Duren Manis

Duren Manis
Sakit pinggang


__ADS_3

Sakit pinggang


Gadis menoleh melihat arah pandangan mata


Rio yang terus tersenyum. Tubuhnya melemas seketika menyadari Rio sangat serius


dengan kata-katanya.


Rio bangkit dari tempat tidur, ia mengambil


piring yang berisi makan malam mereka dan menyuapi Gadis makan.


“Makan yang banyak, sayang. Biar ada


tenaga.”


“Rio, kamu gak capek? Udah 3 kali.”


“Kamu ngitung toh. Belum 10 kan?”


Gadis kehilangan kata-katanya. Ia menarik


selimut membungkus tubuhnya seperti lemper. “Aku gak mau lagi!!”


“Nolak suami dosa loh. Aku udah jadi


suamimu sekarang. Harus nurut.”


“Aku mau pulang!! Mama!!”jerit Gadis ngeri


melihat seringai Rio.


“Lepas gak selimutnya? Lepas sendiri atau


selimutnya aku sita. Kamu gak boleh pake apapun di kamar ini.”ancam Rio.


“Iya, ntar!”ucap Gadis kesal. Mana bisa ia


melarikan diri dari hotel itu cuma pake selimut doang. “Rio, mana koperku?”


“Gak tau.”


Rio meminta Rara untuk menyembunyikan


kopernya dan Gadis yang berisi pakaian ganti mereka. Ia berencana membiarkan


Gadis tidak pakai apa-apa selama mereka menghabiskan malam pertama pernikahan


mereka di hotel.


Gadis mendengus kesal, tiba-tiba ia ingin


ke toilet. Gadis melepas selimutnya, dan berjalan cepat masuk ke kamar mandi


sambil menutupi dadanya dengan tangan.


Rio tersenyum makin lebar melihat selimut


yang dipakai Gadis teronggok diatas tempat tidur. Ia menarik selimut itu,


memasukkannya dalam lemari dan mengunci lemari itu. Rio melihat sekeliling


kamar, lingeri yang dipakai Gadis tadi tampak terselip di bawah bantal.


“Beneran kan tebakanku. Harusnya aku dapet


kejutan nich.”


Rio membereskan bekas makan mereka dan


berbaring di atas tempat tidur dengan tangan sibuk memainkan lingeri di


tangannya. Gadis yang keluar usai menuntaskan hasrat ingin pipisnya, melotot melihat


tempat tidur mereka sudah bersih tanpa selimut.


“Mana selimutnya?”tanya Gadis.


“Benar kan tebakanku? Kamu pake lingeri


merah.”


“Iih, Rio! Kamu nyebelin banget!.


Huaaaa....!!” Gadis mulai menangis sambil menghentak-hentakkan kakinya.


Rio mulai panik melihat Gadis menangis


seperti anak kecil. Ia ingin memeluk Gadis tapi Gadis malah mendorongnya. “Gak


mau sama kamu!! Mama!! Mama Mia!! Huaaa...!!! Hiks...”


“Gadis, jangan nangis dong. Aku ambilin


selimutnya. Jangan marah. Aduch, gimana biar mau diem sich.”


Rio semakin panik saat Gadis menangis


semakin keras sambil guling-guling atas tempat tidur mereka. Ia membuka lemari


dengan cepat mengeluarkan selimut dan juga koper-koper mereka. Gadis melirik


kopernya sambil terus berpura-pura menangis.

__ADS_1


Gadis hanya pura-pura, ia sempat cuci muka


tadi dan membiarkan air membasahi wajahnya. Jadi Rio mengira Gadis nangis


beneran.


“Gadis, lihat itu kopermu. Ini selimutnya.


Kamu kedinginan kan?”


Gadis merebut selimut dari tangan Rio


dengan wajah merajuk. Ia minta diambilkan kopernya, Rio mengambil koper Gadis


yang langsung membawanya ke dalam kamar mandi.


“Haduh! Bikin stres aja. Gak nyangka dia


bisa ngambek juga.”


Rio memijat kepalanya yang sedikit sakit.


Ia sendiri tidak mengerti kenapa bisa punya hasrat sebesar itu pada Gadis.


Padahal hari-hari pernikahan mereka baru dimulai, masih ada besok untuk


melakukannya. Tapi Rio tidak bisa melepaskan Gadis sekarang, ia tidak mau.


Pintu kamar mandi akhirnya terbuka. Rio


melongo melihat penampilan Gadis yang keluar memakai pakaian yang sangat mini


dan seksi. Rio menelan salivanya, ia meringis saat merasakan ngilu di antara


pahanya.


”Ini beneran Gadis kan yang keluar? Aduh,


kenapa dia keluar pake baju gitu? Ya, Tuhan. Hancur sudah pertahananku


sekarang.”


Rio menggigit ujung selimut melihat Gadis


berjalan berlenggak-lenggok mendekatinya. Ditangannya ada seutas tali hitam.


“Sa... sayang? Ini kamu kan?”


