
Malam yang sama di
rumah Alex, tepatnya di kamar Mia dan Alex. Mia sedang menyusui bayi Reva
ketika Alex keluar dari kamar mandi.
Mia : “Mas mandi
lagi?”
Alex : “Iya, badan
mas gerah banget. Kamu sich.”
Mia : “Idih,
nyalahin, mas yang nakal, kok aku yang kena.”
Alex duduk di sofa,
menatap Mia yang sedang menatap sayang pada putranya. Bayi di gendongannya
tampak tersenyum cerah sambil tetap menyedot ASI mamanya.
Mia : “Kenapa mas
ngliatin aku gitu?”
Alex : “Gak, mas
cuma penasaran. Kenapa kamu gak pernah pakai daster?”
Mia : “Mas masih
kepikiran pelakor itu?”
Alex : “Gak juga,
mas kan penasaran. Jawab dong.”
Mia : “Itu karena
aku gak mau mas berpaling.”
Alex : “Maksudmu?”
Mia : “Aku lebih
suka pake lingerie, rasanya lebih cantik aja. Nyaman juga dipakai.”
Alex : “Meskipun
itu beresiko aku serang terus?”
Mia : “Benteng kali
di serang. Hihi. Apa salahnya sich aku tampil cantik dan seksi di depan kamu,
mas. Kalau aku pake lingerie tuch ya, rasanya cantik dan seksi meningkat 100%.”
Alex : “Oooo...
Emang cantik sich.”
Mia meletakkan bayi
kembarnya kembali ke boks bayi. Bayi kembar itu tertidur lelap setelah
kekenyangan.
Mia : “Lagian
mamaku pernah bilang, jadi istri itu kalau bisa harus selalu tampil cantik di
depan suami. Mau pake daster, lingerie, bahkan gak pake apa-apa sekalipun.”
Alex : “Aku suka
bagian yang terakhir.”
Mia : “Itu mah, mas
aja yang mesum.”
Alex : “Hehe... itu
bakat alami pria.”
Mereka berbaring
diatas ranjang, Alex menautkan jemarinya dengan jemari Mia. Mia berbaring menyamping,
menatap Alex.
Mia : “Mas...”
Alex : “Hmm...”
Mia : “Kita udah
kenal berapa lama?”
Alex : “Berapa ya?
Hmm... Dua tahun lebih? Kenapa?”
Mia : “Trus kita
nikah berapa lama?”
Alex : “Hampir dua
tahun. Ada apa sich?”
Mia : “Mas inget
gak tanggal berapa kita nikah?”
Alex : “18 Oktober?
Iya, kan?”
Mia : “Iya, kali.”
Mia kembali
berbaring menghadap ke atas. Alex melirik wajah Mia yang cemberut. Ia bangun
dari atas ranjang dan membuka lemari pakaiannya.
Mia : “Mas mau
kemana?”
Alex : “Hmm? Nggak,
cuma mau ganti celana. Dingin.”
Mia diam lagi, ia
kembali melihat plafon kamar. Kali ini Mia berbaring menyamping menghadap ke
boks bayinya. Bayinya masih tampak anteng tertidur. Mia merasakan ranjang
sedikit bergerak, Alex sudah berbaring di sampingnya lagi.
Alex : “Mia, kamu
udah tidur?”
Mia : “Belum, mas.”
Alex : “Hadap sini
dong.”
Mia berbalik dan
menatap Alex yang tersenyum menatapnya, dirinya ikut tersenyum melihat wajah
__ADS_1
tampan Alex.”
Mia : “Ganteng
banget sich.”
Alex : “Makasih...”
Tiba-tiba Alex
menyodorkan sesuatu, Mia menerima sebuah kotak kecil di tangannya.
Mia : “Apa ini,
mas?”
Alex : “Buka aja. Aku
pernah denger ada yang minta dibeliin berlian yang segede punya Riri.”
Mia : “Mas beli
berlian! Ups..!”
Mia melirik kedua
bayinya yang tetap tenang setelah teriakannya. Tangannya mulai gemetar ketika
hampir membuka kotak itu.
Mia : “Tapi aku
cuma bercanda, mas.”
Alex : “Kalo mas
beliin, gak nolak kan?”
Mia : “Gak sich.
Tapi beneran nich, mas? Kan mahal.”
Alex : “Mas tanya
sekarang, cincin berlian sama si kembar, mahalan mana?”
Mia : “Si kembar
lah. Iih... malah bercanda sich.”
Alex : “Ya udah,
berarti gak mahal.”
Mia jadi ragu-ragu
membuka kotak itu,
Alex : “Kenapa gak
dibuka kotaknya?”
Mia : “Ini seriusan
berlian?”
Alex : “Buka aja
dech.”
Mia membuka kotak
itu dengan cepat dan memang isinya cincin berlian. Mata Mia berkaca-kaca
melihat cincin yang tampak berkilau terkena cahaya lampu kamar.
