Duren Manis

Duren Manis
Sepupu gila


__ADS_3

Arnold terbangun ketika alarm di ponselnya berbunyi, ia menggapai nakas dan mematikan ponselnya. Ia meraba kesamping mencari keberadaan Rara tapi tidak menemukan Rara disana.


Seseorang mengetuk pintu kamarnya, Arnold memakai celana dan kaosnya sebelum membuka pintu. Wajah Agnes muncul dari balik pintu, ia memaksa masuk sambil membawa nampan berisi sarapan lengkap dengan bunga mawar merah.


Agnes : "Kak, aku bawain sarapan. Ayo makan bareng."


Saat itu Rara baru keluar dari kamar mandi, tubuhnya berbalut bathrobe dengan rambut basah yang ia gosok dengan handuk kecil.


Rara menatap Agnes dan sarapan lengkap yang ia bawa. Arnold hampir meneteskan liurnya karena ternganga melihat penampilan hot Rara.


Rara : "Pagi, Agnes. Wah, baik banget kamu nganterin sarapan kesini."


Agnes : "Ini bukan buat kamu. Ini buat aku sama kak Arnold."


Rara : "Waduh, kayaknya Arnold gak mau sarapan sama kamu dech. Iya kan, sayang."


Rara mendekati Arnold, berjalan dengan sangat sensual dan menempelkan tubuhnya pada tubuh Arnold.


Agnes : "Dasar jalang!"


Arnold : "Apa kau bilang?!"


Rara : "Kamu lucu ya. Sebutan jalang itu untuk perempuan penggoda laki orang. Disini statusku jelas istri sah Arnold. Jadi kita sama-sama tahu siapa yang jalang disini."


Agnes : "Kau...!!!"


Agnes berjalan cepat keluar dari kamar itu dan membanting pintu menutup. Rara menarik nafas lega, ia geli sendiri mengingat bagaimana ia menggoda Arnold tadi.


Arnold menatap Rara sambil menggerayangi tubuhnya. Rara ingin menghindar tapi Arnold terus memepetnya sampai ia terduduk di atas meja.


Rara : "Maass... Aku mau pakai baju dulu."


Arnold : "Kau harus tanggung jawab karena menggodaku barusan."


Rara : "Mas kan tahu aku gini karena siapa dan aku dipanggil jalang."


Rara mengerucutkan bibirnya, ia turun dari atas meja dan berjalan mendekati kopernya. Arnold mengelus rambut Rara yang masih sedikit basah.


Arnold : "Agnes itu sepupuku, sejak kecil dia sudah ditinggal orang tuanya dan nenek yang mengasuhnya. Tapi nenek kelewat memanjakannya, jadinya sikap dan perilakunya sedikit temperamen."


Rara : "Dia terlihat sangat menyukaimu, mas."


Arnold : "Karena aku saudara yang mau dekat dengannya. Membantunya saat ia terpuruk kehilangan orang tua.


Tapi saat aku terpuruk, dia malah menghinaku dan pergi gitu aja. Tapi papa dan mama gak tahu masalah ini, kalau mereka tahu bisa-bisa Agnes gak boleh masuk rumah ini lagi."


Rara : "Dia menghinamu? Maksud mas, tentang itu?"


Arnold : "Iya, makanya dia gak percaya waktu aku bilang uda nikah."


Rara : "Kalau dia tahu kemampuan mas sekarang, pasti nyesel."

__ADS_1


Arnold : "Dia gak bakalan tahu, apa kamu lupa aku cuma bisa bangun sama kamu."


Rara : "Bukannya mas uda sembuh?"


Arnold : "Wajahku uda, tapi bagian situ, cuma sama kamu bisanya."


Rara : "Bisa gitu ya...?" Rara memegang pipinya, ia duduk di lantai membuat bathrobenya terbuka sedikit.


Arnold yang melihat itu, jadi iseng. Ia menarik tali bathrobe Rara yang langsung mencubit tangannya.


Arnold : "Pelit banget sich."


Rara : "Mas, ini uda siang. Tuch liat Agnes uda buatin sarapan, mama pasti uda ada di dapur. Masa aku masi di kamar ampe siang."


Arnold : "Mama gak pa-pa, mama uda ngerti kita baru nikah. Perlu banyak waktu berduaan."


Rara : "Iya, tapi akunya malu, mas. Uda sana mandi dulu."


Arnold : "Tunggu ya. Kita turun sama-sama."


Rara : "Emang mas takut turun sendiri?"


Arnold : "Ntar kalo Agnes masuk waktu aku mandi, gimana?"


Rara : "Emang dia berani?"


