
Rara menatap keluar jendela besar di ruang kerja Arnold. Laki-laki itu bahkan belum kembali setelah setengah jam berlalu.
Rara hanya menyentuh teh dan kue yang disuguhkan Dion sebelum mengantarkan makan siang untuk Rara dan Arnold.
Ceklek! Pintu ruang kerja Arnold terbuka, ia masuk ke dalam dan melihat Rara berdiri menatapnya,
Arnold : "Maaf nunggu lama ya. Kamu belum makan?"
Arnold menatap bingung pada makanan yanh masih utuh diatas meja. Ia meletakkan jasnya di sofa dan menarik lepas dasinya.
Rara : "Rara nunggu kak Arnold."
Arnold : "Ayo makan, Ra. Aku pikir tidak akan lama tadi. Bima benar-benar menyebalkan."
Rara : "Pekerjaan kakak berat ya."
Arnold : "Sebenarnya tidak kalau dia tidak ada. Setiap proyek yang kukerjakan pasti hampir rusak kalau dia ikut campur."
Rara : "Kenapa om Bima melakukan itu?"
Arnold tertawa mendengar kata-kata Rara yang membuat gadis itu melongo. Pria pelit senyum dihadapannya bahkan tertawa mendengar kata-kata Rara.
Deg! Deg! Deg! Jantung Rara serasa mau loncat dari tempatnya. Rara benar-benar meleleh melihat ketampanan Arnold.
Arnold : "Jangan pedulikan Bima, anggap saja kau tidak kenal dia."
Mereka makan sambil sesekali ngobrol ringan. Rara semakin ingin tahu tentang Arnold,
Rara : "Kak, Rara boleh nanya gak? Tapi kalo kakak gak mau jawab juga gak apa."
Arnold : "Mau nanya apa?"
Rara : "Kakak inget gak waktu Rara telpon kakak nanyain kapan kakak wisuda."
Arnold : "Kapan ya...? Oh, yang waktu aku sama Cindy, emang kenapa?"
Rara : "Kakak lagi ngapain waktu itu?"
Arnold : "Aku lagi terapi abis sembuh dari kecelakaan."
Rara menatap Arnold seperti tidak percaya kalau laki-laki yang sehat seperti Arnold pernah kecelakaan.
Arnold : "Kamu gak percaya, maaf ya kalo aku gak sopan."
Arnold berdiri dan membalik badannya. Ia membuka satu persatu kancing kemejanya dan membuka kemejanya di depan Rara yang langsung berpaling.
Rara : "Kakak kenapa buka baju sich?!"
Arnold : "Biar kamu bisa lihat bekas kecelakaan itu. Coba buka matamu."
Rara membuka matanya perlahan dan melihat di punggung Arnold ada bekas luka yang cukup panjang membentuk garis miring di punggungnya. Bekas itu juga ada di perut dan lengan Arnold.
Arnold kembali memakai kemejanya setelah yakin Rara melihat dengan jelas.
Arnold : "Aku perlu 2 tahun lebih untuk sembuh sepenuhnya. Bukan hanya bagian atas, tapi dibawah juga ada. Tapi aku gak mungkin nunjukin ke kamu kan."
__ADS_1
Rara : "Sampai kapan kakak ikut terapi?"
Arnold : "Mungkin seumur hidupku, Ra. Kalau aku tidak melakukannya, aku tidak bisa berjalan dengan normal. Dan rasa sakitnya akan kambuh lagi."
Rara : "Trus Cindy itu siapa kak? Pacar kakak?"
Arnold : "Aku belum pernah pacaran, Ra. Dan belum punya keinginan untuk itu terlebih setelah kecelakaan. Aku gak bisa..."
Arnold menghentikan ucapannya ketika melihat kepolosan Rara. Arnold meneguk air dalam gelas. Ia ingin mengatakan yang ia rasakan tapi ia masih ragu.
Arnold : "Cindy itu sepupuku, sekaligus personal trainerku. Ia dilatih khusus oleh dokter ahli untuk membantu terapiku. Kapan-kapan kau bisa ikut kalau aku ada schedule."
Rara : "Beneran, kak?"
Arnold hanya mengangguk, Dion sudah masuk ke ruang kerja Arnold dan membawa piring bekas makan mereka keluar.
Arnold : "Aku uda bisa pulang kan?"
Dion : "Belum, tuan. Saya masih perlu tanda tangan tuan. Tunggu sebentar lagi.
Arnold : "15 menit dan tidak lebih. Apa kau tidak lihat ada Rara disini. Aku harus mengantarnya pulang secepatnya."
Dion : "Sepertinya nona Rara tidak akan keberatan kalau harus menunggu sebentar lagi."
