Duren Manis

Duren Manis
Bukan Pertama


__ADS_3

Alex, Mia dan si kembar sampai di rumah mereka. Alex meminta si kembar untuk istirahat karena malam sudah larut.


Sementara Alex menggandeng tangan Mia ke kamar pengantin mereka. Mia menatap sekeliling kamar yang dominan berwarna merah dan harum mawar tercium dari sudut kamar.


Mia duduk di pinggir ranjang, ia ingin segera merebahkan tubuhnya diatas ranjang itu dan tidur.


Tubuhnya terasa pegal dan lelah, tapi apa bisa? Pria yang berdiri dihadapannya ini sedang menatapnya sambil senyum-senyum mesum.


Alex : "Sayang, aku bantu lepas bajumu ya."


Mia : "Tuch kan..."


Alex : "Apanya? Kamu lagi mikirin apa?"


Mia : "Mas gak sabaran ya. Mas gak capek apa?"


Alex : "Emang kamu capek? Tenang aja, kali ini gak lama."


Mia tersenyum sambil geleng-geleng kepala, resiko ia menikah dengan pria seperti Alex. Tangannya sudah mulai pegal, mengambil jepit rambut yang sangat banyak dirambutnya.


Alex membantu Mia melepaskan semuanya sampai Mia benar-benar polos. Alex tersenyum manis, ia menunduk ingin mencium Mia.


Mia : "Mas, aku mandi dulu ya."


Alex : "Gak mau ntar aja abis olahraga."


Mia : "Aku keringatan gini, emang gak bau, mas."


Alex : "Kamu tetep wangi, kok. Sini."


Lagi-lagi Alex tidak mau ditolak, ia menekan Mia untuk melampiaskan hasratnya. Meskipun lelah, Mia bisa mengimbangi kekuatan fisik Alex.


Sampai mereka benar-benar terkapar, meskipun bukan yang pertama, Alex selalu bisa membuat Mia melayang karena permainannya.


------


Jam 5 pagi, Mia terbangun dari tidurnya. Tubuhnya terasa lengket dan tidak nyaman. Ia ingin ke toilet dan juga mandi.


Diliriknya Alex yang tertidur lelap, Mia iseng ingin mengerjai Alex. Ia turun dari atas ranjang dan mengambil lipstik dari dalam tasnya.


Pelan-pelan ia mulai menggambar wajah Alex dengan lipstik merah itu. Bibirnya, pipinya, sampai kelopak mata Alex mulai berubah warna.


Mia terkikik geli, ia berhenti bergerak saat Alex menggeliat dan membalik tubuhnya. Cepat-cepat Mia berlari masuk ke kamar mandi. Jangan sampai Alex memergoki keisengannya.


Setengah jam kemudian, Mia keluar dari kamar mandi dengan tubuh berbalut handuk. Rambutnya yang basah tergerai di punggungnya, ia mendekati lemari dan memilih pakaian resmi untuk berangkat ke kampus.


Rencananya ia akan ke kampus dulu pagi itu, sebelum membantu membereskan rumah yang sedikit berantakan karena persiapan pernikahan.

__ADS_1


Saat Mia sedang memakai pakaiannya, Alex yang terbangun menatapnya dari atas tempat tidur. Ia menikmati pemandangan indah di depannya, Mia yang baru selesai memakai pakaian dalam dan kemeja saja, mengambil handuk untuk mengeringkan rambutnya.


Ia berjalan ke meja rias, mulai menghidupkan hair dryer. Suara hair dryer membuat Mia tidak menyadari langkah kaki Alex yang berjalan mendekatinya.


Alex mengkerutkan dahinya ketika tidak sengaja melihat wajahnya di cermin, Mia sedang membungkuk mengeringkan rambutnya.


Tiba-tiba Mia dikejutkan saat Alex memeluknya dari belakang.


Alex : "Sayang, pagi-pagi gini kamu uda nakal ya."


Mia : "Maasss...!!! Aku kaget tau. Nakal gimana?"


Alex : "Kamu gak ngrasa berbuat nakal?"


Mia mengintip dari balik rambutnya, bayangan Alex dengan wajah penuh lipstik membuatnya geli.


Mia : "Hahahaha.... aduch... muka mas lucu banget."


Alex yang kesal karena diketawain, spontan membopong tubuh Mia dan menjatuhkannya di atas ranjang. Untung saja Mia sudah meletakkan hair dryernya diatas meja.


