
Elo : “Minggir atau kunikahkan kau dengan Lili.”
Dion : “Boleh. Kebetulan aku free besok. Maukan?”
Mereka bertiga menoleh pada Lili yang sudah sampai di ujung tangga. Lili memilih kabur dari
sana sebelum Dion mulai mengganggunya lagi.
Dion : “Yah, dia malah kabur.”
Elo : “Kau sich! Minggir sana.” Dion menggeser tubuhnya dari depan pintu.
Dion : “Kau akan terkejut sebentar lagi.”
Elo : “Kali ini apalagi?”
Dion : “Tidak ada. Hanya menyingkirkan kecoak pengganggu.”
Riri : “Ada kecoak?”
Riri hampir
melompat keatas tubuh Elo saat mendengar kata kecoak. Matanya jelalatan melihat
disekitar kakinya sementara tangan dan tubuhnya menempel ketat pada Elo.
Elo : “Apa kau takut kecoak, sayang?”
Riri mengangguk
dengan wajah ketakutan dan mata berkaca-kaca. Elo mencubit pipi Riri dengan
gemas. Tubuhnya mulai memanas karena gesekan tubuh Riri. Dengan cepat Elo
membawa Riri masuk ke dalam kamar pengantin mereka.
Dion : “Selamat
beristirahat. Jangan kasar-kasar.”
Brak! Pintu menutup
dan terkunci di depan wajah Dion. Pengawal geblek itu dengan cepat memutar
tubuhnya dan berlari secepat yang ia bisa untuk mengejar Lili.
*****
Kedua pengantin
masih saling menempel satu sama lain. Riri jadi parno karena mendengar kata
kecoak. Ia meminta Elo menyingkirkan semua kelopak mawar dari atas tempat tidur
mereka. Sebelum mendekat kesana.
Elo : “Sayang,
disini tidak ada kecoak. Pak Kim tidak akan membiarkan ada serangga pengganggu
di rumah ini. Semut aja gak ada.”
Riri : “Tapi tadi kak Dion bilang...”
Elo : “Itu hanya kiasan.”
Riri : “Tapi beneran ya, gak ada.”
Elo : “Iya. Tapi aku gak keberatan kalau kamu terus nempel kayak gini.”
Riri segera
melepaskan pelukannya pada Elo. Wajahnya menghangat, ia merasakan tubuhnya
lengket dan tidak nyaman karena belum sempat mandi tadi. Teringat sesuatu, Riri
celingukan mencari sesuatu.
Elo : “Kamu cari apa sich?”
Riri : “Kadonya Kaori. Ditaruh dimana ya?”
Elo melihat ada
kotak berwarna pink di atas nakas. Ia mengambilnya dan mengocok kotak itu.
Tidak ada yang terdengar,
Elo : “Ini kali.”
Riri : “Iya. Sini, mas.
Aku mau buka di kamar mandi, sekalian mandi.”
Elo : “Kamu bisa
lepas sendiri gaunnya?”
Riri : “Bisa kok,
mas.”
Elo membiarkan Riri
mandi duluan karena sejak masuk ke kamar pengantin tadi, dirinya agak sulit
mengendalikan diri. Elo mengusap-usap wajahnya untuk mengenyahkan pikiran mesum
dari kepalanya. Dia tidak boleh menyerang Riri dengan kasar.
Sambil menunggu
__ADS_1
Riri selesai mandi, Elo melepas jasnya, menyisakan boxer saja yang ia tutupi
dengan bathrobe. Ia duduk di sofa, membuka ponselnya dan membalas beberapa chat
dari temannya yang mengucapkan selamat atas pernikahan Elo dan Riri.
Elo juga sempat
membuka tag line berita pernikahannya yang menghebohkan. Ada beberapa judul
berita ‘Pernikahan mewah pewaris MK Group’, ‘Istri cantik pewaris tunggal MK
Group’, Hadiah pernikahan pewaris MK Group’, ‘Nikah dapat rumah super mewah :
Pernikahan cucu MK Group’, ’Patah hati masal : Pernikahan tahun ini’, ’Menikahi
pewaris MK Group, Riri dapat rumah mewah’, ‘Rumah mewah pemilik MK Group pindah
ke Riri’. Dan masih banyak judul lainnya.
Elo membaca berita
itu satu persatu untuk menghabiskan waktu. Saat kucuran air di kamar mandi sudah
tidak terdengar lagi, pintu kamar mandi perlahan terbuka. Jreng! Mata Elo
melotot melihat Riri keluar dengan tubuh dan kepala berbalut handuk.
Riri : “Mas, mandi
dulu sana.”
