Duren Manis

Duren Manis
Gak ada alasan


__ADS_3

Gak ada alasan


Gadis : “Kalau kalian mau, kita langsung ke rumahku


untuk mematangkan presentasi kita sekarang. Aku cukup sibuk dengan tugas


lainnya setelah ini.”


Rio dan Luki mengangguk. Mereka bertiga berjalan


menuju parkiran dengan Luki tetap sebagai penyambung lidah Rio dan Gadis. Tiba


di parkiran, Rio melihat mobil Gadis sudah tidak kempes lagi bannya. Gadis


masuk ke mobilnya, sementara Rio satu mobil dengan Luki.


Mereka sampai di rumah Gadis setelah 30 menit


berkendara. Gadis mengajak mereka masuk dan duduk di ruang belajarnya. Suasana


di ruangan itu sangat nyaman dengan pemandangan kolam renang dan semilir angin


yang masuk.


Rio memperhatikan deretan piala yang terpajang


disana.


Luki : “Wah, pialamu banyak sekali, Dis.”


Gadis : “Itu punya kakakku.”


Jelas Gadis berbohong karena Rio melihat nama Gadis


menempel di beberapa piala itu. Gadis terlihat enggan membahas mengenai


pialanya.


Gadis : “Kalian mau minum apa? Panas atau dingin?


Sirup dingin?”


Luki : “Ya, sirup dingin aja.”


Gadis bahkan tidak menunggu jawaban Rio, ia


memanggil pelayan di rumahnya. Seorang wanita paruh baya segera menghampirinya.


Gadis : “Bibik tolong buatin sirup dingin. Bibik


sudah makan?”


Bibik : “Sudah, non. Mau cemilan sekalian?”


Gadis : “Iya, boleh bik.”


Rio memperhatikan Gadis sangat ramah pada


pembantunya tapi saat mereka bertatapan lagi, Gadis justru buang muka padanya. Mereka


segera membahas konsep presentasi sambil menyusunnya. Karena kepintaran Rio dan


Gadis, dalam sekejap, konsep mereka selesai dan perkiraan budget juga sudah


selesai.


Gadis meminta pelayannya duduk bersama mereka dan


mulai bertanya berapa kira-kira harga bahan makanan untuk membuat beberapa


jenis makanan yang mereka lihat di tofood. Pelayan menjawab semua pertanyaan


Gadis, sementara Rio menambahkan beberapa point lagi pada presentasi mereka.


Luki sesekali membantu tapi lebih banyak


menghabiskan cemilan di rumah Gadis. Mereka terus sibuk mengerjakan tugas


sampai sore tiba. Gadis melambaikan tangan pada Luki dan Rio ketika mereka


berpamitan pulang.


Gadis bersandar di pintu depan rumahnya, ia melihat


langit berwarna oranye tanda matahari hampir tenggelam.


Gadis : “Kaori, maaf. Aku akan berusaha sangat

__ADS_1


keras untuk melupakan perasaanku. Tolong bantu aku menjauh dari Rio.”


Sementara itu dalam perjalanan kembali ke kampus,


Luki terus-terusan memanas-manasi Rio,


Luki : “Gadis baik banget ya. Ramah banget sama


pelayan rumahnya, kita juga dikasi makanan banyak.”


Rio : “Perasaan lo aja dech yang ngabisin


makanannya.”


Luki : “Ehe.. habisnya gue lapar. Gimana menurut lo?”


Rio : “Apanya?”


Luki : “Gadis.”


Rio : “Gue gak mau bahas.”


Luki geleng-geleng kepala, ia hanya ingin menghibur


Rio tapi malah hampir membuat mereka bertengkar.


*****


Beberapa hari kemudian, Gadis sedang sibuk membaca


sesuatu di laptopnya. Mereka baru selesai kuliah dan Gadis belum beranjak dari


kelasnya.


Luki : “Serius amat sich. Lagi baca apa?”


Gadis : “Eh, kamu. Ini, aku lagi baca peraturan


perusahaan tempat aku magang nanti.


Luki : “Kamu magang dimana emangnya?”


Gadis memperlihatkan logo dan nama perusahaan Alex.


