
Sakit pinggang
Gadis menoleh melihat arah pandangan mata
Rio yang terus tersenyum. Tubuhnya melemas seketika menyadari Rio sangat serius
dengan kata-katanya.
Rio bangkit dari tempat tidur, ia mengambil
piring yang berisi makan malam mereka dan menyuapi Gadis makan.
“Makan yang banyak, sayang. Biar ada
tenaga.”
“Rio, kamu gak capek? Udah 3 kali.”
“Kamu ngitung toh. Belum 10 kan?”
Gadis kehilangan kata-katanya. Ia menarik
selimut membungkus tubuhnya seperti lemper. “Aku gak mau lagi!!”
“Nolak suami dosa loh. Aku udah jadi
suamimu sekarang. Harus nurut.”
“Aku mau pulang!! Mama!!”jerit Gadis ngeri
melihat seringai Rio.
“Lepas gak selimutnya? Lepas sendiri atau
selimutnya aku sita. Kamu gak boleh pake apapun di kamar ini.”ancam Rio.
“Iya, ntar!”ucap Gadis kesal. Mana bisa ia
melarikan diri dari hotel itu cuma pake selimut doang. “Rio, mana koperku?”
“Gak tau.”
Rio meminta Rara untuk menyembunyikan
kopernya dan Gadis yang berisi pakaian ganti mereka. Ia berencana membiarkan
Gadis tidak pakai apa-apa selama mereka menghabiskan malam pertama pernikahan
mereka di hotel.
Gadis mendengus kesal, tiba-tiba ia ingin
ke toilet. Gadis melepas selimutnya, dan berjalan cepat masuk ke kamar mandi
sambil menutupi dadanya dengan tangan.
Rio tersenyum makin lebar melihat selimut
yang dipakai Gadis teronggok diatas tempat tidur. Ia menarik selimut itu,
memasukkannya dalam lemari dan mengunci lemari itu. Rio melihat sekeliling
kamar, lingeri yang dipakai Gadis tadi tampak terselip di bawah bantal.
“Beneran kan tebakanku. Harusnya aku dapet
kejutan nich.”
Rio membereskan bekas makan mereka dan
berbaring di atas tempat tidur dengan tangan sibuk memainkan lingeri di
tangannya. Gadis yang keluar usai menuntaskan hasrat ingin pipisnya, melotot melihat
tempat tidur mereka sudah bersih tanpa selimut.
“Mana selimutnya?”tanya Gadis.
“Benar kan tebakanku? Kamu pake lingeri
merah.”
“Iih, Rio! Kamu nyebelin banget!.
Huaaaa....!!” Gadis mulai menangis sambil menghentak-hentakkan kakinya.
Rio mulai panik melihat Gadis menangis
seperti anak kecil. Ia ingin memeluk Gadis tapi Gadis malah mendorongnya. “Gak
mau sama kamu!! Mama!! Mama Mia!! Huaaa...!!! Hiks...”
“Gadis, jangan nangis dong. Aku ambilin
selimutnya. Jangan marah. Aduch, gimana biar mau diem sich.”
Rio semakin panik saat Gadis menangis
semakin keras sambil guling-guling atas tempat tidur mereka. Ia membuka lemari
dengan cepat mengeluarkan selimut dan juga koper-koper mereka. Gadis melirik
kopernya sambil terus berpura-pura menangis.
__ADS_1
Gadis hanya pura-pura, ia sempat cuci muka
tadi dan membiarkan air membasahi wajahnya. Jadi Rio mengira Gadis nangis
beneran.
“Gadis, lihat itu kopermu. Ini selimutnya.
Kamu kedinginan kan?”
Gadis merebut selimut dari tangan Rio
dengan wajah merajuk. Ia minta diambilkan kopernya, Rio mengambil koper Gadis
yang langsung membawanya ke dalam kamar mandi.
“Haduh! Bikin stres aja. Gak nyangka dia
bisa ngambek juga.”
Rio memijat kepalanya yang sedikit sakit.
Ia sendiri tidak mengerti kenapa bisa punya hasrat sebesar itu pada Gadis.
Padahal hari-hari pernikahan mereka baru dimulai, masih ada besok untuk
melakukannya. Tapi Rio tidak bisa melepaskan Gadis sekarang, ia tidak mau.
Pintu kamar mandi akhirnya terbuka. Rio
melongo melihat penampilan Gadis yang keluar memakai pakaian yang sangat mini
dan seksi. Rio menelan salivanya, ia meringis saat merasakan ngilu di antara
pahanya.
”Ini beneran Gadis kan yang keluar? Aduh,
kenapa dia keluar pake baju gitu? Ya, Tuhan. Hancur sudah pertahananku
sekarang.”
Rio menggigit ujung selimut melihat Gadis
berjalan berlenggak-lenggok mendekatinya. Ditangannya ada seutas tali hitam.
“Sa... sayang? Ini kamu kan?”