Elo segera masuk ke
kamar mandi dan berusaha mandi dengan cepat. Tapi ia harus berlama-lama di
bawah shower untuk mendinginkan tubuhnya yang membara melihat penampilan Riri
barusan. Setelah merasa cukup dingin, Elo keluar dari kamar mandi.
Ia hanya memakai
handuk dan berjalan keluar sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
Mata Elo terbelalak melihat Riri berdiri di depannya, sudah memakai lingerie
berwarna hitam yang Elo yakini sebagai kado dari Kaori.
Jakun Elo naik
turun saat ia berusaha menelan salivanya. Penampilan Riri dengan lingerie dan
rambut ikalnya yang basah, membuat Elo kembali memanas. Dengan langkah cepat,
Elo mendekati nakas, melewati Riri begitu saja.
Riri : “Mas...”
AC kamar. Ia membuka jendela besar, membiarkan semilir angin masuk ke dalam
kamar itu. Elo berbalik lagi menghadap Riri yang masih berdiri dengan kikuk.
Saat Elo berjalan mendekatinya, tubuh Riri tidak juga beranjak menjauh.
Dengan satu gerakan
manis, Elo menarik tangan Riri agar duduk di tempat tidur bersamanya. Elo mulai
mengusap rambut Riri yang basah. Ia mengeringkan rambut Riri dengan handuk
sampai tetesan airnya berkurang.
Elo : “Aku tahu
kamu takut. Aku juga sama takutnya.”
Riri : “Takut
kenapa, mas?”
Elo : “Takut kalau
aku akan membuatmu kesakitan nanti.”
Riri : “Pelan-pelan
aja, mas...”
Wajah Riri memerah
mendengar kata-katanya sendiri. Duh, malu banget dech Ririnya.
*****
Dion berhasil
mengejar langkah Lili yang hampir masuk ke kamarnya sendiri. Ia menghadang Lili
masuk dan menghimpitnya ke dinding.
Lili : “Apa maumu?”
Dion : “Kau dengar
tuan muda bilang apa tadi?”
Lili : “Tidak. Bisa
mundur? Aku mau istirahat.”
Dion : “Kau tidak
__ADS_1
mungkin tidak dengar. Apa kau sedang mempermainkan aku? Hah!”
Brak! Dion meninju
pintu kamar Lili dengan kepalan tangannya.
Lili : “Apa
maksudmu?”
Dion : “Kau mau
kuajak dinner, mau satu mobil denganku, bicara denganku, apa maksudnya itu?”
Lili bungkam dengan
pertanyaan Dion, dia juga gak tahu kenapa mau saja menerima ajakan dinner Dion
waktu itu. Lili hanya merasa Dion tidak berbahaya, ia merasa aman kalau Dion
ada didekatnya.
Lili : “Aku
tidak...”
Dion : “Apa karena
wajahku?!”
Tidak mendengar
jawaban Lili, Dion menganggapnya sebagai iya. Dion mundur selangkah dan
berjalan menjauh dari Lili saat terdengar langkah kaki beberapa pelayan wanita yang
kembali setelah membereskan rumah.
Lili menarik tangan
Dion dengan cepat masuk ke kamar Lili, mereka berdua berdiri berhadapan sangat
dekat. Lili sampai memeluk tubuh Dion untuk menyeimbangkan tubuhnya yang sempat
limbung tadi.
Suara-suara pelayan
mulai menjauh dari depan kamar Lili. Lili menarik nafas lega, ia menyandarkan kepalanya
di dada Dion.
Dion : “Mereka
sudah pergi. Lepaskan pelukanmu.”
Lili : “Gak mau.” Bisik
Lili sambil mengeratkan pelukannya pada Dion.
Dion : “Berhenti
bermain denganku...”
Mata Dion
terbelalak saat Lili menengadah dan langsung mencium bibirnya dengan mata yang
terbuka menatapnya. Hembusan nafas hangat Lili menerpa pipinya, perlahan Dion
membalas ciuman Lili, merapatkan pelukan mereka.
Dion : “Kau harus
menutup matamu saat kita berciuman. Kenapa malah melotot begitu?”
Lili : “Mataku
memang besar. Aku harus memastikan situasi aman, kalau aku tutup mata, siapa
tahu ada seseorang yang akan menyerang kita.”
Dari kejauhan
terdengar teriakan seseorang, Lili menajamkan telinganya,
Lili : “Siapa yang
teriak?”
🌻🌻🌻🌻🌻
Author : “Hei!
Dion, Lili, vote dong. Cuma nongol bentar tapi sering kayak iklan aja, gak mau
vote author. Author block baru tahu rasa. Gak jadi nikah nich?!”
Dion : “Iya vote
otw... Jadi nikah kan sama Lili?”
Author : “Hmmm...”
manggut-manggut sambil menghilang.
Dion : “Thor?
Kemana perginya?”
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
__ADS_1
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).