Duren Manis

Duren Manis
Hujan deras


__ADS_3

Kaori berdiri di dekat pintu masuk kamar motel. Rio masuk ke dalam kamar mandi, ia seperti mencari sesuatu.


Rio : "Nah, ketemu."


Kaori menatap hair dryer di tangan Rio.


Rio : "Lepas bajumu."


Kaori : "Apa?!!"


Kaori spontan menyilangkan tangannya ke depan dadanya. Rio menatap Kaori, ia bingung kenapa Kaori berteriak. Semenit kemudian ia mengetuk kepalanya sendiri dengan tangan.


Rio : "Maksudku sementara kamu pake handuk dulu sebentar. Aku keringin bajumu pakai ini."


Rio menunjukkan hair dryer di tangannya.


Kaori : "Oh, gitu. Kirain kamu mau macem-macem."


Rio : "Macem-macem? Dih, pikiranmu aja yang ngeres."


Kaori : "Coba aja kamu pikir, cowok ngajak pacarnya ke motel, kalo gak mau macem-macem, trus...?"


Rio : "Ternyata pikiranmu liar juga ya."


Kaori : "Liar??!!"


Kaori mulai merepet mengomeli Rio, ia kesal dikatai liar. Padahal Rio hanya ingin menggodanya saja.


Laki-laki 18 tahun itu mendekati Kaori dan menyudutkannya ke dinding. Kaori terdiam, ia terkejut dengan tindakan Rio. Kaori menunduk merapatkan jaket Rio yang membungkus tubuhnya.


Sungguh perasaan Rio tak menentu melihat wajah manis Kaori yang memerah. Ia ingin mencium gadis itu, tapi takut dirinya akan kebablasan dan berakhir menyakiti pacarnya itu.


Andai saja mereka sudah lulus kuliah dan bekerja, mungkin Rio lebih berani melakukannya.


Rio : "Cepat lepas bajumu."


Kaori : "Ja... Jangan, Rio."


Kaori semakin mengeratkan pelukannya. Rio tersenyum smirk, ia mengangkat tangannya dan menyentil dahi Kaori.


Kaori : "Adduchh... Sakit...!"


Rio : "Makanya jangan mikir aneh-aneh. Sana ke kamar mandi."


Kaori segera masuk ke dalam kamar mandi, setelah Rio melangkah kembali ke dekat ranjang. Rio mencoba menghidupkan hair dryer sambil duduk diatas ranjang motel.


Kamar di motel itu terlihat seperti kost-kostan tapi fasilitasnya cukup lengkap. Kamar mandinya juga bersih.


Ceklek! Rio menoleh ke arah kamar mandi saat mendengar suara pintu kamar mandi terbuka. Kaori keluar dari sana dengan tubuh bagian atas ditutupi handuk.


Wajah Rio terasa panas saat melihat tengkuk dan pundak Kaori terekspos dihadapannya. Untuk sesaat Rio tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Kaori.


Gadis itu bahkan tidak berusaha menutupi pundaknya dari Rio. Ia berjalan santai mendekati ranjang.


Kaori : "Rio, pinjam hair dryernya."


Rio gelagapan memberikan hair dryer pada Kaori. Ia bangkit dari duduknya dan berjalan ke dekat jendela.


Rio melihat keluar jendela, menatap jalanan yang mulai tergenang air hujan. Hujan turun semakin deras disertai angin kencang.

__ADS_1


Glleegaar! Petir kembali bergemuruh. Kilatan cahaya menerangi kamar motel itu. Kaori masih mengeringkan bajunya saat Rio kembali menatap gadis itu. Sesekali Kaori mengencangkan handuk yang menutupi tubuhnya.


Rio melihat butiran air membasahi wajah dan leher Kaori. Pundaknya sedikit mengkilat dan terlihat tali bra berwarna hitam. Kaori melirik Rio, berdehem sambil merapikan rambutnya agar menutupi tubuh bagian depannya.


Rio tersadar, ia mengalihkan pandangannya keluar jendela. Tetesan air hujan turun dari rambut Rio, menelusuri pipinya. Ia lupa kalau dirinya juga basah kuyup.


Rio mulai membuka kemejanya, menyisakan kaos di balik kemeja itu. Kaori yang melihat itu spontan memalingkan wajahnya, pura-pura gak liat.


Rio : "Uda kering bajumu?"


Kaori : "Itu... Lagi dikit."


Rio mengangguk, ia melihat kipas angin di sudut ruangan dan menghidupkan kipas itu menghadap ke dinding.


Rio menggantung kemejanya di depan kipas angin untuk mengeringkannya. Ia juga mengambil handuk bersih di kamar mandi dan mengeringkan rambutnya.


Kaori kembali bersin-bersin. Ia menggosok lengannya yang terasa dingin.


Rio : "Mendingan kamu mandi. Ada air hangat di kamar mandi."


Kaori menurut, ia mulai pusing karena terus bersin-bersin. Suara gemercik air dari dalam kamar mandi, membuat Rio deg-degan. Gini amat ya nungguin pacar mandi.


