Duren Manis

Duren Manis
Senyuman Arnold


__ADS_3

Rara dan Mia keluar dari gedung aula, mereka berjalan menuju halaman kampus yang luas dan dipenuhi wisudawan yang sedang berfoto bersama. Arnold mengirimkan pesan pada Rara kalau dia menunggu di bawah pohon cemara dekat pintu keluar aula.


Arnold melirik Rara dari atas sampai bawah, ia juga melihat penampilan Mia yang sama cantiknya.


Rara : "Kak, selamat ya." Rara menyerahkan rangkaian bunga untuk Arnold.


Arnold : "Makasih, Ra."


Mia : "Selamat ya."


Arnold : "Makasih, mama Rara."


Mia tidak keberatan dengan panggilan Arnold, memang kenyataannya dia akan menikah dengan Alex secepatnya dan jadi mama tiri Rara.


Arnold menyodorkan ponselnya pada Rara,


Arnold : "Tolong foto aku sama mama Rara dulu."


Rara menerima ponsel Arnold, sedikit kecewa karena bukan dia yang diminta foto bersama. Mia heran dengan sikap Arnold, bukannya seharusnya Arnold minta foto duluan dengan Rara.


Rara mengarahkan kamera ponsel ke Arnold dan Mia. Mia berdiri agak jauh dari Arnold dan tersenyum pada kamera. Rara memberi aba-aba dan menekan tombol kamera, Rara menurunkan ponsel Arnold. Ia terpana melihat senyuman Arnold, ini pertama kalinya Arnold tersenyum ke arah Rara.


Rara : "Gosh! Ganteng banget!" pekik Rara tanpa bisa menahan rasa senangnya.


Mia jadi mengerti kenapa Arnold meminta Rara mengambil foto mereka duluan. Mia beringsut mendekati Rara dan menukar posisi mereka. Kali ini Mia bisa melihat apa yang terjadi sebenarnya. Senyum Arnold sudah hilang sepenuhnya, Rara berdiri di samping Arnold menjaga jarak mereka.


Tapi Arnold menarik lengan Rara mendekat padanya, pundak Rara bersentuhan dengan lengan Arnold. Arnold menggeser posisinya agak kebelakang Rara dan jadilah pose mereka yang terlihat sangat mesra. Mia beralasan hasilnya masih kurang bagus dan terus meminta mereka berganti pose.


-------


Rara duduk di samping Arnold yang sedang mengendarai mobilnya. Tadi Mia beralasan kalau dia harus menjemput Alex di kantornya karena ia membawa mobil Alex. Seharusnya ia mengantar Rara pulang dulu, tapi Mia meminta Arnold yang mengantar Rara pulang, lagi-lagi karena Alex sedang terburu-buru.


Sesekali Rara menoleh menatap Arnold yang fokus menyetir mobilnya. Arnold tidak tersenyum lagi, padahal ia terlihat ganteng sekali tadi.


Rara : "Kak, aku boleh minta foto-foto yang tadi?"


Arnold : "Ini, pilih saja yang kau mau." Arnold memberikan ponselnya pada Rara setelah membuka kuncinya.


Rara membuka galeri foto Arnold dan menemukan banyak sekali foto mereka yang diambil Mia. Sementara Rara hanya mengambil satu foto saja saat Mia berfoto bersama Arnold. Difoto itu Arnold terlihat sangat tampan, tersenyum manis sekali. Rara meng-scroll foto mereka berdua, hanya Rara yang tersenyum manis dan Arnold sama sekali tidak menampakkan senyumnya lagi di foto yang lain.


Rara mengambil beberapa fotonya bersama Arnold dan juga foto Mia bersama Arnold. Sebenarnya Rara sedikit kesal, kenapa Arnold tidak mau tersenyum saat foto bersamanya. Tapi dengan jarak yang dibuat Mia dalam foto itu, Rara akan sangat mudah meng-cropnya hingga tinggal foto Arnold yang sedang tersenyum saja.


Rara meletakkan ponsel Arnold kembali ke bawah dashboard mobil, tapi ponsel itu tiba-tiba berdering. Dengan cepat Arnold memasang headset bluetooth di telinganya dan mengambil ponsel itu bersamaan dengan Rara yang mengambilnya juga.


Arnold menggenggam tangan Rara dan memintanya menekan tombol terima panggilan.

__ADS_1


Arnold : "Halo, ya ada apa?"


Asisten Arnold : "..."


Arnold : "Harus sekarang? Ok, pesankan aku makanan... Rara mau makan apa?"


Rara : "Eh, apa aja, kak."


