
DM2 – Jablay
“Ganti baju.”saut Melda.
X melihat Melda berjalan masuk ke kamarnya
lagi. Ia menutup mulutnya, menyembunyikan wajahnya yang sudah merona ketika
melihat Melda hanya memakai kaosnya.
”Shit! Dia terlihat imut seperti dulu.
Kebiasaanya juga masih sama. Kali ini aku tidak akan melepaskanmu lagi. Aku gak
mau.”
X bangkit dari duduknya, ia membuka
bungkusan makanan yang sudah datang tadi. Makanan itu ia taruh diatas piring
dan X membawanya ke meja di depan TV. Melda sudah kembali lagi ke tempat
duduknya tadi. Ia memang masih memakai kaos tapi X bisa melihat tali lingerie
merah terikat di lehernya. X mulai
menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia mencoba mengalihkan perhatiannya dari
tubuh Melda tapi tidak bisa.
“Apa? Makan sana. Jangan liat aku kayak
gitu.”ketus Melda.
X mulai mendekati Melda, mengukungnya,
menaklukkan hati Melda sekali lagi.
“Mel, sekali saja. Kasi aku kesempatan
lagi. Aku sudah berubah, gak seperti dulu, Mel. Selama ini aku menunggumu, aku
tidak berhubungan dengan wanita lain demi kamu.”rayu X.
“Apa kamu tahu alasanku pergi dari
kamu?”tanya Melda hati-hati.
“Ya, sepertinya aku tahu.” X bangkit berdiri,
“Makanlah dulu. Aku mau mandi. Kita perlu selesaikan salah paham yang dulu
dengan kepala dingin dan perut kenyang.”
Melda tersenyum tipis. ”Kalau kamu bisa
bilang alasannya dengan tepat. Aku akan kembali padamu, X. Tapi kalau tidak,
berjuanglah lagi memenangkan hatiku yang kamu acuhkan dulu.”
Melda menunggu X selesai mandi sambil
menonton TV, ia melihat ponselnya berkedip tanda ada chat masuk. Rio
mengiriminya chat, pria itu bertanya sedang apa Melda sekarang.
“Kenapa kau kepo sekali, bocah? Tidur sana,
dah malem nich.”balas Melda.
“Bocah, bocah. Aku sudah kepala tiga.
Weekend sibuk gak?”tanya Rio.
“Nggak. Aku mau tidur. Emang ada kerjaan?”balas
Melda.
“Ayo kencan.”
“Hah?! Kamu waras?”
Melda bengong melihat ponselnya. Rio
kesambet apa sampai mengajaknya kencan. Ia menatap chat yang lama gak dibales
Rio.
“Woi, bocah asem!!”ketik Melda lagi.
Melda tidak menyadari X sudah keluar dari
kamarnya dan sedang berdiri dibelakangnya sekarang.
“Siapa ngajak kamu kencan?”tanya X dingin.
“Hmm? Ini Rio. Aku yakin bukan itu
__ADS_1
maksudnya. Lagian dia cinta mati sama Gadis, gak mungkin kelakuannya gitu.”saut
Melda.
“Siapa yang tahu, kamu kan cantik. Siapapun
pasti tergoda. Geser.”
Melda menggeser duduknya, X duduk di
belakang Melda, memeluk tubuh wanita itu dari belakang. Melda terdiam ketika
merasakan X sepertinya tidak memakai apapun dibelakang sana.
“Kamu gak pake baju?”tanya Melda.
“Hmm, habis mandi gerah kalo pake baju.
Masa kamu lupa kebiasaanku dari dulu.”saut X cuek.
X menggesekkan wajahnya ke punggung Melda. “Aku
tahu kamu kurang ini kan? Makanya kamu pergi.”
“Maksudmu?”tanya Melda bingung.
“Kurang belaian alias jablay.”
“Idih!”bentak Melda sambil memukul lengan
X. “Aku gak gitu.”
“Tapi bener kan? Aku terlalu sibuk sama
pekerjaanku. Kita jarang kencan, kalau ketemu cuma sebentar. Bahkan buat makan
siang aja gak bisa. Aku selalu lama membalas chatmu. Nelpon aja gak sempat.
Seingatku juga aku gak pernah chat kamu duluan.”
Melda diam saja mendengar penuturan X. Pria
itu membuatnya terharu karena menjawab dengan tepat alasan mereka berpisah
dulu.
“Aku selalu minta maaf tapi ngulang lagi
kesalahan yang sama. Aku mengabaikan semua keluhanmu. Gak pernah menganggapmu
atau pendapatmu. Padahal kamu sering protes dulu. Maafkan aku, Melda.”bisik X.
mendengarkan pengakuan X.
