
DM2 – Bicara sambil...
Hattciuu!! Alex dan Rio bersin bersamaan,
mereka saling menatap sebelum menggosok bawah hidung mereka. Keduanya baru saja
pulang, dan bersamaan masuk ke dalam rumah.
“Kamu flu?”tanya Alex.
“Nggak, papa flu?”tanya Rio balik.
“Nggak juga. Kayaknya ada yang ngomongin
jelek nich.”
Keduanya bersilang jalan menuju kamar
masing-masing. Rio hampir masuk ke kamarnya, tapi Mia dan Rara sudah
menangkapnya lebih dulu.
“Kak! Mama! Kenapa Rio di bawa kesini?”
“Kamu ngapain Gadis, heh! Dasar suami gak
punya perasaan!”bentak Rara mencubiti lengan Rio.
“Aoowwww!! Ampun, kak. Sakit!”teriak Rio.
“Sakit, sakit. Gadis tuch lebih sakit. Kamu
kalo marah, gak gitu caranya. Itu namanya kamu nyiksa Gadis, mamah gemes!!”cubitan
Mia bahkan lebih sakit lagi.
Rio sampai terbungkuk-bungkuk dikeroyok
kedua wanita itu. “Ampun, mah! Gadis gak pa-pa. Malah keenakan gitu.”
Kata-kata Rio malah membuatnya menerima
cubitan dan pukulan yang lebih banyak lagi. Rio memberontak, ia berhasil keluar
dari kamar, lalu masuk ke kamarnya sendiri. Gadis dan Rey menoleh melihat Rio masuk
dalam keadaan berantakan. Ia meringis memegang pipinya yang bengkak ditampar
Rara.
“Rio? Kamu kenapa?”
“Gadis, aku dikeroyok.”rengek Rio sambil
naik ke tempat tidur, bersembunyi di belakang tubuh Gadis.
“Siapa yang ngeroyok?”
Pelakunya masuk juga ke dalam kamar, belum
puas mencubit Rio. “Rio, sini gak? Jangan sampe mama kesana!”Mia berkacak
pinggang di depan pintu.
“Oma kenapa galak banget?!”pekik Rey dengan
mata berkaca-kaca.
Kemarahan Mia langsung reda melihat wajah imut
Rey, “Oh, cucu oma ganteng banget sich. Sini sayang, oma cuma lagi pengen cubit
papa Rio. Papa Rio nakal.”
“Kalau Rey nakal, Rey dicubit juga?”
“Nggak sayang, haduh gemes. Rey mau makan
apa? Oma masakin.”
Rara bengong melihat mamanya malah sibuk
mengurus Rey daripada menyelesaikan masalah dengan Rio. Ia berbalik cepat
menatap tajam Rio yang masih meringkuk di belakang tubuh Gadis. “Ampun, kak. Sudah
cukup. Badanku sakit semua nich.”
“Aku masih mengawasimu. Ulangi lagi buat
Gadis kayak gitu, liat aja aku sunat burung perkututmu!!”teriak Rara seperti gozilla
ngamuk.
“Jangan, kak!!!”jerit Gadis histeris. “Gadis
gak pa-pa, kak. Itu, semalem.. enak...”bisik Gadis malu-malu.
Rara melongo melihat reaksi Gadis, ia
menepuk jidatnya, menutup pintu dengan keras, lalu menuruni tangga kembali ke
lantai bawah.
“Beneran enak?”tanya Rio tanpa dosa. “Gadis,
__ADS_1
kenapa gak jawab? Semalem itu beneran enak?”
Gadis mengangguk, “Tapi sakit.”
“Makanya buat aku marah lagi, ayo.”tantang
Rio.
“Rio! Kamu gak capek apa? Rio! Kamu mau
ngapain?”Gadis panik melihat Rio masuk ke bawah selimutnya.
“Ngecek.”
“Apa... Aaah...”Gadis gak tau apa yang
dilakukan Rio dibawah sana, tapi kenikmatan langsung menjalar di seluruh
tubuhnya.
Gadis lupa apa yang ingin ia katakan pada
Rio saat kembali dari kerja. Padahal ia sudah menyiapkan kata-katanya dengan
baik. Rio melakukannya sekali lagi, membuat Gadis lupa diri untuk sesaat. Mata
mereka bertatapan, Gadis melihat kesedihan di mata Rio. Setiap bekas
perbuatannya semalam, diciuminya dengan sayang.
“Apa ini perbuatanku?”
“Memang siapa lagi, suamiku? Aku sampai
demam tadi siang gara-gara kamu.”
“Tapi kamu bilang enak.”kata-kata Rio
membuat wajah Gadis makin merona. Mereka bahkan belum selesai melakukannya,
tapi Rio malah mengajak Gadis ngobrol.
“Kau tahu, pagi ini aku telat berangkat ke
kantor. Om Ilham ngasi kerjaan segunung trus aku ditinggal pergi. Untung ada
Kinanti yang bantu aku.”Rio mengerang.
“Siapa Kinanti?”tanya Gadis heran.
