Duren Manis

Duren Manis
DM2 – Terapi kesuburan


__ADS_3

DM2 – Terapi kesuburan


“Maksud mama?”


“Mama sudah bicara sama dokter kandungan,


kamu perlu ikut terapi kesuburan. Kita gak tau kapan Rio akan pulih, tapi cepat


atau lambat Rio pasti sembuh. Mama yakin itu. Dan mama mengharapkan saat Rio


sembuh nanti, kamu juga sudah siap.”tutur Mia.


Gadis masih belum paham maksud Mia, dia


bingung apa hubungannya antara terapi kesuburan dengan kesembuhan Rio.


“Saat Rio sembuh nanti dan kalian sudah


siap untuk melakukannya, kamu bisa segera hamil.”ucap Mia yakin. “Terapi itu


cuma sebentar, 3 bulan saja tapi efeknya bisa sampai 3 bulan berikutnya. Jadi


selama 3 bulan ini, kita usahakan Rio bisa sembuh. Mama liat, sarafnya sudah


bisa merespon lagi.”


“Trus Kinanti gimana, mah?”tanya Gadis hati-hati.


“Kita masih berusaha mencari tahu, anak Rio


atau bukan yang ada di kandungan Kinanti. Untuk sementara kita biarkan dia.


Cepat atau lambat kebenarannya pasti terungkap. Selama Rio belum menikahi


Kinanti, kamu satu-satunya menantu perempuan mama sekarang. Ingat itu, Gadis.”


Gadis mengangguk dan tersenyum bahagia.


Beban beratnya selama ini karena belum memiliki anak, mungkin saja segera


terangkat dengan terapi yang akan ia jalani.


Kinanti akhirnya pergi berlibur ke pinggir


kota. Ia mengatakan akan menginap di salah satu hotel dan bersantai di sekitar


hotel saja. Nyatanya, Kinanti pergi liburan bersama Endy ke pulau pribadinya.


Selama tiga hari pengintaian di hotel tempat Kinanti menginap, X menemukan


kalau Vio yang menginap disana dan bukan Kinanti. Foto-foto seorang wanita yang


mirip Kinanti dikirimkan Bianca ke ponsel Mia.


Mia mengirimkan foto itu ke grup chat WA


dengan kata-kata, siapa yang mau mergoki dia? Rara langsung tunjuk tangan


bersama Arnold.


“Biar Rey di rumah sama aku, kak.”ketik


Gadis.


Rara dan Arnold bersiap ke hotel tempat


Kinanti menginap setelah mereka menitipkan Rey pada Gadis, mereka meluncur ke


hotel itu. X sudah memberitahu nomor kamar Kinanti, jadi mereka tidak perlu


bertanya pada resepsionis lagi.


Sampai di hotel, Rara dan Arnold segera


naik menggunakan lift. Mereka sampai dengan cepat di depan kamar Kinanti. “Mas,


ketuk pintunya.”


Arnold mengetuk pintu kamar itu, mereka


menunggu sebentar sebelum akhirnya pintu dibuka. “Ya?”ujar seseorang yang


membuka pintu.


Rara melotot di depan pintu kamar hotel


ketika melihat siapa yang berdiri di depan pintu.


Siapa yang dilihat Rara di kamar hotel

__ADS_1


Kinanti?


Sementara itu di rumah Alex,


Mia menunggu kabar dari Rara dengan


gelisah. Ia mondar-mandir seperti setrikaan  di ruang keluarga. Alex yang melihatnya jadi pusing sendiri. “Yank,


duduk dong. Kamu bikin aku pusing.”


“Aku gak tenang, mas. Kira-kira Rara


berhasil gak ya mergokin Kinanti?”


“Kalo berhasil, trus kamu mau apa?”


“Minimal kita bisa tanya dia sebenarnya apa


hubungannya dengan si Endy itu. Biar semuanya jelas gitu loh.”kata Mia sok


detektif.


Alex gemas melihat istrinya yang sibuk


sekali akhir-akhir ini mengurusi tentang Kinanti. Padahal mereka tidak perlu


repot melakukannya, tinggal tunggu anak itu lahir dan lakukan test DNA. Alex


juga tidak nyaman membiarkan Kinanti seenaknya pada Gadis, tapi yang  mereka perlukan hanya menunggu semuanya


terbongkar sendiri.


Seberapapun bagusnya, rapinya sebuah


rencana disusun, pasti akan terbongkar juga pada akhirnya. Pasti ada celah


kesalahan yang akan membuat Kinanti membocorkan siasatnya sendiri. Mia yang


melihat ketenangan Alex, jadi kesal padanya.


