Duren Manis

Duren Manis
Ketahuan bohong


__ADS_3

Ketahuan bohong


Rio bernafas lega mendengar Gadis mau makan seperti


biasanya. Rio kembali meringis saat Mia mengganti perban di kakinya juga. Katty


hanya menatapnya dengan prihatin.


Gadis membungkam mulutnya agar tangisannya tidak


terdengar Alex. Ia membayangkan bagaimana Rio menahan sakit saat menjemputnya


tadi pagi. Gadis menghapus air matanya, ia mengatur nafasnya agar lebih tenang.


Ia melangkah keluar dari ruang pribadi Alex dan


berpura-pura baru saja bangun tidur. Alex melihat Gadis yang tampak sedikit


pucat, tapi tidak berkomentar apa-apa. Gadis tidak mengatakan dan menanyakan


apa-apa pada Alex.


Saat jam pulang kantor, Gadis menerima begitu saja


saat Alex memintanya pulang bersama Romi. Romi mengantar Gadis sampai ke


rumahnya dan Gadis melangkah masuk ke dalam rumah. Ia bersembunyi di balik


pagar, dan keluar lagi setelah melihat Romi pergi. Gadis memesan taxi online


untuk mengantarnya ke rumah Alex.


*****


Rio masih berbaring di ranjangnya setelah Mia


mengganti perbannya. Ia merasakan luka-luka lebih sakit sekarang. Rio tidak


bisa tidur, ia gelisah dan serba salah. Keringat membasahi kening dan


punggungnya.


“Ini pasti karena aku belum mandi. Gerah


banget.”kata Rio pada dirinya sendiri.


Rio bangkit dari atas ranjangnya. Ia berjalan


perlahan ke kamar mandi dan mengisi baskom dengan air yang sedikit panas.


Disana masih ada washlap yang ia pakai sebelumnya. Rio membawa baskom itu


sambil berjalan tertatih menahan sakit di kakinya.


Setelah duduk di kursi di dalam kamarnya, Rio


membuka kaos dan celananya. Ia hanya menyisakan boxer saja. Rio memeras washlap


dan menempelkannya di pundaknya. Ia merasa sangat nyaman ketika pundaknya


terkena washlap hangat.


Rio mengelap lengan dan dadanya lebih dulu. Ia


ingin minta bantuan Mia sebenarnya tapi urung karena mamanya itu pasti sibuk


mengurus adik kembarnya. Tiba-tiba seseorang mengambil washlap dari tangan Rio


dan mengelap punggungnya.


“Mah. Kak Katty udah pulang ya.”kata Rio.


“Iya. Udah dijemput sama Jodi tadi. Kamu kenapa gak


manggil mama?”tanya Mia.


“Rio bisa sendiri kok, mah.”jawab Rio sambil meringis


menahan sakit.


“Harusnya Gadis yang ngrawat kamu.”kata Mia lagi.


“Dia gak boleh tahu Rio gini, mah. Lagian udah ada


mama kan.”kata Rio sambil menggenggam tangan Mia dan menempelkannya ke pipinya.


“Tangan mama halus banget biasanya ada


kapalannya.”kata Rio jujur.


“Oh, mungkin itu bukan tangan mama.”jawab Mia


sambil berdiri di samping Rio.


Rio menoleh melihat mamanya, keningnya berkerut


melihat kedua tangan mamanya tidak memegang apa-apa. Ketika Rio menoleh ke


belakang, ia sangat terkejut melihat Gadis berdiri di belakangnya dengan wajah


merona.


“Gadis?!! Kamu disini?”tanya Rio sangat terkejut.


Rio melepaskan tangannya yang menggenggam tangan


Gadis dan berusaha menutupi perban di tangannya. Gadis memeras washlap lagi,


kali ini mengelap bagian depan tubuh Rio.

__ADS_1


“Aku bisa sendiri. Gadis, kasi washlapnya.”pinta


Rio sambil mengulurkan tangannya.


“Aku belum selesai. Jangan nglawan atau kucium


kamu... eh, maksudku kucubit lukamu.”kata Gadis berusaha bercanda tapi ia salah


bicara.


Rio memperhatikan telinga Gadis yang memerah. Saat


itu Gadis sudah sampai di bagian kaki Rio. Sentuhan Gadis dipaha atas Rio


membuat sesuatu yang tertidur, perlahan mulai bangun. Rio sibuk berdehem,


mencoba mengalihkan pikiran kotornya karena sentuhan Gadis.


“Jangan pegang disana lagi. Kamu ngbangunin dia.”kata


Rio sambil menutupi wajahnya yang memerah dengan tangannya.


“Dia siapa? Gak ada orang lain disini.”tanya Gadis


masih gak ngeh.


“Dia yang bikin kamu hamil.”kata Rio lagi.


Mata Gadis auto fokus ke boxer Rio. Sesuatu dibalik


boxer itu tampak menggelembung. Gadis berdiri dengan cepat, ia memberikan


washlap pada Rio dan berdiri agak jauh darinya. Situasi jadi canggung banget


setelah itu.


“Maaf aku gak maksud gitu. Rio, kamu mau pake baju


lagi?”tanya Gadis.


“Ya. Bisa tolong ambilin kaos sama celana


pendekku.”pinta Rio.


