Duren Manis

Duren Manis
Extra part 16


__ADS_3

Extra part 16


Rio terus mencari Gadis di tengah mall sampai ke lobby. Ia kehilangan jejak istrinya itu.


“Gadis, dimana kamu? Ini salah paham. Aku harus telpon dia,” kata Rio sambil mencoba menghubungi Gadis.


“Nomor yang anda tuju sedang dialihkan...” suara operator terdengar dari seberang sana.


Rio segera menuju parkiran mobilnya, ia mengabaikan telpon dari Keira yang kebingungan karena ditinggal sendirian. Keira akhirnya mengirimkan chat pada Rio.


“Om kemana sich? Nggak jadi nonton nich?”


“Om?! Hoi!”


“Om jahat!!”


Rio mengendarai mobilnya keluar dari parkiran menuju lobby untuk keluar dari mall. Ia berharap Gadis akan pulang ke rumah dan tidak pergi kemana-mana dulu. Ketika sampai di lobby, Rio melihat Gadis sedang


berjalan menuruni tangga dan berhenti tepat di samping mobil Rio yang berhenti di depannya.


“Gadis, naik!” pinta Rio sambil membuka pintu mobilnya.


Gadis melihat situasi cukup ramai dan semua mata sedang tertuju padanya. Akhirnya Gadis memilih masuk ke mobil Rio daripada mempermalukan suaminya itu di depan umum.


Di dalam mobil yang langsung meluncur keluar dari mall, keduanya tidak saling bicara. Rio hampir tidak bisa konsentrasi menyetir, melihat penampilan Gadis yang sangat berubah. Seksi dan sangat cantik. Meskipun


tidak memakai make up menor seperti tante-tante, hanya bedak dan pulasan lisptik di bibir Gadis, sudah mampu membuat jakun Rio naik turun.


Gadis menutupi pahanya yang terlihat jelas, dengan belanjaan di tangannya. Ketika mobil berhenti karena lampu merah, Rio meraih belanjaan di tangan Gadis dan meletakkannya di bagian belakang mobil. Gadis mengalihkan pandangannya ke luar jendela, ia belum mau menatap Rio. Wanita itu masih kesal karena Rio berani membohonginya.


Saat mereka berbelok ke sebuah basement gedung, Gadis baru sadar kemana suaminya itu membawa mereka. Mobil terparkir di parkiran dekat lift, Rio menoleh menatap Gadis.


“Kita turun ya. Ada yang mau aku omongin sama kamu,” bujuk Rio sambil menyentuh paha Gadis.


“Kita ngomong disini aja. Ngapain turun?” tanya Gadis enggan.

__ADS_1


Rio tidak mau mendengar penolakan, pria itu membawa belanjaan Gadis dan menarik tangan istrinya itu masuk ke dalam lift. Tangan Rio tidak mau pindah dari pinggang Gadis. Sesekali Rio mengelus pinggang Gadis,


membuat istrinya itu merinding.


Saat keduanya sudah ada di dalam kamar apartment milik Alex, Gadis meletakkan tas tangannya di atas meja. Ia merasa sedikit haus dan ingin minum dulu. Tapi Rio sudah menarik tangan Gadis agar mendekat pada


pria itu.


“Rio, aku mau minum dulu. Bentar,” ucap Gadis masih enggan.


Rio mengambilkan air minum untuk Gadis dan setelah Gadis menghabiskan air di gelas itu, Rio langsung menyergapnya.


“Rio!” pekik Gadis kaget.


“Yank, serius nih. Kamu cantik banget. Seksi..,” desah Rio sambil meniup telinga Gadis.


Gadis mendorong Rio, ia enggan berdekatan dengan pria itu. Setiap Gadis menjauhkan dirinya, Rio mengejar Gadis. Menjauh, dikejar lagi, begitu terus sampai mereka berdua ngos-ngosan. Akhirnya Rio berhasil memeluk Gadis.


“Gadis, aku minta maaf. Tapi aku kalah taruhan sama Keira, jadi dia minta nonton film horor. Masalah di telpon itu, aku nggak mau kamu marah,” kata Rio.


Rio terkejut melihat reaksi Gadis yang biasanya sangat sabar menghadapinya. Pria itu melepaskan pelukannya lalu menatap Gadis yang sudah meneteskan air mata. Rio menangkup pipi Gadis, berusaha meminta maaf sekali lagi.


