
Extra part 27
Ken masih mengintip Renata dari dalam hangar pesawat. Tidak ada seorangpun yang menyadari keberadaannya, tapi Mia sempat tertegun sejenak sebelum menoleh ke tempat Ken bersembunyi. Alex yang menyadari Mia tidak mengikutinya, berbalik menatap istrinya itu. Alex mengikuti arah pandangan mata Mia, tidak ada siapapun disana, lalu apa yang membuat istrinya berhenti.
“Sayang, kamu lihat apa?” tanya Alex.
“Ach, tidak. Aku kira tadi ada seseorang disana. Ayo, mas,” sahut Mia sambil merangkul lengan Alex.
Ken melihat mereka masuk ke dalam dua mobil yang berbeda. Satunya limosin, satunya lagi mobil sport milik Reynold. Saat Renata ingin masuk ke limosin bersama Kaori, Reynold menarik tangan gadis itu masuk ke
mobil sportnya.
“Renata, aku sangat merindukanmu,” bisik Ken sambil melemparkan buket bunga ditangannya ke atas kursi yang tersedia disana.
Ken meminta sopirnya mengikuti mobil sport Reynold, meskipun ia tidak perlu melakukannya, tapi Ken ingin tahu kemana Reynold membawa Renata. Iring-iringan kedua mobil itu sampai di sebuah mansion mewah.
Sopir Ken menghentikan mobil di depan mansion itu.
“Tuan muda, ini mansion milik Tuan Steven. Apa tuan mau masuk?” tanya sopir itu.
“Tunggu sebentar.” Ken mencoba menghubungi Renata lewat kotak game miliknya, tapi Renata belum online.
Menit berlalu sampai setengah jam kemudian, Renata masih belum online. “Kita pulang, pak,” perintah Ken dengan kecewa.
“Maaf, tuan muda. Kalau tuan muda ingin bertemu, buat janji saja dulu. Nanti kita kesini lagi,” usul sopir itu yang langsung disetujui Ken.
Ken mengetik cepat di kotak game itu, mengirimkan pesan pada Renata. “Apa kamu sudah sampai? Bisa kita bertemu besok?”
Ken tersenyum cerah, ia membayangkan akan kemana bersama Renata besok. Sopir Ken juga ikut tersenyum melihat tuan mudanya kembali ceria.
**
Malam hari setelah beristirahat yang cukup, Renata baru membuka kotak game pemberian Ken. Ia melihat pesan yang ditinggalkan Ken, lalu membalasnya.
“Ken, aku sudah sampai. Besok aku mau jalan-jalan dengan ponakanku dulu. Bagaimana kalau lusa? Kami akan pergi ke taman bermain. Kita bisa ketemu disana,” balas Renata.
Ken yang menunggu balasan dari Renata, merasa sedikit kecewa. Renata lebih mementingkan ponakannya daripada bertemu dirinya. Pria kecil itu tidak menyerah, ia ingin ikut menemani Renata besok. Banyak tempat bagus yang ingin ditunjukkan Ken pada gadis pujaannya itu.
Tapi lagi-lagi jawaban Renata membuat Ken kecewa. Gadis itu meminta Ken bersabar dan tetap ingin bertemu di taman bermain saja. Akhirnya Ken harus menerima keputusan Renata, sebelum membuat gadis itu marah kalau Ken tetap ngotot.
Renata tidak lagi menanggapi Ken, Reynold tidak mau melepaskannya setelah kedatangan gadis itu. Iseng, Ken mengaktifkan kamera dan audio di kotak game milik Renata. Tampak Renata sedang duduk di sofa bersandar pada tubuh Reynold, sepertinya mereka sedang menonton sesuatu di ponsel yang dipegang Reynold.
Ken mengepalkan tangannya, ia geram melihat Reynold mencium rambut Renata saat gadis itu tertawa terbahak-bahak. Posisi duduk keduanya sangat dekat, sepertinya Renata duduk di depan Reynold.
“Kak Rey! Dia aneh banget sich. Emang beneran ada yang kayak gini?” tanya Renata.
__ADS_1
“Ya. Besok kita lihat langsung ya. Kaori mau ikut nggak?” tanya Reynold sambil melihat ke depan.
“Aku buta gini, bisa ngliat apa, kak Rey?” sahut Kaori.
“Eit, jangan salah. Mereka ada yang sama kondisinya kayak Kaori, loh. Tapi mereka nggak malu show up kemampuan mereka. Ikut yuk,” ajak Reynold.
Ken mendengar Kaori merasa tidak enak mengganggu acara kencan Reynold dengan Renata. Tapi Renata cepat-cepat mengkoreksi kalau mereka hanya jalan-jalan, bukan kencan. Ken tersenyum senang, berarti Renata tidak ada hubungan apa-apa dengan pria di belakangnya itu yang bernama Reynold. Tapi kenapa mesra sekali.
Kali ini Ken melihat Renata sedikit memeluk Reynold karena ia tertawa sangat kencang. Bukannya illfeel, Ken malah semakin terpesona melihat tawa Renata.
“Cantik dan baik hati. Kamu sempurna, Renata. Andaikan aku yang duduk di sana, aku akan sangat bahagia bisa memelukmu seperti itu,” ucap Ken iri pada Reynold.
Ken mencoba mendengarkan kemana tujuan mereka besok. Ia bisa berpura-pura berkunjung kesana dan tidak sengaja bertemu. Dari suara di ponsel Reynold, sepertinya mereka akan pergi ke tempat seniman
mempertunjukkan keahliannya. Ada satu tempat yang Ken ingat tapi untuk meyakinkan tempat tujuan mereka, Ken akan mengikuti mereka dari mansion.