“Mas gak kasian liat Gadis menderita? Kalau


kita bisa mergoki Kinanti, dan tahu yang sebenarnya terjadi, Gadis juga akan


senang, mas.”


“Aku tahu. Tapi kalau seperti ini terus,


Alex manja.


Mia memutar bola matanya, ngomong kurang


perhatian tapi tiap malam sudah dikasi jatah, masi aja komplain. “Mas, nich.


Aku lagi usaha biar Rio dan Gadis bisa bahagia lagi, malah gitu.”


“Aku liat mereka bahagia tuch. Berduaan


terus dari pagi sampe malem sampe pagi lagi. Gadis juga udah gak kerja sama


aku. Aku punya sekretaris baru yang cantik, kamu gak tau.”ucap Alex memancing


perhatian Mia.


“Apa? Sekretaris baru? Sejak kapan?”Mia


langsung duduk di depan Alex, minta penjelasan. “Kenapa mas gak bilang punya


sekretaris cantik. Mana fotonya?”


Alex menyodorkan ponselnya, menunjukkan


profil sekretaris barunya pada Mia. Mia melotot melihat wanita cantik dan seksi


di foto profil itu, otaknya berputar sejenak. “Kayak pernah liat, tapi dimana?”


Mia menepuk lengan Alex, mencubit pinggangnya gemas. “Ini kan aku, mas.”


Mia lupa dengan foto profilnya sendiri, ia


sempat memakai aplikasi untuk membuat foto seksi itu. Alex kegelian menahan


tangan Mia, “Habisnya kamu gitu sama aku. Gak usah mikirin Kinanti lagi. Fokus


sama aku aja.”


“Trus si kembar? Rio sama Gadis? Anak-anak


dan menantu dan cucu kita? Hem?”tanya Mia.

__ADS_1


“Mereka udah ada yang ngurus. Tugasmu


ngurus aku sama burung perkututku.”


Mia menutup mulut Alex karena si kembar


turun dari lantai 2, mau ke kamar mereka. Mia takut anak-anak itu mendengar


percakapan mereka tentang burung perkutut dan mereka akan mengejar Mia lagi,


menanyakan hal yang aneh-aneh.


“Loh, kalian kok cuma berdua? Rey mana?”


“Masih di kamar sama kak Gadis, sama kak


Rio. Kita mau buat PR dulu, ya kan Rava?”tanya Reva pada kembarannya yang hanya


mengangguk tanpa mengatakan apapun.


Keduanya masuk ke kamar mereka, membiarkan


Mia dan Alex berduaan di ruang keluarga.Di kamar Rio, Gadis tampak sedang


mengurut tangan Rio, melemaskan pergelangan tangannya. Rey asyik menggambar di


samping Rio. Ia menggambar Rio, Gadis dan dirinya sedang berdiri bergandengan


tangan bersama-sama.


“Mah, liat deh gambar Rey.”pinta Rey


meletakkan gambarnya di pangkuan Rio.


Gadis melihat gambar itu dan mengangguk, “Rey,


kenapa perut mama besar banget?”tanya Gadis heran.


“Iya, ini mama Gadis kan lagi hamil adik


Rey. Nanti Rey mau kasi nama Raymond.”


“Adiknya Rey laki-laki? Kalo perempuan


gimana?”tanya Gadis sumringah melihat gambar itu. Entah siapa yang meminta Rey


menggambar seperti itu, tapi Gadis sangat senang melihatnya.


Reynold tampak berpikir keras, ia tidak


menyiapkan nama untuk adik perempuannya. Gadis tertawa melihat wajah serius


Reynold. Anak kecil tampan itu semakin menggemaskan dengan kening mengkerut


seperti itu.


“Gimana kalau namanya Kaori?”tanya Gadis.


Reynold terlihat lega, tapi sejurus


kemudian menggeleng. Dia ingin adiknya memakai huruf R di depan namanya. “Rania?


Rayna?”tanya Gadis.


“Itu boleh, Rayna. Nama yang cantik kan,


mah?”


Gadis mengangguk sambil tersenyum senang. Dirinya


sungguh bahagia akhir-akhirnya ini karena Rey menginap di rumah Alex dan


Kinanti berlibur. Gadis kembali menatap gambar dirinya dengan perut besar. “Rey,


perut mama kebesaran itu. Kan adiknya cuma satu.”


“Gak, mah. Adiknya 2, cowok satu, cewek


satu. Raymond dan Rayna. Gimana, mah. Bagus kan?”tanya Reynold.


Gadis tidak bisa mengatakan apa-apa,


dirinya sangat terharu mendengar kata-kata Reynold yang sangat tulus


mendoakannya punya anak kembar.


*****


Klik profil author ya, ada novel karya author yang

__ADS_1


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.


__ADS_2