Duren Manis

Duren Manis
DM2 – Bicara sambil...


__ADS_3

DM2 – Bicara sambil...


Hattciuu!! Alex dan Rio bersin bersamaan,


mereka saling menatap sebelum menggosok bawah hidung mereka. Keduanya baru saja


pulang, dan bersamaan masuk ke dalam rumah.


“Kamu flu?”tanya Alex.


“Nggak, papa flu?”tanya Rio balik.


“Nggak juga. Kayaknya ada yang ngomongin


jelek nich.”


Keduanya bersilang jalan menuju kamar


masing-masing. Rio hampir masuk ke kamarnya, tapi Mia dan Rara sudah


menangkapnya lebih dulu.


“Kak! Mama! Kenapa Rio di bawa kesini?”


“Kamu ngapain Gadis, heh! Dasar suami gak


punya perasaan!”bentak Rara mencubiti lengan Rio.


“Aoowwww!! Ampun, kak. Sakit!”teriak Rio.


“Sakit, sakit. Gadis tuch lebih sakit. Kamu


kalo marah, gak gitu caranya. Itu namanya kamu nyiksa Gadis, mamah gemes!!”cubitan


Mia bahkan lebih sakit lagi.


Rio sampai terbungkuk-bungkuk dikeroyok


kedua wanita itu. “Ampun, mah! Gadis gak pa-pa. Malah keenakan gitu.”


Kata-kata Rio malah membuatnya menerima


cubitan dan pukulan yang lebih banyak lagi. Rio memberontak, ia berhasil keluar


dari kamar, lalu masuk ke kamarnya sendiri. Gadis dan Rey menoleh melihat Rio masuk


dalam keadaan berantakan. Ia meringis memegang pipinya yang bengkak ditampar


Rara.


“Rio? Kamu kenapa?”


“Gadis, aku dikeroyok.”rengek Rio sambil


naik ke tempat tidur, bersembunyi di belakang tubuh Gadis.


“Siapa yang ngeroyok?”


Pelakunya masuk juga ke dalam kamar, belum


puas mencubit Rio. “Rio, sini gak? Jangan sampe mama kesana!”Mia berkacak


pinggang di depan pintu.


“Oma kenapa galak banget?!”pekik Rey dengan


mata berkaca-kaca.


Kemarahan Mia langsung reda melihat wajah imut


Rey, “Oh, cucu oma ganteng banget sich. Sini sayang, oma cuma lagi pengen cubit


papa Rio. Papa Rio nakal.”


“Kalau Rey nakal, Rey dicubit juga?”


“Nggak sayang, haduh gemes. Rey mau makan


apa? Oma masakin.”


Rara bengong melihat mamanya malah sibuk


mengurus Rey daripada menyelesaikan masalah dengan Rio. Ia berbalik cepat


menatap tajam Rio yang masih meringkuk di belakang tubuh Gadis. “Ampun, kak. Sudah


cukup. Badanku sakit semua nich.”


“Aku masih mengawasimu. Ulangi lagi buat


Gadis kayak gitu, liat aja aku sunat burung perkututmu!!”teriak Rara seperti gozilla


ngamuk.


“Jangan, kak!!!”jerit Gadis histeris. “Gadis


gak pa-pa, kak. Itu, semalem.. enak...”bisik Gadis malu-malu.


Rara melongo melihat reaksi Gadis, ia


menepuk jidatnya, menutup pintu dengan keras, lalu menuruni tangga kembali ke


lantai bawah.


“Beneran enak?”tanya Rio tanpa dosa. “Gadis,

__ADS_1


kenapa gak jawab? Semalem itu beneran enak?”


Gadis mengangguk, “Tapi sakit.”


“Makanya buat aku marah lagi, ayo.”tantang


Rio.


“Rio! Kamu gak capek apa? Rio! Kamu mau


ngapain?”Gadis panik melihat Rio masuk ke bawah selimutnya.


“Ngecek.”


“Apa... Aaah...”Gadis gak tau apa yang


dilakukan Rio dibawah sana, tapi kenikmatan langsung menjalar di seluruh


tubuhnya.


Gadis lupa apa yang ingin ia katakan pada


Rio saat kembali dari kerja. Padahal ia sudah menyiapkan kata-katanya dengan


baik. Rio melakukannya sekali lagi, membuat Gadis lupa diri untuk sesaat. Mata


mereka bertatapan, Gadis melihat kesedihan di mata Rio. Setiap bekas


perbuatannya semalam, diciuminya dengan sayang.


“Apa ini perbuatanku?”


“Memang siapa lagi, suamiku? Aku sampai


demam tadi siang gara-gara kamu.”


“Tapi kamu bilang enak.”kata-kata Rio


membuat wajah Gadis makin merona. Mereka bahkan belum selesai melakukannya,


tapi Rio malah mengajak Gadis ngobrol.


“Kau tahu, pagi ini aku telat berangkat ke


kantor. Om Ilham ngasi kerjaan segunung trus aku ditinggal pergi. Untung ada


Kinanti yang bantu aku.”Rio mengerang.


