
Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 27
“Aunty besok mau ke salon atau perawatan di mansion
aja?” tanya Reynold untuk mengalihkan perhatiannya dari tubuh wangi Renata.
“Emangnya ada rencana gitu? Bukannya kita akan
mulai pestanya siang hari ya, kak? Kapan sempat perawatan?” tanya Renata balik
sambil menarik selimutnya, lalu berbaring di samping Reynold.
Pesta ulang tahun Renata kali ini akan diadakan
dengan konsep pesta kebun dan Renata ingin barberque dengan teman-temannya.
Mereka akan bersantai di pinggir kolam renang dan Renata sudah berencana
memakai pakaian renang.
Coba tebak apa reaksi Reynold?
“Mungkin aku salah hari. Pekerjaan ini membuatku
stress. Tidurlah, aunty,” ucap Reynold tanpa mengalihkan pandangannya dari
layar laptop.
“Tumben kakak mengeluh tentang kerjaan kakak, biasanya
ini beres, itu beres. Selesai semuanya,” kata Renata.
Reynold mengelak kalau ia tidak mau membuat Renata
kepikiran dengan keluhannya. Tapi kali ini ia ingin berbagi keluhannya dengan
Renata. Gadis itu mengangguk lucu, Renata bergeser, masuk ke dalam pelukan
Reynold lalu memperhatikan layar laptopnya.
Renata hanya melihat Reynold seperti sedang bermain
game. Nyatanya Reynold memang sedang bermain game, tapi ia berkilah kalau ia
sedang mencoba menghancurkan virus yang membobol dinding pertahanan website
perusahaannya. Renata memperhatikan cara main Reynold, ia ikut menebak beberapa
puzzle gambar yang harus disatukan Reynold.
“Susah banget, kak. Ada waktunya lagi. Tuch kan
kalah lagi,” keluh Renata.
Tentu saja Reynold kalah, ia sedang menikmati tubuh
Renata yang menempel sangat dekat dengan tubuhnya. Ia harus menahan hasratnya
mati-matian atau Renata akan merasakan keanehan pada tubuh Reynold.
“Kak, ada remote ya dibawah? Kok keras?” tanya Renata
yang merasakan di punggungnya ada yang mengganjal.
“Nggak ada. Itu reaksi yang wajar, aunty. Ach,
kalah lagi. Tuch kan, kali ini agak susah menembusnya,” ucap Reynold sambil
menghirup dalam-dalam wangi tubuh Renata.
“Kakak harus konsentrasi. Ini kuncinya konsentrasi.
Ayo, coba lagi. Seru juga ya,” kata Renata mulai ketagihan bermain game.
Reynold bernafas lega, hampir saja ketahuan Renata
kalau dirinya berhasrat pada gadis itu. Keduanya asyik bermain game sampai
Reynold berpura-pura ketiduran. Renata menoleh ke belakang saat tangan Reynold melepaskan
pegangannya pada laptop. Gadis itu menguap, lalu meletakkan laptopnya diatas
nakas.
“Kak Rey? Kak?” Renata mencoba membangunkan Reynold,
tapi pria itu tidak bergeming.
Akhirnya Renata berbaring di samping Reynold dan
tertidur sambil membelakangi pria itu. Setelah menunggu beberapa saat, Reynold
membuka matanya, ia bergeser sedikit lalu memeluk tubuh Renata dari belakang.
“Selamat tidur, sayang,” bisik Reynold sambil
mengecup tengkuk Renata.
“Selamat tidur, kak Rey,” sahut Renata yang
ternyata belum tertidur.
Gadis itu berbalik, lalu menatap Reynold dengan
mata setengah terpejam. Reynold mencoba menyembunyikan keterkejutannya, ia
berpura-pura menguap lebar sambil menggaruk-garuk dadanya.
“Kak Rey nggak balik ke kamar?” tanya Renata yang
hampir tertidur.
“Aku mager, aunty. Udah, tidur aja.” Reynold
menunggu jawaban Renata. Jantungnya berdebar sedikit kencang, ia takut kalau
Renata sampai marah padanya.
“Hmm... ya, aku tidur, kak,” ucap Renata setengah
sadar.
__ADS_1
“Aunty, aku boleh lepas baju nggak? Aku nggak biasa
tidur pake baju,” pancing Reynold memanfaatkan situasi.
“Ya, kak,” sahut Renata sebelum kepalanya terkulai
ke pundak Reynold.