“Memangnya siapa lagi? Kamu siap dengan


kejutannya, sayang?”bisik Gadis ditelinga Rio. “Sini tanganmu.” Gadis mengikat


kedua tangan Rio dibelakang punggungnya.


Pikiran Rio sudah kemana-mana ketika Gadis


mencium bibir Rio tanpa jeda, membangkitkan gairah Rio lagi. Tapi sejurus


kemudian, Gadis menarik selimut dan berbaring dengan nyaman di samping Rio.


“Aku mau tidur. Bye.”


Tubuh Rio melemas lagi, hancur sudah semua


khayalan mesumnya. Ia sangat senang melihat Gadis sangat berani tadi tapi


dirinya harus kecewa melihat Gadis sudah tertidur lelap.


“Hais! Nasib-nasib.”


Rio membolak-balik tubuhnya yang tidak


merasa nyaman dengan tangan terikat ke belakang. Ia mencoba tengkurap, tapi


sesak nafas sendiri. Akhirnya Rio tertidur sendiri dengan posisi menyamping


sedikit tengkurap.


Entah berapa lama Rio sudah tertidur, ia


merasakan sesuatu yang basah mengenai lehernya. Mata Rio terbuka melihat Gadis


sedang menciumi lehernya.


“Gadis... kamu ngapain?”


“Bangunin kamu.”


“Jam berapa sekarang?”tanya Rio sambil


memegang pinggang ramping Gadis.


“Masih jam 3.”


Mata Rio terbuka sempurna saat ia merasakan


kedua tangannya sudah lepas dari ikatan. Ia mulai mengikuti permainan yang


dimulai Gadis lebih dulu.


“Sayang, boleh lagi, kan? Aku mau sampai


pagi.”

__ADS_1


“Ini udah hampir pagi, kamu bisa cepat gak?”tanya


Gadis sambil menggigit daun telinga Rio.


“Aku mau buat kamu gak bisa jalan.”


Detik demi detik berlalu, berganti menit


yang dengan cepat berganti jam. Keadaan kamar pengantin itu sangat berantakan


dengan AC yang disetel paling dingin, keduanya tambah nyenyak tidur saling


berpelukan.


Tok, tok, tok suara ketukan dipintu entah


sudah yang keberapa kalinya, membangunkan Rio pada akhirnya. Ia melihat ke


dalam pelukannya, tubuh Gadis masih menempel erat dengan tubuhnya setelah


penyatuan terakhir mereka sebelum tumbang.


Dengan hati-hati, Rio menggeser posisi


tidur Gadis, melepaskan penyatuan mereka dengan hati-hati. Bahkan saat terbangun


dan melihat tubuh Gadis membuat Rio bergairah lagi.


“Siapa sich ganggu aja pagi-pagi gini.”


Rio memakai bathrobe-nya dan membuka pintu.


Pelayan mengantarkan sarapan sekaligus dengan makan siang mereka berdua. “Silakan


dinikmati, tuan. Apa tuan akan pulang siang ini atau menginap lagi? Saya hanya


menanyakan agar bisa membersihkan kamar tuan dan menyiapkan makan malam.”


“Saya akan check out setelah istri saya


bangun.”


Pelayan itu mengangguk dan pergi setelah


Rio memberinya tips. Rio mendekati tempat tidur lagi dan melihat Gadis masih


tidur dengan lelap. Terlihat kantung mata di bawah mata Gadis agak menghitam


pertanda kurang tidur semalam.


Rio memilih mandi lebih dulu sambil


menyiapkan bathup untuk Gadis berendam air hangat.  Ia baru ingat kalau kemarin belum sempat mandi


dan langsung melahap Gadis. Sambil bersenangdung, Rio menyalakan shower


membasahi tubuhnya yang lengket dengan keringat dan hal yang lainnya.


Ia tersenyum senang mengingat setiap


percintaan panas mereka yang mungkin tidak akan pernah ia lupakan seumur hidup.


Bathup hampir penuh saat Rio akhirnya selesai mandi. Ia mengambil handuk baru


di dalam lemari dan keluar dari kamar mandi tanpa memakai apapun.


“Yank, bangun. Gadisku, bangun.”panggil Rio


sambil mengeringkan rambutnya yang basah.


“Hmm...”lenguh Gadis sambil membuka


matanya. Ia melotot melihat Rio berdiri di depannya gak pake apa-apa. Pake


bergaya sok jadi model lagi.


“Idih!! Kenapa gak pake celana sich?!!”


“Kenapa? Kamu kan sudah melihat semuanya


detail. Malu apalagi?”


“Iya, tapi gak sedekat itu juga ngasi


liatnya.”


“Pengen lagi ya? Ayok, masih bisa 2 ronde


lagi.”


Buk! Bantal melayang mengenai wajah Rio.


Gadis hampir bangun dari tidurannya ketika merasakan pinggangnya kaku dan sekit


sekali.


“Aduduh... pinggangku.”


Gadis mencoba tengkurap sambil berdesis


memegangi pinggangnya.


*****

__ADS_1


Klik profil author ya, ada novel karya


author yang lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.


__ADS_2