Arnold : "Kamu mau tahu seberapa nekatnya dia, coba aja. Sekarang kamu pakai baju trus pura-pura pergi ke dapur. Tunggu di balik korden di ruang TV itu sebentar. Sepuluh menit kurang, balik dah kesini lagi."


Rara melakukan apa yang dikatakan Arnold, sementara Arnold pergi mandi. Ia bersembunyi di balik korden dan melihat Agnes mengendap-endap menuju kamarnya. Rara menunggu sebentar sebelum berjalan perlahan kembali ke kamarnya.


Arnold : "Lepas...!"


Arnold mendorong Agnes agak keras sampai ia terjerembab, lututnya membentur lantai hingga terluka.


Agnes : "Aduh, sakit..!!" Arnold tidak peduli, ia berjalan cepat menghampiri Rara.


Arnold : "Aku sudah bilang kan."


Rara : "Sakit jiwa..." Rara menatap malas perempuan gatel di hadapannya.


Agnes : "Kak Arnold kok gitu sich, tadi kan kakak yang minta aku kesini."


Rara : "Kapan suamiku minta kamu datang ke kamar kami? Jangan halu dech."


Agnes : "Kakak WA aku..."


Arnold : "Nomor kamu aja aku gak tahu, gimana bisa WA. Cepat keluar!"


Agnes : "Aku gak bisa jalan... bantuin..."


Arnold menekan intercom di samping pintu kamarnya yang langsung terhubung dengan pengurus rumah.

__ADS_1


Arnold : "Pak Ujang, tolong ke kamar saya dan antar Agnes pulang."


Pak Wahyu : "Baik, den."


Rara dan Arnold masih berdiri berdampingan di dekat pintu yang terbuka, ketika Pak Ujang datang dan langsung membopong Agnes keluar dari kamar. Air mata membasahi pipi Agnes yang kesakitan.


Rara sebenarnya tidak tega melihat hal itu, tapi tindakan Agnes memang sudah kelewatan dan bisa menimbulkan kesalahpahaman dalam rumah tangga mereka.


Arnold : "Kau lihat sendiri kan? Sepupuku itu tidak waras. Aku juga gak ngerti kenapa dia bisa begitu."


Rara : "Sepertinya mas harus cerita sama papa dan mama mengenai perilaku Agnes ini. Terus terang aku jadi gak nyaman berada disini. Gak tenang. Apalagi dia sampai terluka tadi. Entah apa yang akan dikatakannya pada papa dan mama nanti."


Arnold : "Ayo, kita turun. Kita lihat sandiwara apa lagi yang dimainkan Agnes."


Rara : "Ayo cepat, mas."


Mereka berjalan beriringan menuruni tangga dan melihat Agnes sedang diobati mama Wienda. Agnes bersikap manja dan merajuk ketakutan ketika melihat Rara mendekat bersama Arnold.


Agnes : "Tante, kak Rara tuch yang dorong-dorong Agnes. Katanya Rara gak boleh dekat-dekat kak Arnold."


Rara berpandangan dengan Arnold, ia merasa kasihan dengan kelakuan Agnes.


Wienda : "Apa benar gitu, Ra?"


Arnold : "Bukan Rara tapi aku yang dorong dia sampai jatuh, ma. Siapa suruh masuk kamarku waktu aku mandi dan main peluk seenaknya. Gimana kalau Rara salah paham?"


Wienda : "Waduh, Agnes gak boleh begitu ya. Arnold sudah punya istri sekarang, gak bisa dipeluk sembarangan, apalagi sampai Agnes masuk ke kamar Arnold. Gak sopan."


Agnes : "Tante kok belain Rara sich!"


Wienda : "Bukan belain, tapi emang gitu kenyataannya. Anak gadis baik-baik jangan nakal ya."


Rara tersenyum geli melihat wajah Agnes yang keunguan karena menahan marah. Tiba-tiba Agnes bangun dari duduknya dan berjalan keluar rumah. Ia lupa kalau kakinya terluka.


Arnold : "Cepat sekali sembuhnya. Sana pergi yang jauh. Ganggu..."


Wienda : "Jangan gitu Arnold. Gak baik."


Arnold : "Biar, mah. Dia sudah keterlaluan. Baru Arnold sembuh, dia balik lagi. Arnold gak perlu orang kayak gitu."


Arnold terpaksa menceritakan apa yang dilakukan Agnes setelah dirinya kecelakaan. Agnes menghinanya dengan kata-kata kasar yang menyakitkan, seolah dirinya tidak akan sembuh.


Wienda sampai memegangi dadanya karena dia tahu Arnold tidak bohong. Sejak kecil Arnold tidak bisa berbohong, kalaupun ia mencoba berbohong, telinganya akan memerah.


------


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan sarannya ya para reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya...

__ADS_1


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.


--------


__ADS_2