
Menikahi Aunty Renata – Reynold & Renata 21
Kaori senyum-senyum sendiri ketika menuruni tangga menuju lantai bawah. Tujuannya adalah meja makan karena Ken menunggunya disana. Kehadiran Kaori membuat Ken bangkit dari kursi yang sejak tadi didudukinya dengan gelisah. Dengan langkah cepat, Ken mendekati Kaori lalu merengkuh pinggang ramping istrinya itu. Pria tampan kembaran Alex itu langsung memonyongkan bibirnya minta cium istrinya.
“Ken, kenapa? Malu diliatin orang.” Kaori melirik beberapa pelayan yang langsung berpaling. Beberapa dari mereka senyum-senyum sendiri melihat kebucinan Ken.
“Kamu istriku, suka-suka aku mau peluk, mau cium juga.” Ken mencium bibir pink Kaori sampai wanita itu merengut lalu mencubit lengannya.
Meskipun tinggal di negara A yang menganggap sentuhan dan ciuman lawan jenis itu normal adanya, Kaori tetap saja malu bermesraan di depan umum bersama Ken. Pria itu selalu saja tidak mau melepaskannya. Apalagi setelah kejadian penculikan dirinya, Kaori merasakan kalau Ken lebih over protektif. Kaori tidak bisa bebas kemanapun dirinya mau tanpa Ken di sisinya.
“Sayang, hari ini aku harus ke kantor. Pulangnya agak malam ya. Kamu udah tahu scheduleku kan?” tanya
Ken masih belum mau melepaskan pelukannya.
“Schedule? Maksudmu foto yang dikirim kak Alfian? Aku nggak ngerti itu apaan,” kata Kaori sambil menatap mata Ken, minta jawaban.
“Yank, jangan ngeliatin gitu. Aku pengen lagi kan... nggak jadi ke kantor, ach. Kita bobok lagi yuk,” ajak Ken nakal. Tangannya sudah tidak bisa dikondisikan mendarat di pinggul ramping Kaori.
“Iih, cepetan sarapan sana. Nanti kakek Martin ngamuk loh. Lagian hari ini aku nggak kemana-mana.
Andika mau datang sama Tuan Anthony,” kata Kaori jujur.
Pandangan mata Ken yang tadinya hangat, perlahan mulai tajam menusuk. Orang yang sudah menculik Kaori
akan datang ke mansionnya disaat dirinya tidak ada. Apa lagi maunya pria jahat itu. Ken melirik kepala keamanannya yang kebetulan datang bersama kepala pelayan mansionnya. Kaori menarik dagu Ken agar menatapnya lagi.
“Ken, Tuan Anthony mau pergi keluar negeri selama beberapa minggu. Andika akan tinggal disini bersama kita selama itu. Kamu nggak keberatan kan? Nanti aku kasih jatah double. Tiap malam,” bisik Kaori dengan mata memohon yang menggemaskan.
“Double? Serius? Jam berapa dia kesini?” tanya Ken yang mulai menghangat lagi. Memikirkan akan dapat
jatah double setiap hari, membuat Ken melonggarkan kewaspadaannya.
“Mungkin sebentar lagi. Oh, sepertinya mereka sudah datang,” ucap Kaori sambil melihat ke pintu depan.
Sosok jangkung Anthony dan sosok mungil Andika tampak memasuki mansion mewah Ken. Beberapa
body guard tampak berjaga-jaga di sekitar mereka. Anthony melambaikan tangannya, dan mereka semua langsung berbalik keluar dari mansion. Tatapan tajam antara Ken dan Anthony tidak dihiraukan Andika. Pria kecil itu langsung berlari mendekati Kaori ketika melihat wanita itu.
“Tante Kaori! Aku datang! Selamat pagi, tuan Ken,” sapa Andika sebelum memeluk pinggang Kaori.
“Andika, apa kabar? Sudah sarapan? Tante masak makanan kesukaanmu.” Kaori menuntun Andik menuju
meja makan. “Tuan Anthony, silakan duduk.”
Ken dan Anthony masih saling pandang tidak mau mengalah. Gelak tawa Andika dan Kaori yang bisa
membuat keduanya menoleh menatap ke arah meja makan. Kedua pria kaya dan berkuasa itu, segera menyusul duduk di meja makan juga. Kaori menghidangkan sarapan untuk Ken dan Andika. Sedangkan kepala pelayan, menghidangkan sarapan untuk Anthony.
“Tante, Andika boleh tinggal disini kan? Papa mau keluar negeri lama sekali,” kata Andika merayu Kaori dengan kata-kata manisnya.
__ADS_1
“Memangnya Andika tinggal dimana kalau papamu keluar negeri?” celetuk Ken sambil melirik Anthony yang makan dengan santai.
