Duren Manis

Duren Manis
Kamu obatku


__ADS_3

Mia dan Alex berjalan memasuki rumah Alex sambil berpegangan tangan. Pagi itu masih jam 6 pagi ketika mereka kembali.


Nenek dan mb Minah yang sudah bangun dan sedang menyiapkan sarapan, menatap keduanya dengan kepo.


Nenek : "Kalian darimana?"


Alex : "Kami tadi jalan-jalan..."


Nenek : "Jalan-jalan kemana, hayo... Ibu tahu kalian keluar tadi malam. Nginep dimana?"


Alex : Di hotel, bu. Mia takut anak-anak mergokin kami."


Mia : "Tapi beneran gak ngapa-ngapain kok, bu. Cuma ngobrol."


Flash back....


Alex menghentikan cumbuannya saat Mia mendorong kepalanya. Tubuh Mia sudah polos dibawahnya dan Alex sudah bersiap melakukannya malam ini juga.


Alex teringat Rara dan Riri, ia menarik nafas panjang dan pindah ke samping Mia. Mia


tersenyum melihat reaksi Alex.


Mia : "Mas, sabar ya..."


Alex : "Iya, sayang. Tidurlah, sudah malam."


Mia membalik tubuhnya tengkurap dibawah selimut dan mulai tertidur.


Flash back end...


Nenek : "Ngapa-ngapain juga gak pa-pa. Makin cepet ibu punya cucu lagi."


Alex : "Tuch, kan. Ibu uda ngasi..."


Mia : "Mas bandel ya. Mandi sana, ntar telat ngantor."


Mia beranjak ke lantai 2, dia belum sempat mandi juga tadi karena terburu-buru check-out


dari hotel. Mia masuk ke kamar Rara yang baru saja bangun.


Mia : “Pagi, sayang. Gimana tidurmu?”


Rara : “Pagi, mah. Mama nginep sini ya, kok bajunya gak ganti.”


Mia : “Iya, sayang.”


Rara : “Mah, Rara mau ikut kak Arnold ke kota J. Sekarang Rara chat kak Arnold.”


Mia : “Ya, udah. Mama mandi duluan ya. Jangan lupa packing.”


Mia tersenyum melihat Rara yang terlihat bersemangat. Ia harus memberitahu Alex kalau Rara akan pergi besok.


------


Rara dan Arnold tiba di bandara kota J sekitar jam 8 pagi waktu setempat. Orang yang


menjemput mereka sudah menunggu di dekat sebuah mobil.

__ADS_1


Arnold : “Kita ke apartment dulu ya. Jam 10 baru kita ke rumah sakit. Dokterku ada waktu


sekitar jam 11.”


Rara : “Ok, kak.”


Rara menikmati perjalanan yang cukup panjang dengan kemacetan di beberapa sudut


jalan. Ia pertama kali ke kota J, meskipun bukan untuk tujuan jalan-jalan tapi ia senang sekali. Sesekali Rara mengajak Arnold foto selfie, meski tanpa ekspresi, Arnold terlihat tampan di foto itu.


Arnold : “Kalau nanti ada waktu, kita jalan-jalan ya.”


Rara : “Iya, kak. Apartment kakak masih jauh?”


Arnold : “Itu di depan. Sebentar lagi kita sampai.”


Rara memandang ke jendela dan melihat deretan gedung tinggi menjulang. Arnold


mengajak Rara turun dan berdiri di lobby apartment menunggu koper mereka dikeluarkan dari mobil.


Arnold mendorong koper mereka berdua ke depan lift. Ia menekan tombol lift dan menunggu sebentar. Setelah lift terbuka, mereka masuk, dan Arnold menekan tombol lift menuju lantai 15.


Rara sedikit deg-degan berada di dalam lift dalam jangka waktu yang lama. Ia baru pertama kali naik lift dengan lantai setinggi itu.


Arnold tersenyum melihat Rara, ia menggenggam tangan Rara dan menariknya mendekat,


Arnold : "Tenang, Ra. Ini apartment-ku. Papa membelinya setelah aku kecelakaan. Selama aku terapi, aku tinggal disini."


Rara : "Hehe... Rara baru kali ini masuk lift yang lama banget terbukanya."


Arnold tersenyum lagi, ia melihat pantulan wajahnya di lift, sudah lama sekali ia tidak pernah melihat wajahnya tersenyum seperti itu.


Ting! Pintu lift terbuka, Arnold meminta Rara keluar duluan dan ia menyusul sambil mendorong koper.


Mereka berjalan ke sebelah kanan lift dan berhenti di depan pintu apartment nomor 475. Arnold mengambil kartu dari dalam sakunya dan menempelkannya ke pintu.


Triring! Pintu kamar terbuka, membuat Rara kagum dengan kecanggihan teknologi jaman sekarang.


Arnold : "Ayo masuk, Ra."


