Duren Manis

Duren Manis
Extra part 67 Riri & Elo


__ADS_3

Extra part 67 Riri & Elo


Lili mendongak menatap Dion dengan mimik kuatir.


Dion tahu kalau Lili hanya ingin mengetahui nasib Elena, tapi melihat wajah


merona Lili, Dion sungguh tidak tega mengatakan apa yang terjadi pada wanita


jahat itu. Dion takut kalau Lili akan ketakutan padanya setelah tahu kalau suaminya


bisa sangat kejam.


Dion mengecup punggung tangan Lili, samar masih


tercium aroma jasmine dari kulit Lili. Tapi saat Dion melihat tangannya


sendiri, ia melihat tangannya yang penuh darah.


“Dia tidak akan bisa mengganggu kita lagi.


Selamanya,” sahut Dion.


“Apa dia pergi?” tanya Lili lagi.


“Ya. Pergi sangat jauh. Dia tidak akan bisa


kembali,” jawab Dion sambil mengecup pundak Lili.


“Apa tuan besar tidak akan marah?” tanya Lili malah


mengkuatirkan Kakek Michael.


“Tuan besar sudah menyerahkan semuanya padaku.


Lili, apa kau takut padaku?” tanya Dion sedikit cemas.


“Tidak. Kau kan hanya menjalankan tugasmu menjaga


keluarga ini. Tapi sebaiknya anak-anak tidak usah tahu.” Lili merenggangkan


tubuhnya. Ia ingin tidur lagi karena masih kurang tidur.


“Tidurlah. Anak-anak tidak akan tahu.” Dion


mengeratkan pelukannya pada Lili yang perlahan mulai memejamkan matanya.


Bukan sekali ini Dion harus bersikap kejam. Entah


sudah berapa banyak orang yang harus berurusan dengan kekejamannya. Ini


tugasnya, termasuk juga pria jahat yang menodai Lili dulu. Pria itu juga sudah


pergi selamanya setelah Lili bisa mengatasi traumanya.


Sungguh beban berat yang harus dijalani Dion.


Itulah kenapa ia memiliki kamar pribadinya sendiri. Dion perlu melampiaskan


semua bebannya di dalam kamar itu dan malam ini, Lili ada bersamanya. Dion


mengelus rambut Lili yang menutupi wajahnya. Istrinya itu sudah tertidur lelap


kembali.


“Andai saja kau tidak menerimaku dulu. Menerima


wajahku yang rusak, mungkin selamanya aku akan sendirian menanggung beban berat


ini, Lili. Dosa besar yang harus kulakukan untuk menjaga majikan kita. Tetaplah


bersamaku sampai akhir, sayang. Liliku,” ucap Dion lalu mengecup kening Lili.


**


Di dalam sebuah penthouse mewah milik Elo, Riri


tertidur pulas setelah dokter Nato menyuntiknya dengan obat penenang. Elo


terlihat duduk bersandar di sofa, wajahnya tampak sangat kelelahan.


“Dokter, apa tidak apa-apa menyuntik Riri dengan


obat itu?” tanya Elo.


“Apa tuan muda masih sanggup melakukannya?” tanya


dokter itu balik.


Elo bungkam, ia perlu beristirahat sebentar untuk


makan dan tidur. Setidaknya tidur beberapa jam untuk memulihkan tenaganya.


“Apa Riri akan terus seperti itu, dokter? Dia


bahkan belum makan dan minum. Setiap bangun, pasti minta itu dan itu terus,”


kata Rlo sebelum menyendok makanan ke mulutnya.


“Seharusnya sudah mulai mereda. Kita lihat dia


sadar nanti ya. Tuan muda mau saya suntik vitamin? Biar kuat?” tanya dokter


Nato yang sudah bersiap mengambil alat suntik.


Elo menolak dengan tegas mengatakan kalau ia hanya


perlu tidur. Pria itu merasa tidak perlu di suntik untuk mengimbangi Riri.


Lagipula, dirinya akan menderita kalau ternyata Riri sudah sadar nanti. Dokter


Nato akhirnya undur diri dan mengatakan kalau ia akan menunggu di rumah sakit


saja.


Elo yang belum mendapat kabar mengenai Elena, ingin


menelpon Dion. Ia melirik jam sudah hampir pagi, tapi Elo tetap menelpon

__ADS_1


sahabatnya itu.


“Halo, Dion,” kata Elo setelah telpon tersambung.


