Duren Manis

Duren Manis
Kecoak pengganggu


__ADS_3

Elo : “Minggir atau kunikahkan kau dengan Lili.”


Dion : “Boleh. Kebetulan aku free besok. Maukan?”


Mereka bertiga menoleh pada Lili yang sudah sampai di ujung tangga. Lili memilih kabur dari


sana sebelum Dion mulai mengganggunya lagi.


Dion : “Yah, dia malah kabur.”


Elo : “Kau sich! Minggir sana.” Dion menggeser tubuhnya dari depan pintu.


Dion : “Kau akan terkejut sebentar lagi.”


Elo : “Kali ini apalagi?”


Dion : “Tidak ada. Hanya menyingkirkan kecoak pengganggu.”


Riri : “Ada kecoak?”


Riri hampir


melompat keatas tubuh Elo saat mendengar kata kecoak. Matanya jelalatan melihat


disekitar kakinya sementara tangan dan tubuhnya menempel ketat pada Elo.


Elo : “Apa kau takut kecoak, sayang?”


Riri mengangguk


dengan wajah ketakutan dan mata berkaca-kaca. Elo mencubit pipi Riri dengan


gemas. Tubuhnya mulai memanas karena gesekan tubuh Riri. Dengan cepat Elo


membawa Riri masuk ke dalam kamar pengantin mereka.


Dion : “Selamat


beristirahat. Jangan kasar-kasar.”


Brak! Pintu menutup


dan terkunci di depan wajah Dion. Pengawal geblek itu dengan cepat memutar


tubuhnya dan berlari secepat yang ia bisa untuk mengejar Lili.


*****


Kedua pengantin


masih saling menempel satu sama lain. Riri jadi parno karena mendengar kata


kecoak. Ia meminta Elo menyingkirkan semua kelopak mawar dari atas tempat tidur


mereka. Sebelum mendekat kesana.


Elo : “Sayang,


disini tidak ada kecoak. Pak Kim tidak akan membiarkan ada serangga pengganggu


di rumah ini. Semut aja gak ada.”


Riri : “Tapi tadi kak Dion bilang...”


Elo : “Itu hanya kiasan.”


Riri : “Tapi beneran ya, gak ada.”


Elo : “Iya. Tapi aku gak keberatan kalau kamu terus nempel kayak gini.”


Riri segera


melepaskan pelukannya pada Elo. Wajahnya menghangat, ia merasakan tubuhnya


lengket dan tidak nyaman karena belum sempat mandi tadi. Teringat sesuatu, Riri


celingukan mencari sesuatu.


Elo : “Kamu cari apa sich?”


Riri : “Kadonya Kaori. Ditaruh dimana ya?”


Elo melihat ada


kotak berwarna pink di atas nakas. Ia mengambilnya dan mengocok kotak itu.


Tidak ada yang terdengar,


Elo : “Ini kali.”


Riri : “Iya. Sini, mas.


Aku mau buka di kamar mandi, sekalian mandi.”


Elo : “Kamu bisa


lepas sendiri gaunnya?”


Riri : “Bisa kok,


mas.”


Elo membiarkan Riri


mandi duluan karena sejak masuk ke kamar pengantin tadi, dirinya agak sulit


mengendalikan diri. Elo mengusap-usap wajahnya untuk mengenyahkan pikiran mesum


dari kepalanya. Dia tidak boleh menyerang Riri dengan kasar.


Sambil menunggu

__ADS_1


Riri selesai mandi, Elo melepas jasnya, menyisakan boxer saja yang ia tutupi


dengan bathrobe. Ia duduk di sofa, membuka ponselnya dan membalas beberapa chat


dari temannya yang mengucapkan selamat atas pernikahan Elo dan Riri.


Elo juga sempat


membuka tag line berita pernikahannya yang menghebohkan. Ada beberapa judul


berita ‘Pernikahan mewah pewaris MK Group’, ‘Istri cantik pewaris tunggal MK


Group’, Hadiah pernikahan pewaris MK Group’, ‘Nikah dapat rumah super mewah :


Pernikahan cucu MK Group’, ’Patah hati masal : Pernikahan tahun ini’, ’Menikahi


pewaris MK Group, Riri dapat rumah mewah’, ‘Rumah mewah pemilik MK Group pindah


ke Riri’. Dan masih banyak judul lainnya.


Elo membaca berita


itu satu persatu untuk menghabiskan waktu. Saat kucuran air di kamar mandi sudah


tidak terdengar lagi, pintu kamar mandi perlahan terbuka. Jreng! Mata Elo


melotot melihat Riri keluar dengan tubuh dan kepala berbalut handuk.


Riri : “Mas, mandi


dulu sana.”


