Duren Manis

Duren Manis
Zonk dong


__ADS_3

Zonk dong


Rio : “Trus ngapain kesini bawain makanan?”


Gadis : “Pak Alex yang nyuruh.”


Rio terdiam. Gadis benar-benar berubah jadi sangat


dingin padanya. Tapi anehnya saat mereka bicara tentang pekerjaan atau tugas


kampus, ia berubah menjadi Gadis yang biasanya. Gadis yang ceria, pintar,


antusias, dan selalu menatapnya.


Gadis selesai makan lebih dulu. Ia menghabiskan


minuman di gelas dan membuang bungkusan makanannya ke tempat sampah. Gadis


mencuci gelas dan tangannya di tempat cuci piring.


Gadis : “Aku balik ke kantor ya.”


Rio : “Hmm.”


Gadis : “Kamu uda baikan kan?”


Rio : “Udah. Kenapa? Kuatir?”


Gadis : “Nggak. Ntar aku ditanya Pak Alex, gak bisa


jawab. Bye.”


Gadis mengambil tasnya dan pergi tanpa menoleh


lagi. Rio menatap Kaori sebentar dan lanjut makan sampai habis.


*****


Beberapa waktu kemudian, Mia menatap kedua buah


hatinya yang sedang sibuk bermain dengan kembarannya. Rava seperti biasa selalu


tampak tenang bermain dengan mainannya sendiri. Sementara Reva mulai melirik


mainan milik kakaknya.


Rava terdiam saat Reva mulai mendekatinya,


memiringkan badannya sedemikian rupa dan menatap kakaknya, tepatnya mainan


kakaknya. Reva mengulurkan tangannya menyentuh mainan Rava. Rava masih diam tak


bergeming dengan mata melirik Reva.


Reva semakin memepet Rava, kedua tangannya sudah


memegang mainan Rava. Reva mencoba menarik mainan kakaknya, tapi Rava mempertahankannya.


Mia menahan tawanya melihat kedua putranya tarik-tarikan mainan.


Reva mulai tidak sabaran  dan hampir menangis, tapi Rava tetap mempertahankan


mainannya. Tangisan kencang Reva mulai terdengar, Mia mencoba mengalihkan


perhatian Reva pada mainannya sendiri yang sama dengan mainan kakaknya. Tapi


Reva tetap menangis.


Di luar dugaan, Rava menyerahkan mainannya pada


Reva dan menepuk-nepuk kepalanya sampai Reva berhenti menangis. Mia tertawa


melihat Rava gantian menatapnya dan mengulurkan tangannya. Mia mengangkat baby


Rava, mencium pipi gembul putranya itu.


Mia : “Rava memang pintar ya. Kakak yang baik.”


Reva yang melihat saudara kembarnya menghilang dari


sampingnya, sontak menatap keduanya. Bibirnya mulai cemberut dan akhirnya


menangis kembali. Mia meletakkan Rava kembali ke tempat semula, ia mengambil


baby Reva dan menenangkannya.


Mia melihat baby Rava sudah mendapatkan mainannya

__ADS_1


kembali dan sibuk sendiri. Sekali lagi Mia tertawa melihat tingkah kedua


bayinya. Rava sangat pintar mengalihkan perhatian Reva hingga ia bisa mendapatkan


mainannya kembali.


Mia : “Anak mama kok pinter-pinter banget sich. Sayang.”


Sedang asyik menciumi pipi baby Reva, Alex baru pulang


dari kantornya. Ia melihat Mia tertawa senang sambil menciumi putranya.


Alex : “Sayang, lagi seneng ya.”


Mia : “Mas udah pulang. Iya nich, anak kita pinter


banget dech.”


Mia menceritakan apa yang dilakukan baby Rava pada


Alex.


Alex : “Kakak Rava pinter ya. Anak pinternya papa.”


Rava yang mengira Alex mengajaknya bercanda,


tertawa senang. Ia terus tertawa karena melihat wajah bahagia Alex.


Alex : “Aku mandi dulu ya.”


Mia : “Iya, mas.”


Mb Roh keluar dari kamar Rara. Ia baru selesai


membantu Rara memandikan baby Reynold. Mb Roh meletakkan baby Reynold di


boksnya.