“Halo, Elo. Lo nggak tidur?” tanya Dion sedikit


berbisik.


“Lo kebangun ya? Gue ganggu?” tanya Elo.


“Nggak. Gue belum tidur. Kenapa lo nelpon? Terjadi


sesuatu?” tanya Dion sedikit cemas.


“Disini aman. Riri barusan tidur. Dia gimana?”


tanya Elo.


Dion menarik nafas panjang sebelum menjawab


pertanyaan Elo. Ia mengatakan dengan tegas kalau Elena sudah dilenyapkan.


Pemakamannya akan dilakukan besok siang di pemakaman khusus keluarga besar MK


Group. Elo menghela nafas antara lega dan merasa sedikit cemas dengan psikis Dion.


“Lo nggak apa-apa kan?” tanya Elo sedikit ragu.


“Gue lagi di kamar pribadi gue... sama Lili. Lo


tahu, ini pertama kalinya dia masuk kesini,” kata Dion sambil mengelus kepala Lili.


“Lo nggak bikin yang aneh-aneh kan?” tanya Elo


mulai traveling otaknya.


“Ternyata lebih cepat rileks kalau melakukannya


dengan cara itu. Gue nggak nyangka Lili nggak takut setelah tahu suaminya


seorang....” Kata-kata Dion terpotong ucapan Elo.


“Itu tugas lo, kami yang bertanggung jawab, Lili


sudah mengetahui resiko pekerjaan kalian kan?” tanya Elo.


“Ya, dia tahu. Tapi mungkin agak shock setelah tahu


kebenarannya. Lo tahu, dia ketakutan sampai ngikutin apa yang gue suruh tanpa


komentar,” kata Dion sedikit cengengesan.


Elo dan Dion tersenyum di tempat mereka berada


masing-masing. Dion bertanya lagi apa Elo akan datang ke pemakaman Elena dan


Elo menjawab tergantung apa Riri sudah sadar atau belum saat itu.


“Gue nggak bisa ninggalin Riri sendirian. Gue nggak


berani. Dia belum sepenuhnya sadar dan gue nggak bisa percaya orang lain selain


“Ngejagain lo udah berat, tambah lagi harus


ngejagain istri lo,” kata Dion pura-pura mengeluh.


Elo ketawa ngakak, ia tahu kalau Dion hanya


bercanda. Perhatian Elo teralihkan saat Riri tampak bergerak di atas tempat


tidur, padahal ia belum selesai makan dan juga belum tidur. Elo cepat-cepat


mengatakan pada Dion kalau ia ingin tidur dulu dan minta dikabari tentang


jalannya pemakaman Elena.


Riri ternyata hanya membalik tubuhnya, ia kembali


tertidur lelap. Elo mendekati istrinya itu, lalu tidur di sampingnya.


Sebenarnya ia ingin sekali melihat pemakaman Elena, tapi ia tidak bisa


meninggalkan Riri sendirian.


“Sayang, pengganggu dalam hidup kita akhirnya pergi


juga. Aku tidak akan pernah memaafkannya atas apa yang sudah dia lakukan pada


kamu. Cepat sembuh, sayang. Kalau kamu gini terus, aku harus gimana?” tanya Elo


bingung.


Elo ingin memeluk tubuh Riri, tapi ia takut


membangunkan istrinya itu. Akhirnya Elo tidur sambil membelakangi Riri.


**


Satu jam sebelum pemakaman Elena, Riri sadar dari


tidur panjangnya. Ia cukup terganggu dengan suara ponsel Elo yang lupa di


sillent pria itu. Tangan Riri terangkat mengambil ponsel Elo diatas nakas lalu


membuka kunci ponsel itu untuk melihat siapa yang mengirimkan chat.


Sambil memicingkan matanya, Riri membuka chat dari


Dion. Matanya terbelalak melihat foto Elena yang terbujur kaku diantara para


pelayat yang duduk disekitarnya. Riri terduduk diatas tempat tidur, ia memegangi


kepalanya yang terasa berat. Pusing dan mual, Riri mencoba tenang untuk meredakan


rasa sakitnya.


“Elo, lo nggak usah dateng. Ini sudah mau jalan ke

__ADS_1


pemakaman. Ntar gue mampir kesana. Tante Dewi masuk rumah sakit, kayaknya udah


gila,” ketik Dion memberitahu apa yang terjadi di seberang sana.