Rara mengedarkan pandangannya di dalam ruang apartment Arnold. Ada tempat tidur besar di sebelah jendela besar, lemari tinggi, dapur kecil, meja makan minimalis, televisi besar yang tergantung di dinding dan kamar mandi.


Arnold : "Maaf, Ra. Selama 3 hari ini kita tinggal disini ya. Aku akan tidur dibawah. Kamu bisa tidur di ranjang."


Rara : "Biar Rara aja yang dibawah, kak."


Suara Rara sedikit bergetar, jelas ia grogi berada di dalam ruangan yang sama dengan Arnold berdua saja.


Arnold : "Jangan bantah lagi, atau kita tidur berdua diatas ranjang."


Rara : "...Iy... iya, kak. Boleh..."


Deg! Kata-kata Rara membuat Arnold berdebar, hanya itu yang Rara ucapan tapi bisa membuat Arnold mulai kepanasan.


Mata Arnold mulai menyusuri tubuh Rara yang masih mengagumi isi apartment-nya. Tubuhnya kembali bereaksi dan menegang sempurna. Arnold meringis merasakan ngilu di area bawahnya.


Dengan cepat Arnold masuk ke kamar mandi dan menguncinya. Ia membuka pakaiannya, masuk ke dalam shower dan membuka air dingin.

__ADS_1


Rara yang keheranan melihat tingkah Arnold, melangkah mendekati kopernya. Ia membuka lemari setelah menarik kopernya mendekat ke lemari.


Rara mulai menyusun dan merapikan pakaiannya di bagian lemari bawah. Ia meletakkan pakaian dalamnya di bagian dalam agar tidak dilihat Arnold.


Bahkan setelah melakukan itu, Arnold tidak juga keluar dari kamar mandi. Rara melihat jam di tangannya, sudah hampir jam 10. Ia memberanikan diri mengetuk pintu kamar mandi.


Tok, tok, tok!


Rara : "Kak? Kakak gak pa-pa?"


Hening tidak ada jawaban dari Arnold, suara air masih terdengar dari dalam sana. Rara memilih menunggu dengan duduk di sisi ranjang.


Ceklek! Pintu kamar mandi terbuka, Arnold keluar hanya memakai bathrobe. Pandangan mereka bertemu dan Rara langsung berbalik menghadap ke tempat lain.


Arnold : "Maaf, bajuku basah tadi."


Arnold membuka kopernya, mengambil baju ganti dan masuk lagi ke kamar mandi. Ia memakai pakaiannya dan memasukkan baju kotornya ke dalam kantong laundry.


Rara menoleh lagi menatap Arnold yang keluar membawa sebuah kantong.


Arnold : "Di dalam ada kantong seperti ini, nanti pakaian kotormu taruh saja di dalam sini ya."


Rara : "Iya, kak."


Arnold : "Kamu sudah siap? Kita berangkat ke dokter sekarang?"


Rara : "Ayo, kak. Tadi kakak mandi ya."


Arnold : "...Iya."


Arnold tidak mungkin menceritakan apa yang ia lakukan tadi di dalam kamar mandi pada Rara. Ia saja malu pada dirinya sendiri karena sudah berfantasi pada tubuh Rara.


Ini kali kedua ia merasakan kenikmatan pada tubuhnya saat bersama Rara, kenikmatan yang bahkan tidak bisa ia rasakan setelah kecelakaan dan bagi laki-laki seperti dirinya, hal ini sangat membuatnya menderita.


Arnold teringat sekilas tentang masa lalunya yang sangat nakal, ia sangat suka bergaul dengan teman-teman yang sama nakalnya. Bahkan Arnold mulai suka balapan liar, dengan hadiah yang bukan hanya uang tapi juga wanita cantik.


Untuk urusan wanita cantik, Arnold tidak pernah menyentuh mereka dengan intim. Ia hanya menggunakan tangan untuk sama-sama saling memuaskan.


Ia lebih tertarik balapan sampai-sampai bisa mengumpulkan uang untuk membeli mobil sport keluaran terbaru yang malah menghancurkan hidupnya.


Arnold memegangi kepalanya, mereka sedang berada di lift saat itu. Lift bergerak lambat saat Arnold hampir jatuh karena pusing. Hal yang terjadi setiap ia mencoba mengingat kesalahan apa yang ia perbuat hingga bisa kecelakaan.


Rara memegangi Arnold agar tidak jatuh di lift. Ia memeluk Arnold hingga Arnold bisa mencium harum tubuhnya. Perlahan kesadaran Arnold kembali lagi.


Ia bisa bernafas dengan normal dan pikirannya jadi tenang. Arnold menghirup dalam-dalam wangi tubuh Rara melalui lehernya. Sungguh tubuh Rara seperti obat penenang untuk Arnold.


-------


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’


dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan sarannya ya para reader.


Sama tolong vote poin untuk karya author yang ini ya. Caranya cari detail dan klik vote.


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.

__ADS_1


-------


__ADS_2