
Ketahuan bohong
Rio bernafas lega mendengar Gadis mau makan seperti
biasanya. Rio kembali meringis saat Mia mengganti perban di kakinya juga. Katty
hanya menatapnya dengan prihatin.
Gadis membungkam mulutnya agar tangisannya tidak
terdengar Alex. Ia membayangkan bagaimana Rio menahan sakit saat menjemputnya
tadi pagi. Gadis menghapus air matanya, ia mengatur nafasnya agar lebih tenang.
Ia melangkah keluar dari ruang pribadi Alex dan
berpura-pura baru saja bangun tidur. Alex melihat Gadis yang tampak sedikit
pucat, tapi tidak berkomentar apa-apa. Gadis tidak mengatakan dan menanyakan
apa-apa pada Alex.
Saat jam pulang kantor, Gadis menerima begitu saja
saat Alex memintanya pulang bersama Romi. Romi mengantar Gadis sampai ke
rumahnya dan Gadis melangkah masuk ke dalam rumah. Ia bersembunyi di balik
pagar, dan keluar lagi setelah melihat Romi pergi. Gadis memesan taxi online
untuk mengantarnya ke rumah Alex.
*****
Rio masih berbaring di ranjangnya setelah Mia
mengganti perbannya. Ia merasakan luka-luka lebih sakit sekarang. Rio tidak
bisa tidur, ia gelisah dan serba salah. Keringat membasahi kening dan
punggungnya.
“Ini pasti karena aku belum mandi. Gerah
banget.”kata Rio pada dirinya sendiri.
Rio bangkit dari atas ranjangnya. Ia berjalan
perlahan ke kamar mandi dan mengisi baskom dengan air yang sedikit panas.
Disana masih ada washlap yang ia pakai sebelumnya. Rio membawa baskom itu
sambil berjalan tertatih menahan sakit di kakinya.
Setelah duduk di kursi di dalam kamarnya, Rio
membuka kaos dan celananya. Ia hanya menyisakan boxer saja. Rio memeras washlap
dan menempelkannya di pundaknya. Ia merasa sangat nyaman ketika pundaknya
terkena washlap hangat.
Rio mengelap lengan dan dadanya lebih dulu. Ia
ingin minta bantuan Mia sebenarnya tapi urung karena mamanya itu pasti sibuk
mengurus adik kembarnya. Tiba-tiba seseorang mengambil washlap dari tangan Rio
dan mengelap punggungnya.
“Mah. Kak Katty udah pulang ya.”kata Rio.
“Iya. Udah dijemput sama Jodi tadi. Kamu kenapa gak
manggil mama?”tanya Mia.
“Rio bisa sendiri kok, mah.”jawab Rio sambil meringis
menahan sakit.
“Harusnya Gadis yang ngrawat kamu.”kata Mia lagi.
“Dia gak boleh tahu Rio gini, mah. Lagian udah ada
mama kan.”kata Rio sambil menggenggam tangan Mia dan menempelkannya ke pipinya.
“Tangan mama halus banget biasanya ada
kapalannya.”kata Rio jujur.
“Oh, mungkin itu bukan tangan mama.”jawab Mia
sambil berdiri di samping Rio.
Rio menoleh melihat mamanya, keningnya berkerut
melihat kedua tangan mamanya tidak memegang apa-apa. Ketika Rio menoleh ke
belakang, ia sangat terkejut melihat Gadis berdiri di belakangnya dengan wajah
merona.
“Gadis?!! Kamu disini?”tanya Rio sangat terkejut.
Rio melepaskan tangannya yang menggenggam tangan
Gadis dan berusaha menutupi perban di tangannya. Gadis memeras washlap lagi,
kali ini mengelap bagian depan tubuh Rio.
__ADS_1
“Aku bisa sendiri. Gadis, kasi washlapnya.”pinta
Rio sambil mengulurkan tangannya.
“Aku belum selesai. Jangan nglawan atau kucium
kamu... eh, maksudku kucubit lukamu.”kata Gadis berusaha bercanda tapi ia salah
bicara.
Rio memperhatikan telinga Gadis yang memerah. Saat
itu Gadis sudah sampai di bagian kaki Rio. Sentuhan Gadis dipaha atas Rio
membuat sesuatu yang tertidur, perlahan mulai bangun. Rio sibuk berdehem,
mencoba mengalihkan pikiran kotornya karena sentuhan Gadis.
“Jangan pegang disana lagi. Kamu ngbangunin dia.”kata
Rio sambil menutupi wajahnya yang memerah dengan tangannya.
“Dia siapa? Gak ada orang lain disini.”tanya Gadis
masih gak ngeh.
“Dia yang bikin kamu hamil.”kata Rio lagi.
Mata Gadis auto fokus ke boxer Rio. Sesuatu dibalik
boxer itu tampak menggelembung. Gadis berdiri dengan cepat, ia memberikan
washlap pada Rio dan berdiri agak jauh darinya. Situasi jadi canggung banget
setelah itu.
“Maaf aku gak maksud gitu. Rio, kamu mau pake baju
lagi?”tanya Gadis.
“Ya. Bisa tolong ambilin kaos sama celana
pendekku.”pinta Rio.
