Duren Manis

Duren Manis
Bersikap profesional


__ADS_3

Alex terbangun


keesokan paginya saat ia mendengar tangisan si kembar. Mia tidak tampak


dimanapun, tapi Alex mendengar suara Mia dari kamar mandi,


Mia : “Bentar, nak.


Mama sakit perut nich.”


Alex dengan cepat


bangkit dan menggendong Reva yang menangis sangat kencang. Setelah diayun-ayun


sebentar, Reva mau diam dan menggeliat seperti tidak nyaman dengan pantatnya.


Alex meletakkan Reva perlahan diatas ranjang dan memeriksa popoknya yang sudah


basah dan ada kotoran.


Alex : “Oh, anak


ayah sakit perut ya.”


Alex dengan cekatan


mengganti popok Reva setelah membersihkan pantat bayi itu. Setelah popoknya


diganti, Reva mulai gelisah mencari susunya. Alex kembali menimang Reva sambil


melongok ke boks bayi melihat keadaan Rava.


Rava menatap Alex


dan tersenyum lebar, tangan dan kakinya sudah tidak tertutup selimut lagi.


Alex : “Reva, kak


Rava aja bisa tenang gitu. Kenapa Reva gak sabaran banget?”


Reva memandang Alex


yang berbicara padanya, entah mengerti entah tidak, Reva menjulurkan lidahnya


pada Alex.


Alex : “Kamu uda


berani ngeledek papa nich.Hiih... gemes.”


Alex menciumi Reva


sampai bayi itu kesal dan mulai menangis lagi. Mia segera keluar dari kamar


mandi dan mendekati Alex.


Mia : “Reva kok


nangis lagi?”


Alex : “Dia haus


nich. Aku mau cek Rava dulu. Tadi Reva buang air.”


Mia : “Jangan


nangis, sayang. Cup, cup, mimik susu ya.”


Mia menimang Reva


agar tenang sambil menarik bajunya, siap memberikan ASI-nya yang sudah menetes


deras. Saat Reva sudah mendapatkan apa yang ia mau, Alex membawa Rava ke atas


ranjang. Rava juga buang air tapi ia sangat sabar menanti gilirannya digantikan


popoknya.


Alex : “Sifat


mereka berdua bertolak belakang ya. Kakaknya sabar banget, adiknya gak


sabaran.”


Mia : “Bisa gitu


ya. Padahal mereka kembar.”


Alex : “Mungkin


satu ngikutin kamu, satunya ngikutin aku.”


Mia : “Dan menurut


mas, siapa yang ngikutin mas?”


Alex : “Rava lah.


Ya kan, Rava?”


Yang ditanya cuma


bengong dan kembali tersenyum girang mengira papanya mengajaknya bercanda.


Alex : “Tuch, Rava


setuju.”


Mia : “Gak kebalik


ya. Yang suka grasa-grusu kan mas.”


Alex : “Masa sich?”


Mia mengangguk


sambil memindahkan posisi Reva agar bisa menyusui Rava berbarengan. Alex


membantu memasangkan bantal menyusui untuk bayi kembar dan kedua bayinya kini


sedang menikmati susu yang memabukkan. Membuat mereka perlahan mulai tertidur


kembali.


Alex menoel-noel


pipi Reva yang sudah terbawa mimpi.

__ADS_1


Alex : “Dia sendiri


yang ngabisin ASI-mu. Rava dapet gak?”


Mia : “Dapet kok


mas. Mas juga dapet kalo mau.”


Mia nyengir lebar


sambil tetap memegangi kedua bayi kembarnya. Digoda Mia seperti itu, Alex mulai


maju ingin mencium Mia lagi.


Mia : “Mas, jangan


mendekat. Anakmu bisa jatuh ntar.”


Alex mengurungkan


niatnya,


Alex : “Aku mau


mandi, kamu perlu sesuatu?”


Mia : “Ambilin susu


dong, mas. Haus nich.”


Alex keluar dari


kamar dan mengambil susu untuk Mia. Mb Minah sudah menyiapkannya dan


meletakkannya di meja makan. Ia juga mengambil segelas air putih untuk Mia.


Alex masuk lagi ke


dalam kamar, ia mendekatkan susu ke bibir Mia yang langsung meminumnya sampai


tandas.


Mia : “Fiuh...


lega. Mas, tolong pindahin Reva dong. Uda tidur nich.”


Alex memindahkan


Reva ke boks bayi dan juga Rava.


Alex : “Mereka gak


mandi?”


Mia : “Habis ini


mereka bangun, baru mandi, mas. Nunggu mb Minah selesai masak juga.”


Alex : “Kamu yakin


bisa ngurus mereka cuma sama mb Minah? Aku bisa carikan baby sister kok.”


Mia : “Bisa, mas.


