Duren Manis

Duren Manis
Istri terhebat


__ADS_3

Alex membuka pintu ruang ICU, ia mengangguk pada suster dan memakai baju steril. Mia masih tidur saat Alex mengusap pipinya.


Mia : "Hmm... Mas..."


Alex : "Jangan banyak ngomong dulu. Gimana rasanya? Ada yang sakit?"


Mia : "Cuma pusing, mas. Anak kita mana?"


Alex : "Masih di inkubator. Habis visit dokter nanti baru tau kamu bisa ketemu si kembar atau gak."


Mia : "Aku pengen liat mereka, mas."


Alex : "Aku gak ada fotonya. Gak boleh ambil foto kata susternya."


Mia : "Yah... Mas sendiri aja?"


Alex : "Ya, kemarin mama uda kesini sampe malem. Bilangnya nanti mau dateng lagi. Si kembar juga dateng, nginep sini. Baru balik kampus tadi pagi. Abis kuliah nanti kesini lagi. Rara sama Jodi juga sempat datang semalem. Kamu tahu, Arnold sudah sadar."


Mia : "Oh ya, mas. Syukurlah."


Alex menggenggam tangan Mia. Ia menunduk mengecup kening istrinya itu.


Alex : "Makasi, sayang. Kamu sudah menjadi ibu untuk anak-anakku. Kamu memang istri terhebat."


Mia : "Makasi juga ya mas selalu jaga aku. Terima aku apa adanya. I love you, mas"


Alex : "I love you, Mia."


Alex mencium tangan Mia. Merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Saat itu dokter datang untuk visit.


Dokter : "Selamat pagi. Wah, ada bapaknya juga. Gimana kondisi ibunya?"


Mia : "Sedikit pusing, dokter."


Dokter : "Ya, masih ada efek kekurangan darah. Tekanan darahnya normal. Kira-kira bisa bangun ibunya?"


Mia mencoba bangun dibantu Alex. Ia memejamkan matanya karena merasa pusing.


Dokter : "Nah, bisa bangun kan. Berarti sudah bisa pindah ke kamar ya. Suster, tolong dibantu pindah ya. Biar ibunya bisa ketemu bayinya juga."


Mia : "Makasih, dokter. Mas, aku bisa ketemu si kembar."


Alex : "Iya, sayang."


Suster : "Pak, kamarnya sudah ada?"


Alex : "Sudah, suster. Kamar 346."


Suster : "Baik, pak. Sebentar saya urus pindah kamarnya."


Alex : "Makasi, suster."


Mia kembali berbaring, kali ini agak bersandar. Ia mengeluh nyeri di bekas jahitannya.


Mia : "Aku dijahit berapa banyak ya?"


Alex : "Gak tau, sayang. Mungkin diobras."


Mia : "Waduh, masih ada lubangnya gak ya?"


Alex : "Mau aku cek?"


Plak! Mia memukul lengan Alex, ia tersenyum malu pada suster yang menoleh menatap mereka.


Mia : "Mas lupa kita dimana?"


Alex : "Ach, iya. Ntar aja di kamar ya."


Plak! Lagi-lagi Mia memukul lengan Alex yang tidak berhenti menggodanya. Tubuhnya sudah lebih baik dan ia tidak sabar ingin bertemu anak kembarnya.

__ADS_1


🌸🌸🌸🌸🌸


Katty membuka matanya perlahan. Ia mengambil ponselnya yang berdering diatas nakas dan melihat Pak Brian menelponnya.


Katty : "Halo, pak."


Pak Brian : "Katty, bisa kau datang hari ini ke kantor? Ada produk baru yang harus kau pasarkan."


Katty : "Bis... Aooww.."


Katty meringis menahan sakit pada tubuh bagian bawahnya.


Pak Brian : "Ada apa, Katty?"


Katty : "Bisa besok saja, pak? Akan langsung saya kerjakan pemasarannya ditempat. Saya kurang enak badan."


Pak Brian : "Ach, kamu sakit?"


Katty : "Saya hanya perlu istirahat sehari, pak."


Pak Brian : "Ok, sampai jumpa besok."


Katty : "Baik, pak. Terima kasih."


Katty meletakkan kembali ponselnya diatas nakas. Ia menunduk melihat tubuhnya terlihat dari selimut yang tersingkap. Katty menarik selimut menutup tubuhnya.


Saat ia berbalik menghadap ke arah Jodi, ia melihat Jodi sudah bangun, tersenyum lebar menatapnya.


Jodi : "Apa masih sakit?"


Katty : "Sedikit..."


Wajah Katty merona ditatap Jodi, ia ingat bagaimana Jodi menyentuhnya tadi. Jodi menunduk mencium bibir Katty.