“Memangnya siapa lagi? Kamu siap dengan
kejutannya, sayang?”bisik Gadis ditelinga Rio. “Sini tanganmu.” Gadis mengikat
kedua tangan Rio dibelakang punggungnya.
Pikiran Rio sudah kemana-mana ketika Gadis
mencium bibir Rio tanpa jeda, membangkitkan gairah Rio lagi. Tapi sejurus
kemudian, Gadis menarik selimut dan berbaring dengan nyaman di samping Rio.
“Aku mau tidur. Bye.”
Tubuh Rio melemas lagi, hancur sudah semua
khayalan mesumnya. Ia sangat senang melihat Gadis sangat berani tadi tapi
dirinya harus kecewa melihat Gadis sudah tertidur lelap.
“Hais! Nasib-nasib.”
Rio membolak-balik tubuhnya yang tidak
merasa nyaman dengan tangan terikat ke belakang. Ia mencoba tengkurap, tapi
sesak nafas sendiri. Akhirnya Rio tertidur sendiri dengan posisi menyamping
sedikit tengkurap.
Entah berapa lama Rio sudah tertidur, ia
merasakan sesuatu yang basah mengenai lehernya. Mata Rio terbuka melihat Gadis
sedang menciumi lehernya.
“Gadis... kamu ngapain?”
“Bangunin kamu.”
“Jam berapa sekarang?”tanya Rio sambil
memegang pinggang ramping Gadis.
“Masih jam 3.”
Mata Rio terbuka sempurna saat ia merasakan
kedua tangannya sudah lepas dari ikatan. Ia mulai mengikuti permainan yang
dimulai Gadis lebih dulu.
“Sayang, boleh lagi, kan? Aku mau sampai
pagi.”
__ADS_1
“Ini udah hampir pagi, kamu bisa cepat gak?”tanya
Gadis sambil menggigit daun telinga Rio.
“Aku mau buat kamu gak bisa jalan.”
Detik demi detik berlalu, berganti menit
yang dengan cepat berganti jam. Keadaan kamar pengantin itu sangat berantakan
dengan AC yang disetel paling dingin, keduanya tambah nyenyak tidur saling
berpelukan.
Tok, tok, tok suara ketukan dipintu entah
sudah yang keberapa kalinya, membangunkan Rio pada akhirnya. Ia melihat ke
dalam pelukannya, tubuh Gadis masih menempel erat dengan tubuhnya setelah
penyatuan terakhir mereka sebelum tumbang.
Dengan hati-hati, Rio menggeser posisi
tidur Gadis, melepaskan penyatuan mereka dengan hati-hati. Bahkan saat terbangun
dan melihat tubuh Gadis membuat Rio bergairah lagi.
“Siapa sich ganggu aja pagi-pagi gini.”
Rio memakai bathrobe-nya dan membuka pintu.
Pelayan mengantarkan sarapan sekaligus dengan makan siang mereka berdua. “Silakan
dinikmati, tuan. Apa tuan akan pulang siang ini atau menginap lagi? Saya hanya
menanyakan agar bisa membersihkan kamar tuan dan menyiapkan makan malam.”
“Saya akan check out setelah istri saya
bangun.”
Pelayan itu mengangguk dan pergi setelah
Rio memberinya tips. Rio mendekati tempat tidur lagi dan melihat Gadis masih
tidur dengan lelap. Terlihat kantung mata di bawah mata Gadis agak menghitam
pertanda kurang tidur semalam.
Rio memilih mandi lebih dulu sambil
menyiapkan bathup untuk Gadis berendam air hangat. Ia baru ingat kalau kemarin belum sempat mandi
dan langsung melahap Gadis. Sambil bersenangdung, Rio menyalakan shower
membasahi tubuhnya yang lengket dengan keringat dan hal yang lainnya.
Ia tersenyum senang mengingat setiap
percintaan panas mereka yang mungkin tidak akan pernah ia lupakan seumur hidup.
Bathup hampir penuh saat Rio akhirnya selesai mandi. Ia mengambil handuk baru
di dalam lemari dan keluar dari kamar mandi tanpa memakai apapun.
“Yank, bangun. Gadisku, bangun.”panggil Rio
sambil mengeringkan rambutnya yang basah.
“Hmm...”lenguh Gadis sambil membuka
matanya. Ia melotot melihat Rio berdiri di depannya gak pake apa-apa. Pake
bergaya sok jadi model lagi.
“Idih!! Kenapa gak pake celana sich?!!”
“Kenapa? Kamu kan sudah melihat semuanya
detail. Malu apalagi?”
“Iya, tapi gak sedekat itu juga ngasi
liatnya.”
“Pengen lagi ya? Ayok, masih bisa 2 ronde
lagi.”
Buk! Bantal melayang mengenai wajah Rio.
Gadis hampir bangun dari tidurannya ketika merasakan pinggangnya kaku dan sekit
sekali.
“Aduduh... pinggangku.”
Gadis mencoba tengkurap sambil berdesis
memegangi pinggangnya.
*****
__ADS_1
Klik profil author ya, ada novel karya
author yang lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.