Elo segera masuk ke


kamar mandi dan berusaha mandi dengan cepat. Tapi ia harus berlama-lama di


bawah shower untuk mendinginkan tubuhnya yang membara melihat penampilan Riri


barusan. Setelah merasa cukup dingin, Elo keluar dari kamar mandi.


Ia hanya memakai


handuk dan berjalan keluar sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.


Mata Elo terbelalak melihat Riri berdiri di depannya, sudah memakai lingerie


berwarna hitam yang Elo yakini sebagai kado dari Kaori.


Jakun Elo naik


turun saat ia berusaha menelan salivanya. Penampilan Riri dengan lingerie dan


rambut ikalnya yang basah, membuat Elo kembali memanas. Dengan langkah cepat,


Elo mendekati nakas, melewati Riri begitu saja.


Riri : “Mas...”


AC kamar. Ia membuka jendela besar, membiarkan semilir angin masuk ke dalam


kamar itu. Elo berbalik lagi menghadap Riri yang masih berdiri dengan kikuk.


Saat Elo berjalan mendekatinya, tubuh Riri tidak juga beranjak menjauh.


Dengan satu gerakan


manis, Elo menarik tangan Riri agar duduk di tempat tidur bersamanya. Elo mulai


mengusap rambut Riri yang basah. Ia mengeringkan rambut Riri dengan handuk


sampai tetesan airnya berkurang.


Elo : “Aku tahu


kamu takut. Aku juga sama takutnya.”


Riri : “Takut


kenapa, mas?”


Elo : “Takut kalau


aku akan membuatmu kesakitan nanti.”


Riri : “Pelan-pelan


aja, mas...”


Wajah Riri memerah


mendengar kata-katanya sendiri. Duh, malu banget dech Ririnya.


*****


Dion berhasil


mengejar langkah Lili yang hampir masuk ke kamarnya sendiri. Ia menghadang Lili


masuk dan menghimpitnya ke dinding.


Lili : “Apa maumu?”


Dion : “Kau dengar


tuan muda bilang apa tadi?”


Lili : “Tidak. Bisa


mundur? Aku mau istirahat.”


Dion : “Kau tidak

__ADS_1


mungkin tidak dengar. Apa kau sedang mempermainkan aku? Hah!”


Brak! Dion meninju


pintu kamar Lili dengan kepalan tangannya.


Lili : “Apa


maksudmu?”


Dion : “Kau mau


kuajak dinner, mau satu mobil denganku, bicara denganku, apa maksudnya itu?”


Lili bungkam dengan


pertanyaan Dion, dia juga gak tahu kenapa mau saja menerima ajakan dinner Dion


waktu itu. Lili hanya merasa Dion tidak berbahaya, ia merasa aman kalau Dion


ada didekatnya.


Lili : “Aku


tidak...”


Dion : “Apa karena


wajahku?!”


Tidak mendengar


jawaban Lili, Dion menganggapnya sebagai iya. Dion mundur selangkah dan


berjalan menjauh dari Lili saat terdengar langkah kaki beberapa pelayan wanita yang


kembali setelah membereskan rumah.


Lili menarik tangan


Dion dengan cepat masuk ke kamar Lili, mereka berdua berdiri berhadapan sangat


dekat. Lili sampai memeluk tubuh Dion untuk menyeimbangkan tubuhnya yang sempat


limbung tadi.


Suara-suara pelayan


mulai menjauh dari depan kamar Lili. Lili menarik nafas lega, ia menyandarkan kepalanya


di dada Dion.


Dion : “Mereka


sudah pergi. Lepaskan pelukanmu.”


Lili : “Gak mau.” Bisik


Lili sambil mengeratkan pelukannya pada Dion.


Dion : “Berhenti


bermain denganku...”


Mata Dion


terbelalak saat Lili menengadah dan langsung mencium bibirnya dengan mata yang


terbuka menatapnya. Hembusan nafas hangat Lili menerpa pipinya, perlahan Dion


membalas ciuman Lili, merapatkan pelukan mereka.


Dion : “Kau harus


menutup matamu saat kita berciuman. Kenapa malah melotot begitu?”


Lili : “Mataku


memang besar. Aku harus memastikan situasi aman, kalau aku tutup mata, siapa


tahu ada seseorang yang akan menyerang kita.”


Dari kejauhan


terdengar teriakan seseorang, Lili menajamkan telinganya,


Lili : “Siapa yang


teriak?”


🌻🌻🌻🌻🌻


Author : “Hei!


Dion, Lili, vote dong. Cuma nongol bentar tapi sering kayak iklan aja, gak mau


vote author. Author block baru tahu rasa. Gak jadi nikah nich?!”


Dion : “Iya vote


otw... Jadi nikah kan sama Lili?”


Author : “Hmmm...”


manggut-manggut sambil menghilang.


Dion : “Thor?


Kemana perginya?”


Klik profil author ya, ada novel karya author yang

__ADS_1


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).


__ADS_2