Tangannya mulai gerayangan menyentuh tubuh Katty.


Katty : "Kamu mau lagi?"


Katty : "Ka... Kalau gitu belikan pengaman ya."


Jodi : "Buat apa?"


Katty : "Aku gak mau hamil."


Jodi : "Lantas yang tadi itu? Kau yakin gak akan jadi?"


Katty : "Aku gak tau, pokoknya harus pakai pengaman."


Jodi : "Padahal aku mau kau hamil secepatnya." Gumam Jodi sambil lalu.


Katty : "Apa? Kamu bilang apa?"


Jodi : "Tidak. Aku mau mandi. Mau ikut?"


Katty : "Aku nanti saja."


Jodi berjalan masuk ke kamar mandi, melihat tubuh Jodi membuat Katty kepanasan. Ia sibuk mengipasi tubuhnya.


Perlahan Katty mulai bangun dari atas ranjangnya. Ia memakai lagi baju tidur yang tadi dilemparkan Jodi ke bawah ranjang.


Saat ia menyingkap selimutnya, matanya terbelalak melihat bekas perbuatan mereka tadi mengotori seprai. Katty mengambil seprai bersih dari dalam lemari.


Ia meringis setiap berjalan menahan nyeri di bagian bawah tubuhnya. Jodi sudah selesai mandi saat Katty berusaha menarik seprai kotor dari ranjang.


Jodi melihat noda bekas perbuatan mereka, ia tersenyum lebar. Kini tubuh Katty sudah jadi miliknya sepenuhnya. Ia hanya tinggal mendapatkan hatinya saja.


Jodi sengaja berdiri di belakang Katty yang kesulitan menarik sprei diujung ranjang. Dengan nakalnya Jodi memeluk Katty dari belakang dan menekan dadanya.


Katty : "Hii... Jodi! Bikin kaget aja."

__ADS_1


Jodi : "Kamu ngapain?"


Wajah Katty merona mendengar pertanyaan Jodi.


Katty : "...Aku ganti sprei. Sudah kotor."


Jodi : "Kamu gak mandi?"


Katty : "Ntar aja."


Jodi : "Kenapa mukamu merah? Kamu malu?"


Katty : "Kamu cerewet banget sich. Uda tau nanya lagi."


Jodi : "Aku gak tau makanya nanya. Kita nikah yuk."


Katty : "Haduh, itu lagi yang dibahas."


Jodi : "Kamu mau kita gini terus?"


Katty : "Gak sich. Tapi kalau keluargamu minta kamu nikah sama perempuan yang sederajat sama kamu, gimana?"


Jodi : "Keluargaku belum melakukan itu. Lagian apa urusannya sama mereka."


Katty : "Keluarga lebih penting kan?"


Jodi : "Jangan bahas keluarga sama aku kalau kamu sendiri tinggal misah dari orang tuamu!"


Jodi kesal karena Katty tidak setuju menikah dengannya. Ia memakai pakaiannya dengan cepat dan berjalan keluar kamar.


Jodi berhenti di dekat meja makan, ia melihat sarapan yang sudah dingin teronggok diatas meja. Katty selalu menyiapkan makanan untuknya meskipun dia lelah.


Katty sudah siap menjadi seorang istri tapi kenapa ia gak mau menikah dengan Jodi. Ia berpikir sejenak, menarik nafas panjang dan menghembuskannya. Jodi duduk di meja makan dan mulai memakan sarapannya yang sudah dingin.


Katty : "Tunggu! Aku hangatkan dulu makanannya."


Jodi menoleh menatap Katty yang mengejarnya, masih memakai baju tidur dan terlihat menahan sakit. Ketika Katty ingin mengambil piring berisi roti bakar diatas meja, tangan Jodi menahannya.


Jodi : "Gak usah. Duduklah."


Katty menarik kursi di sebelah Jodi yang dengan cepat menarik tubuhnya duduk dipangkuan Jodi.


Katty : "Kamu marah?"


Jodi : "Gak."


Katty : "Jangan marah dong."


Jodi : "Emang kenapa?"


Katty : "Ntar bulananku gak ditransfer..."


Katty memainkan telunjuknya di dada Jodi, menggoda pria yang diam-diam ia cintai itu. Jodi kehilangan akal sehatnya, ia dengan cepat membopong Katty ke dalam kamar.


Jodi : "Persetan sama meeting!"


Ia kembali minta jatah pada Katty, membiarkan ponselnya berdering terus. Itu telpon masuk dari asistennya yang kebingungan mencari bosnya yang belum masuk kantor.


γ€€


🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain β€˜Menantu untuk Ibu’, β€˜Perempuan IDOL’, β€˜Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya para reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya..


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.

__ADS_1


🌲🌲🌲🌲🌲


__ADS_2