Mia : "Aduch, mas kasar banget sich."


Alex : "Kamu tuch ya, uda nakal, bandel lagi. Kamu mesti dihukum."


Mia : "Mas mau ngapain? Mandi sana!"


Mia mencoba berguling ke pinggir ranjang, tapi Alex dengan cepat mengukungnya. Alex tersenyum dengan wajah penuh lipstik dan mulai mengusap wajahnya ke tubuh Mia.


Tapi Alex tidak peduli, ia terus melakukannya sampai beberapa bagian tubuh Mia terdapat goresan lipstik.


Alex : "Siapa suruh nakal..."


Wajah Mia memerah, hasratnya bangkit karena perlakuan Alex barusan. Ia ingin dituntaskan tapi takut Alex akan kebablasan.


Alex : "Kenapa wajahmu merah?"


Alex tersenyum seolah mengerti keinginan Mia dan mereka melakukannya lagi sampai ketiduran dan terlambat bangun.


------


Sementara itu di apartment Arnold, di waktu yang sama. Arnold sedang duduk di atas ranjangnya. Ia barusan terbangun lantaran alarm jam yang dia pasang untuk bangun pagi kemarin belum ia matikan.


Diliriknya Rara yang masih tertidur dengan rambut berantakan. Arnold tersenyum, ia merapikan rambut Rara sambil merapatkan selimut menutupi tubuh istrinya itu.


Arnold kembali berbaring, semalam mereka melewati malam yang cukup melelahkan. Saat Arnold hampir berhasil menuntaskan hasratnya, Rara mulai menangis kesakitan.


Arnold langsung menghentikan aktifitasnya dan memeluk Rara, ia memijat kepalanya yang sakit sambil berusaha menenangkan Rara.

__ADS_1


Setelah Rara tenang, satu-satunya jalan yang bisa ia lakukan adalah menuntaskannya di kamar mandi. Arnold menahan rasa yang berkecamuk di dadanya.


Bahkan setelah mendapat restu dari Alex, ia belum bisa melakukannya terhadap Rara. Arnold memejamkan matanya lagi, ia hanya ingin tidur sebentar agar tubuhnya segar kembali.


Rara yang terbangun melihat sekeliling kamar itu. Ia menyadari kalau sedang berada di apartment Arnold.


Wajah Rara menghangat mengingat kejadian semalam. Ia malu sekali saat menangis seperti anak kecil yang kesakitan. Arnold memang tidak memaksanya, tapi entah kenapa ia tidak kuat menahan sakitnya.


Rara mendekati Arnold, ia berbaring di sampingnya, sangat dekat sampai-sampai separuh tubuhnya menghimpit Arnold.


Arnold membuka matanya, ia melihat Rara sedang menatapnya.


Arnold : "Kamu sudah bangun, masi sakit?"


Rara : "Mas... maaf semalam..."


Arnold : "Sssttt... aku yang minta maaf, seharusnya aku bisa lebih sabar. Ayo, bangun. Kita pulang ke rumahmu."


Rara : "Mas, mau coba lagi gak?"


Arnold : "Jangan maksain diri, Ra. Aku beneran gak pa-pa."


Rara : "Tapi aku mau mencobanya lagi, mas."


Rara dengan berani naik ke atas tubuh Arnold. Ia menelusuri tubuh Arnold, menyentuh daerah sensitifnya.


Arnold hanya diam kali ini, ia ingin lihat sampai mana Rara berusaha menggodanya.


Rara menjatuhkan tubuhnya yang lemas disamping Arnold. Ia menutup wajahnya yang memerah menahan malu. Arnold memeluknya erat, mencoba menenangkannya.


Arnold : "Makasih, sayang."


Arnold mengusap keringat yang membasahi kening Rara dan mengecup keningnya dengan lembut. Rara baru saja menyerahkan mahkotanya tanpa kesakitan seperti sebelumnya.


Dan Arnold menahan dirinya untuk tidak menghamili Rara, ia ingin Rara lulus kuliah dulu. Baru mereka akan memikirkan tentang punya anak.


Lagipula, Arnold ingin punya lebih banyak waktu berduaan dengan Rara dulu tanpa memikirkan masalah kehamilan atau anak. Mereka masih punya banyak waktu dan masih muda juga.


Mereka melanjutkan tidur lagi sampai matahari bersinar terang memasuki kamar apartment itu.


------


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan sarannya ya para reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya...

__ADS_1


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.


--------


__ADS_2