
Berita kecelakaan
Katty sampai juga di telinga Kaori dan ia mengajak Rio untuk menjenguk kakaknya
di rumah sakit. Sebenarnya cukup rumit karena Rara menelpon Jodi untuk
menanyakan tentang pekerjaan dan Rara mendengar suara Jodi seperti habis
menangis. Saat itu Rara tahu kalau Katty kecelakaan dan ia mengirimkan chat
pada Rio agar memberi tahu Kaori tentang kondisi kakaknya itu.
Untung saja mereka
berdua sampai ketika orang tua Katty sudah pulang, sementara kakek dan nenek
masih ada disana karena mereka datang bersama Anisa. Anton juga sudah pulang
karena tidak kuat dikerjain Katty.
Saat Kaori masuk ke
kamar rawat inap Katty, kakek dan nenek saling pandang melihat sosok Rio. Pria
tampan itu tersenyum dengan ramah dan menunduk sebentar melihat kakek dan
nenek.
Kaori : “Kakek,
nenek! Kaori kangen.”
Kaori memeluk nenek
dan kakeknya, ia menarik Rio mendekat dan memperkenalkan Rio,
Kaori : “Kakek,
nenek, ini Rio.”
Nenek : “Oho, dia
tampan ya. Pacar Kaori?”
Wajah Kaori memerah
mendengar tebakan neneknya yang benar.
Rio : “Kakek,
Nenek, saya Rio. Pacar Kaori.”
Nenek : “Tampan dan
sopan. Lulus seleksi.”
Kakek : “Ehem...”
Nenek melirik kakek
yang memasang wajah datar,
Nenek : “Sepertinya
kakek cemburu nich. Cucu-cucu cantiknya sudah punya pujaan hati.”
Kaori : “Masa sich,
nek? Kan kakek ada nenek, Kaori udah jatuh cinta sama Rio.”
Rio : “Polos banget
ngakunya ya. Gak malu?”
Kaori : “Hehe...”
Katty : “Kalian ini
kesini mau jenguk aku apa ngobrol sama kakek nenek sich?”
Katty cemberut
lagi, sepertinya bayi dalam perutnya sangat suka mencari perhatian orang lain.
Kaori menoleh dan tersenyum manis pada kakaknya.
Kaori : “Kakak,
sakit gak?”
Katty : “Pusing,
ambilin jus jeruknya.”
Kaori mengambilkan
jus di samping tempat tidur Katty, tapi bukannya meminum jus yang disodorkan
padanya, Katty meminta Kaori meminum jus jeruk yang rasanya asem.
Kaori : “Kakak
ngerjain Kaori ya?”
Kaori berjengit
merasakan jus yang asem itu. Katty yang melihat Kaori berhenti minum dan
mengomel, langsung cemberut dan hampir menangis.
Katty : “Kaori
jahat. Hu..hu..hiks...”
Kaori kebingungan
melihat reaksi kakaknya yang ngambek seperti anak kecil. Jodi langsung
menenangkan Katty,
Jodi : “Lagi drama.
Maaf ya, tante Kaori.”
Kaori : “Tante?
Kenapa aku dipanggil tante, kak?”
Jodi : “Karena
bentar lagi kamu dapet ponakan dari kami.”
Kaori : “Kakak
hamil?!”
Katty : “Iya. Ada
baby disini.”
Katty sudah normal
__ADS_1
kembali, tersenyum sambil memegangi perutnya.
Kaori : “Selamat
ya, kak. Seneng dech. Trus kapan kakak nikah?”
Jodi : “Habis tante
Nisa nikah ya?”
Kaori : “Oh, tante
Nisa mau nikah sama siapa?”
Anisa : “Tante mau
nikah sama asistennya Jodi.”
Kaori : “Kok bisa
gitu ya?”
Rio yang sudah
duduk di samping nenek Kaori, cuma senyum-senyum melihat Kaori yang kepo. Ia
menoleh saat nenek Kaori menyentuh lengannya.
Nenek : “Rio suka
olahraga ya.”
Rio : “Iya, nek.
Biar kuat.”
Nenek : “Anak muda
lain ya. Badannya bagus.”
Kakek : “Ehem...”
Nenek tidak peduli
mendengar suara kakek, ia terus saja bertanya pada Rio tentang keluarganya,
kegiatannya. Bahkan mereka sudah kencan kemana saja. Sifat kepo Kaori menurun
dari neneknya.
*****
Malam semakin
larut, semua orang sudah pulang kecuali Jodi yang masih betah menatap Katty.
Merasa di tatap dengan intens, Katty balik menatap Jodi.
Katty : “Kenapa
sich, ngliatin aku sampe gitu?”
Jodi : “Kamu
cantik.”