Mia : “Mas... ini
beneran...”
Alex : “Selamat
Mia : “Kok yang
pertama? Yang kedua, mas. Tapi kan masih sebulan lagi.”
Alex : “Yang
pertama kan mas belum ngasi hadiah, kita cuma dinner bareng berdua aja.”
Mia : “Makasi ya,
mas. Ini bagus banget.”
Alex : “Cuma
makasih? Ciumnya mana?”
Mia : “Gitu aja
mintanya.”
Alex : “Habisnya
kalo gak minta, kamu gak pernah ngasi.”
Mia : “Kapan aku
gak ngasih, hah?!”
Alex : “Hehe...
Galak amat sich, tambah cantik loh.”
Mia : “Mas bisa
aja. Pakein dong.”
Alex mengambil
cincin berlian itu dan memakaikannya ke jari Mia. Mia menatap cincin di
tangannya, ia berbaring dan menjadikan lengan Alex sebagai bantalnya.
Mia : “Bagus
banget, mas. Bersinar.”
Alex : “Jangan
diliatin terus.”
Mia : “Kenapa,
mas?”
Alex : “Ntar kamu
lupa sama aku.”
Mia : “Idih, mana
bisa nglupain mas.”
Mia memeluk Alex
dengan erat dan mencium pipi, kening, dan terakhir bibir Alex. Ciuman yang
memprovokasi Alex untuk menuntut sentuhan yang lebih jauh dan dalam.
Mia : “Mas, masih
mau lagi?”
Alex : “Kamu capek
ya... Besok aja ya. Tidur, sayang.”
Mia : “Tumben...
__ADS_1
Biasanya langsung menyerang tanpa ampun.”
Alex : “Kalau kamu
aku serang terus ntar tumbang gimana? Meskipun pengen banget...”
Mia : “Mas masih
kontak sama konsultan itu? Siapa namanya?”
Alex : “Karen.
Masih kok.”
Mia : “Dia masih
ngirim pose aneh-aneh?”
Alex : “Nggak sich.
Kadang-kadang.”
Mia : “Mana HP?”
Alex menyerahkan
ponselnya pada Mia. Saat Mia berusaha membuka kunci ponsel itu, layar tiba-tiba
langsung menyala sendiri. Ia tidak ambil pusing dan mencari aplikasi chat tapi
terkunci password.
Mia : “Kenapa di
kunci, mas?”
Alex : “Coba hadap
kamera trus senyum.”
Mia melakukan apa
yang disuruh Alex meskipun ia bingung apa maksudnya. Kunci aplikasi chat itu
langsung terbuka.
Mia : “Kok bisa?
Gimana caranya?”
Alex : “HP-ku sudah
kuatur biar kuncinya langsung terbuka melalui scan wajah. Wajahmu dan wajahku.
Coba kunci lagi.”
Mia melakukannya
dan layar ponsel Alex kembali terbuka.
Mia : “Oh, gitu
caranya.”
Mia lupa mencari
chat Alex dengan Karen. Ia malah asyik berselfie ria dengan menunjukkan cincin
berlian di tangannya. Melihat kelakuan istrinya, Alex geleng-geleng kepala
sendiri. Terbersit ide nakal di kepalanya.
Alex : “Yank, foto
sambil ciuman yuk.”
Mia : “Gimana
caranya?”
Alex : “Gini...”
Alex mengangkat
tinggi ponselnya dan mengarahkan kamera ke bagian wajah mereka. Lalu Alex mulai
mencium Mia dan menekan tombol kamera beberapa kali. Mia mendorong Alex dan
mengambil ponselnya. Ia melihat foto-foto mereka yang kebanyakan blur karena
Alex terus bergerak.
Mia : “Gak ada yang
bagus.”
Alex : “Kalo gak
ada yang bagus, ulang lagi.”
Mereka kembali
mengulang tapi hasilnya masih aja gak bagus. Lama-lama Mia merasa kalau Alex
hanya mengerjainya saja.
Mia : “Mas modus
ih.”
Alex : “Loh, kok
aku dibilang modus?”
Mia : “Dari tadi
uda foto berapa kali masa hasilnya gak ada yang bagus. Coba sini aku yang
foto.”
Mia merebut ponsel
dari tangan Alex dan mencium Alex sambil mengambil foto mereka. Saat ia melihat
hasilnya, Mia tersenyum senang.
Mia : “Tuch, kan
bagus hasilnya. Mas...”
Grok! Mia spontan
menoleh dan melihat Alex sudah terlelap lengkap dengan dengkuran halusnya. Mia
tersenyum lagi, ia membelai rambut Alex dan menemukan uban lagi disana.
Mia : “Selamat
tidur, om.”
🌻🌻🌻🌻🌻
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca
novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk
Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya
para reader.
Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak
ya..
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
🌲🌲🌲🌲🌲
__ADS_1