
Alex terbangun
keesokan paginya saat ia mendengar tangisan si kembar. Mia tidak tampak
dimanapun, tapi Alex mendengar suara Mia dari kamar mandi,
Mia : “Bentar, nak.
Mama sakit perut nich.”
Alex dengan cepat
bangkit dan menggendong Reva yang menangis sangat kencang. Setelah diayun-ayun
sebentar, Reva mau diam dan menggeliat seperti tidak nyaman dengan pantatnya.
Alex meletakkan Reva perlahan diatas ranjang dan memeriksa popoknya yang sudah
basah dan ada kotoran.
Alex : “Oh, anak
ayah sakit perut ya.”
Alex dengan cekatan
mengganti popok Reva setelah membersihkan pantat bayi itu. Setelah popoknya
diganti, Reva mulai gelisah mencari susunya. Alex kembali menimang Reva sambil
melongok ke boks bayi melihat keadaan Rava.
Rava menatap Alex
dan tersenyum lebar, tangan dan kakinya sudah tidak tertutup selimut lagi.
Alex : “Reva, kak
Rava aja bisa tenang gitu. Kenapa Reva gak sabaran banget?”
Reva memandang Alex
yang berbicara padanya, entah mengerti entah tidak, Reva menjulurkan lidahnya
pada Alex.
Alex : “Kamu uda
berani ngeledek papa nich.Hiih... gemes.”
Alex menciumi Reva
sampai bayi itu kesal dan mulai menangis lagi. Mia segera keluar dari kamar
mandi dan mendekati Alex.
Mia : “Reva kok
nangis lagi?”
Alex : “Dia haus
nich. Aku mau cek Rava dulu. Tadi Reva buang air.”
Mia : “Jangan
nangis, sayang. Cup, cup, mimik susu ya.”
Mia menimang Reva
agar tenang sambil menarik bajunya, siap memberikan ASI-nya yang sudah menetes
deras. Saat Reva sudah mendapatkan apa yang ia mau, Alex membawa Rava ke atas
ranjang. Rava juga buang air tapi ia sangat sabar menanti gilirannya digantikan
popoknya.
Alex : “Sifat
mereka berdua bertolak belakang ya. Kakaknya sabar banget, adiknya gak
sabaran.”
Mia : “Bisa gitu
ya. Padahal mereka kembar.”
Alex : “Mungkin
satu ngikutin kamu, satunya ngikutin aku.”
Mia : “Dan menurut
mas, siapa yang ngikutin mas?”
Alex : “Rava lah.
Ya kan, Rava?”
Yang ditanya cuma
bengong dan kembali tersenyum girang mengira papanya mengajaknya bercanda.
Alex : “Tuch, Rava
setuju.”
Mia : “Gak kebalik
ya. Yang suka grasa-grusu kan mas.”
Alex : “Masa sich?”
Mia mengangguk
sambil memindahkan posisi Reva agar bisa menyusui Rava berbarengan. Alex
membantu memasangkan bantal menyusui untuk bayi kembar dan kedua bayinya kini
sedang menikmati susu yang memabukkan. Membuat mereka perlahan mulai tertidur
kembali.
Alex menoel-noel
pipi Reva yang sudah terbawa mimpi.
__ADS_1
Alex : “Dia sendiri
yang ngabisin ASI-mu. Rava dapet gak?”
Mia : “Dapet kok
mas. Mas juga dapet kalo mau.”
Mia nyengir lebar
sambil tetap memegangi kedua bayi kembarnya. Digoda Mia seperti itu, Alex mulai
maju ingin mencium Mia lagi.
Mia : “Mas, jangan
mendekat. Anakmu bisa jatuh ntar.”
Alex mengurungkan
niatnya,
Alex : “Aku mau
mandi, kamu perlu sesuatu?”
Mia : “Ambilin susu
dong, mas. Haus nich.”
Alex keluar dari
kamar dan mengambil susu untuk Mia. Mb Minah sudah menyiapkannya dan
meletakkannya di meja makan. Ia juga mengambil segelas air putih untuk Mia.
Alex masuk lagi ke
dalam kamar, ia mendekatkan susu ke bibir Mia yang langsung meminumnya sampai
tandas.
Mia : “Fiuh...
lega. Mas, tolong pindahin Reva dong. Uda tidur nich.”
Alex memindahkan
Reva ke boks bayi dan juga Rava.
Alex : “Mereka gak
mandi?”
Mia : “Habis ini
mereka bangun, baru mandi, mas. Nunggu mb Minah selesai masak juga.”
Alex : “Kamu yakin
bisa ngurus mereka cuma sama mb Minah? Aku bisa carikan baby sister kok.”
Mia : “Bisa, mas.