Yang penting ada yang bantu satu. Mereka gak terlalu rewel kok. Mungkin nanti


kalau mereka sudah mulai bisa merangkak, baru perlu baby sister.”


sayang. Aku mandi dulu ya.”


Mia mengangguk,


Alex masuk ke kamar mandi. Saat itu ponsel Alex berdering, tanda chat masuk.


Mia tidak sengaja melirik ponsel Alex dan melihat itu chat dari Linda.


Mia : “Si pelakor,


ngapain pagi-pagi gini ngechat.”


Mia tidak membuka


chat itu, ia menunggu Alex. Ia ingin melihat apa yang akan dilakukan Alex


ketika mendapat chat dari Linda.


Alex keluar dari


kamar mandi, cuma pakai handuk dan rambutnya sedikit basah. Ia melirik


ponselnya yang berkedip tanda ada chat masuk. Alex mendekati nakas, membuka


ponselnya dan meng-scroll pesan masuk.


Mia melihat Alex


mengetik dengan cepat dan kembali meletakkan ponselnya diatas nakas. Ia


berjalan ke depan lemari pakaiannya.


Mia : “Mas, pinjem


HP dong.”


Alex bergeser


sedikit dan mengambil ponselnya dari atas nakas. Sedikit bergeser lagi untuk


menyodorkan ponselnya pada Mia yang duduk di dekat boks si kembar.


Mia menerima ponsel


Alex dan melirik suaminya yang kembali ke depan lemari, mengambil pakaian dalam


dan juga celana panjangnya.


Dengan cepat Mia


membuka fitur chat dan melihat chat yang dibalas Alex hanya chat dari Romi yang


mengatakan mereka ada meeting mendadak jam 9 pagi di kantor dan minta Alex


datang lebih awal.


Sedangkan chat dari


Linda belum dibaca Alex, padahal tadi itu chat yang paling atas. Mia tersenyum

__ADS_1


tipis, dalam hatinya sedikit merasa lega. Bagaimana pun dia masih punya rasa


cemburu yang besar terhadap suaminya.


Mungkin ini yang


membuat orang tuanya berpisah dulu, Mia memiliki sifat yang sama dengan


mamanya. Tapi melihat setiap tindakan dan bagaimana Alex menjaga perasaan Mia


selama ini, Mia mulai merubah sifat cemburunya.


Alex : “Yank, mau


sarapan? Aku harus ke kantor lebih cepat, ada meeting dadakan.”


Mia : “Iya, mas.


Ayo... eh, tapi aku belum mandi, mas.”


Alex : “Ntar aja


mandinya, makan dulu. Tenagamu kan sudah habis dari semalem...”


Mia mencubit lengan


Alex yang iseng menekan dadanya. Mereka keluar dari kamar untuk sarapan dengan


cepat.


*****


Usai sarapan, Mia


mengantar Alex ke depan rumah.


Alex : “Yank, HPku


mana ya?”


Mia : “Tadi masih


di kamar kayaknya. Bentar ya.”


Mia berlari masuk


ke dalam rumah dan masuk ke kamarnya, saat ia mengambil ponsel Alex, ponsel itu


berdering, Mia melihat Linda calling.


Dengan malas, Mia


berlari lagi ke depan dan menyerahkan ponsel Alex pada pemiliknya.


Mia : “Ada yang


nelpon, mas.”


Alex : “Sapa?”


Mia : “Linda.”


Alex : “Biarin aja.


Ini belum jam kantor, mas pergi dulu ya.”


Lagi-lagi Mia


tersenyum manis, ia merasa senang Alex bersikap profesional terhadap client


perempuannya. Mia masih menatap Alex yang belum juga masuk ke mobilnya.


Mia : “Kok belum


masuk mobil, mas? Ada yang ketinggalan lagi?”


Alex : “Iya...”


Mia : “Apa?” Mia


memperhatikan penampilan suaminya itu. Tas ada, ponsel ada, dasi juga ada.


Ketika Mia


kebingungan, Alex menarik pinggang Mia agar mendekat padanya.


Alex : “Yang ini


belum...”


Alex memonyongkan


bibirnya, Mia gelagapan dan melihat sekeliling.


Mia : “Mas, ntar


dilihat tetangga. Kenapa gak di dalem aja sich?”


Alex : “Sebentar


aja, emang kenapa kalo ada yang liat. Yang kucium kan istriku sendiri.”


Mia : “Iya, sich.


Kalo istri orang baru berbahaya.”


Mia tersenyum dan


mereka berciuman gak lihat situasi dan kondisi perumahan yang masih ramai


karena orang berangkat sekolah dan ke kantor.


🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca


novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk


Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya


para reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak


ya..

__ADS_1


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.


🌲🌲🌲🌲🌲


__ADS_2