
Si kembar baru saja kembali dari jalan-jalannya, mereka berebutan memeluk Mia yang menyambut mereka di pintu depan. Meskipun sudah kelas 2 SMA, sikap mereka akan jadi kekanak-kanakan kalau sudah ketemu Mia. Si kembar menarik Mia ke lantai 2, mereka ingin cerita sesuatu sambil bergantian mandi.
Alex geleng-geleng kepala melihat si kembar menarik Mia ke lantai 2. Nenek yang melihat semua itu cuma bisa tersenyum,
Alex : "Sekarang saja sudah dimonopoli, gimana kalau sudah nikah nanti."
Nenek : "Kalian kan bisa bulan madu. Kasi kesempatan si kembar menikmati kasih sayang seorang ibu, Lex."
Alex : "Aku juga butuh kasih sayang, bu."
Pletak! Nenek memukul Alex yang pura-pura merajuk seperti anak kecil. Nenek tidak bisa bayangkan bagaimana Mia setelah mereka menikah nanti.
-------
Rara membaca chat dari Mia yang mengatakan agar Arnold mampir untuk makan malam. Mereka akan sampai sebentar lagi di rumah Rara.
Rara : "Kak, mampir dulu ya ke rumah. Papa mengundang kakak makan malam, sekalian ada hal penting yang ingin papa bicarakan."
Arnold : "Waduh, apa aku akan diadili karena membawamu ke kamar hotel?"
Arnold jelas bercanda, tapi wajah Rara langsung memerah. Pasalnya ia langsung ingat kejadian-kejadian di resort tadi. Arnold tersenyum pada Rara, entah takdir apa yang mempertemukan mereka disaat Tuhan memberinya kesempatan kedua untuk melanjutkan hidupnya.
Mereka sampai di depan rumah Rara, Arnold mematikan mesin mobil, ia mengubah duduknya menghadap Rara.
Arnold : "Kamu sudah cerita semuanya sama keluargamu?"
Rara : "Iya, kak. Aku ingin tahu bagaimana reaksi mereka. Setidaknya aku tahu harus apa setelah ini."
Arnold : "Gak pa-pa kan kalau setelah ini mungkin kita gak boleh ketemu lagi? Ayo, masuk."
Rara menahan tangan Arnold, ia belum memikirkan sampai kesana. Entah bagaimana kalau nanti mereka benar-benar tidak boleh ketemu lagi. Arnold tersenyum menatap Rara yang hampir menangis. Dikecupnya kening gadis itu,
Arnold : "Kita harus hadapi ini, Ra. Hidupmu masih panjang, masih banyak laki-laki yang lebih baik dari aku. Aku sudah iklas dengan hidupku sekarang, Ra."
Rara : "..."
Arnold : "Ayo kita masuk. Aku menerima undangan makan malam papamu. Jangan sampai kita terlambat."
Rara dan Arnold berjalan memasuki pekarangan rumah Rara, Rara terus menggenggam ujung jaket Arnold. Tingkahnya seperti anak kecil kepergok berbuat kesalahan dan takut harus bertanggung jawab.
Mb Minah membukakan pintu untuk mereka dan mempersilakan Arnold duduk di ruang tamu. Rara juga duduk disana, di samping Arnold.
__ADS_1
Arnold : "Ra, jangan tegang gitu dong. Aku gak pa-pa."
Perasaan Rara beneran campur aduk, ia sedikit menyesal sudah menceritakan masalah Arnold pada Mia. Dia tidak memikirkan resikonya bahkan kalau papanya sampai melarangnya menemui Arnold lagi.
Saat Alex muncul di ruang tamu, Rara tidak berani mengatakan apa-apa, ia berdiri dan berlari ke lantai 2, meninggalkan Alex yang melongo melihat reaksinya.
Alex : "Itu anak kenapa? Apa kabar, Arnold. Apa kau lelah?" Alex menyalami Arnold.
Arnold : "Saya baik, om. Mungkin Rara sudah capek, perjalanan tadi cukup panjang."
Alex : "Arnold, om mau bicara penting. Mungkin ini sedikit pribadi ya, tapi om harus memastikan sesuatu dulu."
Mia yang datang membawa minuman untuk mereka, diminta duduk di samping Alex.
Arnold : "Silakan, om. Saya siap mendengarkan."
Alex : "Om sudah bicara sama papamu dan Ronald sudah cerita semuanya termasuk akibat dari kecelakaan itu. Om gak bisa menilai atau menghukum seseorang karena masa lalunya, sepertinya gak adil kan. Sekarang om mau tanya, apa benar Rara bisa menyembuhkan akibat dari kecelakaanmu?"