Luki nyeletuk kalau Rio juga magang disana.


Luki : “Iya. Barusan dia ngasi liat ginian juga. Masa


kamu gak liat tadi?”


Gadis : “Aku harus pindah tempat magang.”


Gadis mengemasi barang-barangnya, ia harus ke tata


usaha untuk meminta surat pembatalan magang di tempat Alex dan bersiap mencari


tempat magang lain.


Luki : “Kenapa?”


Gadis : “Aku gak mau magang di tempat yang sama,


sama Rio.”


Rio : “Kenapa?”


Gadis menghentikan gerakannya mendengar suara Rio,


ia melirik sebal pada Luki yang cengar-cengir karena Luki sengaja melakukan


itu.


Gadis : “Gak ada alasannya.”


Rio : “Kalau gitu magang saja disana. Kenapa harus


pindah kalau gak ada alasannya?”


Gadis lanjut mengemasi barang-barangnya. Ia


berjalan melewati Rio tapi tangan Rio menahan lengannya. Gadis menepis tangan


Rio, ia menatap tajam mata Rio. Rio melihat ada genangan air mata yang hampir


jatuh di mata Gadis dan memilih membiarkannya pergi.


Luki : “Dia suka banget sama lo ya.”

__ADS_1


Rio : “Ngaco.”


Luki : “Gue dah lakuin apa yang lo minta, mana


traktirannya?”


Rio : “Dia gak jawab alasannya, traktiran gak


berlaku.”


Luki : “Kalau gue bisa tau alasannya, lo traktir


gue seminggu penuh ya.”


Rio : “Boleh. Coba aja sana.”


Luki berteriak girang. Ia mulai menguntit Gadis,


selalu muncul di dekat gadis itu untuk menguping apa yang sedang dikatakannya. Luki


bahkan menguntit Gadis sepulang dari kampus. Ia heran ketika melihat Gadis


memberhentikan mobilnya di depan kuburan. Luki tahu kuburan Kaori ada disana.


Luki mengendap-endap mengikuti Gadis dan


bersembunyi di dekat pohon yang ada disana. Luki menghidupkan kameranya, ia


mulai merekam Gadis yang berhenti di depan kuburan Kaori. Ia menyingkirkan


rumput kecil yang mulai tumbuh disana. Setelah menyiram kuburan Kaori, Gadis


meletakkan setangkai mawar putih diatas kuburan Kaori.


Gadis : “Hai, Kaori. Aku datang lagi. Jangan bosen


denger curhatku ya. Kali ini aku mengacau lagi. Aku beneran gak tahu kalau


tempat magangku sama dengan Rio. Harusnya aku cari tempat magang yang lebih


dekat rumahku, bukan lebih deket kampus.”


Gadis mengusap-usap nisan Kaori. Ia membersihkan


nisan itu sampai bersih kembali.


Gadis : “Yang paling menyebalkan, aku gak bisa


membatalkannya atau aku harus mengulang semester depan. Beneran bikin frustasi.


Sekarang aku cuma bisa berharap kami ditaruh di department yang berbeda. Maaf,


Kaori. Aku sudah berjanji akan melupakan cintaku pada Rio. Tapi kamu tenang


saja, tinggal beberapa bulan lagi dan aku akan lulus. Jadi kami tidak perlu


ketemu lagi.”


Gadis menghapus sudut matanya. Ia tersenyum manis


menatap nisan Kaori.


Gadis : “Doakan aku bisa lulus secepatnya ya. Aku


gak mau menderita karena ketemu Rio terus. Kamu mau kan bantu aku, aku sudah


capek memendam rasa cinta kayak gini terus-terusan.”


Gadis beneran sudah menangis sekarang. Ia terus


mengusap air matanya agar tidak jatuh ke kuburan Kaori.


Gadis : “Aku pergi dulu ya. Padahal aku dah bilang


gak mau nangis lagi buat Rio. Ngeselin banget. Sampai ketemu lagi, Kaori.”


Gadis meninggalkan area kuburan dan Luki tersenyum


puas dengan hasil pengintaiannya. Ia mengirim chat pada Rio untuk bisa ketemu


secepatnya.


*****


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).

__ADS_1


__ADS_2