
Menikahi Aunty Renata – Reynold & Renata 20
Alfian menghempaskan tubuhnya ke sofa besar milik Merry. Setelah Renata dibawa pergi dari mansion mewah milik bosnya, Alfian akhirnya bisa pulang dengan tenang. Alih-alih pulang ke apartmentnya, Alfian malah pergi ke apartment Merry. Wanita tambun itu menatap heran pada Alfian yang hampir tertidur di sofanya. Kedua tangannya menarik rapat jubah tidur yang belum sempat terikat sempurna ketika membukakan pintu untuk Alfian tadi.
“Alfian, kamu ngapain kesini, jam segini lagi? Ini sudah hampir jam satu pagi,” ucap Merry sedikit gelisah.
Bagaimana tidak, Merry yang sudah tidur nyenyak terpaksa bangun karena Alfian menelponnya pagi buta. Merry berpikir kalau Alfian sedang dalam kesulitan dan buru-buru membuka pintu untuknya. Tapi nyatanya Alfian malah melenggang santai masuk ke dalam apartmentnya lalu tidur di sofa.
“Alfian? Bangun, kamu belum mandi ya?” tanya Merry melihat penampilan Alfian yang sedikit kacau.
Tidak ada reaksi dari pria itu membuat Merry melangkah ke dalam kamarnya. Ia ingin mengambil selimut
tambahan untuk Alfia n. Grep! Merry hampir menjerit kaget ketika tubuhnya dipeluk dari belakang. Alfian menyusupkan wajahnya ke tengkuk Merry dengan sangat agresif.
“Al—fian, ja—jangan,” lirih Merry kegelian.
“Mer, kapan kita nikah? Aku ingin setiap malam kita tidur pelukan, sayang-sayangan, pengen gitu uga,” ucap Alfian jujur.
“Kalau kamu dapet libur lama dari kantor,” sahut Merry asal.
Seingatnya, Alfian tidak pernah bisa libur lama karena pekerjaannya cukup banyak. Lagipula untuk apa mereka cepat-cepat menikah kalau Alfian masih saja sibuk. Bagaimana nanti kalau misalnya Merry langsung hamil. Dirinya akan sendirian di apartment menunggu Alfian pulang. Memikirkan dirinya hamil dengan tumbuh lebih bulat lagi membuat wajah Merry merona.
“Kamu mikir apa sich? Malam pertama kita ya?” tebak Alfian ketika melihat wajah Merry.
Wanita tambun itu menabok lengan Alfian dan mencubitinya. Bisa-bisanya Alfian menebak hal sensitif seperti itu. Pria itu tergelak sebelum melepaskan pelukannya dari tubuh Merry lalu langsung melepaskan jas dan kemejanya.
“Eh, kamu mau ngapain? Kenapa lepas baju?” tanya Merry mulai panik.
“Aku mau mandi, trus tidur. Besok harus bangun pagi ke kantor,” sahut Alfian lalu masuk ke dalam kamar mandi Merry tanpa membawa handuk.
Merry cemberut, mengeluh karena Alfian berlaku seenaknya di apartmentnya. Diliriknya tempat tidur besar yang sedikit berantakan. Lagi-lagi wajahnya merona, Alfian pasti akan tidur disitu juga. Benar saja, baru sebentar masuk ke kamar mandi, Alfian sudah keluar cuma pakai handuk. Alfian langsung menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur lalu menarik selimut menutupi tubuhnya.
Padahal Merry baru saja menggantung kemeja dan jas Alfian agar tidak kusut. Dirinya masuk ke kamar mandi, mencari celana Alfian lalu menggantungnya juga. Melihat ****** ***** Alfian, Merry menunduk malu sendiri. Dia merasa sudah jadi seorang istri yang mengurus suaminya yang baru pulang bekerja.
“Al, kamu nggak mau makan dulu? Sebenarnya kamu dari mana sich? Malam gini baru pulang,” ucap Merry
sambil menatap punggung Alfian.
“Aku dari mansion bos. Renata diculik Abdi,” sahut Alfian sambil membalik tubuhnya.
“Hah?! Gimana bisa?! Trus Renata gimana? Dia baik-baik aja?” tanya Merry terkejut. Tangannya refleks
memegangi dadanya yang berdegup kencang.
Alfian melambaikan tangannya memanggil Merry mendekat, lalu menepuk tempat kosong di sampingnya. Melihat Alfian telanjang dada dengan selimut menutupi bawah tubuhnya membuat Merry merona lagi. Ragu-ragu Merry mendekat, tapi ia penasaran dengan apa yang terjadi pada Renata. Alfian tersenyum lebar melihat Merry menurut duduk di sampingnya. Ia langsung menarik tubuh Merry berbaring di sampingnya lalu menarik selimut menutupi tubuh mereka berdua.
