Duren Manis

Duren Manis
Tantangan papa


__ADS_3

Seorang pria paruh baya tampak duduk di kursi kerja Jodi, menatap lurus kearah mereka.


Jodi : "Hai, pah."


Anton : "Jodi. Siapa yang dibelakangmu?"


Jodi : "Ini Katty, calon ibu anak-anakku, pah."


Jodi dengan cepat meraih bahu Katty dan mendorongnya agar berjalan lebih cepat mendekati meja kerja. Katty masih menahan tubuhnya. Ia ngeri melihat papa Jodi menatapnya tajam.


Katty : "Bukan, pak! Jodi, jangan ngaco."


Jodi : "Kamu masih ngelak? Mau aku tunjukkan video panas kita sama papaku?"


Katty : "Apa??!! Mana ada?"


Jadi : "Barusan aku merekamnya di dalam sana, sayang."


Katty : "Kau...???!!!"


Anton : "Sudah! Kenapa kalian jadi bertengkar."


Jodi : "Pah, bantuin dong. Katty gak mau nikah sama aku."


Anton : "Kamu, sini duduk."


Katty didudukkan Jodi di depan papanya. Ia juga ikut duduk disamping Katty.


Papa Jodi menatap Katty dengan intens.


Anton : "Orang tuamu bekerja?"


Katty : "Mereka wiraswasta, pak. Usaha percetakan."


Anton : "Sudah lama?"


Katty : "Sejak mereka menikah, pak."


Anton : "Berapa usiamu sekarang?"


Katty : "23 tahun, pak."


Anton : "Sudah kerja? Dimana?"


Katty : "Saya penjual, pak. Semua barang saya jual."


Anton : "Marketing? Mau kerja sama saya?"


Katty : "Perusahaan bapak menjual apa?"


Jodi : "Eehheem... Pah, bisa fokus."


Anton : "Kamu bisa diem, gak?"


Dan Jodi hanya bisa melongo ketika papanya dan Katty mulai membahas strategi marketing.


Pembahasan mereka sangat seru sampai-sampai Jodi harus memesan ulang makan siang yang sudah dingin untuk mereka semua.


🌼🌼🌼🌼🌼


Anton menghentikan ucapannya ketika melihat Guntur masuk membawa makan siang lagi.


Anton : "Oh, kalian belum makan? Ayo, kita makan dulu."


Mereka pindah ke sofa, tempat makan siang sudah dihidangkan.


Katty mulai mengambilkan makanan untuk Anton dan Jodi. Ia juga mengambilkan air minum untuk mereka bertiga.


Anton memperhatikan semua gerakan Katty yang terlihat terbiasa melayani Jodi makan.


Anton : "Kata Pak Jang, kamu gak pernah pulang, Jodi. Tinggal dimana?"


Jodi : "Tinggal sama Katty, pah. Jodi kan lagi program bikin anak."

__ADS_1


Wajah Katty sudah merah padam mendengar bacot Jodi yang santai sekali mengatakan kebenaran.


Anton : "Apa kamu sering olahraga? Perasaan badanmu lebih mekar dari sebelumnya."


Jodi : "Nich Katty kalau masak enak banget. Aku gak bisa berhenti makan, pah. Habis itu ya jelas olahraga sama dia."


Katty : "Gak gitu, om..."


Katty beneran merana mendengar Jodi gak bisa direm omongannya.


Jodi : "Panggil papa gitu, om, om. Gak enak didenger tau."


Kata-kata Jodi membuat Anton manggut-manggut.


Katty : "Nggak bisa gitu dong, gak sopan namanya. Maaf, pak."


Katty mencubit pinggang Jodi dengan keras.


Katty : "Berhenti ngomong, kamu berisik banget sich."


Jodi : "Jujur salah, aku gak mau bohong sama papa. Kamu mau nanggung dosanya kalau bohong?"


Katty : "Tapi kan..."


Anton : "Ya ampun, kenapa kalian bertengkar lagi."


Jodi : "Pah, papa ngasi ijin kan. Aku bisa nikah sama Katty."


Anton : "Tergantung..."


Jodi : "Maksud papa...?"


Katty : "Sudah, Jodi. Jangan nglawan papamu."


Katty merasa tidak nyaman merasakan ketegangan antara Jodi dan papanya. Papa Anton membuka ponselnya dan memperlihatkan sesuatu.


Anton : "Bantu papa mendapatkan tender ini dan papa akan pertimbangkan permintaanmu."


Jodi : "Cuma dipertimbangkan?"


Jodi : "Nggak, pah. Jodi akan usahakan tender itu."


Anton : "Kalian berdua yang kerjakan. Waktu kalian seminggu."


Papa Jodi meninggalkan kantor Jodi, membuat Katty memukul lengan Jodi lagi.


