Duren Manis

Duren Manis
DM2 – Barbeque


__ADS_3

DM2 – Barbeque


“Jadi kemana?”tanya Alex kepo.


Mia mengatakan kalau Riri mengundang mereka


ke rumah besar untuk pesta barbeque, tapi Mia mengatakan yang kesana hanya Rio,


Gadis, dan si kembar. Alex hampir protes kenapa dia gak diajak kesana, tapi Mia


membisikkan sesuatu dengan cepat.


“Oh, ok, ok. Kalian pergi aja. Kalo perlu


yang lama sampe malem.”


Gadis menatap bingung dengan sikap Alex, ia


ikut tersenyum melihat kedua mertuanya saling melirik sambil senyum-senyum


mesum.


Ditahun keempat pernikahan Rio dan Gadis,


Riri melahirkan seorang putra untuk Elo. Sekarang putra Riri sudah berumur 3


tahun dan sangat nakal.


“Donatello!!”lengking Riri melihat make up


di meja riasnya sudah tidak jelas bentuknya.


Donatello kecil tidak terlihat dimanapun,


padahal Riri baru sebentar meninggalkannya ke toilet. Riri melihat sekeliling,


dilantai tampak jejak kaki mungil mengarah ke bawah tempat tidurnya.


“Dimana putra mami? Hmm... Mami mau kasi es


krim, malah menghilang.”


Mendengar kata es krim, Donatello keluar


dari persembunyiannya. Riri berharap melihat putranya keluar dari bawah tempat


tidur, tapi Donatello malah keluar dari dalam lemarinya.


“Mi, ana e cim (Mami, mana es krim)?”tanya


Donatello polos.


“Nah, tertangkap kesayangan mami. Kenapa


Ello sembunyi? Hmm?”


Donatello tidak menyahut, ia menarik-narik


baju Riri yang berjongkok di depannya. Riri menggendong putranya keluar dari


kamar, turun ke lantai bawah. Mereka berpapasan dengan Lili yang berjalan pelan


dengan perut buncitnya. Lili sedang mengandung anak ketiganya dengan Dion.


Sekalinya pria itu melepas segelnya, Lili langsung dinyatakan hamil sebulan


kemudian. Ia melahirkan seorang putri cantik untuk Dion. Putri pertama Lili dan


Dion diberi nama Devina.


Dua tahun kemudian, Lili kembali mengandung


dan melahirkan seorang putra yang mereka beri nama Leon. Leon seusia dengan


Donatello, tapi sifatnya sangat jauh berbeda. Meskipun begitu, Leon sangat


sayang pada Donatello. Ia selalu melindungi Donatello dimanapun mereka berada.


Kali ini Lili belum tahu jenis kelamin anak


ketiga mereka. Tapi Riri menebak kalau itu bayi perempuan. “Pelan-pelan, Li. Kamu


mau kemana?”tanya Riri.


“Aku mau ke dapur nyari cemilan. Perutku


lapar lagi, nona.”


Riri memanggil pengasuh Donatello,

__ADS_1


memintanya memandikan putra kesayangan. “Ello, mandi dulu ya. Mami mau buat


cemilan dulu.”


Riri dan Lili berjalan bersama menuju dapur.


Lili duduk di kursi, membantu mengupas bahan makanan yang akan diolah Riri


menjadi cemilan sehat untuk mereka. Riri mempelajari cara memasak dari Lili.


Setelah Devina berumur dua tahun, mereka kembali tinggal di rumah besar Riri.


Kakek Michael dan mama Ratna juga tinggal bersama mereka.


“Kapan mereka datang?”tanya Lili pada Riri


yang sedang memberi instruksi pada koki.


Para koki di rumah besar sudah menyiapkan


pesta barbeque untuk para tamu Riri nanti. Seorang pelayan memanggil Riri,


rombongan Rio sudah datang.


“Tuch, udah pada dateng. Ayo, ke depan.


Mbak, tolong lanjutkan buat cemilan Donatello ya. Saya ke depan dulu.”kata Riri


sopan pada salah satu koki disana.


Koki itu menunduk pada Riri, ia tersenyum


senang karena Riri selalu ramah pada siapapun meskipun sudah menjadi Nyonya


Angelo, Riri tetap rendah hati pada siapapun. Rio, Gadis dan si kembar Rava,


Reva sudah duduk di ruang keluarga Riri. Disana banyak mainan anak-anak yang


memang disiapkan Riri agar anak-anak tidak bosan.


“Rio! Gadis! Apa kabar?”sapa Riri


cipika-cipiki dengan Gadis dan memeluk Rio erat.