Rara tersenyum dan mengangguk, ini masih cukup sore dan mama Mia sudah tahu kemana dia. Ia ingin tahu lebih banyak tentang Arnold, rasa sukanya membuat Rara penasaran dengan kehidupan Arnold.
Arnold : "Ra, tunggu sebentar ya. Habis ini aku antar pulang. Besok kamu kuliah?"
Rara : "Besok Minggu, kak. Emang kenapa, kak?"
Rara : "Rara ijin sama papa dulu ya, kak. Tapi Rara mau ikut kok, sekalian refreshing."
Arnold : "Ok, kabarin aku. Kalau jadi, besok aku jemput jam 8 pagi."
Rara : "Ok, kak."
-------
Rara melambaikan tangannya pada Arnold yang baru saja mengantarnya pulang sampai ke depan gerbang. Arnold tidak mampir lagi karena ingin istirahat untuk perjalanan besok.
Rara masuk ke dalam rumah dengan senyum sumringah, terlihat sekali kalau dia sangat senang. Mia yang sudah ada disana lebih dulu saling menatap dengan nenek. Mereka sedang ngobrol sambil menonton TV.
Rara : "Nenek, mama..."
Rara memeluk keduanya, membagi kebahagiaan yang sedang melingkupinya. Tiba-tiba ia ingat sesuatu, Rara melepas pelukannya dan mengambil ponselnya.
Rara : "Ma, ini foto-foto yang tadi. Tapi Rara bingung dech, kenapa waktu foto sama mama, kak Arnold mau senyum. Tapi waktu sama Rara gak senyum."
Mia menerima ponsel Rara dan melihat beberapa foto yang tadi diambilnya. Nenek juga ikut melihatnya. Mia menatap Rara yang terlihat sedikit kesal.
Mia : "Kamu mau tahu kenapa? Tadi kenapa gak nanya langsung sama orangnya?"
Rara : "Oh iya ya, kenapa Rara jadi lupa. Kita malah ngobrol hal yang lain." Rara semakin cemberut, bersama Arnold membuatnya melupakan hal penting.
Mia : "Coba kamu perhatikan lebih detail lagi. Ingat lagi kejadian waktu waktu Arnold minta foto bareng mama." Rara diam, mengingat-ingat kepingan kejadian tadi siang.
__ADS_1
Rara : "Biasa aja, mah. Semuanya normal aja kok, tapi emang ada yang aneh."
Mia : "Coba bilang apa yang aneh?"
Rara : "Ya itu tadi, kak Arnold cuma senyum waktu foto sama mama. Tapi waktu foto sama Rara, gak ada senyumnya sama sekali. Kak Arnold gak suka sama Rara ya, sukanya sama mama." Rara bahkan hampir menangis.
Nenek menatap Mia yang masih tersenyum melihat kelakuan Rara.
Nenek : "Mia, apa yang terjadi sebenarnya? Jangan sampai hal yang dikatakan Rara itu benar."
Mia : "Bu..., Rara, coba ingat pada saat mama dan Arnold berfoto bersama, siapa yang mengambil fotonya?"
Rara : "Rara, mah."
Mia : "Trus, waktu kalian foto, siapa yang ngambil?"
Rara : "Mama..."
Rara seperti ingat sesuatu, sekali lagi ia melihat foto Arnold yang sedang tersenyum.
Rara : "Maksud mama, kak Arnold cuma senyum sama aku?"
Mia : "Sejak mama ketemu Arnold, belum pernah tuch sekalipun lihat dia senyum, bukan cuma sama mama, bahkan semua orang. Tapi kenapa dia cuma senyum sama kamu, Ra?"
Rara : "Iya, ya. Tadi juga dia sempat ketawa depan Rara. Waduh..."
Mia dan nenek saling pandang melihat Rara yang bersemu merah, ia senang sekali sampai nafasnya ngos-ngosan.
Mia : "Tapi jangan senang dulu ya, Ra. Ini cuma kesimpulan yang mama dapat setelah kejadian tadi siang. Rara tetap harus nanya langsung sama Arnold. Jangan sampai Rara kecewa kalau jawabannya tidak sesuai ekspektasi."
Rara : "Trus kalau kak Arnold bilang dia gak suka Rara gimana?"
Mia : "Gak suka, tapi kalo ngajak ngobrol bisa berjam-jam ya. Papamu ngeluh sama mama karena tagihan telponmu bulan ini agak gendut."
Rara : "Masa sih mah? Kenapa papa gak negur Rara?"
Mia : "Uda mama yang bayar..."
Rara : "Tagihan Rara?"
Mia : "Bukan, tapi papamu..."
Nenek tersipu mendengar kata-kata Mia, Mia tertawa melihat reaksi Rara yang bingung. Dasar masih polos.
-------
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan sarannya ya para reader.
Sama tolong vote poin untuk karya author yang ini ya. Caranya cari detail dan klik vote.
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
--------
__ADS_1