Duren Manis

Duren Manis
DM2 – Jablay


__ADS_3

DM2 – Jablay


“Ganti baju.”saut Melda.


X melihat Melda berjalan masuk ke kamarnya


lagi. Ia menutup mulutnya, menyembunyikan wajahnya yang sudah merona ketika


melihat Melda hanya memakai kaosnya.


”Shit! Dia terlihat imut seperti dulu.


Kebiasaanya juga masih sama. Kali ini aku tidak akan melepaskanmu lagi. Aku gak


mau.”


X bangkit dari duduknya, ia membuka


bungkusan makanan yang sudah datang tadi. Makanan itu ia taruh diatas piring


dan X membawanya ke meja di depan TV. Melda sudah kembali lagi ke tempat


duduknya tadi. Ia memang masih memakai kaos tapi X bisa melihat tali lingerie


merah terikat di lehernya.  X mulai


menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia mencoba mengalihkan perhatiannya dari


tubuh Melda tapi tidak bisa.


“Apa? Makan sana. Jangan liat aku kayak


gitu.”ketus Melda.


X mulai mendekati Melda, mengukungnya,


menaklukkan hati Melda sekali lagi.


“Mel, sekali saja. Kasi aku kesempatan


lagi. Aku sudah berubah, gak seperti dulu, Mel. Selama ini aku menunggumu, aku


tidak berhubungan dengan wanita lain demi kamu.”rayu X.


“Apa kamu tahu alasanku pergi dari


kamu?”tanya Melda hati-hati.


“Ya, sepertinya aku tahu.” X bangkit berdiri,


“Makanlah dulu. Aku mau mandi. Kita perlu selesaikan salah paham yang dulu


dengan kepala dingin dan perut kenyang.”


Melda tersenyum tipis. ”Kalau kamu bisa


bilang alasannya dengan tepat. Aku akan kembali padamu, X. Tapi kalau tidak,


berjuanglah lagi memenangkan hatiku yang kamu acuhkan dulu.”


Melda menunggu X selesai mandi sambil


menonton TV, ia melihat ponselnya berkedip tanda ada chat masuk. Rio


mengiriminya chat, pria itu bertanya sedang apa Melda sekarang.


“Kenapa kau kepo sekali, bocah? Tidur sana,


dah malem nich.”balas Melda.


“Bocah, bocah. Aku sudah kepala tiga.


Weekend sibuk gak?”tanya Rio.


“Nggak. Aku mau tidur. Emang ada kerjaan?”balas


Melda.


“Ayo kencan.”


“Hah?! Kamu waras?”


Melda bengong melihat ponselnya. Rio


kesambet apa sampai mengajaknya kencan. Ia menatap chat yang lama gak dibales


Rio.


“Woi, bocah asem!!”ketik Melda lagi.


Melda tidak menyadari X sudah keluar dari


kamarnya dan sedang berdiri dibelakangnya sekarang.


“Siapa ngajak kamu kencan?”tanya X dingin.


“Hmm? Ini Rio. Aku yakin bukan itu

__ADS_1


maksudnya. Lagian dia cinta mati sama Gadis, gak mungkin kelakuannya gitu.”saut


Melda.


“Siapa yang tahu, kamu kan cantik. Siapapun


pasti tergoda. Geser.”


Melda menggeser duduknya, X duduk di


belakang Melda, memeluk tubuh wanita itu dari belakang. Melda terdiam ketika


merasakan X sepertinya tidak memakai apapun dibelakang sana.


“Kamu gak pake baju?”tanya Melda.


“Hmm, habis mandi gerah kalo pake baju.


Masa kamu lupa kebiasaanku dari dulu.”saut X cuek.


X menggesekkan wajahnya ke punggung Melda. “Aku


tahu kamu kurang ini kan? Makanya kamu pergi.”


“Maksudmu?”tanya Melda bingung.


“Kurang belaian alias jablay.”


“Idih!”bentak Melda sambil memukul lengan


X. “Aku gak gitu.”


“Tapi bener kan? Aku terlalu sibuk sama


pekerjaanku. Kita jarang kencan, kalau ketemu cuma sebentar. Bahkan buat makan


siang aja gak bisa. Aku selalu lama membalas chatmu. Nelpon aja gak sempat.


Seingatku juga aku gak pernah chat kamu duluan.”


Melda diam saja mendengar penuturan X. Pria


itu membuatnya terharu karena menjawab dengan tepat alasan mereka berpisah


dulu.


“Aku selalu minta maaf tapi ngulang lagi


kesalahan yang sama. Aku mengabaikan semua keluhanmu. Gak pernah menganggapmu


atau pendapatmu. Padahal kamu sering protes dulu. Maafkan aku, Melda.”bisik X.


mendengarkan pengakuan X.