“Aku salah, Gadis. Jangan nangis dong. Aku baru sekali ini bohong sama kamu, yank. Sungguh,” kata Rio berusaha meyakinkan Gadis.


Wanita itu menepis tangan Rio, ia memilih duduk di sofa, lalu mengambil tisu untuk mengelap air matanya. Rio menyusul, ikut duduk di samping Gadis.


“Kamu ada hubungan apa sama Keira? Kamu selingkuh dari aku?” tanya Gadis memberanikan dirinya.


Rio langsung berlutut di depan Gadis, ia menggeleng keras. “Dihatiku nggak pernah ada yang masuk lagi selain kamu dan almarhumah Kaori. Aku nggak akan pernah selingkuh, yank. Kamu harus percaya sama aku,”


kata Rio memelas.


Gadis tidak tega melihat Rio berlutut di depannya, tapi ia masih sakit hati karena Rio berani berbohong dan chat mesra dengan Keira.


“Kalo kamu nggak selingkuh, trus apa namanya chat mesra di HP-mu. Kamu udah bosen sama aku?” tanya Gadis lirih.

__ADS_1


Rio mengeluarkan ponselnya lalu membuka aplikasi chat, ia berusaha menelpon Keira lewat v-call. Tapi Keira tidak mengangkat telponnya karena sedang menonton film horor di bioskop.


Gadis beranjak dari sofa, ia ingin ke kamar mandi untuk membersihkan wajahnya. Tapi Rio tidak membiarkannya menjauh.


“Gadis, percayalah. Aku masih Rio yang dulu. Setia sama kamu. Jujur, aku melakukan itu untuk menarik perhatian kamu. Aku... aku merasa akhir-akhir ini kamu terlalu sibuk mengurus anak-anak,” kata Rio


mengakui semuanya. “Tapi aku bersumpah, aku dan Keira tidak melakukan hal yang lebih. Aku sudah menganggapnya seperti ponakanku,” ucap Rio jujur.


Gadis menggeleng, ia ingin sendiri sebentar. Rio melepas Gadis masuk ke kamar mandi. Pria itu terduduk di sofa, menyandarkan dirinya sambil memijat kepalanya yang pening.


Rio mengirim chat pada Keira untuk menghentikan semua sandiwara mereka. Tentu saja dengan ancaman kalau Keira masih mau bekerja di kantor Alex, gadis itu harus mengatakan yang sejujurnya pada Gadis.


Rio melemparkan ponselnya asal saja, ia kembali memijat kepalanya. Ceklek! Pintu kamar mandi terbuka, Gadis keluar dari sana hanya memakai handuk. Rio menelan salivanya melihat tubuh molek istrinya yang


selalu membuatnya bergairah.


“Y—yank...,” panggil Rio salah tingkah. Ia merasakan sesuatu di bawah sana mulai bangkit dan menyesakkan celananya.


Gadis mengabaikan Rio, ia melangkah lurus menuju kumpulan paper bag, mencari sesuatu. Rio ingin sekali menarik tubuh Gadis dan menciuminya, tapi melihat wajah masam Gadis, nyalinya ciut.


Setelah mendapatkan apa yang ia inginkan, Gadis berjalan kembali ke kamar mandi. Setiap langkah Gadis membuat handuknya tersingkap dan memperlihatkan sesuatu di baliknya pada Rio.


“Nasib-nasib, alamat nggak dapet jatah sebulan nich. Aku mesti gimana lagi? Nich anak setan juga nggak bales-bales chat. Mati kali!” sungut Rio memaki Keira.


Saat pintu kamar mandi terbuka untuk yang kedua kalinya, Gadis keluar hanya memakai lingerie berwarna hitam. Rambut pendeknya bergoyang seiring langkah kakinya mendekati paper bag lagi.


“Yank, kamu mau tidur?” tanya Rio takut-takut.


“Nggak, aku mau makan. Laper. Kamu jangan dekat-dekat aku, nggak boleh pegang-pegang juga,” sahut Gadis judes.


Rio menghela nafas, matanya dimanjakan dengan penampilan Gadis yang menantang. Tapi disisi lain, ia tidak boleh menyentuh Gadis sama sekali.


**


Kapok nggak tuch, boleh lihat nggak boleh dipegang.

__ADS_1


__ADS_2