“Alfian!” pekik Merry kaget.
“Ssttt..., kita tidur dulu yuk. Nanti aku cerita sambil sarapan,” bujuk Alfian. “Kalau nggak mau, aku nggak keberatan olahraga pinggang sekarang.” Sedetik kemudian mulai mengancam Merry.
Wanita itu mencubit lengan Alfian lalu mendorongnya menjauh. Dirinya kesal karena Alfian membangunkannya tengah malam, mengatakan sesuatu yang tidak jelas, lalu menggantungnya seperti itu.
__ADS_1
“Maumu apa sich? Tadi ngomong Renata diculik, sekarang nggak mau cerita. Jangan bikin aku penasaran,
Al,” protes Merry.
“Iya, aku cerita sekarang. Peluk dulu,” pinta Alfian.
Merry akhirnya mau mendekat lagi lalu balas memeluk Alfian yang tersenyum senang. Pria itu
menceritakan dari saat mereka berdua di apartment Merry dan Alfian mendapat telpon dari orang suruhannya. Abdi ketahuan menculik Renata, tapi jejaknya sempat menghilang. Alfian berpikir untuk memakai sistem pencarian di kantornya untuk melacak posisi Abdi dan Renata, tapi ia tidak menemukan apa-apa.
Merasa Renata sangat penting bagi direktur FoRena Group, Alfian menghubungi bos-nya itu. Reaksinya
bisa ditebak, Reynold langsung melakukan pencarian dan menemukan posisi kedua wanita yang dekat dengannya itu. Kaori dan Renata. Reynold yang yakin kalau Ken juga kehilangan jejak Kaori, mengajak Alfian mencari Ken lebih dulu. Karena posisi Kaori terus menjauh ke pinggir kota. Ia tidak mungkin menghubungi Ken lewat telpon karena pria itu tidak akan percaya padanya.
Setelah memberikan informasi keberadaan Kaori, Alfian dan Reynold segera mencari Renata di dekat
taman. Mereka mendengar teriakan gadis itu lalu mendobrak masuk ke dalam gudang. Alfian bercerita dengan ekspresi biasa saja, seolah perkelahian antara Reynold dan Abdi tidak terlalu seru. Tapi ia tidak mengatakan kalau Reynold menembak Abdi hingga pria itu sekarat dan akhirnya meninggal. Alfian tidak mau
Merry kuatir dan jadi takut pada Reynold.
“Aku tidak tahu lagi urusan Abdi. Sepertinya polisi sudah mengurusnya setelah kami pergi ke mansion bos. Renata cukup trauma, tapi aku yakin dia akan segera sembuh. Untuk sementara, Renata akan bekerja dari mansion bos,” jelas Alfian tentang keputusan Reynold.
“Kasihan Renata. Aku tidak menyangka kalau Abdi tega melakukan itu. Dia memang terkenal playboy, tapi ternyata nekat juga. Semoga Renata cepat sembuh,” ucap Merry dengan pandangan menerawang jauh.
“Sudah nggak penasaran lagi kan? Jadi mau tidur atau kutiduri?” goda Alfian semakin berani.
“Iih, bahasamu tuch. Cepetan tidur. Bentar lagi subuh. Kamu nggak malu cuma pake handuk gini?” tanya
“Handuk apa? Aku nggak pake apa-apa,” sahut Alfian dengan gerakan ingin menyingkap selimutnya.
“Alfian!” jerit Merry malu.
Alfian nyengir nakal, ia mengeratkan pelukannya pada Merry lalu memejamkan matanya. Cepat sekali pria
itu tertidur, bahkan belum genap satu menit. Merry menghela nafas pelan, ia juga memejamkan matanya yang mulai terasa perih. Harapannya selain Renata bisa segera pulih, mereka berdua tidak akan terlambat ke kantor pagi itu.
**
Renata membuka matanya ketika merasakan gerakan di tempat tidurnya. Ia melihat punggung telanjang Reynold yang sedang duduk membelakanginya. Rona merah menghiasi wajah Renata. Semalam setelah pergi dari mansion bosnya, mereka semua kembali ke mansion milik Ken. Kondisi Renata sudah membaik tapi masih tidak mau ditinggalkan sendirian. Akhirnya Reynold menemaninya di dalam kamar gadis itu. Pria
itu membuka pakaiannya lalu berbaring sambil memeluk Renata.
“Kak Rey,” bisik Renata.
“Kamu udah bangun. Mau sarapan apa?” tanya Reynold dengan senyuman mautnya.
