sich bajuku?”
Katty melihat
sekeliling dengan teliti dan tetap tidak menemukan pakaiannya dimana pun.
Bahkan lemari juga dalam keadaan kosong. Dengan sangat terpaksa, Katty kembali
memakai lingerie merah itu.
Saat Katty ingin
mengeringkan rambutnya dengan handuk, ponselnya berdering, Jodi menelponnya.
Katty : “Halo?”
__ADS_1
Jodi : “Kamu sudah
bangun? Bisa keluar dari kamar sebentar?”
Katty : “Aku...
bajuku terlalu terbuka, Jodi. Gak ada baju lain ya?”
Jodi : “Cuma ada
aku disini. Cepat keluar.”
Katty : “Iya,
sebentar.”
Katty meletakkan
handuk kecil yang dibawanya dan membuka pintu kamar sedikit. Ia melongokkan
kepalanya melihat ke kiri dan ke kanan, tidak ada orang. Jodi tampak berdiri menatap
jendela besar di penthouse itu. Katty berjalan mendekati Jodi,
Katty : “Jodi...”
Katty menghentikan
langkahnya saat Jodi berbalik dengan membawa buket bunga mawar merah di
tangannya. Jodi memberikan bunga itu pada Katty,
Katty : “Buat aku?”
Jodi : “Iya.”
Katty tersenyum
dengan cantik, air menetes dari rambutnya yang masih basah mengenai bunga mawar
yang sedang diciumnya.
Jodi : “Aku iri
sama bunganya.”
Katty : “Kenapa?”
Jodi : “Karena
bunga itu yang mendapat ciuman pertamamu di pagi ini.”
Katty : “Apa kau
cemburu, tuan muda?”
Jodi : “Cemburu
pada bunga? Yang benar saja.”
Katty tertawa
melihat wajah Jodi yang cemberut. Ia ingin memeluk pria yang sangat dicintainya
itu tapi Jodi melangkah mundur. Katty menatap bingung melihat Jodi mengeluarkan
sesuatu dari sakunya. Lebih kaget lagi saat melihat Jodi berlutut dengan satu
kakinya di hadapan Katty.
Jodi : “Sayang,
seharusnya ini kulakukan tadi malam setelah kita dinner, tapi melihat
situasinya tidak memungkinkan dengan kemarahanmu...”
Katty : “Aku gak
marah... sedikit marah...”
Jodi : “Diem dulu
Katty : “Iya,
maaf...”
Jodi : “Katty,
maukah kau menikah denganku?”
Mata Katty berbinar
melihat sebuah cincin emas polos di dalam kotak beludru hitam di hadapannya.
Katty : “Aku mau!”
seru Katty sambil mengambil kotak itu.
Jodi tersenyum,
seperti dugaannya, sama sekali tidak tampak wajah kecewa dari wajah Katty
melihat cincin emas polos yang sangat sederhana yang menjadi cincin lamaran
Jodi.
Jodi berdiri lagi,
ia mengambil cincin dalam kotak itu dan menyematkannya ke tangan Katty yang
masih tersenyum manis. Jodi mencium tangan, pipi, dan bibir Katty dengan
lembut.
Jodi : “Akhirnya kamu
mau nikah sama aku. Aku bahagia sekali.”
Katty : “Aku
juga,... sayang...”
Jodi : “Gitu dong
manggilnya yang mesra. Hari ini kita tetap disini ya.”
Katty : “Ngapain?”
Jodi : “Bikin anak.”
Katty : “Apa?!
Seharian? Gak mau! Badanku bisa rontok... sakit!”
Jodi : “Hahahaha!
Aku cuma bercanda, kita bisa membahas konsep pernikahan yang kamu mau.”
Katty : “Fiuh...
Kalau itu aku setuju. Jodi... bisa gak minta Guntur kesini?”
Jodi : “Ngapain? Aku
gak mau dia liat kamu gini.”
Katty : “Mulai dech
posesifnya. Suruh Guntur bawain baju buat kita. Disini sama sekali gak ada yang
bisa kupakai. Bajuku juga kemana?”
Jodi : “Bajumu...
gak tau! Nanti aja dech. Kita makan dulu sekarang.”
Jodi melirik tong
__ADS_1
sampah di dekat meja bar, ia memasukkan pakaian Katty kesana dan berharap Katty
akan memakai lingerie seharian atau bahkan tidak memakai apapun selama mereka
di penthouse itu. Seringai licik muncul di wajah Jodi saat membayangkan hal itu
terjadi.
*****
Usai sarapan pagi,
Jodi mengajak Katty duduk diatas ranjang penthouse. Jodi mulai membuka-buka
konsep pernikahan yang sudah dikirimkan WO ke e-mailnya.
Jodi : “Kamu mau
pernikahan yang seperti apa?”
Katty : “Mungkin
yang simple, gak banyak dekorasi dan gaun pengantin berwarna putih.”
Jodi : “Coba kita
lihat ada gak yang seperti itu.”
Jodi terus
meng-scroll gambar-gambar dekorasi pesta pernikahan dan Katty menghentikannya
saat melihat dekorasi yang sangat simple tapi terlihat glamor.
Katty : “Aku suka
yang ini. Pelaminannya juga dihias dengan warna yang sama. Orang tuamu duduk
disebelah kanan dan orang tuaku...”
Katty menghentikan kata-katanya,
ia teringat bahkan orang tuanya belum tahu tentang hubungannya dengan Jodi.
Jodi : “Kenapa
diam? Orang tuamu duduk... Ach, aku tahu. Kamu belum memberitahu orang tuamu
tentang kita kan?”
Katty : “Aku baru
ingat kalau sudah lama sekali aku tidak mendengar kabar mereka.”
Jodi : “Kamu gak
coba pulang?”
Katty : “Aku gak
tahu. Aku gak berani pulang.”
Jodi : “Coba kamu
tanya dimana mereka. Kita harus ketemu orang tuamu secepatnya.”
Katty mengambil
ponselnya yang sudah penuh baterainya. Ia mencari kontak mamanya dan menekan
tombol hijau. Saat mendengar suara mamanya, Katty tiba-tiba menggenggam tangan
Jodi.
Mama Katty : “Katty?
Halo?”
Katty : “Mama...”
Mama Katty : “Katty,
gimana kabarmu, nak? Kamu dimana sekarang?”
Katty : “Mah, Katty
baik. Papa mana, mah?”
Mama Katty : “Papa
baik, nak. Kamu kapan pulang, nak?”
Katty : “Dalam
waktu dekat, mah. Katty mau bicara sama mama sama papa juga.”
Mama Katty : “Ada
apa, nak? Kamu ada masalah?”
Katty : “Katty... Katty
mau nikah, mah.”
Mama Katty : “Apa?!!”
Hening. Katty tidak
mendengar suara apapun dari seberang sana. Ia menatap layar ponselnya dan melihat
panggilannya sudah terputus.
Katty : “Dimatiin.
Gimana dong?!”
Katty panik
sendiri, ia bangkit dari atas ranjang. Mondar-mandir gak jelas sambil ngedumel.
Jodi ingin menenangkannya tapi ponsel Katty kembali berdering.
Jodi : “Papamu
nelpon nich. Cepat diangkat.”
Katty : “Gak mau!
Kamu aja.”
Jodi : “Kamu
serius?”
Katty mengangguk,
ia menatap layar ponselnya dengan tubuh gemetar ketakutan saat Jodi menekan
tombol hijau.
🌻🌻🌻🌻🌻
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca
novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk
Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya
para reader.
Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak
ya..
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
__ADS_1
🌲🌲🌲🌲🌲