Duren Manis

Duren Manis
Cantik untuk suami


__ADS_3

Malam yang sama di


rumah Alex, tepatnya di kamar Mia dan Alex. Mia sedang menyusui bayi Reva


ketika Alex keluar dari kamar mandi.


Mia : “Mas mandi


lagi?”


Alex : “Iya, badan


mas gerah banget. Kamu sich.”


Mia : “Idih,


nyalahin, mas yang nakal, kok aku yang kena.”


Alex duduk di sofa,


menatap Mia yang sedang menatap sayang pada putranya. Bayi di gendongannya


tampak tersenyum cerah sambil tetap menyedot ASI mamanya.


Mia : “Kenapa mas


ngliatin aku gitu?”


Alex : “Gak, mas


cuma penasaran. Kenapa kamu gak pernah pakai daster?”


Mia : “Mas masih


kepikiran pelakor itu?”


Alex : “Gak juga,


mas kan penasaran. Jawab dong.”


Mia : “Itu karena


aku gak mau mas berpaling.”


Alex : “Maksudmu?”


Mia : “Aku lebih


suka pake lingerie, rasanya lebih cantik aja. Nyaman juga dipakai.”


Alex : “Meskipun


itu beresiko aku serang terus?”


Mia : “Benteng kali


di serang. Hihi. Apa salahnya sich aku tampil cantik dan seksi di depan kamu,


mas. Kalau aku pake lingerie tuch ya, rasanya cantik dan seksi meningkat 100%.”


Alex : “Oooo...


Emang cantik sich.”


Mia meletakkan bayi


kembarnya kembali ke boks bayi. Bayi kembar itu tertidur lelap setelah


kekenyangan.


Mia : “Lagian


mamaku pernah bilang, jadi istri itu kalau bisa harus selalu tampil cantik di


depan suami. Mau pake daster, lingerie, bahkan gak pake apa-apa sekalipun.”


Alex : “Aku suka


bagian yang terakhir.”


Mia : “Itu mah, mas


aja yang mesum.”


Alex : “Hehe... itu


bakat alami pria.”


Mereka berbaring


diatas ranjang, Alex menautkan jemarinya dengan jemari Mia. Mia berbaring menyamping,


menatap Alex.


Mia : “Mas...”


Alex : “Hmm...”


Mia : “Kita udah


kenal berapa lama?”


Alex : “Berapa ya?


Hmm... Dua tahun lebih? Kenapa?”


Mia : “Trus kita


nikah berapa lama?”


Alex : “Hampir dua


tahun. Ada apa sich?”


Mia : “Mas inget


gak tanggal berapa kita nikah?”


Alex : “18 Oktober?


Iya, kan?”


Mia : “Iya, kali.”


Mia kembali


berbaring menghadap ke atas. Alex melirik wajah Mia yang cemberut. Ia bangun


dari atas ranjang dan membuka lemari pakaiannya.


Mia : “Mas mau


kemana?”


Alex : “Hmm? Nggak,


cuma mau ganti celana. Dingin.”


Mia diam lagi, ia


kembali melihat plafon kamar. Kali ini Mia berbaring menyamping menghadap ke


boks bayinya. Bayinya masih tampak anteng tertidur. Mia merasakan ranjang


sedikit bergerak, Alex sudah berbaring di sampingnya lagi.


Alex : “Mia, kamu


udah tidur?”


Mia : “Belum, mas.”


Alex : “Hadap sini


dong.”


Mia berbalik dan


menatap Alex yang tersenyum menatapnya, dirinya ikut tersenyum melihat wajah

__ADS_1


tampan Alex.”


Mia : “Ganteng


banget sich.”


Alex : “Makasih...”


Tiba-tiba Alex


menyodorkan sesuatu, Mia menerima sebuah kotak kecil di tangannya.


Mia : “Apa ini,


mas?”


Alex : “Buka aja. Aku


pernah denger ada yang minta dibeliin berlian yang segede punya Riri.”


Mia : “Mas beli


berlian! Ups..!”


Mia melirik kedua


bayinya yang tetap tenang setelah teriakannya. Tangannya mulai gemetar ketika


hampir membuka kotak itu.


Mia : “Tapi aku


cuma bercanda, mas.”


Alex : “Kalo mas


beliin, gak nolak kan?”


Mia : “Gak sich.


Tapi beneran nich, mas? Kan mahal.”


Alex : “Mas tanya


sekarang, cincin berlian sama si kembar, mahalan mana?”


Mia : “Si kembar


lah. Iih... malah bercanda sich.”


Alex : “Ya udah,


berarti gak mahal.”


Mia jadi ragu-ragu


membuka kotak itu,


Alex : “Kenapa gak


dibuka kotaknya?”


Mia : “Ini seriusan


berlian?”


Alex : “Buka aja


dech.”


Mia membuka kotak


itu dengan cepat dan memang isinya cincin berlian. Mata Mia berkaca-kaca


melihat cincin yang tampak berkilau terkena cahaya lampu kamar.