Jodi : "Ampun! Sakit, sayang. Kenapa lagi sich?"


Katty : "Kamu lihat kan reaksi papamu. Kenapa kamu gak diem aja sich?"


Jodi : "Setidaknya kita gak dilarang tinggal bersama, kan."


Katty : "Cepat kasi aku detail tender itu."


Jodi : "Kenapa jadi kamu yang nggak sabaran? Apa kau sudah memutuskan?"


Katty : "Memutuskan apa?"


Jodi : "Menikah denganku."


Katty : "Oh, sudahlah. Aku mau pulang."


Jodi menarik tangan Katty yang hampir melangkah pergi. Ia mencumbu gadis itu tanpa memberi kesempatan Katty melepaskan diri.


🌸🌸🌸🌸🌸


Arnold sedang duduk di sofa sambil bekerja di laptop, sejak ia sembuh dan perusahaannya dipegang Rara, Arnold mulai mencari peluang usaha lain.


Ia fokus pada bisnis kecil yang cukup menjanjikan dan bertindak sebagai pemegang modal. Ia juga membeli perusahaan kecil, dan mengembangkannya.


Bisnisnya bersama Jodi kini sudah memberikan keuntungan tetap ratusan juta yang ditransfer Jodi ke rekening Arnold.


Ia memakai uang itu untuk berbisnis kembali. Sampai saat ini sudah hampir 15 perusahaan yang ia miliki sahamnya. Rata-rata perusahaan itu bergerak di bidang yang bisa menunjang perusahaannya sendiri.

__ADS_1


Ceklek! Arnold menoleh ke pintu apartmentnya. Rara masuk ke dalam apartment sambil membawa bungkusan makanan.


Arnold : "Sayang, kamu datang? Kok gak ngabarin dulu?"


Rara : "Aku uda chat, mas gak bales. Aku kira mas ketiduran. Ini aku bawain makanan."


Rara meletakkan makanan di atas meja. Ia melihat Arnold duduk di sofa dengan laptop di atas kakinya.


Rara : "Loh, Fadli mana, mas?"


Arnold : "Fadli ijin keluar sebentar."


Arnold cepat-cepat mengirim pesan pada orang yang ia bayar untuk pura-pura menjadi pelatih terapinya. Fadli yang menerima pesan Arnold langsung bergegas menuju apartment Arnold.


Rara : "Kursi roda mas mana?"


Arnold : "Ada di kamar."


Rara : "Kenapa gak ditaruh disini sich?"


Rara berjalan masuk ke kamar Arnold. Ia mengeluarkan kursi roda dari dalam kamar.


Rara : "Gimana sich Fadli itu. Kalau mas mau ke toilet gimana?"


Arnold : "Hehe... Tadi dia buru-buru sich. Sini sayang..."


Rara duduk di sebelah Arnold, ia bersandar di sofa, merenggangkan pinggangnya.


Arnold menyentuh perut Rara, bayi mereka entah sedang berbuat apa di dalam sana.


Beberapa kali Arnold merasakan tendangan kecil di tangannya.


Arnold : "Kamu keliatan capek banget, sayang."


Rara : "Iya, mas. Tadi abis meeting."


Arnold : "Jodi mana? Gak sama kamu?"


Rara : "Aku sama Ilham tadi, dia uda balik ke kantor. Aku gak enak sama kak Jodi terus, dia kan juga sibuk sama kerjaannya sama kak Katty juga."


Arnold berpikir sejenak, sampai Rara menepuk bahunya.


Rara : "Mas, kenapa nglamun?"


Arnold : "Andai saja aku bisa selalu menemanimu, Ra. Tapi keadaanku begini."


Rara : "Mas, meski selamanya aku gak akan mengeluh dengan keadaanmu. Kita menikah untuk menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing, kan."


Arnold : "Aku masih belum bisa terima kenyataan ini, Ra."


Rara : "Belajar iklas, mas. Semuanya akan lebih mudah. Kamu cuma perlu kembali ke sisiku, mas. Hidup bersama anak kita."


Arnold : "Kasi aku waktu ya, Ra."


Rara : "Mau sampai kapan mas disini? Atau aku saja yang pindah kesini?"


Arnold : "Jangan, sayang. Kondisi disini tidak baik untuk masa kehamilanmu sekarang ini."


Rara : "Kata dokter 2 minggu lagi kan? Habis itu apa keputusan mas?"


Arnold : "Aku akan kembali. Kita akan tinggal bersama lagi. Aku janji, Ra."


Arnold memeluk tubuh Rara dan perlahan menunduk mencium bibir istrinya itu.


🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain β€˜Menantu untuk Ibu’, β€˜Perempuan IDOL’, β€˜Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya para reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya..


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.

__ADS_1


🌲🌲🌲🌲🌲


__ADS_2