Arnold : "Menu biasa buat dua orang. Aku ke kantor sekarang."


Arnold memutuskan panggilan dan kembali fokus menyetir, tapi ia lupa melepaskan tangannya dari tangan Rara. Kebayang kan bagaimana perasaan Rara saat itu, ia terlalu bahagia sampai membiarkan saja tangannya digenggam Arnold.


Arnold : "Ra, aku harus mampir ke kantorku sebentar. Kamu tidak keberatan kan menemaniku. Kita akan makan siang disana."


Rara : "Iya, gak pa-pa, kak."


Meskipun dengan satu tangan, Arnold terlihat sangat terampil mengemudikan mobilnya. Mereka memasuki halaman sebuah kantor yang cukup besar dengan gedung tinggi menjulang dan berhenti di depan lobby. Arnold melihat tangannya menggenggam tangan Rara ketika ia akan memindahkan persneling mobilnya.


Arnold : "Sorry, aku kira ponselku. Ayo, turun."


Rara : "Gak pa-pa, kak. Ayo."


Arnold keluar dari dalam mobil, visualnya yang tinggi dan tampan langsung menarik perhatian kaum hawa yang berseliweran di depan kantornya. Belum lagi Arnold masih memakai jas wisudanya dengan lengkap. Arnold menoleh ke belakang, dan melihat Rara berjalan mendekatinya.


Deg! Jantung Rara berdetak lebih kencang, pasalnya Arnold langsung menggandeng tangan Rara memasuki lobby kantornya. Meninggalkan pandangan cemburu kaum hawa yang mereka lewati.


Lagi-lagi Arnold memberi Rara kejutan dengan mendorong pelan tubuh Rara hingga ke sudut lift dan berdiri di depannya. Arnold memasukkan tangannya ke dalam saku celananya, melirik angka yang terus bergerak naik.


Pintu lift terbuka, Arnold belum ingin beranjak dari depan Rara, ia malah menatap gadis manis itu.


Arnold : "Kalau ditanya, bilang kamu pacarku ya."


Rara : "Apa??!!"


Arnold : "Kenapa? Gak mau?"


Rara : "Ya dech, kak."


Arnold menggenggam tangan Rara dan mereka berjalan keluar dari lift. Rara melihat beberapa orang berdiri di depan sebuah ruangan.


Mereka menatap ke arah kedatangan Arnold. Asisten Arnold menghampirinya dan menyerahkan beberapa map.


Arnold : "Sayang, kamu tunggu aku di ruanganku ya. Dion akan mengantarmu kesana."


Bima : "Tunggu, siapa dia, Arn? Tidak biasanya kau membawa gadis semanis ini."

__ADS_1


Arnold : "Dia pacarku. Cepat masuk, kita selesaikan ini."


Bima : "Masa dia mau jadi pacarmu? Siapa namamu gadis manis?"


Rara : "Rara, om. Dan saya memang pacar mas Arnold."


Arnold : "Sudah dengar, cepat masuk!"


Arnold berjalan memasuki ruang meeting, meninggalkan Rara dan Dion yang menggigil karena menahan tawa.


Rar memandang heran menatap Dion,


Dion : "Ach, maaf. Mari saya antar ke ruangan tuan Arnold."


Rara : "Kenapa anda tertawa? Ada yang lucu?"


Dion menatap Rara, gadis manis ini hanya bertanya tanpa maksud apa-apa.


Dion: "Tadi lucu sekali waktu nona memanggil tuan Bima dengan sebutan om. Sedangkan pada tuan Arnold memanggil mas. Padahal usia mereka sama."


Rara membulatkan matanya,


Rara : "Apa anda bercanda? Wajahnya terlihat sangat tua, cara berpakaiannya juga aneh. Maaf saya tidak sopan."


Dion : "Tidak apa-apa, nona."


Dion membukakan pintu ruang kerja Arnold. Rara berjalan masuk dan melihat sekeliling, ada sofa besar, meja kerja besar, laptop, kursi direktur, lemari yang penuh buku, dan jendela besar yang menarik perhatian Rara.


Dion : "Silakan nona duduk di sini dulu. Saya akan segera kembali menyiapkan makan siang untuk nona."


Rara : "Bisa panggil Rara aja, saya canggung dipanggil nona."


Dion : "Baik, non Rara.


Rara ditinggalkan sendiri di ruangan itu, ia menyusuri lemari buku, membaca satu persatu judul buku disana sambil menunggu Arnold.


-------


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan sarannya ya para reader.


Sama tolong vote poin untuk karya author yang ini ya. Caranya cari detail dan klik vote.


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.

__ADS_1


--------


__ADS_2