Hati-hati sekali Reynold melepas kemejanya. Ia
menghembuskan nafasnya ke tangan dan mencium aroma mulutnya yang masih bau mint
segar. Siapa tahu mereka khilaf nanti malam. Ditatapnya wajah cantik Renata
yang sudah tertidur pulas. Perlahan Reynold menyusupkan tangannya dibawah leher
Renata lalu berbaring sambil memeluk gadis itu.
Sungguh, perasaan Reynold saat itu sangat bahagia
sampai ke langit ketujuh. Renata tidak bergeming dalam tidurnya, membuat
Reynold ikut tertidur juga.
**
Beberapa jam kemudian setelah matahari terbit,
setengah jam sebelum sarapan siap untuk dihidangkan. Rio yang sudah bangun,
berdiri di depan Ken dan Kaori yang masih tertidur pulas. Posisi keduanya sudah
berubah dengan Ken tidur terlentang, merentangkan kedua tangannya ke kiri dan
ke kanan. Sementara Kaori memeluk tubuh pria itu seperti memeluk boneka Teddy
bear miliknya.
Ken terbangun lebih dulu, ia menggeliat sebentar
sebelum membuka matanya. Hal pertama yang dilihat Ken pagi itu adalah muka
bantal Kaori yang masih saja cantik. Ken tersenyum lebar, ia menunduk ingin
mengecup kening Kaori, tapi suara berdehem di depannya membuat Ken menoleh.
“Eh, kak Rio. Selamat pagi, kak,” bisik Ken yang
tidak mau membangunkan Kaori.
“Pagi, pagi. Cepat lepasin putriku. Enak saja kamu
peluk-peluk begitu. Kalian belum sah,” omel Rio tapi dengan suara lembut.
“Sssttt! Jangan berisik, kak. Nanti Kaori bangun,”
bisik Ken menyuruh Rio diam.
Sungguh, Rio ingin memukul kepala pria itu melihat
senyum tengilnya pagi ini. Tapi Rio tidak mau membangunkan Kaori yang terlihat
masih tertidur pulas. Tidak ingin mengganggu tidur Kaori, Ken juga masih betah
Alex dan Mia yang sudah mandi, juga memergoki Ken
dan Kaori di ruang TV itu. Mereka tentu saja tidak berkomentar apa-apa. Malah
terlihat senang karena Ken masih ada di mansion Steven. Meskipun Rio masih
keberatan dengan hubungan Ken dan Kaori, sepertinya pria itu berusaha bersabar
sambil menunggu hasil tes DNA.
Mendengar suara-suara berisik di dekatnya, Kaori
pelan-pelan bangun dari tidurnya. Ia menggeliat sebentar sambil
menggosok-gosokkan wajahnya ke dada Ken. Kaori biasa melakukan itu pada boneka
Teddy Bear kesayangannya.
“Hhmmm... Teddy, kok keras ya. Baumu kayak Ken,”
ucap Kaori yang belum sadar sepenuhnya.
“Selamat pagi, Kaori,” ucap Ken mesra sambil
mengecup kening Kaori.
“Ken?! Kamu masih disini?” tanya Kaori sedikit
kaget.
“Iya, sayang. Kan kamu yang ngajak aku nginep. Aku
kan cuma mengabulkan keinginanmu, sayangku,” sahut Ken tengil.
Wajah Kaori memerah setelah mengingat kejadian
semalam, ia bangkit dari berbaringnya lalu menyadari kalau Kaori tertidur
diatas lengan Ken.
“Ken, tanganmu sakit ya? Ketimpa kepalaku,” kata
Kaori sambil meraba-raba mencari lengan Ken.
“Nggak, sayang. Meskipun kamu tidur diatas badanku,
aku nggak akan merasa sakit,” gombal Ken sambil mengurut lengannya sedikit.
Lagi-lagi Kaori tersipu malu, ia menepuk ke depan
mengenai dada Ken. Pria itu mengaduh kesakitan, sedikit lebay, membuat Kaori
terkejut lalu mendekati Ken lagi.
“Maaf, Ken. Kamu nggak apa-apa kan?” tanya Kaori
kuatir.
__ADS_1
“Sakit, Kaori. Cium dong,” pinta Ken manja.
Kaori malah mencubit lengan Ken karena berusaha
genit padanya. Sampai-sampai Ken mengaduh kesakitan. Teriakan Ken menarik
perhatian Rio yang kembali ke ruang TV lalu mengusir Ken pulang.