Gadis membuka lemari Rio. Ia mengambil satu kaos


polos dan celana pendek untuk Rio. Saat ia melihat tumpukan celana dalam dan


boxer Rio, Gadis mengambilnya juga.


“Ini, Rio. Kamu perlu bantuan?”tanya Gadis sambil


malu-malu.


Rio melihat Gadis tersenyum malu padanya, ia


memberanikan diri meminta bantuan Gadis. Padahal Rio bisa melakukannya sendiri.


celana dalemku. Kamu yakin mau bantu?”tanya Rio.


“Iya. Tapi jangan macem-macem ya.”pinta Gadis


sambil berjalan mendekat.


“Iya. Janji. Tutup aja matamu.”kata Rio.


Gadis menutup matanya, ia merasakan tangan Rio


memegang salah satu lengannya. Sesekali terdengar desis kesakitan dari mulut


Rio.


“Sakit banget ya? Kamu kok gak bilang sich? Gimana


kejadiannya?”pertanyaan beruntun keluar dari mulut Gadis yang masih memejamkan


matanya.


“Tunggu ya, ntar aku cerita. Boxerku uda lepas.


Tolong ambilin washlap-nya lagi.”pinta Rio.


Gadis berbalik dan memeras washlap di dalam baskom.


Ia memberikannya pada Rio yang menggunakannya untuk membersihkan bagian


tubuhnya yang tadinya tertutup boxer. Rio melirik Gadis yang masih berdiri


membelakanginya.


Ia melihat Gadis masih memakai baju kerjanya tadi


pagi. Gadis menyampirkan rambut panjangnya ke salah satu bahunya. Tengkuknya


yang putih bersih, menggoda Rio.


“Gadis...”panggil Rio.


“Hmm? Mana washlap-nya?”tanya Gadis sambil


menyodorkan tangannya.


“Gadis, aku mau lakuin sesuatu sama kamu. Jangan


salah paham ya.”kata Rio sedikit ragu.


“Apa?! Kamu mau ngapain?”kata Gadis yang mulai


panik.

__ADS_1


“Aku mau nunjukin rasa sayangku sama kamu. Boleh?”tanya


Rio sambil mendekat ke telinga Gadis.


Gadis mengangguk malu-malu. Ia tidak berani


berbalik dan menunggu apa yang akan dilakukan Rio padanya.


*****


Mia dan Alex menatap tangga bergantian. Sudah cukup


lama Gadis berada diatas sana bersama Rio. Keduanya sedikit cemas kalau-kalau


Gadis trauma lagi.


“Belum turun juga ya.”kata Alex.


“Iya, mas. Tapi kayaknya gak pa-pa sich. Tadi aku


tinggal, Gadis masih bantu Rio lap badannya.”kata Mia.


“Rio telanjang, dong? Ntar kalau kejadian lagi,


gimana?”tanya Alex.


“Apa sich, mas. Mereka kan gak mabuk. Eh, tapi


kenapa perasaanku gak enak ya?”kata Mia sedikit cemas.


“Tuch, kan. Apa kita coba lihat ke atas?”tanya


Alex.


“Ayo. Sekalian bawain minum nich.”kata Mia.


Mereka berdua naik ke lantai 2 dan mendekati kamar


Rio. Keduanya menahan nafas ketika mendengar suara desahan dari dalam kamar


itu.


“Mas, suara apa tuch?”bisik Mia.


“Tuch kan, pasti kejadian lagi.”bisik Alex juga.


“Tapi masa sich? Mereka kan belum nikah.”bisik Mia


lagi.


“Emang kita dah nikah waktu nglakuin itu pertama kali?”bisik


Alex lagi.


Mia memukul lengan Alex dan mengatakan kalau itu gara-gara


Alex yang gak sabaran. Mereka semakin mendekat dan menguping lagi di balik


pintu kamar Rio.


“Ach, Rio. Pelan-pelan. Sakit!”jerit Gadis.


“Tahan dikit. Aku uda pelan-pelan. Bentar lagi


keluar. Ach... ssss...”desis Rio menambah rasa penasaran Alex dan Mia. Keduanya


saling pandang.


“Apa kita ketuk aja pintunya? Tapi kalau mereka


lagi itu, kan jadi malu.”bisik Mia.


“Trus ketuk apa gak nich?”bisik Alex.


“Ach! Rio! Ach!”desah Gadis semakin kencang.


“Udah keluar. Sss... Aduch, jangan diremes...”kata


Rio.


Alex mengipasi tubuhnya yang mulai kepanasan


mendengar suara-suara di dalam sana. Mia juga ikutan panas. Ia meminum es sirup


yang dibawanya sampai habis. Keduanya saling menatap dan hampir berciuman


ketika mendengar jeritan Gadis lagi.


“Ampun, Rio! Jangan lagi. Sakit.”


“Sekali lagi. Sebentar aja sakitnya. Cepetan buka!”bentak


Rio.


“Nich anak udah main kasar. Gak bisa dibiarin.”kata


Alex yang mulai kesal.


Alex membuka pintu kamar Rio tanpa mengetuk lebih


dulu. Ia dan Mia melotot melihat apa yang sedang dilakukan Rio pada Gadis.


*****


Nah, lo. Keciduk ngapain nich Rio ya? Yang


penasaran tetep vote, like, 5 bintang untuk novel ini ya.


Klik profil author ya, ada novel karya author yang

__ADS_1


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.


__ADS_2