Mia : “Mas... ini


beneran...”


Alex : “Selamat


Mia : “Kok yang


pertama? Yang kedua, mas. Tapi kan masih sebulan lagi.”


Alex : “Yang


pertama kan mas belum ngasi hadiah, kita cuma dinner bareng berdua aja.”


Mia : “Makasi ya,


mas. Ini bagus banget.”


Alex : “Cuma


makasih? Ciumnya mana?”


Mia : “Gitu aja


mintanya.”


Alex : “Habisnya


kalo gak minta, kamu gak pernah ngasi.”


Mia : “Kapan aku


gak ngasih, hah?!”


Alex : “Hehe...


Galak amat sich, tambah cantik loh.”


Mia : “Mas bisa


aja. Pakein dong.”


Alex mengambil


cincin berlian itu dan memakaikannya ke jari Mia. Mia menatap cincin di


tangannya, ia berbaring dan menjadikan lengan Alex sebagai bantalnya.


Mia : “Bagus


banget, mas. Bersinar.”


Alex : “Jangan


diliatin terus.”


Mia : “Kenapa,


mas?”


Alex : “Ntar kamu


lupa sama aku.”


Mia : “Idih, mana


bisa nglupain mas.”


Mia memeluk Alex


dengan erat dan mencium pipi, kening, dan terakhir bibir Alex. Ciuman yang


memprovokasi Alex untuk menuntut sentuhan yang lebih jauh dan dalam.


Mia : “Mas, masih


mau lagi?”


Alex : “Kamu capek


ya... Besok aja ya. Tidur, sayang.”


Mia : “Tumben...

__ADS_1


Biasanya langsung menyerang tanpa ampun.”


Alex : “Kalau kamu


aku serang terus ntar tumbang gimana? Meskipun pengen banget...”


Mia : “Mas masih


kontak sama konsultan itu? Siapa namanya?”


Alex : “Karen.


Masih kok.”


Mia : “Dia masih


ngirim pose aneh-aneh?”


Alex : “Nggak sich.


Kadang-kadang.”


Mia : “Mana HP?”


Alex menyerahkan


ponselnya pada Mia. Saat Mia berusaha membuka kunci ponsel itu, layar tiba-tiba


langsung menyala sendiri. Ia tidak ambil pusing dan mencari aplikasi chat tapi


terkunci password.


Mia : “Kenapa di


kunci, mas?”


Alex : “Coba hadap


kamera trus senyum.”


Mia melakukan apa


yang disuruh Alex meskipun ia bingung apa maksudnya. Kunci aplikasi chat itu


langsung terbuka.


Mia : “Kok bisa?


Gimana caranya?”


Alex : “HP-ku sudah


kuatur biar kuncinya langsung terbuka melalui scan wajah. Wajahmu dan wajahku.


Coba kunci lagi.”


Mia melakukannya


dan layar ponsel Alex kembali terbuka.


Mia : “Oh, gitu


caranya.”


Mia lupa mencari


chat Alex dengan Karen. Ia malah asyik berselfie ria dengan menunjukkan cincin


berlian di tangannya. Melihat kelakuan istrinya, Alex geleng-geleng kepala


sendiri. Terbersit ide nakal di kepalanya.


Alex : “Yank, foto


sambil ciuman yuk.”


Mia : “Gimana


caranya?”


Alex : “Gini...”


Alex mengangkat


tinggi ponselnya dan mengarahkan kamera ke bagian wajah mereka. Lalu Alex mulai


mencium Mia dan menekan tombol kamera beberapa kali. Mia mendorong Alex dan


mengambil ponselnya. Ia melihat foto-foto mereka yang kebanyakan blur karena


Alex terus bergerak.


Mia : “Gak ada yang


bagus.”


Alex : “Kalo gak


ada yang bagus, ulang lagi.”


Mereka kembali


mengulang tapi hasilnya masih aja gak bagus. Lama-lama Mia merasa kalau Alex


hanya mengerjainya saja.


Mia : “Mas modus


ih.”


Alex : “Loh, kok


aku dibilang modus?”


Mia : “Dari tadi


uda foto berapa kali masa hasilnya gak ada yang bagus. Coba sini aku yang


foto.”


Mia merebut ponsel


dari tangan Alex dan mencium Alex sambil mengambil foto mereka. Saat ia melihat


hasilnya, Mia tersenyum senang.


Mia : “Tuch, kan


bagus hasilnya. Mas...”


Grok! Mia spontan


menoleh dan melihat Alex sudah terlelap lengkap dengan dengkuran halusnya. Mia


tersenyum lagi, ia membelai rambut Alex dan menemukan uban lagi disana.


Mia : “Selamat


tidur, om.”


🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca


novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk


Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya


para reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak


ya..


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.


🌲🌲🌲🌲🌲

__ADS_1


__ADS_2