“Baik, Ri. Kamu sehat? Mana Ello?”tanya


Gadis. Mata Gadis tertegun melihat perut buncit Lili. “Loh, hamil lagi, Li?”


ini yang terakhir dia minta.”ucap Lili tersenyum ramah.


Gadis tersenyum juga. Ia mengelus perut


Lili dan sedikit menempelkan perutnya. “Semoga cepat nular ya.”ucap Lili lagi.


“Amin.”


Rio tidak berkomentar apa-apa, Riri merasa


saudara kembarnya agak aneh. Rio tampak sibuk dengan pikirannya sendiri. Si


kembar Rava dan Reva duduk di karpet, mulai menggelar permainan yang ingin


mereka mainkan.


“Eh, Rava, Reva, kenapa gak salim sama


kakak? Ayo.”tegur Riri.


Si kembar senyam-senyum menatap Riri, “Hai,


kak Riri. Kakak gendutan ya.”kompak si kembar menyapa Riri sambil menjahilinya.


“Apa?!! Sini kalian. Tiap ketemu pasti


gini, gak ada sopan-sopannya sama kakak.”kesal Riri mengejar si kembar yang


berlari mencar. Satunya ke kanan, satunya ke kiri. Riri jadi bingung mau ngejar


yang mana.


Bruk! Rava yang berlari ke arah tangga,


tidak melihat Devina muncul dari balik tangga. Rava menabrak gadis kecil itu.


Keduanya saling tumpang tindih di depan tangga. “Aduch! Sakit. Jalan pake


mata!”bentak Devina galak. Gadis kecil itu sangat mirip dengan Lili yang galak.


“Dimana-mana jalan pake kaki!”bentak Rava

__ADS_1


sama galaknya.


“Waduh, mereka siap-siap bertengkar lagi


tuch.”ucap Lili. “Devina, cepat bangun. Jangan galak-galak gitu, sayang.”


“Dia duluan yang mulai, bunda. Gak minta


maaf, malah nyolot!”


Lili hampir beranjak mendekati kedua anak


itu, tapi Dion sudah lebih dulu datang menarik keduanya berdiri lagi. “Devi, Rava,


ayo salaman. Baikan.”


Keduanya saling melirik dengan tatapan


tajam, tangan keduanya terulur dengan wajah berpaling. Lili geleng-geleng


kepala melihat mereka berdua yang tidak pernah akur sejak pertama ketemu.


Riri yang cuma bisa menangkap Reva, membawa


adiknya itu seperti membawa kucing. “Bandel! Kakak gelitikin nich.”


Reva memegangi perutnya yang digelitiki


Riri, Rava juga ikut memegang perutnya. Ia ikut merasakan geli saat Riri


menggelitiki kembarannya.


Mereka duduk bersama di ruangan itu sambil


menunggu kedatangan Rara sekeluarga dan juga Katty sekeluarga.


Baru saja diomongin, mereka datang


bersamaan. Rara, Arnold, dan Reynold masuk lebih dulu. Riri menyapa mereka,


memeluk Rara erat dan mencium pipi Reynold. Katty, Jodi, Keira dan Jordan juga


masuk. Jordan, anak kedua Katty dan Jodi. Ia seumuran dengan Leon dan Donatello.


”Banyak anak kecil ya. Rava, Reva,


Reynold, dan Keira berumur 7 tahun, Devina berumur 6 tahun, Donatello, Leon,


dan Jordan berumur 3 tahun. Tambah anak di kandungan Lili juga. Kisah mereka


akan aku ceritakan di ‘Cinta Kembarku’.”


Riri menyapa mereka juga. Mereka semua


berbincang akrab satu sama lain saling melepas kerinduan karena jarangnya


mereka berkumpul seperti itu. Riri sengaja mengundang mereka semua untuk


mendekatkan anak-anak mereka.


Para pria sibuk di dekat pemanggangan


setelah Elo bergabung dengan mereka. Sementara para nyonya bersantai di kursi


yang diletakkan di pinggir kolam renang. Pelayan di rumah besar sibuk mengurus


anak-anak.


Gadis tersenyum mendengarkan celotehan


Katty yang heboh menebak anak di kandungan Lili. Pandangannya beralih menatap


Rio yang sedang berdiri memegang sepit, berada di dekat pemanggangan yang


panas, membuat keringat membasahi lehernya. Sesekali Rio menyibak rambutnya,


menarik-narik kemejanya mencari angin. ABS Rio tampak mengintip dari balik


kemejanya, otot lengannya yang kokoh juga dibasahi keringat.


Gadis menoleh ketika mendengar suara ponsel


yang sedang mengambil foto. Beberapa pelayan wanita tampak berdiri di dekat


mereka, ditangan mereka ada piring berisi daging. Lantas dari mana suara ponsel


itu?


*****

__ADS_1


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.


__ADS_2