Gadis membuka lemari Rio. Ia mengambil satu kaos
polos dan celana pendek untuk Rio. Saat ia melihat tumpukan celana dalam dan
boxer Rio, Gadis mengambilnya juga.
“Ini, Rio. Kamu perlu bantuan?”tanya Gadis sambil
malu-malu.
Rio melihat Gadis tersenyum malu padanya, ia
memberanikan diri meminta bantuan Gadis. Padahal Rio bisa melakukannya sendiri.
celana dalemku. Kamu yakin mau bantu?”tanya Rio.
“Iya. Tapi jangan macem-macem ya.”pinta Gadis
sambil berjalan mendekat.
“Iya. Janji. Tutup aja matamu.”kata Rio.
Gadis menutup matanya, ia merasakan tangan Rio
memegang salah satu lengannya. Sesekali terdengar desis kesakitan dari mulut
Rio.
“Sakit banget ya? Kamu kok gak bilang sich? Gimana
kejadiannya?”pertanyaan beruntun keluar dari mulut Gadis yang masih memejamkan
matanya.
“Tunggu ya, ntar aku cerita. Boxerku uda lepas.
Tolong ambilin washlap-nya lagi.”pinta Rio.
Gadis berbalik dan memeras washlap di dalam baskom.
Ia memberikannya pada Rio yang menggunakannya untuk membersihkan bagian
tubuhnya yang tadinya tertutup boxer. Rio melirik Gadis yang masih berdiri
membelakanginya.
Ia melihat Gadis masih memakai baju kerjanya tadi
pagi. Gadis menyampirkan rambut panjangnya ke salah satu bahunya. Tengkuknya
yang putih bersih, menggoda Rio.
“Gadis...”panggil Rio.
“Hmm? Mana washlap-nya?”tanya Gadis sambil
menyodorkan tangannya.
“Gadis, aku mau lakuin sesuatu sama kamu. Jangan
salah paham ya.”kata Rio sedikit ragu.
“Apa?! Kamu mau ngapain?”kata Gadis yang mulai
panik.
__ADS_1
“Aku mau nunjukin rasa sayangku sama kamu. Boleh?”tanya
Rio sambil mendekat ke telinga Gadis.
Gadis mengangguk malu-malu. Ia tidak berani
berbalik dan menunggu apa yang akan dilakukan Rio padanya.
*****
Mia dan Alex menatap tangga bergantian. Sudah cukup
lama Gadis berada diatas sana bersama Rio. Keduanya sedikit cemas kalau-kalau
Gadis trauma lagi.
“Belum turun juga ya.”kata Alex.
“Iya, mas. Tapi kayaknya gak pa-pa sich. Tadi aku
tinggal, Gadis masih bantu Rio lap badannya.”kata Mia.
“Rio telanjang, dong? Ntar kalau kejadian lagi,
gimana?”tanya Alex.
“Apa sich, mas. Mereka kan gak mabuk. Eh, tapi
kenapa perasaanku gak enak ya?”kata Mia sedikit cemas.
“Tuch, kan. Apa kita coba lihat ke atas?”tanya
Alex.
“Ayo. Sekalian bawain minum nich.”kata Mia.
Mereka berdua naik ke lantai 2 dan mendekati kamar
Rio. Keduanya menahan nafas ketika mendengar suara desahan dari dalam kamar
itu.
“Mas, suara apa tuch?”bisik Mia.
“Tuch kan, pasti kejadian lagi.”bisik Alex juga.
“Tapi masa sich? Mereka kan belum nikah.”bisik Mia
lagi.
“Emang kita dah nikah waktu nglakuin itu pertama kali?”bisik
Alex lagi.
Mia memukul lengan Alex dan mengatakan kalau itu gara-gara
Alex yang gak sabaran. Mereka semakin mendekat dan menguping lagi di balik
pintu kamar Rio.
“Ach, Rio. Pelan-pelan. Sakit!”jerit Gadis.
“Tahan dikit. Aku uda pelan-pelan. Bentar lagi
keluar. Ach... ssss...”desis Rio menambah rasa penasaran Alex dan Mia. Keduanya
saling pandang.
“Apa kita ketuk aja pintunya? Tapi kalau mereka
lagi itu, kan jadi malu.”bisik Mia.
“Trus ketuk apa gak nich?”bisik Alex.
“Ach! Rio! Ach!”desah Gadis semakin kencang.
“Udah keluar. Sss... Aduch, jangan diremes...”kata
Rio.
Alex mengipasi tubuhnya yang mulai kepanasan
mendengar suara-suara di dalam sana. Mia juga ikutan panas. Ia meminum es sirup
yang dibawanya sampai habis. Keduanya saling menatap dan hampir berciuman
ketika mendengar jeritan Gadis lagi.
“Ampun, Rio! Jangan lagi. Sakit.”
“Sekali lagi. Sebentar aja sakitnya. Cepetan buka!”bentak
Rio.
“Nich anak udah main kasar. Gak bisa dibiarin.”kata
Alex yang mulai kesal.
Alex membuka pintu kamar Rio tanpa mengetuk lebih
dulu. Ia dan Mia melotot melihat apa yang sedang dilakukan Rio pada Gadis.
*****
Nah, lo. Keciduk ngapain nich Rio ya? Yang
penasaran tetep vote, like, 5 bintang untuk novel ini ya.
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
__ADS_1
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.