**
Keesokan harinya, Renata dan Kaori sudah siap berangkat ke tempat yang dijanjikan Reynold semalam. Alex, Mia, Reva, dan Flora memilih tetap di mansion untuk menemani Diva menjaga baby Varrel. Reynold muncul bersama seorang wanita cantik berpakaian santai.
“Hai semuanya. Ini Airin, dia rekan kerjaku. Airin juga mau ikut menemani Kaori dan Renata jalan-jalan. Sudah siap semua? Ayo, kita pergi,” kata Reynold.
Mereka berpamitan pada Alex dan Mia yang akhirnya bisa merasa tenang setelah Airin bergabung dengan mereka. Setidaknya lebih banyak orang yang bisa mengawasi Kaori. Kali ini mereka berangkat naik mobil mewah milik Steven. Saat mobil itu keluar dari mansion, mobil Ken langsung mengikuti mereka.
Dugaan Ken tepat, memang tempat seniman beraksi yang mereka tuju hari ini. Ia sudah menyiapkan skenario ketemu dadakan yang pastinya tidak akan mengundang kecurigaan.
perlahan dan alami. Saat Ken berbalik hendak menabrak Renata, gadis itu sudah menghilang bersama Reynold.
Ken membulatkan matanya geram, padahal sedikit lagi ia bisa ikut bersama Renata. Perhatian Ken teralihkan pada sosok Kaori yang masih berdiri di samping Airin. Mereka sedang mendengarkan seniman buta bermain
gitar.
“Bagus sekali permainan gitarnya ya. Kak Airin, dimana aunty Renata?” tanya Kaori pada Airin.
“Mereka di sebelah, menonton tarian, kenapa Kaori? Kamu perlu sesuatu?” tanya Airin.
“Aku agak haus, kak. Kita bisa minum dimana ya?” tanya Kaori.
Airin mengajak Kaori ke coffee shop di dekat sana, ia sempat memberitahu Reynold kalau mereka menunggu di coffee shop itu. Ken yang masih kebingungan mencari Renata, sempat melihat Reynold diantara
kerumunan penonton. Ia mengikuti sosok Reynold sampai menemukan Reynold dan Renata pangku-pangkuan di salah satu bangku taman.
Sakit hati Ken melihat kemesraan Renata dan Reynold, ia hanya bisa berdiri di balik pohon sedikit bersandar dengan mulut manyun yang menggemaskan. Satu-satunya hal positif yang bisa membuatnya lebih baik hanyalah bangku taman itu sudah penuh, mereka berdua mau duduk, dan tempat duduk yang tersisa cuma satu.
Tapi melihat kenyataan kalau Reynold memangku Renata, membuat Ken jadi kesal. Ia ikutan masuk ke coffee shop lalu memesan segelas besar ice capucino dan satu slice tiramisu. Ketika Ken ingin duduk, ia tidak menemukan bangku kosong kecuali di meja Kaori dan Airin. Ken terpaksa mendekati mereka berdua lalu meminta ijin untuk bergabung.
__ADS_1
“Ken? Apa kabar?” tanya Kaori yang bisa mengenali seseorang dari suaranya.
“Kamu inget aku, Kaori?” tanya Ken sambil duduk di depan Kaori.
“Ya. Sedang apa kamu disini?” tanya Kaori yang sedang memegang iced capucino yang sama dengan pesanan Ken.
Airin meminta ijin untuk ke toilet sebentar, ia menatap Ken dengan tajam sebelum meninggalkan Kaori bersama pria kecil itu.
“Aku lagi bete, jadi jalan-jalan cari hiburan. Yang tadi itu siapa? Bodyguardmu?” tanya Ken yang tidak suka ditatap Airin.
Kaori menggeleng, ia menyeruput iced capucinonya tanpa sedotan. Bekas busa putih menempel di atas bibirnya. Ken yang gemas melihat bibir Kaori kotor, mengulurkan tisu dan membersihkan busa yang menempel itu.
“M—makasih, Ken. Masih ada bekasnya?” tanya Kaori sambil meraba bibirnya sendiri.
Ken menatap bibir pink Kaori dan juga mata coklatnya yang sangat indah. Ia menggeleng dengan cepat tersadar saat Kaori memanggilnya lagi. Ken menggenggamkan tisu ke tangan Kaori lalu memegang tangan
gadis itu agar bisa mengelap bibirnya.
“Udah bersih kok. Sini tisunya. Kamu mau coba cake? Aku beli tiramisu nich.” Ken menawarkan cake pada Kaori.
“Aku boleh coba? Mau dong. Aku suka tiramisu. Ada cherry-nya nggak?” tanya Kaori penuh harap.
Ken sangat menyukai tiramisu terutama kalau ada cherry diatasnya. Dan sekarang satu-satunya cherry yang diinginkan Ken, Kaori juga menginginkannya. Ken bisa saja mengatakan kalau tidak ada cherry diatasnya,
tapi ia memilih memberikan cherry itu pada Kaori.
“Ini, masih ada krim-nya. Buka mulutmu,” kata Ken.
Kaori membuka mulutnya lalu menggigit cherry itu hingga terlepas dari tangkainya. Ken tersenyum melihat senyum cantik Kaori ketika cherry yang manis itu mulai meleleh di mulutnya. Binar mata Kaori membius Ken
yang tidak bisa berhenti menatapnya.
**
Pindah haluan atau tetap di kapalnya Renata ya? Ken mulai bimbang...
Visual Kaori
Visual Renata
Visual Reynold
__ADS_1
Visual Ken (belum nemu ya, guys)