“Sekretaris baru. Kak Arnold kan mau balik
kerja lagi. Dia minta carikan sekretaris yang bagus. Buat bantu kak Rara juga.”
“Cantik?”
Gadis menghentikan gerakannya saat
mendengar nama Kaori. “Sayang, aku hanya cerita seperti biasa. Jangan berhenti
goyang.”pinta Rio sambil mencium Gadis lagi.
Gadis mencubit pinggang Rio, membuat
tubuhnya tersentak. “Aaah...”lenguh Gadis lagi.
“Aku bilang jangan berhenti... lagi,
sayang. Gadis...”bisik Rio membuat dada Gadis ser-seran.
“Emang semirip itu?”tanya Gadis lagi kembali
asyik dengan gerakannya.
“Dia sepupu Kaori ternyata. Tapi aku gak
pernah kenal. Kaori gak pernah cerita dulu.”
“Apa kau suka dia?”
“Pertanyaan macam apa itu? Kaori sudah jadi
masa laluku.”ucap Rio semakin menghentakkan tubuhnya pada Gadis yang kembali
melenguh. “Ayo, bikin aku marah lagi. Aku masih kuat melakukannya yang seperti
semalam. Biarin dah mau dipukulin mama.”
“Nggak, sayang. Kalo gitu lagi, ntar aku
gak bisa jalan. Sakit.”
“Sekarang sakit gak?”
“Rio... Aaah...!!”
Rio membuat Gadis tidak berhenti melenguh,
sampai ia menuntaskan semua hasrat membaranya pada Gadis. Keduanya berbaring
berdampingan dengan nafas tidak beraturan. Rio memeluk tubuh Gadis, membenamkan
wajahnya di ceruk leher wanita itu.
“Aku sangat mencintaimu, Gadis. Jangan
__ADS_1
tinggalkan aku, meski cuma dipikiranmu saja. Jangan berpikir untuk meninggalkan
aku atau aku akan mati.”
“Kamu ngomong apa?”Gadis menutup mulut Rio.
”Kalau aku gak pergi, bagaimana kamu akan
dapat anak, Rio? Apa kamu gak tau rasanya menua tanpa anak? Aku belum pernah
tau rasanya, tapi membayangkannya saja aku mulai ketakutan. Siapa yang akan
menjaga kita kalau sudah tua nanti?”
“Jangan memikirkan anak lagi. Kau akan
stress, nikmati hidup bersamaku, Gadis.”
”Apa dia cenayang? Kenapa Rio bisa tahu
apa yang aku pikirkan?”
“Aku bukan cenayang, tapi semua yang kau
pikirkan terlihat jelas di kepalamu.”
Gadis memegang kepalanya, “Apa kau bisa
baca pikiranku?”
“Kita sudah hidup bersama selama 7 tahun. Hanya
kita berdua di kamar ini selama itu. Kita mengobrol tentang banyak hal. Hati ini,
hatimu sudah jadi satu.”
“Nunjuk hati gak perlu pake ngremes segala,
kan.”
“Aku mau lagi...”
“Nggakk!!!”
“Nolak suami dosa loh.”
“Rio, aku lapar. Uda jam 8 tuch. Kamu juga
belum mandi.”
“Mandi bareng yuk.”
Gadis hanya bisa mengangguk pasrah, mereka
mandi bersama. Cuma mandi ya, guys. Tolong jangan terlalu halu apalagi minta
detail apa yang mereka lakukan diatas. Author uda mandi keringat nulis ini,
guys.
Gadis tidak ikut turun ke lantai bawah. Ia sangat
malu kalau sampai bekas merah di lehernya dilihat Arnold apalagi Alex. Rio
mengambilkan makan malam untuk Gadis sambil takut-takut dicubit Mia dan Rara
lagi.
‘Yank, kenapa kamu ngliat Rio jutek gitu?”
tanya Arnold sambil memotong daging untuk Rey.
“Aku belum selesai nghukum dia. Pengen
nyunat burung perkututnya.”Rara mengiris daging di piringnya dengan sadis. Rio
ngilu melihatnya.
“Mana burung perkutut?!!”teriak si kembar
kompak. “Mana, kak Rio?” si kembar mulai heboh menarik-narik Rio.
“Anak-anak, gak ada burung perkutut ya. Balik
makan lagi.”tegur Alex. Ia geleng-geleng kepala ketika mendengar cerita Mia
tadi tentang perbuatan Rio pada Gadis.
“Rio, papa juga sama, tapi gak sampe
segitunya dech.”
“Oh, ya? Lupa? Hmm??”tanya Mia memicingkan
matanya pada Alex.
“Oh, eh... sayang, makan lagi dagingnya.”kata
Alex salah tingkah menyuapi Mia potongan daging agar istrinya itu mau diam.
*****
Kalo libur, aku bisa up pagi, siang, malem (diusahain) tapi kalo kerja, maaf ya up-nya mungkin cuma malem aja. Itupun kalo baby mau diajak kerja sama.
Happy reading kakak
__ADS_1
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.