“Siapa Kinanti?”tanya Gadis heran.


“Sekretaris baru. Kak Arnold kan mau balik


kerja lagi. Dia minta carikan sekretaris yang bagus. Buat bantu kak Rara juga.”


“Cantik?”


Gadis menghentikan gerakannya saat


mendengar nama Kaori. “Sayang, aku hanya cerita seperti biasa. Jangan berhenti


goyang.”pinta Rio sambil mencium Gadis lagi.


Gadis mencubit pinggang Rio, membuat


tubuhnya tersentak. “Aaah...”lenguh Gadis lagi.


“Aku bilang jangan berhenti... lagi,


sayang. Gadis...”bisik Rio membuat dada Gadis ser-seran.


“Emang semirip itu?”tanya Gadis lagi kembali


asyik dengan gerakannya.


“Dia sepupu Kaori ternyata. Tapi aku gak


pernah kenal. Kaori gak pernah cerita dulu.”


“Apa kau suka dia?”


“Pertanyaan macam apa itu? Kaori sudah jadi


masa laluku.”ucap Rio semakin menghentakkan tubuhnya pada Gadis yang kembali


melenguh. “Ayo, bikin aku marah lagi. Aku masih kuat melakukannya yang seperti


semalam. Biarin dah mau dipukulin mama.”


“Nggak, sayang. Kalo gitu lagi, ntar aku


gak bisa jalan. Sakit.”


“Sekarang sakit gak?”


“Rio... Aaah...!!”


Rio membuat Gadis tidak berhenti melenguh,


sampai ia menuntaskan semua hasrat membaranya pada Gadis. Keduanya berbaring


berdampingan dengan nafas tidak beraturan. Rio memeluk tubuh Gadis, membenamkan


wajahnya di ceruk leher wanita itu.


“Aku sangat mencintaimu, Gadis. Jangan

__ADS_1


tinggalkan aku, meski cuma dipikiranmu saja. Jangan berpikir untuk meninggalkan


aku atau aku akan mati.”


“Kamu ngomong apa?”Gadis menutup mulut Rio.


”Kalau aku gak pergi, bagaimana kamu akan


dapat anak, Rio? Apa kamu gak tau rasanya menua tanpa anak? Aku belum pernah


tau rasanya, tapi membayangkannya saja aku mulai ketakutan. Siapa yang akan


menjaga kita kalau sudah tua nanti?”


“Jangan memikirkan anak lagi. Kau akan


stress, nikmati hidup bersamaku, Gadis.”


”Apa dia cenayang? Kenapa Rio bisa tahu


apa yang aku pikirkan?”


“Aku bukan cenayang, tapi semua yang kau


pikirkan terlihat jelas di kepalamu.”


Gadis memegang kepalanya, “Apa kau bisa


baca pikiranku?”


“Kita sudah hidup bersama selama 7 tahun. Hanya


kita berdua di kamar ini selama itu. Kita mengobrol tentang banyak hal. Hati ini,


hatimu sudah jadi satu.”


“Nunjuk hati gak perlu pake ngremes segala,


kan.”


“Aku mau lagi...”


“Nggakk!!!”


“Nolak suami dosa loh.”


“Rio, aku lapar. Uda jam 8 tuch. Kamu juga


belum mandi.”


“Mandi bareng yuk.”


Gadis hanya bisa mengangguk pasrah, mereka


mandi bersama. Cuma mandi ya, guys. Tolong jangan terlalu halu apalagi minta


detail apa yang mereka lakukan diatas. Author uda mandi keringat nulis ini,


guys.


Gadis tidak ikut turun ke lantai bawah. Ia sangat


malu kalau sampai bekas merah di lehernya dilihat Arnold apalagi Alex. Rio


mengambilkan makan malam untuk Gadis sambil takut-takut dicubit Mia dan Rara


lagi.


‘Yank, kenapa kamu ngliat Rio jutek gitu?”


tanya Arnold sambil memotong daging untuk Rey.


“Aku belum selesai nghukum dia. Pengen


nyunat burung perkututnya.”Rara mengiris daging di piringnya dengan sadis. Rio


ngilu melihatnya.


“Mana burung perkutut?!!”teriak si kembar


kompak. “Mana, kak Rio?” si kembar mulai heboh menarik-narik Rio.


“Anak-anak, gak ada burung perkutut ya. Balik


makan lagi.”tegur Alex. Ia geleng-geleng kepala ketika mendengar cerita Mia


tadi tentang perbuatan Rio pada Gadis.


“Rio, papa juga sama, tapi gak sampe


segitunya dech.”


“Oh, ya? Lupa? Hmm??”tanya Mia memicingkan


matanya pada Alex.


“Oh, eh... sayang, makan lagi dagingnya.”kata


Alex salah tingkah menyuapi Mia potongan daging agar istrinya itu mau diam.


*****


Kalo libur, aku bisa up pagi, siang, malem (diusahain) tapi kalo kerja, maaf ya up-nya mungkin cuma malem aja. Itupun kalo baby mau diajak kerja sama.


Happy reading kakak

__ADS_1


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.


__ADS_2