“Yah, papa. Kasi Ken disini dulu ya. Kita kan mau
ngerayain ulang tahun aunty Renata. Ken kan juga ulang tahun hari ini. Kasih
ya, pah,” bujuk Kaori.
Rio mendengus kesal, kemarin Ken bilang mau pulang,
tapi malah menginap bahkan sambil tidur disamping Kaori. Sekarang Kaori minta
Ken tetap disitu untuk menghadiri pesta ulang tahun Renata. Rio menyerah
mengusir Ken dan meminta Ken mandi dulu. Ken yang kegirangan, membiarkan Kaori
dibawa Rio ke kamar gadis itu.
Ken segera keluar dari mansion Steven. Ia melihat
bodyguardnya sudah siap beserta mobil untuk membawa Ken pulang. Ken memberi
tanda untuk mendekat.
“Kalian yang semalam? Kenapa belum ganti shift?”
tanya Ken sambil memperhatikan lingkaran hitam di bawah mata masing-masing bodyguardnya.
“Kami menunggu tuan muda,” sahut salah satu dari
mereka.
“Cepat pulang! Kalian sudah sarapan?” tanya Ken
lagi sambil berjalan menuju mobilnya.
“Sudah, tuan muda. Nyonya Ginara memberi kami kopi
dan roti tadi,” sahut salah satu dari mereka lagi.
Ken berpikir untuk menyiapkan sesuatu untuk semua
orang di mansion Steven, kecuali Reynold tentu saja. Tapi pagi itu Ken harus
kembali ke penthouse karena ia masih harus ikut meeting. Asisten Ken
mencegatnya begitu pria itu sampai di mansion Endy. Ken mengeluh tapi ia tidak
bisa mengabaikan tugasnya. Asistennya mengatakan kalau mungkin Ken bisa
mengikuti meeting lewat conference call saja, mereka masih bisa menyiapkan
semuanya dengan cepat.
“Bagus sekali, aku akan membawa laptopku. Aku bisa
meeting di ruang baca nanti. Sekarang kita belanja parfum, dasi, mainan, apapun
yang bagus,” kata Ken semangat.
“Sebaiknya tuan muda mandi dan sarapan dulu. Saya
akan panggil orang-orang itu untuk menyiapkan kado untuk semua orang,” ucap
asisten Ken.
Tapi rencana tetaplah sebuah rencana, saat Ken
selesai mandi dan sudah terlihat tampan kembali. Sesuatu terjadi di perusahaan
Endy. Seorang mata-mata di perusahaan itu memergoki penggelapan uang yang cukup
besar dan bisa merugikan perusahaan. Ken harus segera kesana untuk
menyelesaikan kasus itu.
Dengan berat hati, Ken terpaksa menitipkan kado
pada bodyguard-nya. Sedangkan untuk Kaori, Ken mengirimkan buket bunga mawar
tanpa duri yang sangat besar. Dalam perjalanan menggunakan helikopter, Ken
berusaha menelpon Kaori lewat Renata. Tapi telponnya tidak diangkat karena Renata
sibuk dengan persiapan pestanya.
Sampai di perusahaan Endy, Ken berjalan cepat
menuju ruang meeting tempat semua orang sudah berkumpul. Kedatangannya membuat
tegang pelaku penggelapan uang itu sampai tidak berani menatap Ken.
“Kau tahu apa yang kulakukan terhadap pengkhianat
kan?” ucap Ken dingin.
Hening. Tidak ada yang berani bicara sepatah
katapun. Ken menggebrak meja dengan keras. Ia memerintahkan bodyguardnya untuk
membawa pelaku penggelapan itu ke markas rahasia mereka. Tempat nenek Almira
menghukum pengkhianat.
Ken memijat keningnya yang sakit, ia berhasil
menangkap pelaku penggelapan uang Endy selama ini. Meskipun orang itu adalah
salah satu orang kepercayaan Endy, tapi ia memanfaatkan kedudukannya untuk mengkhianati
Endy. Ken mulai lelah harus mempertahankan perusahaan milik Endy dan Kinanti
tapi kedua orang itu justru pergi berlibur lama sekali.
“Aku harus memberitahu mereka sebelum aku jadi
__ADS_1
gila. Kenapa aku harus ikut sibuk menjaga perusahaan mereka sementara
pemiliknya bersenang-senang,” gerutu Ken kesal.