“Di asrama, tuan Ken. Kalau boleh, saya mau tinggal disini sementara,” sahut Andika.
Dalam hatinya, Ken memuji Andika yang pintar bicara. Padahal usianya masih cukup kecil untuk mengeluarkan kata-kata seperti itu. Entah apa yang diajarkan Anthony pada putranya itu. Anthony tidak bicara apa-apa, senyum tipis tidak lepas dari bibirnya merasa bangga dengan putranya yang cerdas. Meskipun tanpa kasih sayang mamanya yang meninggal ketika melahirkan Andika.
Kaori mengangguk setuju, lalu menuangkan segelas susu soya untuk Andika. Ia sudah cukup mengenal
pria kecil itu ketika diculik. Andika alergi dengan susu sapi dan juga kacang. Kaori sengaja memasak sendiri untuk Andika agar bocah laki-laki itu bisa makan dengan aman. Melihat perhatian Kaori pada putranya, Anthony berbasa-basi sedikit.
“Nyonya Kaori, terima kasih sudah menjaga putraku. Aku akan merepotkanmu untuk beberapa minggu ke
depan.” Anthony menunjukkan senyum mautnya pada Kaori yang hanya tersenyum sambil mengangguk.
“Tidak gratis. Tagihannya akan sampai di kantormu setelah selesai,” ucap Ken sengit.
Kaori menahan Ken yang masih ingin bicara lagi, tidak baik bagi Andika untuk mendengar pertengkaran antara pria dewasa yang kelakuannya seperti anak TK. Mereka berempat menoleh ketika Renata dan Reynold sampai di meja makan. Keduanya mengangguk pada Anthony lalu duduk di samping Andika. Pria kecil itu menatap Renata dan Kaori bergantian.
“Tante punya saudara kembar ya?” celetuknya membuat Ken tersenyum tipis.
“Tidak, Dika. Ini tantenya tante. Tante Renata namanya. Dan itu om Reynold. Ayo, beri salam,” ucap Kaori lembut.
Andika menyalami Renata dan Reynold bergantian lalu duduk kembali ke kursinya. Renata menatap Kaori seolah bertanya, siapa pria kecil yang sangat menggemaskan itu. Kaori hanya mengatakan nanti. Tidak mungkin dirinya cerita kalau papa Andika yang menculiknya. Anthony ganti menatap Reynold seolah ingin membongkar rahasia pria itu. Reynold hanya menatapnya balik tanpa mengatakan apa-apa.
“Ayo, dihabiskan sarapannya. Ken, berangkat ke kantor sekarang?” tanya Kaori pada suaminya.
Suasana sarapan pagi itu di mansion Ken, sedikit aneh dengan kehadiran Anthony. Untung saja pria itu
segera berpamitan karena harus ke kantornya juga. Ken memastikan Anthony memang benar-benar pergi dengan mobilnya. Lalu berangkat ke kantor menggunakan helikopter. Sultan emang bebas. Sebenarnya
Ken ingin pamer helikopternya pada Anthony dengan sengaja lewat diatas mobil pria itu.
Sepeninggal dua pria dewasa itu, Kaori mengajak Andika ke ruang tengah. Guru privat Andika sudah
datang dan proses belajar mengajar mulai terdengar disana. Kaori kembali menemani Renata dan Reynold yang masih duduk di meja makan.
“Kaori, itu siapa? Kenapa jadinya tinggal disini?” tanya Renata tidak sabaran.
“Andika itu anaknya tuan Anthony. Orang yang menculikku kemarin,” sahut Kaori santai.
“Apa?! Tapi, kenapa dia disini?” tanya Renata panik.
Reynold juga sama terkejutnya dengan Renata. Mereka saling pandang sebelum menatap Kaori, minta
penjelasan. Kaori menjelaskan apa yang terjadi setelah ia sadarkan diri di mansion mewah milik Anthony. Andika menolong Kaori saat itu dan sejak itu mereka jadi akrab. Sering sekali bertukar pesan, bahkan mengobrol lewat v-call membuat kedekatan mereka semakin kuat. Tuan Anthony mempercayai Kaori untuk
menjaga Andika karena putranya itu terus merengek ingin tinggal bersama Kaori daripada di asrama sendirian.
Lagipula sejak menikah dengan Ken dan melewati malam pertama mereka, Kaori belum ada tanda-tanda kehamilan. Ken sama sekali tidak mempermasalahkannya demikian juga kakek Martin. Biar bagaimanapun Kaori tetap cucu kandung kakek Martin. Siapa tahu dengan tinggal bersama Andika, dirinya segera mengandung anak Ken.
__ADS_1
Renata yang terus menatap Andika sambil sesekali tersenyum, menarik perhatian Reynold.