Deg! “Ganteng banget!” pekik Renata tanpa sadar. Gadis itu langsung menutup mulutnya dengan selimut.
“Aku memang ganteng dari lahir, aunty. Herannya cuma aunty yang nggak jatuh cinta pada pandangan
pertama denganku,” sahut Reynold sebelum memakai pakaiannya di hadapan Renata.
__ADS_1
“Masa aku jatuh cinta sama ponakanku sendiri!?” protes Renata ngegas.
Reynold hanya tersenyum menanggapi protes Renata. Pria itu mengambil ponselnya lalu mengecek
semua chat yang masuk pagi itu. Sekilas, ponsel Reynold hanya menampilkan chat dari relasi dan juga partner kerjanya. Tapi kalau ia menekan beberapa angka, chat dari FoRena Group juga akan masuk ke ponselnya dengan cepat. Melihat Reynold serius menatap layar ponselnya, Renata tidak mau mengganggunya. Ia
sudah kebelet ingin ke toilet lalu memilih turun dari tempat tidur tanpa bantuan.
“Aih!!” pekik Renata ketika merasakan pusing lagi. Ia hampir jatuh ke lantai yang keras tapi tubuhnya melayang dengan cepat. Reynold sigap menggendong Renata meskipun sibuk dengan ponselnya.
“Kamu mau kemana?” tanya Reynold sedikit galak.
“Ke toilet, kak. Kebelet,” lirih Renata menahan pusing di kepalanya.
Reynold membawa Renata masuk ke dalam kamar mandi lalu mendudukkannya di toilet. Ia memastikan
kalau Renata bisa melakukan hajatnya seorang diri sebelum beranjak keluar dari kamar mandi. Reynold berjaga-jaga di depan pintu, mengabaikan ponselnya yang terjatuh ke lantai yang dingin. Ketika Renata memanggilnya lagi, Reynold membuka pintu kamar mandi perlahan. Saat Reynold masuk ke dalam kamar mandi, Kaori mengetuk pintu kamar itu. Tanpa menunggu jawaban dari dalam, wanita itu membuka pintu dan
melihat kamar yang kosong.
“Aunty? Kak Rey?” panggil Kaori sambil melangkah masuk. “Mereka kemana ya?”
Bingung mencari penghuni kamar itu, Kaori tidak sengaja melihat pergerakan di dalam toilet. Sambil mengendap-endap, Kaori mendekati toilet dan melihat Reynold sedang berciuman dengan Renata di dalam sana. Kaori membekap mulutnya yang hampir terpekik. Kalau ia belum tahu rahasia kelahiran Renata, mungkin saja Kaori akan langsung melabrak keduanya. Menghentikan hubungan mereka saat ini juga. Tapi
Kaori hanya bisa tersenyum malu memergoki hal yang intim sepagi itu.
Berpikir cukup lama mereka berdua di dalam toilet, Kaori merasa perlu memanggil salah satu dari mereka.
Kaori berjalan ke dekat pintu lalu berteriak cukup keras.
“Aunty Ren?! Aunty dimana?” ucap Kaori sambil berjalan ke pinggir tempat tidur.
Suara gedubrakan terdengar dari dalam kamar mandi, Kaori memanggil sekali lagi sebelum pintu kamar mandi terbuka lebar. Reynold keluar dari sana sambil menggendong Renata.
“Kaori, selamat pagi. Aku pusing barusan dibantuin kak Rey ke toilet,” ucap Renata mencoba
menjelaskan.
“Oh, gitu. Trus kenapa muka kalian merah gitu?” tanya Kaori pura-pura tidak melihat apa-apa.
Reynold berdehem lalu membaringkan Renata kembali ke atas tempat tidur. Ia membungkuk mengambil
ponselnya yang sudah retak layarnya. Renata terkejut melihat ponsel Reynold rusak karena terjatuh tadi.
“Kak, Hpnya...” Renata menatap sedih ponsel yang sudah rusak.
Reynold hanya tersenyum lalu meletakkan ponsel itu diatas meja sebelum dirinya duduk di sofa. Seperti sulap, ia mengeluarkan sebuah ponsel lagi dari balik hoodie-nya. Reynold jarang menggunakan ponselnya itu, ia hanya menggunakannya untuk memesan barang. Saat Reynold menelpon seseorang, Kaori sudah mendekati Renata, duduk di sampingnya.
“Aunty sudah lebih baik? Mau sarapan apa?” tanya Kaori penuh perhatian.
“Apa saja, Kaori. Aku lagi nggak pengen makan sich,” sahut Renata enggan.
__ADS_1
Kaori melirik Reynold yang masih sibuk bicara di telpon, ia lalu berbisik pada Renata, “Aunty, apa aunty mencintai kak Rey?”