*****
Sementara itu di rumah Alex, beberapa saat
sebelum Melda menerima chat dari Rio.
Rio yang baru pulang kerja langsung mandi dan
ganti baju. Ia ingin bermain dengan bayi Kaori sebelum makan malam. Gadis
selalu berpesan pada Rio untuk membersihkan dirinya dulu sebelum menyentuh
bayi.
Gadis sedang menemani Kaori bermain di
kamar mereka saat Rio masuk cuma pake handuk. Rambutnya bahkan masih basah.
“Yank, tadi aku mergokin Melda sama kak X
loh. Kak X tiba-tiba nyium Melda.”kata Rio.
“Hah? Masa? Kak X yang serem itu? Trus
ngapain lagi?”tanya Gadis kepo.
“Trus mereka bisik-bisik gitu. Gak tau
ngomong apa. Aku cuma denger kayaknya kak X tahu rahasianya Melda. Pas aku
tanya, eh Melda tiba-tiba nyium kak X.”
“Ada rahasia apaan? Hadeh, kalo gini kan
aku jadi kepo.”saut Gadis.
“Waaa... aaaa.... brrruuuuuppp...
hummbeeeerrrrr...”celoteh Kaori ikutan ngrumpi.
“Coba aja kamu yang nanya. Kita ajak Kaori
juga. Ayo kencan.”kata Rio tiba-tiba.
__ADS_1
“Kencan? Mau dong.”kata Gadis yang sudah
lama gak jalan-jalan.
“Kita double date. Nanti aku alihkan
perhatiannya kak X, kamu tanya Melda ada hubungan apa dan rahasia apa antara
mereka. Gimana?”tanya Rio.
“Sama Kaori kan? Kita bisa ke taman trus
piknik. Atau ke taman bermain. Eh, tapi aku lagi hamil gak boleh ke taman
bermain.”
“Emang kenapa? Kan ada permainan yang gak terlalu
bahaya untuk ibu hamil.”ujar Rio duduk di samping Gadis. Rio bahkan belum
memakai pakaiannya, selembar handuk di pinggangnya satu-satunya penutup
tubuhnya.
“Ntar aku kalap. Lupa lagi hamil. Kita ke
taman aja, piknik bawa bekal, bawa mainan Kaori. Kan ada tuch tempat yang
bagus. Ntar, ada nich di IG. Dah lama aku pengen kesana.” Rio manggut-manggut,
ia melirik Gadis yang sudah bersandar padanya. Ditariknya tangan Gadis menyentuh
miliknya yang masih bobok cantik.
“Rio, kamu mau apa? Ada Kaori nich.”bisik
Gadis.
Mereka melihat Kaori sedang mencoba berdiri
sambil berpegangan pada boneka beruang besarnya. Keduanya terkejut ketika
melihat Kaori terjatuh diantara bantal dengan kepala lebih dulu. Gadis menarik
perlahan kaki Kaori agar bayi itu bisa duduk lagi.
“Uaahhh... humbeerrr...”celoteh Kaori
sambil menendang-nendang boneka beruangnya.
“Hihi kayaknya dia kesal gak bisa berdiri.
Kaori...”panggil Gadis.
Rio melihat Gadis menggendong Kaori keluar
dari kamar. Ia mengambil ponselnya dan mengirimkan chat pada Melda. Rio
berpikir mungkin Melda sedang bersama dengan X saat itu. Tapi belum selesai ia
chatingan, Gadis sudah kembali masuk ke kamar dan mengunci pintu. Gadis
melanjutkan apa yang tadi sempat tertunda membuat Rio gagal fokus dan melempar
ponselnya begitu saja.
Gadis menarik handuk yang melingkar di
pinggang Rio. Ia menatap Rio sambil melakukan sesuatu yang membuat Rio
merasakan nikmat yang amat sangat. Rio menggeram ketika puncak kenikmatan
mendera tubuhnya, membuat tubuhnya melengkung kebelakang.
“Astaga, sayang...!”lenguh Rio menatap
Gadis yang memeletkan lidahnya.
“Hmm...Apa, sayang. Mau lagi?”tanya Gadis
genit pada Rio.
Rio menatap tidak percaya saat Gadis dengan
agresif mendorongnya hingga terbaring diatas ranjang mereka. Gadis membuka
pakaiannya dan melemparkannya ke bawah ranjang. Rio melirik perut Gadis yang
sedikit membuncit. Dibelainya perut Gadis dengan sayang.
“Sini, sayang. Biar aku memuaskanmu dulu.”kata
Rio sambil membaringkan Gadis.
*****
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
__ADS_1
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.