Yang penting ada yang bantu satu. Mereka gak terlalu rewel kok. Mungkin nanti
kalau mereka sudah mulai bisa merangkak, baru perlu baby sister.”
sayang. Aku mandi dulu ya.”
Mia mengangguk,
Alex masuk ke kamar mandi. Saat itu ponsel Alex berdering, tanda chat masuk.
Mia tidak sengaja melirik ponsel Alex dan melihat itu chat dari Linda.
Mia : “Si pelakor,
ngapain pagi-pagi gini ngechat.”
Mia tidak membuka
chat itu, ia menunggu Alex. Ia ingin melihat apa yang akan dilakukan Alex
ketika mendapat chat dari Linda.
Alex keluar dari
kamar mandi, cuma pakai handuk dan rambutnya sedikit basah. Ia melirik
ponselnya yang berkedip tanda ada chat masuk. Alex mendekati nakas, membuka
ponselnya dan meng-scroll pesan masuk.
Mia melihat Alex
mengetik dengan cepat dan kembali meletakkan ponselnya diatas nakas. Ia
berjalan ke depan lemari pakaiannya.
Mia : “Mas, pinjem
HP dong.”
Alex bergeser
sedikit dan mengambil ponselnya dari atas nakas. Sedikit bergeser lagi untuk
menyodorkan ponselnya pada Mia yang duduk di dekat boks si kembar.
Mia menerima ponsel
Alex dan melirik suaminya yang kembali ke depan lemari, mengambil pakaian dalam
dan juga celana panjangnya.
Dengan cepat Mia
membuka fitur chat dan melihat chat yang dibalas Alex hanya chat dari Romi yang
mengatakan mereka ada meeting mendadak jam 9 pagi di kantor dan minta Alex
datang lebih awal.
Sedangkan chat dari
Linda belum dibaca Alex, padahal tadi itu chat yang paling atas. Mia tersenyum
__ADS_1
tipis, dalam hatinya sedikit merasa lega. Bagaimana pun dia masih punya rasa
cemburu yang besar terhadap suaminya.
Mungkin ini yang
membuat orang tuanya berpisah dulu, Mia memiliki sifat yang sama dengan
mamanya. Tapi melihat setiap tindakan dan bagaimana Alex menjaga perasaan Mia
selama ini, Mia mulai merubah sifat cemburunya.
Alex : “Yank, mau
sarapan? Aku harus ke kantor lebih cepat, ada meeting dadakan.”
Mia : “Iya, mas.
Ayo... eh, tapi aku belum mandi, mas.”
Alex : “Ntar aja
mandinya, makan dulu. Tenagamu kan sudah habis dari semalem...”
Mia mencubit lengan
Alex yang iseng menekan dadanya. Mereka keluar dari kamar untuk sarapan dengan
cepat.
*****
Usai sarapan, Mia
mengantar Alex ke depan rumah.
Alex : “Yank, HPku
mana ya?”
Mia : “Tadi masih
di kamar kayaknya. Bentar ya.”
Mia berlari masuk
ke dalam rumah dan masuk ke kamarnya, saat ia mengambil ponsel Alex, ponsel itu
berdering, Mia melihat Linda calling.
Dengan malas, Mia
berlari lagi ke depan dan menyerahkan ponsel Alex pada pemiliknya.
Mia : “Ada yang
nelpon, mas.”
Alex : “Sapa?”
Mia : “Linda.”
Alex : “Biarin aja.
Ini belum jam kantor, mas pergi dulu ya.”
Lagi-lagi Mia
tersenyum manis, ia merasa senang Alex bersikap profesional terhadap client
perempuannya. Mia masih menatap Alex yang belum juga masuk ke mobilnya.
Mia : “Kok belum
masuk mobil, mas? Ada yang ketinggalan lagi?”
Alex : “Iya...”
Mia : “Apa?” Mia
memperhatikan penampilan suaminya itu. Tas ada, ponsel ada, dasi juga ada.
Ketika Mia
kebingungan, Alex menarik pinggang Mia agar mendekat padanya.
Alex : “Yang ini
belum...”
Alex memonyongkan
bibirnya, Mia gelagapan dan melihat sekeliling.
Mia : “Mas, ntar
dilihat tetangga. Kenapa gak di dalem aja sich?”
Alex : “Sebentar
aja, emang kenapa kalo ada yang liat. Yang kucium kan istriku sendiri.”
Mia : “Iya, sich.
Kalo istri orang baru berbahaya.”
Mia tersenyum dan
mereka berciuman gak lihat situasi dan kondisi perumahan yang masih ramai
karena orang berangkat sekolah dan ke kantor.
🌻🌻🌻🌻🌻
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca
novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk
Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya
para reader.
Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak
ya..
__ADS_1
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
🌲🌲🌲🌲🌲