Duren Manis

Duren Manis
DM2 – Cinta tulus


__ADS_3

DM2 – Cinta tulus


“Rio, kamu bisa gambar?”tanya Gadis tidak


percaya.


Selama pernikahan mereka, Gadis tidak


pernah melihat Rio menggambar. Rio memang berhenti menggambar setelah kematian


Kaori. Kini ia ingin mencoba menggambar lagi dan berhasil dengan baik.


“Gadis belum tau ya, dulu Rio suka banget


bikin sketsa kayak gini. Bagus-bagus loh. Tapi sejak Kaori meninggal waktu itu,


mama udah gak pernah liat lagi Rio gambar. Bahkan gambarnya yang dulu entah


dimana.”jelas Mia.


Gadis beranjak ke ruang kerja Alex, ia


kembali membawa kertas dan juga spidol warna. Gadis menyerahkan kertas-kertas


itu pada Rio. “Rio, gambar lagi dong. Gambar apa aja. Lagi.”kata Gadis.


Rio mengambil kertas itu, ia mulai


menggambar memakai spidol hitam. Saat Rio sudah menyelesaikan gambarnya, Gadis


melotot melihat gambar itu.


Rio menggambar ekspresi wajah Gadis saat


mereka bercinta semalam. Gadis langsung menyembunyikan gambar itu di balik


punggungnya. “Bukan gambar yang beginian, Rio.”kata Gadis malu.


“Emang Rio gambar apa sich? Kepo nich.”tanya


Rara ingin mengambil kertas di punggung Gadis.


“Jangan dilihat, kak. Rio, gambar wajah kak


Rara aja. Kak Rara.”kata Gadis masih kekeh menyembunyikan gambarnya barusan.


Gadis melipat kertas di tangannya dengan


cepat memasukkannya ke saku celananya. Bisa gawat kalau sampai ada yang lihat


gambarnya yang cukup private itu. Rio menggambar lagi, kali ini gambar wajah


Rara. Rara sangat senang melihat gambar Rio yang sangat mirip dirinya.


“Sebaiknya Rio sering-sering menggambar sekarang


untuk melatih ingatannya. Siapa tau bisa bantu terapi Rio juga kan.”kata Rara.


Semua orang suka ide itu. Reynold keluar


dari kamar si kembar membawa tas ranselnya. Rara dan Arnold akhirnya berpamitan


dan kembali ke rumah mereka bersama Reynold.


“Rio, kamu dah ngantuk? Kita ke atas ya.”ajak


Gadis. “Mah, pah, kami keatas dulu ya.”


Mia dan Alex memperhatikan Gadis yang


menuntun Rio menaiki tangga. Kali ini mereka bisa naik lebih cepat.


“Gak kebayang kalau gak ada Gadis disini. Rio


beruntung mendapatkan cinta setulus itu.”ucap Alex.


“Ya, kebahagiaan mereka mulai lengkap


sekarang. Tapi aku masih cemas kalau sewaktu-waktu Kinanti datang dan mengambil


Kaori. Apa Gadis bisa menerimanya?”kata Mia menatap Alex.


“Kaori sudah jadi putri Gadis dan Rio. Kita


punya bukti kuat. Ada akta kelahiran juga.”


“Tetap saja aku cemas, mas.”


“Seharusnya kau mencemaskan dirimu sendiri,


sayang. Lihat apa yang akan kulakukan kalau aku sembuh nanti.”


Mia memukul perlahan lengan Alex. Ia

__ADS_1


mendorong kursi roda Alex masuk ke kamar mereka.


Sementara itu di tempat lain,


Endy sedang duduk bersama Kinanti diatas ranjang


mereka. Setelah Kinanti kembali padanya, Endy membeli sebuah mansion mewah


dengan tingkat keamanan yang tinggi.


“Sayang, apa kau sudah melihat foto yang


dikirimkan Melda?”tanya Endy.


“Udah. Kaori tampak bahagia bersama Gadis.”


“Apa kau tidak menginginkan Kaori tinggal


bersama kita?”tanya Endy.


“Sebenarnya mau, tapi aku kasihan sama


Gadis. Aku akui aku memang sangat jahat sama dia, sama Rio juga. Aku juga gak


tau apa kesalahanku ini bisa dimaafkan. Gadis menjagaku dengan baik sejak awal


kehamilanku. Dia sangat baik dan juga tulus. Rasanya tidak adil kalau aku


datang lagi mengambil Kaori.”


“Kalau maumu begitu, kita bisa mulai lagi


kan?”


Kinanti tersenyum mengerti maksud Endy.


*****


Sebulan kemudian, Gadis sedang memberi susu


pada Kaori. Bayi itu terus saja tersenyum mendengar suara Gadis yang terus


mengucapkan kata-kata manis. Sejak semalam Gadis merasa tidak enak badan, ia


sedikit pusing dan terpaksa memberikan Kaori pada mb Roh.