Arnold : "Maaf, om. Arnold juga gak tahu apa ini hanya kebetulan atau memang karena Rara. Tapi terus terang, jujur, Arnold mulai merasakan ada kemajuan kalau bersama Rara."
Alex : "Apa kalian sudah jadian?"
Mia : "Tapi kamu laki-laki yang baik, Arnold."
Arnold : "Makasih, mama Rara. Tapi bukan untuk Rara."
Alex : "Tadi om sempat dimintai tolong sama papamu agar Rara bisa ikut ke doktermu. Jadi kita bisa tahu bagaimana perkembangan kesembuhanmu. Om setuju Rara ikut."
Arnold : "Tapi om, dokter itu ada di kota J. Paling tidak perlu waktu 3 hari untuk mengikuti semua test yang diperlukan. Kami gak mungkin pergi berdua."
Alex : "Kalau om bilang om percaya sama kamu, apa kamu mau pergi dengan Rara."
Arnold menarik nafasnya sambil memejamkan matanya, seharian saja bersama Rara sudah membuatnya klimaks apalagi sampai 3 hari. Melihat Arnold tidak segera menjawab, Alex mengalihkan pandangannya pada Mia. Tapi Mia tidak bisa ikut karena ia sibuk mempersiapkan ujian skripsi dan persiapan pernikahan.
Alex : "Kita makan dulu ya. Om sudah mengijinkan kamu dekat dengan Rara, tapi kalau sampai kamu berani mempermainkan dia..."
Krek! Alex meremas biskuit berbentuk batang dihadapan Arnold sampai hancur. Arnold cuma mengangguk takut, ia bangkit dari sofa dan mengikuti Alex dan Mia ke ruang makan.
-------
Rara berguling-guling diatas ranjangnya, ia ingin menangis tapi tidak jadi. Ia ingin turun tapi takut mendengar sesuatu yang ia takutkan tadi. Akhirnya Rara mengirimkan chat pada Mia dan mengatakan kalau dia lapar tapi gak berani turun.
__ADS_1
Tak lama, Mia mengetuk pintu kamar Rara, ia membawa makan malam Rara. Rara bahkan tidak tertarik menyentuh makanannya, ia hanya ingin bertanya pada Mia,
Rara : "Ma, gimana tadi? Papa bilang apa?"
Mia merasakan tangan Rara dingin dan gemetar, ia memeluk calon putrinya itu dengan erat. Rara akhirnya menangis dalam pelukan Mia, karena mengira ia tidak akan bertemu Arnold lagi.
Mia : "Sayang, kenapa kamu nangis? Papamu sudah mengijinkan Arnold..."
Rara : "Apa mah? Beneran mah?"
Rara tersenyum menatap Mia yang menghapus air matanya, Mia bisa melihat Rara benar-benar sudah jatuh cinta pada Arnold.
Mia : "Papa ijinkan Arnold mengajakmu ketemu dokternya di kota J. Tapi waktunya cukup lama sekitar 3 hari, Rara mau pergi sama Arnold?"
Rara : "...Lama juga ya, mah. Rara baru kali ini pergi berdua sama laki-laki. Mama bisa ikut gak?"
Mia : "Sayang, abis libur semester ini, mama kan ikut ujian skripsi. Belum lagi papamu ribut terus masalah pernikahan yang belum selesai persiapannya. Tadi Arnold juga sempat ragu, tapi akhirnya dia mau. Sekarang Rara gimana?"
Rara : "Kak Arnold udah pulang, mah?"
Mia : "Tadi masih ngobrol masalah proyek baru sama papamu dibawah. Kalau Rara mau, lusa kalian bisa berangkat. Arnold sudah janji sama papamu akan menjagamu dengan baik."
Rara : "Mah, papa ngijinin gak ya kalau Rara pacaran sama Arnold?"
Mia menatap Rara sambil tersenyum, wajah Rara merona ketika mengatakan itu.
Mia : "Kalau itu, tanya papa ya. Rara harus berani bilang tentang perasaan Rara sendiri. Biar papa bisa jagain dan kasi Rara arahan. Papa gak galak kok, papa sudah cukup mengerti kalau putrinya ini sudah semakin dewasa dan suatu saat nanti akan pergi dari rumah bersama suaminya."
Rara memeluk Mia lagi, hatinya lebih tenang sekarang. Setidaknya papanya memberinya kesempatan untuk bisa membantu kesembuhan Arnold, laki-laki yang jadi cinta pertamanya.
-------
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan sarannya ya para reader.
Sama tolong vote poin untuk karya author yang ini ya. Caranya cari detail dan klik vote.
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
-------
__ADS_1