Mia : “Rara mana, mb?”


Mb Roh : “Masih mandi, mb.”


Alex segera bergabung dengan mereka, ia menemani


bayinya bermain.


Alex : “Baik-baik aja. Anak itu bekerja seperti


mesin. Dia membuat Romi pusing karena terus minta pekerjaan.”


Mia : “Dia masih magang?”


Alex : “Sudah selesai kan. Mereka hanya magang 1,5


bulan.”


Mia : “Mereka?”


Alex : “Rio dan Gadis. Tapi mereka lanjut kerja


karena perusahaan lagi kekurangan orang. Sekretaris Wanda masih cuti melahirkan


juga. Aku cukup beruntung dapat sekretaris baru seperti Gadis. Dia sama


cekatannya seperti Wanda.”


Mia : “Gimana hubungan mereka? Rio sama Gadis?”


Alex : “Mereka aneh. Bilangnya teman satu angkatan,


tapi kayak orang gak saling kenal.”


Mia : “Loh, kok bisa?”


Alex : “Aku rasa Gadis itu sebenarnya suka sama Rio.


Tapi gak tau deh.”


Mia : “Wah, perlu dicari tahu nich.”


Alex : “Biarin aja mereka. Ntar Rio marah lagi. Dia


masih suka sedih kalau ingat Kaori. Aku sering liat dia nglamun sambil ngliatin


wallpaper HP-nya.”


Mia kembali menatap ketiga bayi di depannya. Rio

__ADS_1


memang banyak sekali berubah. Sudah jarang pulang ke rumah, ia lebih memilih


tinggal di apartment saja. Terakhir kali Mia menelponnya, Rio baru pulang


kerja. Padahal itu sudah hampir jam 9 malam. Mia jarang bisa menengok Rio


karena ada bayi yang harus ia urus.


Arnold baru sampai rumah ketika makan malam hampir


siap. Ia menggoda baby Reynold yang sedang mencoba membalik tubuhnya. Rara


keluar dari dalam kamarnya. Aroma wangi menggoda Arnold untuk menoleh melihat


penampilan istrinya yang seksi dengan piyama tidur.


Arnold : “Wow... mau kemana, sayang?”


Rara : “Hmm? Nggak kemana. Mas, baru pulang?”


Arnold : “Iya.”


Arnold asyik menatap Rara yang terlihat segar


sehabis mandi. Kulit putih mulusnya tampak lembut dan bersinar. Rambut


panjangnya ia biarkan tergerai ke belakang, ditahan dengan jepitan rambut.


Alex menyikut Arnold yang hampir ngeces melihat


penampilan Rara.


Alex : “Mandi sana. Bentar lagi makan malam siap.”


Arnold : “Iya, pah. Ra, sini bentar.”


Rara : “Apa sich, mas? Mandi sana.”


Arnold : “Aku ada kejutan. Sini.”


Rara mengikuti Arnold masuk ke kamar mereka. Alex


menyikut Mia dan menunjuk kamar mereka, tapi Mia melotot galak padanya. Mb Roh


sudah siap-siap jagain 3 baby kalo hal itu sampai terjadi.


Mia : “Bakalan lama dech mereka di dalem sana.”


Perkiraan Mia salah besar. Rara keluar beberapa


menit kemudian, dengan senyuman lebar di bibirnya.


Mia : “Kok cepet?”


Rara : “Hihi... kasian mas Arnold mau ngasi kejutan,


malah dia yang terkejut.”


Mia : “Emang apa kejutannya?”


Rara : “Biasa, mah. Baru juga semangat pemanasan,


tau-tau pas di buka zonk. Hahaha....”


Mia : “Kamu lagi mens?”


Rara : “Iya. Baru tadi.”


Alex : “Kasian amat. Kamu juga nakal, uda tau lagi


mens, bukannya pake piyama tertutup, malah pake yang seksi gitu.”


Rara : “Kirain Rara gak bakalan gitu reaksinya mas


Arnold. Taunya kegoda juga.”


Arnold yang baru keluar dari kamar, sudah berganti


pakaian dan terlihat lesu. Ia duduk di samping Rara dan menoel-noel lengan


istrinya itu sambil pasang tampang imut.


*****


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).

__ADS_1


__ADS_2