Katty : “Masa? Aku
belum mandi, belum sikat gigi, belum ganti baju.”
Jodi : “Kamu wangi,
sayang.”
kenapa sich?”
Jodi : “Aku bahagia
banget!”
Katty : “Lebay.
Jauh-jauh sana, panas nich.”
Jodi : “Aku mau
bobok sini sama kamu.”
Katty : “Aku mau
mandi.”
Jodi : “Gak boleh
mandi sama dokternya. Kepalamu gak boleh basah.”
Katty : “Aku mandi
kan badanku yang basah, kenapa sampe kepalaku?”
Jodi : “Oh, iya ya.
Ayo...”
Katty : “Kemana?”
Jodi : “Katanya mau
mandi.”
Katty : “Gak jadi.
Dingin.”
Jodi mau kesel, gak
bisa, mau nangis juga gak bisa. Sebelum Jodi bicara lagi, Katty sudah tertidur
pulas. Jodi menggeser tubuh Katty dan ikut berbaring di sampingnya.
Jodi : “Makasih,
sayang. Makasih sudah mau mengandung bayiku. Aku sangat mencintaimu.”
Katty :
“Hmm...sttt...”
Katty melayangkan
tangannya ke mulut Jodi, Jodi tersenyum, menciumi tangan Katty dan memeluk
tubuh calon istrinya itu. Ia membayangkan mereka bertiga berlibur bersama
sampai dirinya tidak sadar sudah terlelap bersama Katty.
*****
Riri menatap
tumpukan undangan yang baru dikirim dari rumah Elo. Ia membuka satu dan
__ADS_1
membolak-balik undangan pernikahannya dengan Elo0. Bruk! Alex memberikan
beberapa lembar kertas pada Riri.
Alex : “Ri, tempel
nama-nama undangan ini ya.”
Riri : “Iya, pah.
Ini namanya siapa aja?”
Alex : “Ada nama
saudara kita, relasi papa juga, trus temen-temen sekolah Riri kan?”
Riri : “Banyak
ya...”
Alex : “Iya,
sayang. Kamu kan mau nikah, wajar papa mengundang orang sebanyak ini. Sama
seperti waktu papa nikah kan?”
Riri : “Oh gitu ya,
pah. Pah...”
Alex : “Hmm...”
Riri : “Papa gak
marah?”
Alex : “Kenapa
mesti marah?”
Riri : “Riri mau
nikah sebelum lulus kuliah?”
Alex : “Hmm...
marah gak ya?”
Riri sudah menunduk
tidak berani menatap papanya, Alex merangkul pundak Riri. Anak perempuannya itu
mendongak menatap papanya.
Alex : “Kamu sudah
dewasa sekarang ya. Sudah punya KTP. Papa cuma bisa berharap kamu selalu
bahagia.”
Riri : “Tapi,
pah...”
Alex : “Papa gak
mau jadi penghalang kamu bahagia, nak. Kalau kamu bahagia sama Elo, yang papa
bisa cuma merestui. Papa harap Elo bisa menjagamu seperti papa menjagamu.”
Riri : “Iya, pah.”
Alex : “Dan kamu
sebentar lagi mau pergi dari papa. Jauh banget lagi. Gak ada yang lebih deket?”
Riri : “Habisnya
kerjaan sama kuliah mas Elo kan disana, pah.”
Alex : “Kamu jaga
diri baik-baik disana. Jangan sembarangan ngomong sama orang baru. Apalagi
ngasi tahu kamu tinggal dimana, ya.”
Riri : “Kayaknya
Riri gak perlu khawatir sama hal-hal kayak gitu, pah. Kan ada Lili.”
Alex : “Siapa Lili?”
Riri : “Pengawal
pribadi Riri, pah.”
Alex kehilangan
kata-katanya, dirinya saja cuma punya asisten, lah anaknya sampai punya
pengawal pribadi. Alex jadi berpikir, memang Riri memerlukan seorang pengawal
karena menikahi seorang pewaris tunggal seperti Elo.
Riri : “Pah, ayo
ditempel lagi. Mau peluk sampai kapan?”
Alex : “Eh, iya.
Ayo cepat selesaikan.”
Ayah dan anak itu
kembali menempelkan nama-nama undangan mereka sampai tidak tersisa satupun
kertas tempel lagi. Keduanya saling pandang dan Alex merentangkan tangannya
memeluk Riri lagi.
Alex : “Papa
bakalan kangen banget sama Riri.”
Riri : “Riri juga
pah.”
Kedua menatap
tumpukan undangan lagi dan tersenyum bersama.
🌻🌻🌻🌻🌻
Alex sedih mau
ditinggal nikah sama Riri. Tinggal Rio nich yang belum sama si kembar Rava dan
Reva.
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
__ADS_1
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).