Riri melihat ke samping, Elo tertidur pulas


disisinya. Wangi makanan masih tercium di kamar itu. Riri mencoba bangun, ia


ingin minum sesuatu dan juga makan sesuatu. Untung saja tubuhnya tertutup


lingerie, jadi Riri tidak kebingungan mencari pakaian.


Susah payah Riri berjalan mendekati meja lalu duduk


disana. Ia sudah sangat kelaparan dan ingin makan dulu, tapi melihat chat dari


Dion dan kiriman foto-foto persiapan pemakaman Elena membuat Riri tidak


berselera makan. Wanita itu hanya duduk di sofa, naik turun, Riri meng-scroll


chat dari Dion tanpa membalasnya.


Riri memejamkan matanya, ia mengambil segelas air


lalu meminumnya pelan-pelan. Sangat pelan sampai Riri merasakan tenggorokannya


tidak sakit lagi.


“Hmm... ehem... aaa... mas...,” Riri menyebutkan


beberapa kata lagi setelah tenggorokannya merasa lebih baik. Ia melihat di kedua


tangannya ada bekas suntikan yang tertutup plester kecil.


“Apa yang terjadi sama aku? Ini dimana lagi?” Riri


sibuk bergumam sambil mengingat keberadaannya terakhirnya di kapal.


Riri ingat saat dirinya diculik dan dibawa ke


sebuah kapal. Pria yang menculiknya mirip dengan dokter yang bersama mereka di


kapal. Dokter itu menyuntik dirinya dengan sesuatu sebelum menceburkan Riri ke


dalam laut. Riri tidak ingat apa-apa lagi setelah itu.


Tengah sibuk dengan pikirannya sendiri, Elo yang


terbangun sempat kaget ketika menyadari kalau Riri tidak ada di sampingnya. Ia


segera bangun dan bernafas lega melihat Riri duduk di sofa.


“Sayangku,” panggil Elo.


Riri masih diam tidak bergeming dengan panggilan Elo.


Ia mencoba mengingat apa yang terjadi pada dirinya setelah dilempar ke laut. Elo


bangkit dari tempat tidur lalu mendekati Riri. Pria itu duduk disamping Riri


lalu menggenggam tangannya.


“Sayang,” panggil Elo lagi. Riri menoleh menatap Elo.


Mereka saling pandang sejenak sebelum Riri memeluk tubuh Elo.


“Mas! Aku kenapa?!” tanya Riri bingung.


“Tenang, sayang. Tenang ya. Semuanya sudah aman. Kita


di penthouse untuk sementara. Kamu ingat apa yang terjadi?” tanya Elo


hati-hati.


Riri mengangguk, ia hanya mengingat sampai dirinya


tercebur ke laut. Sisanya, ia sama sekali tidak ingat apa-apa. Elo menarik


nafas panjang sebelum mulai mengatakan kalau Riri disuntik obat perangsang yang


cukup kuat. Elo juga mengatakan kalau Dion yang menolong Riri dari laut. Riri


cukup shock mendengarnya,


“Obat perangsang, mas?” tanya Riri tidak percaya.


“Iya, sayang. Elena mengatur penculikan itu untuk


mempermalukan kamu. Dengan obat itu, Elena ingin kamu meminta sendiri di tiduri


pria lain. Elena akan merekam semuanya lalu mengedarkannya ke internet. Tapi


rencananya berubah saat Dion berhasil naik ke kapal. Ia menyebarkan postingan


seolah kamu dan Dion ada hubungan khusus.” Elo mengatakannya tanpa ada yang


dirahasiakan.


“Oh, astaga! Kejam sekali. Mas nggak percaya semua


itu kan?” tanya Riri.


“Nggak, sayang. Selama bertahun-tahun kita bersama,


sudah ada dua anak juga. Aku akan selalu percaya sama kamu dan Dion.” Elo


mengecup punggung tangan Riri.


“Mas... Elena sudah meninggal. Gimana bisa?” tanya


Riri sambil menyerahkan ponsel Elo. Dion mengirimkan foro terbaru tanah kuburan


dengan batu nisan Elena terpasang disana.


“Itu sudah takdirnya, Riri. Jangan dipikirkan ya. Semua


perbuatan jahat pasti ada balasannya. Kamu tidak perlu mencemaskan dia lagi.”

__ADS_1


Elo menenangkan Riri.


Keduanya saling berpelukan, menguatkan satu sama lain setelah kehilangan anggota keluarga yang sudah sangat jahat, mengganggu kehidupan rumah tangga mereka.


__ADS_2