*****


Sementara itu di rumah Alex, beberapa saat


sebelum Melda menerima chat dari Rio.


Rio yang baru pulang kerja langsung mandi dan


ganti baju. Ia ingin bermain dengan bayi Kaori sebelum makan malam. Gadis


selalu berpesan pada Rio untuk membersihkan dirinya dulu sebelum menyentuh


bayi.


Gadis sedang menemani Kaori bermain di


kamar mereka saat Rio masuk cuma pake handuk. Rambutnya bahkan masih basah.


“Yank, tadi aku mergokin Melda sama kak X


loh. Kak X tiba-tiba nyium Melda.”kata Rio.


“Hah? Masa? Kak X yang serem itu? Trus


ngapain lagi?”tanya Gadis kepo.


“Trus mereka bisik-bisik gitu. Gak tau


ngomong apa. Aku cuma denger kayaknya kak X tahu rahasianya Melda. Pas aku


tanya, eh Melda tiba-tiba nyium kak X.”


“Ada rahasia apaan? Hadeh, kalo gini kan


aku jadi kepo.”saut Gadis.


“Waaa... aaaa.... brrruuuuuppp...


hummbeeeerrrrr...”celoteh Kaori ikutan ngrumpi.


“Coba aja kamu yang nanya. Kita ajak Kaori


juga. Ayo kencan.”kata Rio tiba-tiba.

__ADS_1


“Kencan? Mau dong.”kata Gadis yang sudah


lama gak jalan-jalan.


“Kita double date. Nanti aku alihkan


perhatiannya kak X, kamu tanya Melda ada hubungan apa dan rahasia apa antara


mereka. Gimana?”tanya Rio.


“Sama Kaori kan? Kita bisa ke taman trus


piknik. Atau ke taman bermain. Eh, tapi aku lagi hamil gak boleh ke taman


bermain.”


“Emang kenapa? Kan ada permainan yang gak terlalu


bahaya untuk ibu hamil.”ujar Rio duduk di samping Gadis. Rio bahkan belum


memakai pakaiannya, selembar handuk di pinggangnya satu-satunya penutup


tubuhnya.


“Ntar aku kalap. Lupa lagi hamil. Kita ke


taman aja, piknik bawa bekal, bawa mainan Kaori. Kan ada tuch tempat yang


bagus. Ntar, ada nich di IG. Dah lama aku pengen kesana.” Rio manggut-manggut,


ia melirik Gadis yang sudah bersandar padanya. Ditariknya tangan Gadis menyentuh


miliknya yang masih bobok cantik.


“Rio, kamu mau apa? Ada Kaori nich.”bisik


Gadis.


Mereka melihat Kaori sedang mencoba berdiri


sambil berpegangan pada boneka beruang besarnya. Keduanya terkejut ketika


melihat Kaori terjatuh diantara bantal dengan kepala lebih dulu. Gadis menarik


perlahan kaki Kaori agar bayi itu bisa duduk lagi.


“Uaahhh... humbeerrr...”celoteh Kaori


sambil menendang-nendang boneka beruangnya.


“Hihi kayaknya dia kesal gak bisa berdiri.


Kaori...”panggil Gadis.


Rio melihat Gadis menggendong Kaori keluar


dari kamar. Ia mengambil ponselnya dan mengirimkan chat pada Melda. Rio


berpikir mungkin Melda sedang bersama dengan X saat itu. Tapi belum selesai ia


chatingan, Gadis sudah kembali masuk ke kamar dan mengunci pintu. Gadis


melanjutkan apa yang tadi sempat tertunda membuat Rio gagal fokus dan melempar


ponselnya begitu saja.


Gadis menarik handuk yang melingkar di


pinggang Rio. Ia menatap Rio sambil melakukan sesuatu yang membuat Rio


merasakan nikmat yang amat sangat. Rio menggeram ketika puncak kenikmatan


mendera tubuhnya, membuat tubuhnya melengkung kebelakang.


“Astaga, sayang...!”lenguh Rio menatap


Gadis yang memeletkan lidahnya.


“Hmm...Apa, sayang. Mau lagi?”tanya Gadis


genit pada Rio.


Rio menatap tidak percaya saat Gadis dengan


agresif mendorongnya hingga terbaring diatas ranjang mereka. Gadis membuka


pakaiannya dan melemparkannya ke bawah ranjang. Rio melirik perut Gadis yang


sedikit membuncit. Dibelainya perut Gadis dengan sayang.


“Sini, sayang. Biar aku memuaskanmu dulu.”kata


Rio sambil membaringkan Gadis.


*****


Klik profil author ya, ada novel karya author yang

__ADS_1


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.


__ADS_2