
DM2 – Barbeque
“Jadi kemana?”tanya Alex kepo.
Mia mengatakan kalau Riri mengundang mereka
ke rumah besar untuk pesta barbeque, tapi Mia mengatakan yang kesana hanya Rio,
Gadis, dan si kembar. Alex hampir protes kenapa dia gak diajak kesana, tapi Mia
membisikkan sesuatu dengan cepat.
“Oh, ok, ok. Kalian pergi aja. Kalo perlu
yang lama sampe malem.”
Gadis menatap bingung dengan sikap Alex, ia
ikut tersenyum melihat kedua mertuanya saling melirik sambil senyum-senyum
mesum.
Ditahun keempat pernikahan Rio dan Gadis,
Riri melahirkan seorang putra untuk Elo. Sekarang putra Riri sudah berumur 3
tahun dan sangat nakal.
“Donatello!!”lengking Riri melihat make up
di meja riasnya sudah tidak jelas bentuknya.
Donatello kecil tidak terlihat dimanapun,
padahal Riri baru sebentar meninggalkannya ke toilet. Riri melihat sekeliling,
dilantai tampak jejak kaki mungil mengarah ke bawah tempat tidurnya.
“Dimana putra mami? Hmm... Mami mau kasi es
krim, malah menghilang.”
Mendengar kata es krim, Donatello keluar
dari persembunyiannya. Riri berharap melihat putranya keluar dari bawah tempat
tidur, tapi Donatello malah keluar dari dalam lemarinya.
“Mi, ana e cim (Mami, mana es krim)?”tanya
Donatello polos.
“Nah, tertangkap kesayangan mami. Kenapa
Ello sembunyi? Hmm?”
Donatello tidak menyahut, ia menarik-narik
baju Riri yang berjongkok di depannya. Riri menggendong putranya keluar dari
kamar, turun ke lantai bawah. Mereka berpapasan dengan Lili yang berjalan pelan
dengan perut buncitnya. Lili sedang mengandung anak ketiganya dengan Dion.
Sekalinya pria itu melepas segelnya, Lili langsung dinyatakan hamil sebulan
kemudian. Ia melahirkan seorang putri cantik untuk Dion. Putri pertama Lili dan
Dion diberi nama Devina.
Dua tahun kemudian, Lili kembali mengandung
dan melahirkan seorang putra yang mereka beri nama Leon. Leon seusia dengan
Donatello, tapi sifatnya sangat jauh berbeda. Meskipun begitu, Leon sangat
sayang pada Donatello. Ia selalu melindungi Donatello dimanapun mereka berada.
Kali ini Lili belum tahu jenis kelamin anak
ketiga mereka. Tapi Riri menebak kalau itu bayi perempuan. “Pelan-pelan, Li. Kamu
mau kemana?”tanya Riri.
“Aku mau ke dapur nyari cemilan. Perutku
lapar lagi, nona.”
Riri memanggil pengasuh Donatello,
__ADS_1
memintanya memandikan putra kesayangan. “Ello, mandi dulu ya. Mami mau buat
cemilan dulu.”
Riri dan Lili berjalan bersama menuju dapur.
Lili duduk di kursi, membantu mengupas bahan makanan yang akan diolah Riri
menjadi cemilan sehat untuk mereka. Riri mempelajari cara memasak dari Lili.
Setelah Devina berumur dua tahun, mereka kembali tinggal di rumah besar Riri.
Kakek Michael dan mama Ratna juga tinggal bersama mereka.
“Kapan mereka datang?”tanya Lili pada Riri
yang sedang memberi instruksi pada koki.
Para koki di rumah besar sudah menyiapkan
pesta barbeque untuk para tamu Riri nanti. Seorang pelayan memanggil Riri,
rombongan Rio sudah datang.
“Tuch, udah pada dateng. Ayo, ke depan.
Mbak, tolong lanjutkan buat cemilan Donatello ya. Saya ke depan dulu.”kata Riri
sopan pada salah satu koki disana.
Koki itu menunduk pada Riri, ia tersenyum
senang karena Riri selalu ramah pada siapapun meskipun sudah menjadi Nyonya
Angelo, Riri tetap rendah hati pada siapapun. Rio, Gadis dan si kembar Rava,
Reva sudah duduk di ruang keluarga Riri. Disana banyak mainan anak-anak yang
memang disiapkan Riri agar anak-anak tidak bosan.
“Rio! Gadis! Apa kabar?”sapa Riri
cipika-cipiki dengan Gadis dan memeluk Rio erat.
“Baik, Ri. Kamu sehat? Mana Ello?”tanya
Gadis. Mata Gadis tertegun melihat perut buncit Lili. “Loh, hamil lagi, Li?”
ini yang terakhir dia minta.”ucap Lili tersenyum ramah.