Saat bangun paginya, perutnya sudah tidak


nyaman. Tapi ia memaksa memberikan susu pada Kaori. Mereka sedang duduk di


“Anak mama yang cantik. Anak mama yang


pinter. Kaori cantik. Hummppp...”


Gadis hampir menjatuhkan Kaori, ia


meletakkan bayi itu di kasur kecilnya, lalu berlari ke kamar mandi.


“Hooeeekkk... Hoeeekkk... Uhuk... Uhuk...”


Suara muntah Gadis menarik perhatian Mia


yang saat itu sedang berada di dapur. “Gadis? Gadis, kamu kenapa?”


“Mual, mah. Uhuk, uhuk. Mah, tolong liatin


Kaori bentar.”


Mia beranjak ke ruang keluarga, ia melihat


Kaori sedang bermain dengan ludahnya. “Mb Roh. Mb?”


Mb Roh datang dari kamar si kembar, Mia


memintanya menjaga Kaori. Mia kembali ke kamar mandi, ia memijat tengkuk Gadis


yang masih muntah-muntah.


“Kalau masih sakit, istirahat saja ya. Ayo,


mama anter ke kamar.”kata Mia.


“Tapi Kaori, mah...”


“Jangan bandel. Biar Kaori sama mb Roh


dulu, sampai kamu sembuh. Kamu masuk angin ya? Mau dipijet?”tanya Mia.


“Nggak usah, mah. Minta minyak kayu putih


aja.”


Mia membalur tubuh Gadis setelah ia sampai

__ADS_1


di kamarnya. Rio seperti biasa, duduk di dekat jendela lantai 2. Ia menatap ke


dalam kamar, tempat Gadis berbaring. Baru saja Mia beranjak dari samping Gadis,


Rio sudah duduk di samping Gadis.


“Ini anak ngagetin aja.”Mia mengelus


dadanya.


Rio sedang menatap Gadis yang menciumi


minyak kayu putih di tangannya. Tangan Rio terulur mengambil minyak kayu putih,


lalu mencium bau minyak itu. Mia memperhatikan Rio mengikuti apa yang dilakukan


Gadis.


“Kapan kamu sembuhnya, Rio. Kamu gak kasian


sama Gadis. Ayo, semangat sedikit.”kata Mia mengelus kepala Rio.


“Kata dokternya, Rio harus mengalami


kejadian yang cukup mengejutkan, mah. Kalau dia mengalami itu, Rio akan segera


sembuh.”


Kening Mia mengkerut, kejadian mengejutkan


seperti apa yang bisa terjadi pada Rio? Dirinya hanya duduk diam di dalam rumah


selama ini.


“Apa gak sebaiknya kita pergi liburan ya.


Seperti dulu?”tanya Mia. “Ya, kalian bisa pergi berdua. Biar Kaori sama mb Roh.


Gak usah terlalu jauhlah. Gimana, Gadis?”


“Boleh, mah. Tapi tunggu aku agak mendingan


ya. Kalo sekarang, pusing.”ujar Gadis.


Mia mengangguk. Ia juga masih sibuk mengurus


Alex yang belum pulih benar. Belum lagi masalah di perusahaan yang membuat Alex


pusing. Ketidakhadiran Alex membuat beberapa client mereka enggan melanjutkan


kerja sama lagi. Padahal Alex sudah secara langsung menghubungi mereka tapi


tidak berhasil.


Mia sempat khawatir dengan keberlangsungan


perusahaan Alex kalau terus begini. Ia hanya bisa membantu sebisanya sambil


tetap mengurus Alex. Andai saja Rio sudah sembuh, mungkin semuanya akan


berjalan seperti biasanya.


Mia keluar dari kamar Rio, Gadis menarik


selimut menutupi seluruh tubuhnya. Sekarang ia merasa meriang, Rio yang melihat


Gadis selimutan, ikutan masuk ke bawah selimut.


“Rio, jangan deket-deket aku. Kayaknya aku


mau flu dech. Nanti kamu ketularan.”ujar Gadis.


Tapi Rio tidak mau dengar, ia malah memeluk


Gadis dengan erat sampai mereka berdua tertidur.


*****


Melda memijat kepalanya yang sakit, ia


sudah cukup lelah mengurus perusahaan Alex bersama Romi. Ditambah tekanan dari


Endy yang mempertanyakan kenapa performa perusahaan Alex bisa turun. Salah


sendiri kenapa kebanyakan client Alex, hanya tertarik bicara pada Alex.


Ketika Alex tidak bisa datang sendiri


menemui mereka, mereka menghentikan kerja samanya. Romi yang baru kembali dari


meeting, melihat Melda memegangi kepalanya.


*****

__ADS_1


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.


__ADS_2