Duren Manis

Duren Manis
Undangan nikah


__ADS_3

Berita kecelakaan


Katty sampai juga di telinga Kaori dan ia mengajak Rio untuk menjenguk kakaknya


di rumah sakit. Sebenarnya cukup rumit karena Rara menelpon Jodi untuk


menanyakan tentang pekerjaan dan Rara mendengar suara Jodi seperti habis


menangis. Saat itu Rara tahu kalau Katty kecelakaan dan ia mengirimkan chat


pada Rio agar memberi tahu Kaori tentang kondisi kakaknya itu.


Untung saja mereka


berdua sampai ketika orang tua Katty sudah pulang, sementara kakek dan nenek


masih ada disana karena mereka datang bersama Anisa. Anton juga sudah pulang


karena tidak kuat dikerjain Katty.


Saat Kaori masuk ke


kamar rawat inap Katty, kakek dan nenek saling pandang melihat sosok Rio. Pria


tampan itu tersenyum dengan ramah dan menunduk sebentar melihat kakek dan


nenek.


Kaori : “Kakek,


nenek! Kaori kangen.”


Kaori memeluk nenek


dan kakeknya, ia menarik Rio mendekat dan memperkenalkan Rio,


Kaori : “Kakek,


nenek, ini Rio.”


Nenek : “Oho, dia


tampan ya. Pacar Kaori?”


Wajah Kaori memerah


mendengar tebakan neneknya yang benar.


Rio : “Kakek,


Nenek, saya Rio. Pacar Kaori.”


Nenek : “Tampan dan


sopan. Lulus seleksi.”


Kakek : “Ehem...”


Nenek melirik kakek


yang memasang wajah datar,


Nenek : “Sepertinya


kakek cemburu nich. Cucu-cucu cantiknya sudah punya pujaan hati.”


Kaori : “Masa sich,


nek? Kan kakek ada nenek, Kaori udah jatuh cinta sama Rio.”


Rio : “Polos banget


ngakunya ya. Gak malu?”


Kaori : “Hehe...”


Katty : “Kalian ini


kesini mau jenguk aku apa ngobrol sama kakek nenek sich?”


Katty cemberut


lagi, sepertinya bayi dalam perutnya sangat suka mencari perhatian orang lain.


Kaori menoleh dan tersenyum manis pada kakaknya.


Kaori : “Kakak,


sakit gak?”


Katty : “Pusing,


ambilin jus jeruknya.”


Kaori mengambilkan


jus di samping tempat tidur Katty, tapi bukannya meminum jus yang disodorkan


padanya, Katty meminta Kaori meminum jus jeruk yang rasanya asem.


Kaori : “Kakak


ngerjain Kaori ya?”


Kaori berjengit


merasakan jus yang asem itu. Katty yang melihat Kaori berhenti minum dan


mengomel, langsung cemberut dan hampir menangis.


Katty : “Kaori


jahat. Hu..hu..hiks...”


Kaori kebingungan


melihat reaksi kakaknya yang ngambek seperti anak kecil. Jodi langsung


menenangkan Katty,


Jodi : “Lagi drama.


Maaf ya, tante Kaori.”


Kaori : “Tante?


Kenapa aku dipanggil tante, kak?”


Jodi : “Karena


bentar lagi kamu dapet ponakan dari kami.”


Kaori : “Kakak


hamil?!”


Katty : “Iya. Ada


baby disini.”


Katty sudah normal

__ADS_1


kembali, tersenyum sambil memegangi perutnya.


Kaori : “Selamat


ya, kak. Seneng dech. Trus kapan kakak nikah?”


Jodi : “Habis tante


Nisa nikah ya?”


Kaori : “Oh, tante


Nisa mau nikah sama siapa?”


Anisa : “Tante mau


nikah sama asistennya Jodi.”


Kaori : “Kok bisa


gitu ya?”


Rio yang sudah


duduk di samping nenek Kaori, cuma senyum-senyum melihat Kaori yang kepo. Ia


menoleh saat nenek Kaori menyentuh lengannya.


Nenek : “Rio suka


olahraga ya.”


Rio : “Iya, nek.


Biar kuat.”


Nenek : “Anak muda


lain ya. Badannya bagus.”


Kakek : “Ehem...”


Nenek tidak peduli


mendengar suara kakek, ia terus saja bertanya pada Rio tentang keluarganya,


kegiatannya. Bahkan mereka sudah kencan kemana saja. Sifat kepo Kaori menurun


dari neneknya.


*****


Malam semakin


larut, semua orang sudah pulang kecuali Jodi yang masih betah menatap Katty.


Merasa di tatap dengan intens, Katty balik menatap Jodi.


Katty : “Kenapa


sich, ngliatin aku sampe gitu?”


Jodi : “Kamu


cantik.”