Rio mulai mengkhayal apa yang dilakukan Kaori di dalam sana. Tentu saja mandi, apalagi. Terlintas bayangan Kaori yang sedang mandi, bagian tubuhnya yang sensitif tertutup busa sabun.


Rio berpegangan pada kusen jendela, pikiran kotornya bersinergi dengan rasa geli yang mulai muncul dibawah perutnya. Ceklek! Saat pintu kamar mandi kembali terbuka, Rio sama sekali tidak berani menoleh menatap Kaori.


Kaori : "Kamu gak mandi, Rio?"


Rio : "Ntar aja. Aku mau cek mobilnya dulu."


Kaori tidak bertanya lagi, ia kembali bersin-bersin.


Rio : "Kamu mau teh? Dari tadi masih bersin-bersin."


Rio : "Iya. Aku pesen dulu, kamu kunci pintunya ya."


Rio keluar dari kamar motel dan memastikan Kaori mengunci pintu sebelum berjalan kembali ke bagian depan motel.


Hujan turun sangat deras, membuat lantai motel agak licin. Rio berjingkat perlahan agar tidak terpeleset.


Rio : "Mb, bisa pesan teh panas ya? Dua."


Penjaga motel : "Bisa, mas. Tapi ambil kesini ya. Masnya bisa nelpon dari dalem kamar kalau mau pesen. Nanti uda jadi, baru diambil."


Rio : "Kalo gitu teh panas dua sama mie seduh ada mb?"


Penjaga motel : "Ada popmie, mas. Mau rasa apa?"


Rio : "Rasa ayam sama soto ya. Saya mau ke bengkel sebelah sebentar. Bisa pinjam payung, mb?"


Penjaga motel memberikan payung pada Rio dan ia berjalan menyusuri jalan air yang menggenang sebetis kaki.


Mobil Rio tampak sudah masuk ke bagian dalam bengkel. Montir memberitahu mobilnya sudah selesai dikerjakan tapi ada masalah dengan rem-nya.


Rio : "Memang ada masalah di rem-nya, pak. Saya uda cek ke bengkel disuruh ganti sparepart."


Montir : "Tadi sudah saya perbaiki sedikit. Bisalah tahan sampai diservice lagi."


Rio : "Makasi, pak. Berapa saya harus bayar?"

__ADS_1


Montir : "Gak usah. Cuma isi air radiator sama cek rem aja."


Rio : "Gak bisa gitu dong, pak. Bapaknya sudah repot mau bantu saya."


Montir : "Beneran gak pa-pa."


Akhirnya Rio menyerahkan selembar limapuluh ribuan ke tangan bapak montir yang baik hati itu.


Rio masuk ke mobil dan mengendarai mobilnya ke parkiran motel. Setelah itu ia mengembalikan payung ke penjaga motel dan membawa pesanannya ke kamar.


Tok, tok, tok... Rio mengetuk pintu kamar motel dan Kaori mengintip dari jendela. Kaori membuka pintu kamar dan membantu Rio membawa pesanan mereka.


Kaori : "Kamu basah, Rio. Ganti baju sana."


Rio : "Kalau aku buka kaos, gak ada baju ganti. Kemejaku uda kering blum?"


Kaori : "Uda tuch."


Rio melihat kemejanya terhampar di ujung ranjang. Kaori masi belum memakai bajunya lagi.


Rio : "Bajumu uda kering?"


Kaori : "Bahannya agak tebal, jadi keringnya lama. Aku gantung di depan kipas angin tuch."


Rio : "Pakai kemejaku dulu. Ini teh panas dan ada mie juga."


Kaori memakai kemeja Rio dan melepas handuk yang membelit tubuhnya.


Kali ini Rio melepaskan kaosnya, memperlihatkan otot perut dan dadanya pada Kaori. Rio menatap Kaori yang sedang menatap tubuhnya.


Rio : "Ups, sorry. Berikan handukmu."


Kaori memberikan handuk di dekatnya pada Rio yang langsung menyampirkannya di bahu, menutupi dadanya.


Kaori : "Rio, mobilnya gimana?"


Rio : "Uda selesai, tuch uda parkir di depan."


Kaori menyeruput teh panas yang ada di depannya. Tubuhnya terasa lebih hangat sekarang.


Bau mie rasa soto menguar di dalam kamar itu. Rio menikmati makan mie instant. Ia kembali lapar setelah terkena hujan.


Kaori juga menikmati mienya. Mereka makan berdua tanpa bicara apa-apa. Hanya sesekali tersenyum satu sama lain.


Rio : "Habis makan kita bisa balik. Pakai aja kemejaku."


Kaori : "Apa gak sebaiknya kita tunggu hujannya agak reda? Bahaya nyetir kalau hujannya kayak gini."


Rio : "Kita tunggu sebentar lagi ya."


Kaori menatap keluar jendela kamar motel. Ia menoleh saat Rio mulai mendekatinya.


🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain β€˜Menantu untuk Ibu’, β€˜Perempuan IDOL’, β€˜Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya para reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya..

__ADS_1


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.


🌲🌲🌲🌲🌲


__ADS_2