
DM2 – Cinta tulus
“Rio, kamu bisa gambar?”tanya Gadis tidak
percaya.
Selama pernikahan mereka, Gadis tidak
pernah melihat Rio menggambar. Rio memang berhenti menggambar setelah kematian
Kaori. Kini ia ingin mencoba menggambar lagi dan berhasil dengan baik.
“Gadis belum tau ya, dulu Rio suka banget
bikin sketsa kayak gini. Bagus-bagus loh. Tapi sejak Kaori meninggal waktu itu,
mama udah gak pernah liat lagi Rio gambar. Bahkan gambarnya yang dulu entah
dimana.”jelas Mia.
Gadis beranjak ke ruang kerja Alex, ia
kembali membawa kertas dan juga spidol warna. Gadis menyerahkan kertas-kertas
itu pada Rio. “Rio, gambar lagi dong. Gambar apa aja. Lagi.”kata Gadis.
Rio mengambil kertas itu, ia mulai
menggambar memakai spidol hitam. Saat Rio sudah menyelesaikan gambarnya, Gadis
melotot melihat gambar itu.
Rio menggambar ekspresi wajah Gadis saat
mereka bercinta semalam. Gadis langsung menyembunyikan gambar itu di balik
punggungnya. “Bukan gambar yang beginian, Rio.”kata Gadis malu.
“Emang Rio gambar apa sich? Kepo nich.”tanya
Rara ingin mengambil kertas di punggung Gadis.
“Jangan dilihat, kak. Rio, gambar wajah kak
Rara aja. Kak Rara.”kata Gadis masih kekeh menyembunyikan gambarnya barusan.
Gadis melipat kertas di tangannya dengan
cepat memasukkannya ke saku celananya. Bisa gawat kalau sampai ada yang lihat
gambarnya yang cukup private itu. Rio menggambar lagi, kali ini gambar wajah
Rara. Rara sangat senang melihat gambar Rio yang sangat mirip dirinya.
“Sebaiknya Rio sering-sering menggambar sekarang
untuk melatih ingatannya. Siapa tau bisa bantu terapi Rio juga kan.”kata Rara.
Semua orang suka ide itu. Reynold keluar
dari kamar si kembar membawa tas ranselnya. Rara dan Arnold akhirnya berpamitan
dan kembali ke rumah mereka bersama Reynold.
“Rio, kamu dah ngantuk? Kita ke atas ya.”ajak
Gadis. “Mah, pah, kami keatas dulu ya.”
Mia dan Alex memperhatikan Gadis yang
menuntun Rio menaiki tangga. Kali ini mereka bisa naik lebih cepat.
“Gak kebayang kalau gak ada Gadis disini. Rio
beruntung mendapatkan cinta setulus itu.”ucap Alex.
“Ya, kebahagiaan mereka mulai lengkap
sekarang. Tapi aku masih cemas kalau sewaktu-waktu Kinanti datang dan mengambil
Kaori. Apa Gadis bisa menerimanya?”kata Mia menatap Alex.
“Kaori sudah jadi putri Gadis dan Rio. Kita
punya bukti kuat. Ada akta kelahiran juga.”
“Tetap saja aku cemas, mas.”
“Seharusnya kau mencemaskan dirimu sendiri,
sayang. Lihat apa yang akan kulakukan kalau aku sembuh nanti.”
Mia memukul perlahan lengan Alex. Ia
__ADS_1
mendorong kursi roda Alex masuk ke kamar mereka.
Sementara itu di tempat lain,
Endy sedang duduk bersama Kinanti diatas ranjang
mereka. Setelah Kinanti kembali padanya, Endy membeli sebuah mansion mewah
dengan tingkat keamanan yang tinggi.
“Sayang, apa kau sudah melihat foto yang
dikirimkan Melda?”tanya Endy.
“Udah. Kaori tampak bahagia bersama Gadis.”
“Apa kau tidak menginginkan Kaori tinggal
bersama kita?”tanya Endy.
“Sebenarnya mau, tapi aku kasihan sama
Gadis. Aku akui aku memang sangat jahat sama dia, sama Rio juga. Aku juga gak
tau apa kesalahanku ini bisa dimaafkan. Gadis menjagaku dengan baik sejak awal
kehamilanku. Dia sangat baik dan juga tulus. Rasanya tidak adil kalau aku
datang lagi mengambil Kaori.”
“Kalau maumu begitu, kita bisa mulai lagi
kan?”
Kinanti tersenyum mengerti maksud Endy.
*****
Sebulan kemudian, Gadis sedang memberi susu
pada Kaori. Bayi itu terus saja tersenyum mendengar suara Gadis yang terus
mengucapkan kata-kata manis. Sejak semalam Gadis merasa tidak enak badan, ia
sedikit pusing dan terpaksa memberikan Kaori pada mb Roh.