Katty : “Masa? Aku


belum mandi, belum sikat gigi, belum ganti baju.”


Jodi : “Kamu wangi,


sayang.”


kenapa sich?”


Jodi : “Aku bahagia


banget!”


Katty : “Lebay.


Jauh-jauh sana, panas nich.”


Jodi : “Aku mau


bobok sini sama kamu.”


Katty : “Aku mau


mandi.”


Jodi : “Gak boleh


mandi sama dokternya. Kepalamu gak boleh basah.”


Katty : “Aku mandi


kan badanku yang basah, kenapa sampe kepalaku?”


Jodi : “Oh, iya ya.


Ayo...”


Katty : “Kemana?”


Jodi : “Katanya mau


mandi.”


Katty : “Gak jadi.


Dingin.”


Jodi mau kesel, gak


bisa, mau nangis juga gak bisa. Sebelum Jodi bicara lagi, Katty sudah tertidur


pulas. Jodi menggeser tubuh Katty dan ikut berbaring di sampingnya.


Jodi : “Makasih,


sayang. Makasih sudah mau mengandung bayiku. Aku sangat mencintaimu.”


Katty :


“Hmm...sttt...”


Katty melayangkan


tangannya ke mulut Jodi, Jodi tersenyum, menciumi tangan Katty dan memeluk


tubuh calon istrinya itu. Ia membayangkan mereka bertiga berlibur bersama


sampai dirinya tidak sadar sudah terlelap bersama Katty.


*****


Riri menatap


tumpukan undangan yang baru dikirim dari rumah Elo. Ia membuka satu dan

__ADS_1


membolak-balik undangan pernikahannya dengan Elo0. Bruk! Alex memberikan


beberapa lembar kertas pada Riri.


Alex : “Ri, tempel


nama-nama undangan ini ya.”


Riri : “Iya, pah.


Ini namanya siapa aja?”


Alex : “Ada nama


saudara kita, relasi papa juga, trus temen-temen sekolah Riri kan?”


Riri : “Banyak


ya...”


Alex : “Iya,


sayang. Kamu kan mau nikah, wajar papa mengundang orang sebanyak ini. Sama


seperti waktu papa nikah kan?”


Riri : “Oh gitu ya,


pah. Pah...”


Alex : “Hmm...”


Riri : “Papa gak


marah?”


Alex : “Kenapa


mesti marah?”


Riri : “Riri mau


nikah sebelum lulus kuliah?”


Alex : “Hmm...


marah gak ya?”


Riri sudah menunduk


tidak berani menatap papanya, Alex merangkul pundak Riri. Anak perempuannya itu


mendongak menatap papanya.


Alex : “Kamu sudah


dewasa sekarang ya. Sudah punya KTP. Papa cuma bisa berharap kamu selalu


bahagia.”


Riri : “Tapi,


pah...”


Alex : “Papa gak


mau jadi penghalang kamu bahagia, nak. Kalau kamu bahagia sama Elo, yang papa


bisa cuma merestui. Papa harap Elo bisa menjagamu seperti papa menjagamu.”


Riri : “Iya, pah.”


Alex : “Dan kamu


sebentar lagi mau pergi dari papa. Jauh banget lagi. Gak ada yang lebih deket?”


Riri : “Habisnya


kerjaan sama kuliah mas Elo kan disana, pah.”


Alex : “Kamu jaga


diri baik-baik disana. Jangan sembarangan ngomong sama orang baru. Apalagi


ngasi tahu kamu tinggal dimana, ya.”


Riri : “Kayaknya


Riri gak perlu khawatir sama hal-hal kayak gitu, pah. Kan ada Lili.”


Alex : “Siapa Lili?”


Riri : “Pengawal


pribadi Riri, pah.”


Alex kehilangan


kata-katanya, dirinya saja cuma punya asisten, lah anaknya sampai punya


pengawal pribadi. Alex jadi berpikir, memang Riri memerlukan seorang pengawal


karena menikahi seorang pewaris tunggal seperti Elo.


Riri : “Pah, ayo


ditempel lagi. Mau peluk sampai kapan?”


Alex : “Eh, iya.


Ayo cepat selesaikan.”


Ayah dan anak itu


kembali menempelkan nama-nama undangan mereka sampai tidak tersisa satupun


kertas tempel lagi. Keduanya saling pandang dan Alex merentangkan tangannya


memeluk Riri lagi.


Alex : “Papa


bakalan kangen banget sama Riri.”


Riri : “Riri juga


pah.”


Kedua menatap


tumpukan undangan lagi dan tersenyum bersama.


🌻🌻🌻🌻🌻


Alex sedih mau


ditinggal nikah sama Riri. Tinggal Rio nich yang belum sama si kembar Rava dan


Reva.


Klik profil author ya, ada novel karya author yang

__ADS_1


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).


__ADS_2