“Aunty kalau mau anak laki-laki kayak gitu, aku bisa bantu,” bisiknya lembut.
“Caranya?” tanya Renata tanpa curiga.
“Aku bisa bikin aunty hamil trus melahirkan bayi yang super ganteng sepertiku,” ucapnya narsis.
Wajah Renata merah padam mendengar godaan Reynold. Ingin memukul pria itu tapi ia tidak enak dengan Kaori yang terus menatap mereka berdua. Andai saja Kaori memiliki hak untuk mengatakan kebenaran pada Renata, mungkin ia sudah melakukannya. Dirinya tidak tega melihat hubungan yang seharusnya terjalin terbuka tanpa ditutupi apapun, tapi tidak bisa terjadi lantaran status hubungan keluarga.
Membayangkan reaksi Reynold yang akan sangat bahagia bisa bersama Renata, membuat Kaori tersenyum
senang. Tapi sakit hati yang mungkin akan menghancurkan Renata, membuatnya berhenti tersenyum. Dirinya juga sakit hati saat tahu kebenarannya bahkan memutuskan hubungan dengan orang tua kandungnya. Tapi Kaori belum bisa lepas dari orang tua kandungnya. Dimata publik, mereka adalah mertua Kaori sekarang.
*”Mungkin aku terbiasa memaafkan dan dikeliling keluargaku yang selalu menerima kekuranganku. Sakit hati ini tidak terlalu membenaniku\, tapi sampai kapan aku harus menanggungnya? Apa aku harus menemui mereka lagi?”* batin Kaori mengingat wajah Endy dan Kinanti.
“Kaori? Kaori, hei?! Kenapa ngelamun sich?” tanya Renata lagi.
Kaori hanya tersenyum dan menggeleng, dirinya tidak berhak, hanya suaminya yang berhak. Ken adalah
putra kandung Alex dan Mia, bukan Renata. Dia mengakui dirinya bukan siapa-siapa demi untuk menjaga perasaan Renata. Demi untuk memiliki dirinya sebagai istri dan teman hidup Ken untuk selamanya. Kaori hanya perlu berada di sisinya tanpa harus bersusah payah melakukan apapun.
Cinta sebesar itu, bahkan dirinya tidak sanggup memberikannya. Ken sudah banyak berkorban menanggung semua beban agar semua orang bisa hidup dengan baik. Agar keluarga mereka tidak lebih membenci Endy dan Kinanti setelah perbuatan mereka pada keluarga Alex. Kaori semakin mencintai Ken karena itu.
Setelah Andika selesai dengan kelasnya, Kaori mengajaknya bermain sebentar sebelum tidur siang. Renata dan Reynold yang kembali ke kamar Renata, tampak sedang berbaring di tempat tidur. Renata merebahkan tubuhnya dalam pelukan Reynold yang nyaman. Rasa traumanya masih ada, untung saja kantornya memberikan waktu bagi Renata untuk memulihkan diri.
“Aunty sudah pake salep obatnya?” tanya Reynold ketika melihat Renata asyik bermain game.
“Udah tadi di depan aja. Di belakang nggak keliatan,” ucap Renata tanpa mengalihkan perhatiannya dari ponselnya.
“Aku bantu ya. Nanti membekas loh, nggak mulus lagi punggungnya.”
Renata tertegun melihat Reynold mengambil kotak obat di atas nakas. Ia menatap Reynold yang terlihat serius membaca petunjuk pemakaian salep untuk lebam. Reynold duduk lagi di sampingnya, menegakkan tubuh Renata lalu menyingkap kaos gadis itu tanpa permisi.
“Kak Rey! Bi—biar aku aja.” Renata takut kalau Reynold akan menyentuhnya lebih jauh. Dirinya bisa lupa diri kalau sampai hal itu terjadi.
“Sebentar, aku olesin ini dulu. Nggak lama.” Reynold dengan lihainya melepas tali pengait di punggung
Renata.
Punggung Renata melengkung seiring tangannya yang mendekap erat tubuhnya sendiri. Setiap kali ujung jari Reynold menyentuh punggungnya, ia merasakan getaran seperti tersengat aliran listrik. Perutnya terasa geli seolah Reynold sedang menggelitikinya.
“Kenapa kamu nggak bisa diem? Geli ya?” Reynold mencolek-colek salep di punggung Renata.
“Iya, geli, kak. Lagian ngolesinnya cepetan gitu. Malah pelan-pelan, nggak tahan gelinya,” sahut Renata yang merasa geli lagi.
“Ya kan biar meresap salepnya. Tahan dong. Jangan gerak-gerak dulu.” Reynold gemas sendiri lalu
menggelitiki pinggang Renata sampai gadis itu terguling-guling kegelian.
__ADS_1