Saat bangun paginya, perutnya sudah tidak
nyaman. Tapi ia memaksa memberikan susu pada Kaori. Mereka sedang duduk di
“Anak mama yang cantik. Anak mama yang
pinter. Kaori cantik. Hummppp...”
Gadis hampir menjatuhkan Kaori, ia
meletakkan bayi itu di kasur kecilnya, lalu berlari ke kamar mandi.
“Hooeeekkk... Hoeeekkk... Uhuk... Uhuk...”
Suara muntah Gadis menarik perhatian Mia
yang saat itu sedang berada di dapur. “Gadis? Gadis, kamu kenapa?”
“Mual, mah. Uhuk, uhuk. Mah, tolong liatin
Kaori bentar.”
Mia beranjak ke ruang keluarga, ia melihat
Kaori sedang bermain dengan ludahnya. “Mb Roh. Mb?”
Mb Roh datang dari kamar si kembar, Mia
memintanya menjaga Kaori. Mia kembali ke kamar mandi, ia memijat tengkuk Gadis
yang masih muntah-muntah.
“Kalau masih sakit, istirahat saja ya. Ayo,
mama anter ke kamar.”kata Mia.
“Tapi Kaori, mah...”
“Jangan bandel. Biar Kaori sama mb Roh
dulu, sampai kamu sembuh. Kamu masuk angin ya? Mau dipijet?”tanya Mia.
“Nggak usah, mah. Minta minyak kayu putih
aja.”
Mia membalur tubuh Gadis setelah ia sampai
__ADS_1
di kamarnya. Rio seperti biasa, duduk di dekat jendela lantai 2. Ia menatap ke
dalam kamar, tempat Gadis berbaring. Baru saja Mia beranjak dari samping Gadis,
Rio sudah duduk di samping Gadis.
“Ini anak ngagetin aja.”Mia mengelus
dadanya.
Rio sedang menatap Gadis yang menciumi
minyak kayu putih di tangannya. Tangan Rio terulur mengambil minyak kayu putih,
lalu mencium bau minyak itu. Mia memperhatikan Rio mengikuti apa yang dilakukan
Gadis.
“Kapan kamu sembuhnya, Rio. Kamu gak kasian
sama Gadis. Ayo, semangat sedikit.”kata Mia mengelus kepala Rio.
“Kata dokternya, Rio harus mengalami
kejadian yang cukup mengejutkan, mah. Kalau dia mengalami itu, Rio akan segera
sembuh.”
Kening Mia mengkerut, kejadian mengejutkan
seperti apa yang bisa terjadi pada Rio? Dirinya hanya duduk diam di dalam rumah
selama ini.
“Apa gak sebaiknya kita pergi liburan ya.
Seperti dulu?”tanya Mia. “Ya, kalian bisa pergi berdua. Biar Kaori sama mb Roh.
Gak usah terlalu jauhlah. Gimana, Gadis?”
“Boleh, mah. Tapi tunggu aku agak mendingan
ya. Kalo sekarang, pusing.”ujar Gadis.
Mia mengangguk. Ia juga masih sibuk mengurus
Alex yang belum pulih benar. Belum lagi masalah di perusahaan yang membuat Alex
pusing. Ketidakhadiran Alex membuat beberapa client mereka enggan melanjutkan
kerja sama lagi. Padahal Alex sudah secara langsung menghubungi mereka tapi
tidak berhasil.
Mia sempat khawatir dengan keberlangsungan
perusahaan Alex kalau terus begini. Ia hanya bisa membantu sebisanya sambil
tetap mengurus Alex. Andai saja Rio sudah sembuh, mungkin semuanya akan
berjalan seperti biasanya.
Mia keluar dari kamar Rio, Gadis menarik
selimut menutupi seluruh tubuhnya. Sekarang ia merasa meriang, Rio yang melihat
Gadis selimutan, ikutan masuk ke bawah selimut.
“Rio, jangan deket-deket aku. Kayaknya aku
mau flu dech. Nanti kamu ketularan.”ujar Gadis.
Tapi Rio tidak mau dengar, ia malah memeluk
Gadis dengan erat sampai mereka berdua tertidur.
*****
Melda memijat kepalanya yang sakit, ia
sudah cukup lelah mengurus perusahaan Alex bersama Romi. Ditambah tekanan dari
Endy yang mempertanyakan kenapa performa perusahaan Alex bisa turun. Salah
sendiri kenapa kebanyakan client Alex, hanya tertarik bicara pada Alex.
Ketika Alex tidak bisa datang sendiri
menemui mereka, mereka menghentikan kerja samanya. Romi yang baru kembali dari
meeting, melihat Melda memegangi kepalanya.
*****
__ADS_1
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.