Gadis tersenyum juga. Ia mengelus perut
Lili dan sedikit menempelkan perutnya. “Semoga cepat nular ya.”ucap Lili lagi.
“Amin.”
Rio tidak berkomentar apa-apa, Riri merasa
saudara kembarnya agak aneh. Rio tampak sibuk dengan pikirannya sendiri. Si
kembar Rava dan Reva duduk di karpet, mulai menggelar permainan yang ingin
mereka mainkan.
“Eh, Rava, Reva, kenapa gak salim sama
kakak? Ayo.”tegur Riri.
Si kembar senyam-senyum menatap Riri, “Hai,
kak Riri. Kakak gendutan ya.”kompak si kembar menyapa Riri sambil menjahilinya.
“Apa?!! Sini kalian. Tiap ketemu pasti
gini, gak ada sopan-sopannya sama kakak.”kesal Riri mengejar si kembar yang
berlari mencar. Satunya ke kanan, satunya ke kiri. Riri jadi bingung mau ngejar
yang mana.
Bruk! Rava yang berlari ke arah tangga,
tidak melihat Devina muncul dari balik tangga. Rava menabrak gadis kecil itu.
Keduanya saling tumpang tindih di depan tangga. “Aduch! Sakit. Jalan pake
mata!”bentak Devina galak. Gadis kecil itu sangat mirip dengan Lili yang galak.
“Dimana-mana jalan pake kaki!”bentak Rava
__ADS_1
sama galaknya.
“Waduh, mereka siap-siap bertengkar lagi
tuch.”ucap Lili. “Devina, cepat bangun. Jangan galak-galak gitu, sayang.”
“Dia duluan yang mulai, bunda. Gak minta
maaf, malah nyolot!”
Lili hampir beranjak mendekati kedua anak
itu, tapi Dion sudah lebih dulu datang menarik keduanya berdiri lagi. “Devi, Rava,
ayo salaman. Baikan.”
Keduanya saling melirik dengan tatapan
tajam, tangan keduanya terulur dengan wajah berpaling. Lili geleng-geleng
kepala melihat mereka berdua yang tidak pernah akur sejak pertama ketemu.
Riri yang cuma bisa menangkap Reva, membawa
adiknya itu seperti membawa kucing. “Bandel! Kakak gelitikin nich.”
Reva memegangi perutnya yang digelitiki
Riri, Rava juga ikut memegang perutnya. Ia ikut merasakan geli saat Riri
menggelitiki kembarannya.
Mereka duduk bersama di ruangan itu sambil
menunggu kedatangan Rara sekeluarga dan juga Katty sekeluarga.
Baru saja diomongin, mereka datang
bersamaan. Rara, Arnold, dan Reynold masuk lebih dulu. Riri menyapa mereka,
memeluk Rara erat dan mencium pipi Reynold. Katty, Jodi, Keira dan Jordan juga
masuk. Jordan, anak kedua Katty dan Jodi. Ia seumuran dengan Leon dan Donatello.
”Banyak anak kecil ya. Rava, Reva,
Reynold, dan Keira berumur 7 tahun, Devina berumur 6 tahun, Donatello, Leon,
dan Jordan berumur 3 tahun. Tambah anak di kandungan Lili juga. Kisah mereka
akan aku ceritakan di ‘Cinta Kembarku’.”
Riri menyapa mereka juga. Mereka semua
berbincang akrab satu sama lain saling melepas kerinduan karena jarangnya
mereka berkumpul seperti itu. Riri sengaja mengundang mereka semua untuk
mendekatkan anak-anak mereka.
Para pria sibuk di dekat pemanggangan
setelah Elo bergabung dengan mereka. Sementara para nyonya bersantai di kursi
yang diletakkan di pinggir kolam renang. Pelayan di rumah besar sibuk mengurus
anak-anak.
Gadis tersenyum mendengarkan celotehan
Katty yang heboh menebak anak di kandungan Lili. Pandangannya beralih menatap
Rio yang sedang berdiri memegang sepit, berada di dekat pemanggangan yang
panas, membuat keringat membasahi lehernya. Sesekali Rio menyibak rambutnya,
menarik-narik kemejanya mencari angin. ABS Rio tampak mengintip dari balik
kemejanya, otot lengannya yang kokoh juga dibasahi keringat.
Gadis menoleh ketika mendengar suara ponsel
yang sedang mengambil foto. Beberapa pelayan wanita tampak berdiri di dekat
mereka, ditangan mereka ada piring berisi daging. Lantas dari mana suara ponsel
itu?
*****
__ADS_1
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.